Batu Suli dan Puruk Batu Suli

Seperti kita ketahui bahwa di Kalimantan Tengah banyak sekali terdapat tempat pariwisata bisa juga dibilang surganya pariwisata, kita ambil saja contoh misalnya Nasional Tanjung Puting, Taman Nasional Sebangau, dan masih banyak yang lainnya. Pada kesempatan berikut ini saya akan memperkenalkan sedikit tentang salah satu tempat objek pariwisata yang terdapat di Kalimantan Tengah.

Batu Suli dan Puruk Batu Suli, ada yang pernah dengar nama itu? Mungkin ada yang bertanya dimana tempat itu. Pastinya itu bukan nama jalan atau atau hotel berbintang yang ada di Palangka Raya.

Puruk Batu Suli adalah nama salah satu tempat objek pariwisata yang tidak asing bagi masyarakat di kabupaten Gunung Mas. Terletak tepat di Desa Tumbang Manange atau sering disebut Upon Batu, Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas. Uniknya tempat ini berada di pinggir Sungai Kahayan dan memiliki panorama yang sangat indah.


www.flickr.com/photos/herminutomo/3257387876

Untuk mencapai tempat ini, bagi Anda yang berada di Palangka Raya perjalanan pertama yaitu menuju Kuala Kurun yang bisa langsung menggunakan kendaraan pribadi baik motor atau mobil juga bisa menggunakan jasa travel yang selalu ada setiap hari. Selanjutnya setiba Anda di Kuala Kurun bisa langsung menginap di tempat kelurga, teman, atau di hotel maupun di tempat lain sesuai selera masing-masing.

Selanjutnya perjalanan dari Kuala Kurun menuju ke Batu Suli memerlukan waktu kurang-lebih 1 jam menggunakan kendaraan bermotor. Atau bisa juga menggunakan kelotok (perahu bermotor) sambil menikmati pemandangan DAS Kahayan. Sesampainya di Desa Tumbang Manange Anda bisa langsung menyewa pemandu dari warga sekitar (kalau punya kenalan bisa langsung berangkat). Sebaiknya dianjurkan istirahat dulu untuk mengisi tenaga karena untuk mencapai Puruk Batu Suli kita harus mendaki lagi. Dari sinilah perjalan wisata Anda dimulai, sepanjang perjalanan Anda akan menikmati suasana alam sekitar yang asri dan alami dan menjumpai flora dan fauna yang beranekaragam. Serta Anda juga akan menjumpai beberapa tempat tempat bersejarah.

Untuk Batu Suli sendiri ini sangat unik karena terletak tepat di pinggir sungai Kahayan selain itu posisi batu ini agak menjorok ke sungai Kahayan jadi kalau dilihat dari jauh batu ini seperti hampir jatuh ke sungai Kahayan. Sedangkan untuk Puruk Batu Suli terletak di belakang Batu Suli itu sendiri. Untuk mencapai ke atas Puruk Batu Suli ini dapat ditempuh dengan cara mendaki ke atas.

Untuk perjalanan naik (mendaki) ke atas Puruk Batu Suli gampang-gampang susah, bagi yang biasa mendaki perjalanan dapat ditempuh kurang-lebih 15 menit. Bagi yang tidak biasa ya... bisa memakan waktu kurang-lebih 30 menit dikarenakan kondisi medan yang agak sulit. Tetapi Anda juga tidak perlu khawatir karena di atas Puruk sudah ada disediakan tempat istirahat.

Salah satu daya tarik dari Puruk Batu Suli adalah Batu Antang, batu yang berbentuk seperti antang (elang) yang sedang mengepakkan sayapnya. Bila diliat Batu Antang ini tersusun dua dan di antara kedua batu ini terdapat sebuah celah kecil. Di sini sekali keberanian Anda akan ditantang, bagi yang berani boleh coba, kalau ragu-ragu lebih baik melihat saja. Anda akan ditantang untuk melewati celah kecil di antara kedua batu tadi dengan cara merayap.

Anehnya biarpun celah batunya kecil, tapi kalau dilewati orang bisa saja lewat. Menurut mitos yang pernah saya dengar bagi yang ragu-ragu lebih tidak usah mencoba untuk melewati kedua celah batu tadi karena bisa saja Anda akan tersangkut pada celah batu tersebut. Karena pernah kejadian ada orang yang nyangkut pada kedua celah batu.

Yang tidak kalah asyiknya di Puruk Batu Suli ini selain Batu Antang juga ada terdapat Batu Tingkes, Talaga Bawin Kameloh, serta kuburan Amai Rawang (Bahasa Dayak Kadorih, amai berarti Bapak/Ayah). Dari atas sini Anda akan melihat pemandangan yang belum pernah Anda lihat sebelumnya.

Penasaran ada yang ingin mencoba?

* foto oleh Hermin Utomo - www.flickr.com/photos/herminutomo

Kata Kunci:
, , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Apri Guna D. Y. S.
Tentang Penulis

Apri Guna D. Y. S. adalah kontributor Betang.COM khususnya bidang kuliner. Menjalani studi sebagai mahasiswa jurusan Biologi Murni di Universitas Negeri Yogyakarta.

Terdapat 39 Komentar

  1. #1 Selasa, 30 Juni 2009 Pukul 18:39 WIB
    Agnes E. T.

    Aq mw k sana...
    Dr dlu aq dcritain tetangga aq, ktx tempadx emang bagus...
    Tp smpe skrg blm ksampean jg... :((

  2. #2 Rabu, 1 Juli 2009 Pukul 7:17 WIB
    Apri

    @Agnes :Wah..., gimana ne ko ga pernah semua kenta ga penah bbatu suli juga. rugi lo ga pernah ke batu suli. lain kali coba ya..
    pertamanya coba kenta dulu baru ke batu suli.:)

  3. #3 Kamis, 2 Juli 2009 Pukul 17:53 WIB
    Richo

    hahahaha..... keren ya..... klo liat film kung fu ato silat2 cina bnyak tuch bkit batu berlumut2 n bersemak2 yg kyk gtu.... artistik....

    hahaha trnyata Borneo pnya yg keren jg..... fotonya jg oke.....

    To Apri : BTW bner ga batu suli tu sndri artinya batu peluru (krna mirip peluru) bner ga...???

  4. #4 Jumat, 3 Juli 2009 Pukul 8:50 WIB
    apri

    @ Richo : Ya begitulah Borneo masik banyak menyimpan potensi Wisata alam seperti ini keren kan. Berhubung sekarang saya masih belum kembali ke Borneo jadi untuk arti nama batu suli tersebut saya belum bisa memastikan apakah ya atau tidak, karena keterbatasan informasi. akan saya kabarkan langsung bila sudah dapat informasinya. Sorry:(

  5. #5 Minggu, 5 Juli 2009 Pukul 3:13 WIB
    Rudy Gunawan

    Kisah dan legenda soal Batu Suli aku tunggu ya. Kayaknya keren! :P

  6. #6 Minggu, 5 Juli 2009 Pukul 5:10 WIB
    Renaldi Teweh

    sbnr nya tmpt wisata batu suli ini dpt mengundang bnyk turis n wisatawan ke kalteng.
    sayang sarana transport dari palangka raya kesana masih kurang bagus!

    jangankan ke kuala kurun, transport ke kalteng dr daerah lain pun masih minim

  7. #7 Minggu, 5 Juli 2009 Pukul 8:06 WIB
    Apri

    @ Rudy : Siap Boss :-?
    @ Renaldi : seperti kita ketahui bahwa Gunung Mas merupakan kabupaten pemekaran dan jalan-jalannya pun masih banyak yang diperbaiki jadi wajar-wajar saja kalau sarana transportasi masih kurang belum seperti di daerah jawa yang sudah bagus:(. Memang tempat pariwisata Batu Suli ini dapat mengundang banyak turis, seperti yang saya ketahui kalau batu suli merupakan tempat tujuan pertama bagi para turis. setelah itu mereka biasanya mengunjungi tempat wisata lain seperti Rumah Betang di Tumbang Anoi dll.

  8. #8 Jumat, 10 Juli 2009 Pukul 10:54 WIB
    Agnes E. T.

    @om apri : gada teman yang mau ngajak aku kesana...
    kenta juja... banyak temen-temen yang asli orang sini, tapi saia tag pernah disugui kenta... malang niyan... :((

  9. #9 Jumat, 10 Juli 2009 Pukul 10:58 WIB
    Agnes E. T.

    @bang richo : potonya kog berkata begini : "this persons picture is too sexy to display", emang poto apaan si?

    @gun chama : ah... gaia kali kao menggunakan blecakberi, bukankah itu merek tapay yang bentuknya kaiak kalkulator?

    @siapasaja : ajakin saia ke batu suli dwong!!! \(>.<)/

  10. #10 Jumat, 10 Juli 2009 Pukul 11:24 WIB
    Apri

    @ Agnes : Ya ne kan udah liburan jadi ajak aja teman2nya ke batu suli. kalau nggak entar bisa barengan sama aku lo pulang kampung, (Tu juga lo jd pulang ke Kalteng) :))

  11. #11 Jumat, 10 Juli 2009 Pukul 11:27 WIB
    Apri

    @Semuanya : Lain kali coba ya ke Batu Suli. rugi kalau ga pernah.(jangan lupa ajak agnes) :))

  12. #12 Senin, 13 Juli 2009 Pukul 19:25 WIB
    Agnes E. T.

    ahh... saya seperti apaan sajah sampai dipromosiin segitunya...
    XP... tapi yayaya... bagi yang berminad, ajak ajak saya yah....

  13. #13 Senin, 5 Oktober 2009 Pukul 18:41 WIB
    maria sb lambung

    aku mau juga dong

  14. #14 Selasa, 6 Oktober 2009 Pukul 10:26 WIB
    SATRIABAJAHITAM

    Kalteng merupakan daerah yang kaya akan potensi pariwisata.Perlu upaya peningkatan promosi dan pengadaan infrastruktur yang mendukung. Terima kasih kepada situs ini yang sudah mengenalkan salah satu "kecantikan" yang dimiliki Kalteng.
    Bravo Kalteng!!!!!!!!

  15. #15 Kamis, 8 Oktober 2009 Pukul 18:51 WIB
    apriguna

    @ SATRIABAJAHITAM : saya setuju dengan pndapat anda bahwa kurang nya promosi dan pengadaan infrastruktur yang mendukung membuat objek wisata yang terdapat di kalteng menjadi kurang diminati oleh wisatawan baik lokal maupun asing.

  16. #16 Senin, 14 Desember 2009 Pukul 10:36 WIB
    mardo

    sipp web betang yahud

  17. #17 Senin, 14 Desember 2009 Pukul 10:39 WIB
    mardo

    objek wisata kita sih banyak tapi kurang dikelola dan diperhatikan apa lagi untuk dipelihara sayang bayak orang malah mengunjungi tempat wisata di luar kalimantan yang di tanah sendiri malah banyak yang tidak tau

  18. #18 Selasa, 15 Desember 2009 Pukul 23:38 WIB
    BAYOE

    indah nian KALIMANTAN-ku.........

  19. #19 Sabtu, 16 Januari 2010 Pukul 18:55 WIB
    Syamsul Rizal, ST

    saya juga berasal dari sarerangan kecamatan tewah kabupaten gunung mas, kepingin rasanya lagi ke batu suli, akan teringat lagi masa masih waktu sma pgri tewah dan kegiatan kemah pramuka di puncak puruk batu suli, apalagi disaat hari libur dan hari besar keagamaan atau pergantian tahun, suasana di desa batu suli desa tumbang manange pasti ramai dikunjungi oleh masyarakat sebagai alternatip tempat wisata yang reprensentatip bagi warga kabupaten gunung mas, di negara itali ada menara pizza yang miring, di indonesia hanya ada di kabupaten gunung mas sebuah puncak tugu/atau batu berdiri yang terbentuk secara alami oleh proses alam yang berdiri miring persis berada di pinggir sungai kahayan yaitu batu suli

  20. #20 Jumat, 29 Januari 2010 Pukul 12:10 WIB
    HM SAPAR

    Biar g mati penasaran coba bagi waktu...... duit..... buat ngunjungin obyek wisata ini. Keadaan sekarang jauh berbeda dari keadaan tahun lalu kalo masalh transportasi. Saudara-saudaraku yang jaga, kembangkan dan lestarikan daerah ini adalah saudara dan saya kalo g siapa lagi.

  21. #21 Jumat, 5 Februari 2010 Pukul 11:21 WIB
    Robby Eka..

    permisi mas,,mw ikt join y..hehe
    mas sy dari trans7,,dan berencana dlm 2 tw 3 hri lg mw liputan d palangkaraya utk program Laptop si Unyil..saya mw minta bantuan info tempat yg menarik dan banyak kegiatan yg bisa di liput sebagai kegiatan anak2 mas..mohon kerja sama'y..

    Makasih y mas..

  22. #22 Sabtu, 6 Maret 2010 Pukul 13:11 WIB
    pujiham

    ternyata berkali-kali nyari gambarnya aja susah......ahirnya ketemu juga apalgi nyri tempatnya..... kapan baru bisa???

  23. #23 Sabtu, 6 Maret 2010 Pukul 13:14 WIB
    pujiham

  24. #24 Senin, 15 Maret 2010 Pukul 20:44 WIB
    QONENK

    Saya dari Tumbang Miri, dan sering bolak balik melewati batu suli dan untuk saat ini jalan dari Kuala kurun sudah lumayan untuk dilalui yaitu kira2 1 jam kita kan tiba di Desa Upun Batu. Perlu di lurusakan sedikit bahwa yang disebut dengan batu suli adalah batu yang terletak pada pinggir sungai, sedangkan yang berupa gunung/bukit disebut Puruk Amai Rawang. Jika ada yang berminat foto mengenai batu suli dan objek lainnya, saya punya koleksi. Salut buat buat betang.com.

  25. #25 Sabtu, 3 April 2010 Pukul 22:38 WIB
    kristian

    hhahaha...untungnya q pernah kesitu Cz tempat tambi ku itu tidak jauh dr situ..nama desanya batu nyiwuh N tempat bapak q di desa tumbang habaon...pemandangannya bagus,,rugi kalo gak kesana!!

  26. #26 Selasa, 20 April 2010 Pukul 16:33 WIB
    vril

    wah saya malah baru tau kalo ada t4 wisata seperti ini di kalimantan tengah.

    **kemane aje gue??**wkwkwk

    but,tetep jempol deh buat betang.com.

    saluud.

  27. #27 Minggu, 2 Mei 2010 Pukul 16:22 WIB
    pujiham

    disamping lihat keindahan batu suli,
    MARI GABUNG DALAM DUNIA PULSA ELEKTRONIK
    PENDAFTARAN GRATISS BOSSS................
    SILAHKAN KETIK SMS :
    DAFTAR#NAMA#KEC,KABUPATEN,PROVINSI#NOMORHP
    KIRIM KE 0856 5112 8730
    HUB. SAUDARA PUJIHAM
    CP= 0852 4926 6255
    jalan b. koetin palangka raya
    ATAU KUNJUNGI= http://www.ihamxmantan.blogspot.com// harga dijamin boss.... lebih murah dari server yang ada di kalteng

  28. #28 Jumat, 14 Mei 2010 Pukul 23:37 WIB
    jagoan tumbang habaon anak damang lewu

    jeyyyy....batu suli ampi,,eka ku purung parang je hekau masuh murik....tawa je ketun...eka ku masan malan manana ih...sala foto jikau batu suli nah je saran danum te ihhh....kidu2 ampi ketun......

    aro ocin ngoruh penda danum....nyarooo papatoiii.....ono ene ico toru...

  29. #29 Senin, 17 Mei 2010 Pukul 0:38 WIB
    Gwonk

    wakakak bujur kea kuam te wal :ngakak

  30. #30 Sabtu, 22 Mei 2010 Pukul 3:32 WIB
    Bruce

    permisi mas,,mw ikt join y..hehe
    mas sy dari trans7,,dan berencana dlm 2 tw 3 hri lg mw liputan d palangkaraya utk program Laptop si Unyil..saya mw minta bantuan info tempat yg menarik dan banyak kegiatan yg bisa di liput sebagai kegiatan anak2 mas..mohon kerja sama'y..

    Makasih y mas..

  31. #31 Minggu, 6 Juni 2010 Pukul 8:51 WIB
    Puyya

    aishhhhhhhhhh!
    yg benar Batu besar seperti bukit itu namanya Puruk Tamanggung.
    di sana ada kuburan-kuburan para tetua dan keluarganya. ada telaga-telaga kecil baik yg di dalam batu maupun yg metafisik artifisial alias gaib seperti telaga tuah dan telaga sial. jadi kalau anda berjalan kesana dan lihat telaga tuah, maka hidup anda penuh rejeki. tapi tidak semua orang bisa melihat ini.
    yg pasti ada adalah telaga Kameluh(malaikat yg sering menunjukkan dirinya sebagai putri cantik, dipercaya adalah pembawa hal-hal baik)
    selain itu juga ada Batu Antang(Elang), batu ini setinggi kurang lebih 3 mtr. lebar. uniknya dia memiliki lubang sekitar 3 mtr juga panjangnya di tengah2.
    ini juga memiliki aspek magis. karena batu ini tidak sama untuk setiap orang baik cara melihat lebarnya lubang tersebut maupun luasannya saat kita masuk dengan cara merayap dari belakang ke arah depan batu.(ini seperti mainan di outbond, merayap melalui gorong)
    hal ini nyata karena ada yg masuk disana dengan mudah karena luas baginya. tapi ada juga yg masuk dan harud ditarik untuk keluar karena sempit baginya. dan hal ini bukan berdasarkan besar kecilnya atau kurus gemuknya badan, lebih pada hal magis yg dipercaya seperti memberi ramalan pada pengunjung yg mencobanya. kalau kita masuk dan lapang di luasan tersebut, katanya hidup kita ke depannya lebih lapang. sebaliknya kalau sempit bahkan untuk orang yang kurus sekalipun, maka hidupnya banyak rintangan dan masalah.
    tapi inti dari semua itu bagi saya secara pribadi adalah menguatkan kita semua, bahwa setelah dr Batu Antang maka kita punya sugesti atas apapun hasil yg kita dapatkan.
    kalau lapang, kita akan sugesti diri bahwa hidup akan bahagia, maka pikiran kita positif.
    kalau sempit, maka kita akan prepare bahwa ke depan kita harus kuat bertahan dan berjuang lebih keras.maka kita akan belajar survive dan optimistis.
    begitu kerennya ajaran lokalitas yg disebut kearifan lokal itu di negeri ini. kita saja yg harus menerjemahkannya dan menafsirkannya. orang2 tua yg bijaksana meletakkan dasar dan fundament bagi kita. karena desain alam raya ini teramat sempurna, hanya manusia dengan keserakahan saja yg tidak memelihara, melihat dengan bersukur dan melindunginya.
    dengan sharing ini berharap kawan2 untuk mengkampanyekan bahwa kita harus paham sejarah kita tidak hanya pada konteks histografinya, yaitu tanggal dan tokoh semata.
    tapi lebih pada historisitas, yaitu makna dan nilai yg ada di sejarah tersebut.
    cintai Indonesia, Dayak, dan seluruh negeri ini biar kita bangun harga diri dan tidak diinjak-injak olah Investor yg cuma ingin rusak semua yg kita miliki untuk men-Tuhankan UANG semata.
    ingin diskusi? Yuk mariiiii

  32. #32 Minggu, 6 Juni 2010 Pukul 9:00 WIB
    Puyya

    btw, kalau tiak dijaga secara keseluruhan, alam raya dimanapun juga akan rusak binasa. contohnya batu suli. dulu kabarnya masih dapat dipanjat dan di puncaknya cukup hanya untuk kurang lebih 8-10 orang. tapi sejak kekeringan, semua tanaman rambat ribuan tahun yang menjadi alat untuk mendaki cadas satu ini telah mati.
    hari ini sawit mengerubung wilayah kalimantan(tapi lucunya harga minyak goreng tetap mahal)dan merusak alam, ini akan merusak semua keindahan yg ada, mengeringkan sungai, menggambutkan tanah.walaupun gambut yg sudah ada mjd sumber karbon, tapi intinya adalah, alam ini tidak dapat dinikmati baik keindahan maupun kegunaannya untuk hidup bersama. hanya dikuasai dan dirusak oleh segelintir individualist yg tidak peduli sesama.
    kawan2, sawit itu harus ditolak. keberadaannya mengancam semua asset alam raya.terutama objek wisata yg belum terkelola dengan bijak.

  33. #33 Minggu, 6 Juni 2010 Pukul 20:39 WIB
    hamlennon

    Hmmm, menarik. Puyya, kapan2 klo saya pulang saya diajakin kesana ya....

  34. #34 Senin, 7 Juni 2010 Pukul 5:10 WIB
    Puyya

    @Ham: boleh... saya terakhir naik puruk tamanggung kelas 3 SD. saat itu masih ingat kita dari pinggir sungai naik lewat akar2 pohon dan celah batu yg dibuat oleh aliran air.
    seru, penuh perjuangan.
    masih percaya dan ingin selalu percaya Indonesia adalah negeri yg paling kaya akan objek wisata.

  35. #35 Rabu, 16 Juni 2010 Pukul 8:12 WIB
    tris

    klo mau ke batu suli tadi.. kira kira perlu nyipain budget berapa ya??

  36. #36 Sabtu, 28 Agustus 2010 Pukul 20:58 WIB
    Apri

    @Puyya: saya setuju dengan uraian anda di atas. bahwa semua hal magis yang telah ada merupakan sebuah sugesti untuk kita semua, asalkan kita selalu berpikir positif, survive dan selalu optimis maka kedepannya kita akan jadi lebih baik. jangan selalu jadikan hal magis yang ada sebagai tolak ukur untuk meramalkan nasib kita kedepan.

  37. #37 Selasa, 31 Agustus 2010 Pukul 6:12 WIB
    Puyya

    dari mana dulu bung Tris?
    kalo dari Palangka Raya, naik travel aja jurusan ke Tewah atau Tumbang Miri, ongkos travel one way ticket kira2 Rp. 250.000,- makan di jalan rp.20.000.
    nanti minta singgah di desa Upun Batu atau Tumbang Manange. dari situ nyebrang pakai ferry atau perahu aja. mungkin rp. 10.000 per orang.
    lebih baik berangkat berombongan aja. jadi pas naik ke batu Suli lebih seru dan bisa irit bayar gaet desa. disarankan cari rumah kepala desa aja, baru tanya lagi kesana.

  38. #38 Selasa, 31 Agustus 2010 Pukul 6:36 WIB
    Puyya

    @ Apri :
    iya ding ai.....
    tolong aja dicatatkan untuk kawan2 lain, bahwa beberapa wacana tentang 'modern' dan 'modernisasi' itu harus dilihat jeli dan dibaca ulang.
    apakah dibaliknya ada sesuatu yg ingin di dorong?
    seringkali modern dan modernisasi seolah sesuatu yg berseberangan dengan budaya lokal yg sering diartikan kuno-primitif-magis-takhayul... modern ditempatkan bahwa kita harus melupakan semua sejarah tatu hiang itah, kambe dan penunggu petak danum. adat seolah hal yg menjadi memalukan bagi perkembangan jaman, dan anak2 muda lebih suka kondisi 'modern' yang gaul geto lohhh.... padahal kita dininabobokan dari keaslian jati diri kita, baik sebagai uluh itah, sebagai bangsa indonesia, sebagai manusia.
    bagiku modern bukanlah sebuah kondisi hitech atau semata kemajuan jaman dan era pembangunan. tapi modern adalah sebuah kondisi bagaimana kita sebagai manusia mencapai sebuah ambang kedewasaan dengan memiliki State of mind, memiliki kematangan sikap yg bisa membaca semua keadaan dan mendudukkannya pada konteks dan kondisinya masing2, lalu kita bisa memberikan sebuah sumbang pikir atas sesuatu yg perlu menuju sebuah ideal.
    bukan mengada-adakan masalah yg tidak perlu ada. atau hanya terlarut di dalam sebuah gendam kesadaran dari luar dan melupakan akar sejarah kita.
    Apri, coba lihat dan kumpulkan semua wacana pembangunan hari ini?
    bukankan semuanya hanya berorientasi fisik dan meminggirkan keaslian2 kita sebagai komonitas besar bangsa dayak dan Indonesia.
    lihat saja Palangka, apakah budaya yg terbangun adalah keaslian dayak? baik dari simbol2 kota maupun berbagai perangkat aturan dan tata kelolanya?
    dulu jalan A.Yani itu bernama jalan Antang Bajela Bulau... tapi kemanakah nama Antang Bajela Bulau diadakan?
    itu hanya bagian kecilnya.
    coba dengar kesah uluh huran...... kambe, pali, dan bermacam ragam cara hidup orang dulu. kita mungkin tidak perlu Walhi kalau kita mendalami kebijaksanaan tatu hiang kita mengenai kambe penunggu sungai dan hutan misalnya... kambe menjadi sebuah kisah yg kalau kita lihat lagi adalah bagaimana mereka orang tua - uluh huran ingin mendidik kita untuk menghormati roh-roh semua benda dunia yg menopang hidup kita. karena semua itu dihormati, dijaga dan ingin dilestarikan.
    tapi pemunculan modernisme membawa kita jadi orang2 konsumerism yg inginkan lebih dari apa yg bisa ditanggungkan oleh bumi air dan udara. untuk dimiliki dan dikeruk demi kekayaan dan gaya hidup.
    hingga........... kita menghirup asap kebakaran hutan dan ispa dan asma dan sakit mata dan kanker kulit kemudian hari.
    hingga........... kedamaian semua satwa asli menjadi gersang dan punah..
    hingga banjir akan datang...
    hingga...hingga... yg lainnya yg hanya berlabel bencana.
    emosi jadinya, ding.
    semoga kita bisa mulai belajar lagi meneguhkan kebijakan tatu hiang, ya. bahwa kita pecinta petak danum riwut itah dengan menjadikan gaya hidup yg lebih ramah pada lingkungan sesuai sejarah dan gaya hidup orang jaman dulu yg kita terjemahkan untuk berkembang ke masa sekarang.
    pahami akar keaslian kita, dan jadi sebuah jati diri yg bisa bergaul dan mencipta pluralisme.
    bukan pluralisme dulu, tapi kita terasing dengan diri kita sendiri sehingga hilang esensi dan nilai budayanya dan menjadi generasi yg bingung.
    ayo diskusi.

  39. #39 Selasa, 31 Agustus 2010 Pukul 6:47 WIB
    Puyya

    bridget vranckx

    komentar untuk apri di artikel batu suli
    @ Apri :
    iya ding ai.....
    tolong aja dicatatkan untuk kawan2 lain, bahwa beberapa wacana tentang 'modern' dan 'modernisasi' itu harus dilihat jeli dan dibaca ulang.
    apakah dibaliknya ada sesuatu yg ingin di dorong?
    seringkali modern dan modernisasi seolah sesuatu yg berseberangan dengan budaya lokal yg sering diartikan kuno-primitif-magis-takhayul... modern ditempatkan bahwa kita harus melupakan semua sejarah tatu hiang itah, kambe dan penunggu petak danum. adat seolah hal yg menjadi memalukan bagi perkembangan jaman, dan anak2 muda lebih suka kondisi 'modern' yang gaul geto lohhh.... padahal kita dininabobokan dari keaslian jati diri kita, baik sebagai uluh itah, sebagai bangsa indonesia, sebagai manusia.
    bagiku modern bukanlah sebuah kondisi hitech atau semata kemajuan jaman dan era pembangunan. tapi modern adalah sebuah kondisi bagaimana kita sebagai manusia mencapai sebuah ambang kedewasaan dengan memiliki State of mind, memiliki kematangan sikap yg bisa membaca semua keadaan dan mendudukkannya pada konteks dan kondisinya masing2, lalu kita bisa memberikan sebuah sumbang pikir atas sesuatu yg perlu menuju sebuah ideal.
    bukan mengada-adakan masalah yg tidak perlu ada. atau hanya terlarut di dalam sebuah gendam kesadaran dari luar dan melupakan akar sejarah kita.
    Apri, coba lihat dan kumpulkan semua wacana pembangunan hari ini?
    bukankan semuanya hanya berorientasi fisik dan meminggirkan keaslian2 kita sebagai komonitas besar bangsa dayak dan Indonesia.
    lihat saja Palangka, apakah budaya yg terbangun adalah keaslian dayak? baik dari simbol2 kota maupun berbagai perangkat aturan dan tata kelolanya?
    dulu jalan A.Yani itu bernama jalan Antang Bajela Bulau... tapi kemanakah nama Antang Bajela Bulau diadakan?
    itu hanya bagian kecilnya.
    coba dengar kesah uluh huran...... kambe, pali, dan bermacam ragam cara hidup orang dulu. kita mungkin tidak perlu Walhi kalau kita mendalami kebijaksanaan tatu hiang kita mengenai kambe penunggu sungai dan hutan misalnya... kambe menjadi sebuah kisah yg kalau kita lihat lagi adalah bagaimana mereka orang tua - uluh huran ingin mendidik kita untuk menghormati roh-roh semua benda dunia yg menopang hidup kita. karena semua itu dihormati, dijaga dan ingin dilestarikan.
    tapi pemunculan modernisme membawa kita jadi orang2 konsumerism yg inginkan lebih dari apa yg bisa ditanggungkan oleh bumi air dan udara. untuk dimiliki dan dikeruk demi kekayaan dan gaya hidup.
    hingga........... kita menghirup asap kebakaran hutan dan ispa dan asma dan sakit mata dan kanker kulit kemudian hari.
    hingga........... kedamaian semua satwa asli menjadi gersang dan punah..
    hingga banjir akan datang...
    hingga...hingga... yg lainnya yg hanya berlabel bencana.
    emosi jadinya, ding.
    semoga kita bisa mulai belajar lagi meneguhkan kebijakan tatu hiang, ya. bahwa kita pecinta petak danum riwut itah dengan menjadikan gaya hidup yg lebih ramah pada lingkungan sesuai sejarah dan gaya hidup orang jaman dulu yg kita terjemahkan untuk berkembang ke masa sekarang.
    pahami akar keaslian kita, dan jadi sebuah jati diri yg bisa bergaul dan mencipta pluralisme.
    bukan pluralisme dulu, tapi kita terasing dengan diri kita sendiri sehingga hilang esensi dan nilai budayanya dan menjadi generasi yg bingung.
    ayo diskusi.

Tinggalkan Komentar

Komentar diharapkan dalam Bahasa Indonesia, Inggris, Dayak (Kalteng), atau Banjar.
Ingin mempunyai gambar avatar sendiri jika berkomentar? Segera daftarkan diri di Gravatar!

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Dari Meja Redaksi

Maskot Hatue en Bawi

Maskot Hatue en Bawi Hatue en Bawi, alias Laki-laki dan Perempuan dalam Bahasa Dayak Ngaju, adalah nama dari dua figur ...

Laporan lainnya...

» Mengapa Berupa Situs? (9)
» Komentar 101: Facebook (18)
» HUT Tambun Bungai (6)

Dalam Jaringan

Komunitas Facebook

Kabar Kalteng

Sebuah galat telah terjadi, yang kemungkinan berarti umpan tersebut sedang anjlok. Coba lagi nanti.