Jelajah Rimba Naan

Mungkin ada pertanyaan dimana Rimba Naan dimaksud? Bagi penduduk asli Dayak yang berdiam di hulu DAS Kahayan, Hulu DAS Miri dan Hulu DAS Barito (Mura) nama Naan sudah tidak asing lagi, namun belum tentu semua masyarakat sekitar pernah menjelajah Rimba Naan. Rimba Naan terletak di hulu Sungai Naan, anak sungai yang bermuara di Sungai Barito (Mura) dan hulu Sungai Naan berujung di sekitar Hulu Sungai Miri (Gumas) pastinya tanya ahli geologi.

Rimba Naan termasuk daerah sangat terpencil (remote area), memiliki keanekaragaman flora dan fauna khas yang memukau. Bagi yang memiliki jiwa petualang dan menyukai keheningan dalam dekapan rimba raya, di sini tempatnya dan saking heningnya matipun tidak ada yang tau dan siapa yang perduli dengan Anda.

Untuk mencapai Rimba Naan susah-susah gampang. Dari Palangka Raya, Anda bisa melalui jalan darat Palangka Raya ke Kuala Kurun menggunakan kendaraan R4 atau R2 milik sendiri atau travel yang setiap saat siap membawa Anda dengan jam tempuh antara 3-4 jam perjalanan. Atau yang berkantong tebal, boleh menggunakan jalur udara Palangka Raya-Kuala Kurun (2 kali penerbangan setiap minggu) dalam hitungan 30 menit. Atau Anda yang mau nyantai boleh berjalan kaki sepanjang 165 KM hitung-hitung olah raga.

Setibanya di Kuala Kurun, Anda ngaso dulu di rumah keluarga atau rumah kenalan. Bisa juga menginap di hotel yang siap melayani Anda, mau hotel melati minus (-) atau berbintang 5 ala Kuala Kurun juga ada, tinggal selera Anda yang mana. Di Kuala kurun Anda dianjurkan checkup dulu biar kondisi prima, termasuk kendaraan Anda harus di-repair ala kadarnya, maklum di Kuala Kurun belum ada bengkel mobil sekelas Auto 2000 atau AHASS untuk kendaraan R2. Untuk kendaraan R4 dianjurkan wajib double gardan dengan ban khusus rimba lengkap dengan peralatan (toolkit). Kalau mau nekat silahkan menggunakan ban kota, tetapi jangan menyesal Anda akan nginap sendiri di tengah hutan karena kendaraan Anda terjebak lumpur atau tanah licin, atau kendaraan Anda tenggelam ketika menyeberang Sungai Miri.

Tidak kalah pentingnya adalah kelengkapan pribadi seperti pakaian, obat-obatan wajib dipersiapkan secukupnya dan tidak usah berlebihan, karena Anda disana bukan tampil modis, tetapi di sana Anda betul-betul menghadapi tantangan alam dan itulah tujuan utama Anda.

Perjalanan Anda dari Kuala Kurun ke Rimba Naan menghabiskan waktu 8 jam perjalanan melewati jalan darat dan desa terakhir yang wajib Anda singgahi adalah Desa Masukih atau Desa Harowu, digunakan untuk pengisian bahan bakar dan bahan makanan. Harga bahan bakar untuk kendaraan Anda cukup murah (menurut penduduk di sana) yaitu antara Rp. 20,000 - Rp. 25,000/liter solar dan untuk 1 bungkus mie instan cukup dibayar Rp. 10,000.

Berawal dari kedua desa itulah petualangan Anda yang sebenar-benarnya. Anda merasakan hidup dalam kesendirian dalam pelukan belantara Naan yang mengesankan. Anda akan menjumpai berbagai fauna khas Naan (hanya di waktu malam hari) dan keanekaragaman flora yang membuat anda terkagum. Tetapi jangan sok tau, sok pintar dan menganggap enteng, karena kemungkinan di sana Aanda akan berjumpa dengan saudara kita suku asli Dayak Uut yang setiap saat mengikuti gerak gerik Anda.

Mau mencoba? Silahkan datang ke Rimba Raya Naan, slamat berpetualang.

Kata Kunci:
, , , , , , , , , , , , , , , ,

Eddy Ranan
Tentang Penulis

Eddy Ranan adalah kontributor dari Kuala Kurun. Lulusan S2 peminatan kesehatan masyarakat, konsentrasi Health Insurance yang menyukai travelling, fotografi, dan menjelajah belantara.

Terdapat 18 Komentar

  1. #1 Selasa, 19 Mei 2009 Pukul 10:45 WIB
    Rudy Gunawan

    Indomie 10rb memang murah ya kalau bagi warga setempat. Kalau bagi saya di Jogya sini sih wah.... mahal banget. :))

    Baca-baca ceritanya... wah cukup susah juga ya perjalanannya. Benar-benar pakai kendaraan off-road. Saya jadi tertarik ke sana. Mungkin bisa jadi tujuan penelitian-skripsi saya nanti, semoga. :P

  2. #2 Selasa, 19 Mei 2009 Pukul 10:51 WIB
    Rudy Gunawan

    Oiya satu lagi.

    Saya penasaran dengan Dayak Uut yang disebutkan di akhir artikel ini. Apa mereka tipikalnya hanya mengikuti jika kita masuk ke daerah mereka? Bagaimana komunikasi antara kita dan mereka, lancar dan baik-baik saja bukan? Maksudnya nggak ada kesulitan berkomunikasi.

  3. #3 Selasa, 19 Mei 2009 Pukul 13:45 WIB
    Bintang Sariyatno

    "mati pun disana tidak ada yang tahu, karena sepinya", ngeri juga kedengarannya.
    saya penasaran dengan suku Dayak Uut ini, apakah mereka ini apakah cuma mengikuti gerak-gerik kita atau mereka sudah memata-matai kita?

  4. #4 Selasa, 19 Mei 2009 Pukul 17:12 WIB
    Amnd

    Kok justru terdengar angker ya... mengutip kalimat yang sama dengan Mas Bintang di atas saya.

    Ngg... jangan-jangan nggak ada sinyal juga? Benar-benar di hutan rimba...

  5. #5 Selasa, 19 Mei 2009 Pukul 21:53 WIB
    Bintang Sariyatno

    menurut saya, sepertinya memang di daerah hutan Naan memang tidak ada sinyal, kecuali kalo kita punya ponsel satelit.
    sepengetahuan saya sewaktu saya pulang ke kalimantan dan, pada waktu itu teman saya menghubungi saya via ponsel GSM, suara teman saya itu agak terputus-putus dan ia harus dekat dengan tiang antena untuk ponsel tersebut.
    Untuk diketahui saja, teman saya itu tinggal di daerah Tumbang Jutuh, daerah hulu dari sungai Kahayan. Apalagi yang memang di hutan rimba Naan pasti tidak ada sinyalnya, karena rimba Naan itu terletak di daerah yang lebih hulu lagi.

  6. #6 Rabu, 20 Mei 2009 Pukul 13:33 WIB
    warm

    smoga hutannya tidak dieksploitasi oleh para durjana rimba

  7. #7 Rabu, 20 Mei 2009 Pukul 15:49 WIB
    angeliclayer

    itu fotonya menyebrang sungai miri ya?

    sayang banget fotonya cuma 1 ya, pak. padahal mau melihat foto-foto rimba naan yang lain.

  8. #8 Rabu, 20 Mei 2009 Pukul 21:12 WIB
    Eddyranan

    Foto dalam artikel Jelajah Rimba Naan diambil ketika menyusuri sungai Naan, waktu itu dalam kondisi dangkal, sayang poto ketika menyeberang sungai Miri tidak didokumentasikan karena sudah malam dan gelap, kedalaman sungai Miri aman untuk menyeberang maksimal 1 meter. Sedangkan poto dokumentasi yang lain bisa dilihat nanti di FB saya.

  9. #9 Minggu, 24 Mei 2009 Pukul 15:00 WIB
    Marvy

    Wah bos, hotel melati minu (-) apaan tuh?? he..he..

  10. #10 Minggu, 24 Mei 2009 Pukul 15:12 WIB
    Rudy Gunawan

    Kalau minus (-) artinya bukan plus-plus (++) dong, Mar. :D

  11. #11 Sabtu, 30 Mei 2009 Pukul 6:18 WIB
    Hans

    bahkan sy yg brsal dr gunung mas aja ga pernah ke naan
    benar2 kawasan terpencil

  12. #12 Minggu, 31 Mei 2009 Pukul 10:24 WIB
    Angelic Layer

    wah... fotonya sudah bertambah 1. moga nanti nambah lagi. :-bd

    kayaknya seram yah... :|

  13. #13 Jumat, 12 Juni 2009 Pukul 16:58 WIB
    Upi

    Wah . petualangan bagus sekali Pak Eddyranan ::up . aku baru saja liat forum voyageindonesia , bulan juli-agustus ini banyak turis perancis berlibur ke indonesia.Ntar deh aku gabung ke forum , mo tarik turis² ini datang ke kalimantan ;)

  14. #14 Jumat, 11 September 2009 Pukul 18:54 WIB
    saddam surbakti

    woiiiii..
    indomi 10rb mahal x,.,.,.

    pasti jaln menuju ksana rumit banget ,..,,

    eh aq bangga dgn kalimantan ,.,.,.
    yang hutan y mash terjaga ..,

    tetapi tidak semua hutan yg terjaga ,,..
    saya berterima kasih ke pada suku dayak ,.,.
    yang selalu menjaga hutan kalimantan ,..

  15. #15 Selasa, 20 Oktober 2009 Pukul 21:52 WIB
    Teguh

    Wah, kayaknya tertarik deh pengen kesana. Kapan yah ada waktu kesana, mumpung aq di katingan kan deket tuh ke palangka.

  16. #16 Kamis, 5 November 2009 Pukul 1:00 WIB
    Andri

    Mantap, suatu saat gue kst

  17. #17 Jumat, 13 November 2009 Pukul 14:22 WIB
    iwan gunawan

    pada tanggal 16 lalu saya bertugas untuk melakukan penelitian etnografi tentang Komunitas Adat Terpencil (KAT) di Kalteng. Berangkat dari Jakarta belum ada bayangan komunitas apa yang akan saya kunjungi. hanya saya dibekali dua nama kabupaten di Kalteng yaitu Murung Raya dan Dan Gunung mas. Sampai di Palangka Raya, diputuskan agar penelitian itu ditujukan ke KAT yang ada di Gunung Mas (lagi-lagi ... belum ada info yang jelas).dari PAlangka RAya saya berangkat jam 5 sore dengan menggunakan kendaraan STRADA menuju Gunung Mas, sampai di gunung mas sekitar jam 10 malam, sehingga kami harus menginap di Kuala Kurun. berputar kami mencari lokasi penginapan yang murah, tapi 2 penginapan melati ternyata sedang penuh karena lagi ada tes masuk PNS. terpaksa kami menginap di hotel Adeline dengan tarif Rp 225.000 per kamar. kami berempat menyewa dua kamar.

  18. #18 Senin, 11 Januari 2010 Pukul 22:08 WIB
    firmansyah

    kedengaranya bagus banget tuh om cuman saya pingin tau suku asli dayak uut apkah meraka suka menyerang orang?tersu terang aja saya akan kesana tuk coba menikmati alam raya kalimantan yang penuh dengan hutan rimbanya

    HUTAN KALIMANTAN

    TUNGGULAH AKU DISANA KAWAN KITA AKAN BERTEMU LAGI HARI DEPAN

Tinggalkan Komentar

Komentar diharapkan dalam Bahasa Indonesia, Inggris, Dayak (Kalteng), atau Banjar.
Ingin mempunyai gambar avatar sendiri jika berkomentar? Segera daftarkan diri di Gravatar!

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Dari Meja Redaksi

Maskot Hatue en Bawi

Maskot Hatue en Bawi Hatue en Bawi, alias Laki-laki dan Perempuan dalam Bahasa Dayak Ngaju, adalah nama dari dua figur ...

Laporan lainnya...

» Mengapa Berupa Situs? (9)
» Komentar 101: Facebook (18)
» HUT Tambun Bungai (6)

Dalam Jaringan

Komunitas Facebook

Kabar Kalteng

Sebuah galat telah terjadi, yang kemungkinan berarti umpan tersebut sedang anjlok. Coba lagi nanti.