Badan Pariwisata Kalimantan, Perlukah?

Perlukah diadakannya suatu badan khusus yang menangani pariwisata di bumi Kalimantan? Marilah kita telaah bersama.

Di ranah nasional, Kalteng dikenal sebagai propinsi yang mempelopori Forum Kerjasama Revitalisasi dan Percepatan Pembangunan Kalimantan (FKRP2RK). Sektor unggulan dalam upaya percepatan pembangunan tersebut adalah infrastruktur. Sebagai pelopor utama forum tersebut tentu saja cerita memilukan bahwa kontribusi PRB Kalteng paling rendah dibanding ketiga propinsi lainnya, bukanlah halangan.


i291.photobucket.com/albums/ll314/ticka_chu/DSCF3672-1.jpg

Di sisi lain, tidak kalah penting adalah perhatian pada sektor pariwisata. Nilai penting sektor pariwisata disebabkan oleh dua hal, pertama angka kunjungan turis asing di tahun 2010 yang akan mencapai 1,046 milyar orang (WTO, 2008). Kedua, meluasnya tren model pariwisata minat khusus di abad 21 kini, dimana unsur kelaikan infrastruktur terutama jalan yang bagus, ketersediaan hotel berbintang, hingga pelayanan ala amerika, menjadi tidak begitu penting bagi para turis tersebut.

Daya Tarik Pariwisata Kalteng

Kalimantan Tengah dikenal sebagai surganya pariwisata minat khusus. Ekowisata (ecotourism) di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Taman Nasional Sebangau, TN. Bukit Baka di Kotim, TN. Bukit Raya dengan Danau Sembuluhnya di Seruyan serta yang tersebar di beberapa kabupaten lainnya, menunjukkan kelimpahan sediaan atraksi pariwisata minat khusus yang mengandung unsur edukasi (educative tourism) dan petualangan alam (adventure tourism) dengan imbuhan susur sungai atau arung riam.

Belum lagi eksistensi wisata budaya (culture tourism) seperti atraktifnya adat Tiwah, Wara, atau Ijambe yang notabene tidak lepas dari model wisata religi (pilgrim tourism). Keberadaan kota tua Pahandut lengkap dengan jembatan Kahayan merupakan bukti nyata adanya unsur wisata kota (urban tourism) yang tidak lepas dari jejaring wisata kuliner (culinary tourism) dengan menu khas ikan jelawat, tapah, patin, papuyu, yang tersaji di sepanjang koridor kota Palangka Raya.

Betang Konut di Murung Raya, Betang Rangan Rondan di Katingan Hilir, Betang Damang Batu di Tumbang Anoi serta peninggalan sapundu merupakan fakta tersedianya elemen wisata arkeologis (archeo tourism) yang merupakan bagian dari pariwisata minat khusus.

Dokumentasi Terhadap 13 Kabupaten 1 Kota

Kegiatan dokumentasi foto terhadap atraksi dan obyek wisata yang tersebar di 13 kabupaten dan 1 kota di propinsi Kalimantan Tengah mungkin pernah dilakukan. Namun pertanyaanya, sudahkah hasil dokumentasi tersebut terpublikasi melalui media cyber space secara tersruktur dan tersistematis? Di dunia high modern saat ini, diperkirakan sekitar 1,463 milyar penduduk (www.internetworldstats.com, 2007) yang memanfaatkan internet sebagai bahan gali informasi mereka, dan setiap tahun prosentase pemakai naik 305,5%/tahun. Tren mencari informasi di abad 21 adalah terhubungnya individu-individu melalui media maya. Disinilah kunci rahasia promosi pariwisata yang kuat seharusnya mendapat perhatian lebih.

Hasil dokumentasi tentu saja tidak melulu harus dalam bentuk cetakan semacam brosur atau pamflet yang menyerap ongkos tinggi. Dokumentasi foto yang professional apabila dikelola dengan perpaduan tawaran paket perjalanan wisata antar daerah lengkap dengan peta wisata serta informasi penunjang lainnya yang dikelola di suatu website khusus, tentu saja akan mampu menanggulangi kecerdikan Malaysia yang selama ini mengaku-ngaku aslinya Asia (melalui slogan Truly Asia).

Pembuatan website pariwisata tidaklah mahal. Bahkan, beberapa konsultan jasa pembuatan website yang pernah saya temui mengemukakan bahwa, seorang awam sekalipun mampu membuat sendiri tanpa harus mempelajari secara khusus bahasa pemrograman yang rumit seperti HTML, PHP, CSS dan Javascript. Sungguh menarik!

Website Pariwisata Kalteng

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI merilis hasil riset bahwa 56% turis yang berkunjung ke Indonesia setelah melihat-lihat situs-situs wisata Indonesia melalui internet (Depbudpar, 2007). Bayangkan jika 1% saja dari 1,046 milyar turis yang memiliki interes tinggi terhadap pariwisata minat khusus, tengah melongok di depan search engine semisal yahoo atau google dan mengetikkan kata kunci semisal special interest, atau ecotourism atau yang lebih spesifik seperti Dayak Borneo atau orang utan, maka besar kemungkinan 10,460 juta calon turis yang akan mempertimbangkan kunjungannya ke Kalimantan Tengah.

Namun masalahnya tidak sesederhana itu. Pada beberapa kali kesempatan penulis mencoba menggunakan teknik gali informasi wisata melalui internet tersebut. Hasilnya? Pertama, selalu berujung ke website miliknya Malaysia, kedua selalu berujung ketidakjelasan informasi apabila masuk melalui “pintu” website dengan trafik yang sangat tinggi seperti www.kalteng.go.id.

Akibatnya fatal. Sebagai turis asing yang awam, tentu saja tawaran website pariwisata negara lain yang mengaku-ngaku bahwa Dayak asli dan orangutan asli ada di daerah mereka, akan sangat menggiurkan. Padahal begitu tiba dan dikunjungi ternyata yang dinikmati adalah orang yang berbaju dan bermodel gaya orang Dayak. Pariwisata artifisial istilahnya. Begitu pula khusus orang utan, jelas sekali tercatat bahwa populasi orang utan terbesar berada di Kalimantan Tengah (COP dalam Kompas, 14 Mei 2009). Namun akibat lemahnya daya saing promosi melalui media internet, maka jutaan turis yang seharusnya mengunjungi Kalimantan Tengah, tersesat ke negeri lain.

Peran Sentral Badan Pariwisata

Beberapa destinasi di Indonesia memiliki Badan Pariwisata yang merupakan otorita di bawah kerjasama pemerintah dan swasta. Ambil contoh, Badan Pariwisata Batam ataupun Bali Tourism Board (BTB), yang memiliki kewenangan dalam mengupayakan percepatan pembangunan pariwisata di daerahnya masing-masing. Peran sentral suatu Badan Pariwisata adalah yang menjembatani kebijakan pemerintah di bidang pariwisata dengan aspirasi kalangan industri pariwisata. Badan ini berfungsi untuk membantu promosi dan pengembangan pariwisata baik di tingkat regional bahkan nasional.

Bagi Kalimantan yang keempat propinsinya memiliki kendala serta permasalahan yang sama, maka tentu saja model pembangunan pariwisata yang bersifat co-operative di antara propinsi Kalteng, Kaltim, Kalsel, Kalbar akan sangat efektif dan bernilai penting. Disini, ujud yang paling ideal dalam bentuk konsorsium bersama di wadah Kalimantan Tourism Board (KTB).

Menilik dari kekhasan perkembangan pariwisata di Kalimantan, maka KTB nantinya cenderung akan diarahkan pada misi sebagai berikut: (1) Membangun branding bersama untuk membangun kesadaran global tentang budaya, atraksi dan keajaiban Kalimantan yang unik; (2) Membangun komunikasi lintas sektor dan bidang di lintas propinsi, dengan misi utama memasarkan dan mempromosikan Kalimantan sebagai tempat wisata unggulan; (3) Meriset dan mengidentifikasi secara akurat terhadap aspek pasar wisata dan produk wisata secara seimbang (balancing between supply & demand); (4) Mereposisi pariwisata Kalimantan dalam kontelasi nasional dan internasional; (5) Menstrukturisasi rute-rute domestik (one trip journey) dan menciptakan iklim lama tinggal wisatawan (length of stay); (6) Merangsang investor raksasa di sektor pariwisata untuk menanamkan modalnya; dan (7) Menjaga dan saling mengawasi kualitas atraksi (alam dan budaya).

Kesimpulan

Nilai penting Badan Pariwisata Kalimantan atau Kalimantan Tourism Board (KTB) minimal telah terwujudnyatakan melalui pemanfaatan promosi teknologi informasi internet dalam jangka pendek, serta kontribusi sumber daya manusia pariwisata (human tourism), yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pembangunan Kalimantan dan negara Indonesia. Dimana, Kalteng seharusnya menjadi pelopor terhadap gagasan badan ini.

Keterangan:
Tulisan berikut merupakan buah pikir utus itah di perantauan untuk kemajuan pariwisata Kalteng. Bukan hasil plagiat. Telah dimuat secara berseri di Harian Kalteng Pos, Senin-Selasa, 15 & 16 Juni 2009. Dalam rangka pula mengapresiasi HUT Kota Palangka Raya. Oleh Rio Setiawan Migang, MSc, pengamat pariwisata Kalteng, anggota BPP IAI Nasional, pendiri Jakarta Arsimedik Studio (JAS).

* foto oleh "ticka" dari Kaskus Regional Kalimantan Tengah.

Kata Kunci:
, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Rio Setiawan Migang
Tentang Penulis

Rio Setiawan Migang adalah kontributor dan penulis di Betang.COM. Pengamat pariwisata Kalimantan Tengah, anggota BPP IAI Nasional, pendiri Jakarta Arsimedik Studio (JAS).

Terdapat 23 Komentar

  1. #1 Jumat, 19 Juni 2009 Pukul 11:57 WIB
    Rudy Gunawan

    Pembuatan website pariwisata tidaklah mahal. Bahkan, beberapa konsultan jasa pembuatan website yang pernah saya temui mengemukakan bahwa, seorang awam sekalipun mampu membuat sendiri tanpa harus mempelajari secara khusus bahasa pemrograman yang rumit seperti HTML, PHP, CSS dan Javascript. Sungguh menarik!

    Curcol dulu nih...

    Di bidang yang saya jalani ini, masih banyak saya temui beberapa permasalahan.

    Pertama, mengenai banyaknya gerakan-gerakan di internet mengenai Kalteng, namun sebagian besar masih bersifat internal. Lengkapnya bisa dicek di klik ini.

    Kedua, selama beberapa tahun saya menekuni bidang web-dev, masih ada juga web-developer yang mematok harga tertentu untuk layanan tertentu yang seharusnya bisa diberikan gratis/satu paket. Errr... Agak ambigu sih, mungkin kalimat saya sebelumnya itu agak keliru. Begini contohnya: developer A memberikan tarif untuk sebuah website berbasis HTML statis. Tarif itu tidak flat namun ada tarif khusus untuk guestbook nambah sekian rupiah, untuk jumlah produk nambah juga, untuk fitur search apalagi. Hal yang seharusnya sudah satu paket pembuatan website masih juga ditambahkan tarif-tarif tertentu. Harga dasar pembuatan web di Indonesia dengan kualitas yang bisa saya bilang standar juga masih cukup mahal jika kita bandingkan dengan jasa internasional/luar. Ditambah lagi dengan sistem yang seperti tadi, fitur yang harusnya cuma-cuma malah ditarik bayaran lagi. Ada diskusi yang lengkap dan terperinci di klik ini.

    Lebih ekstrim lagi, saya bisa bilang masih banyak web-developer yang membodohi (ahemn, mengakali) klien. :(

  2. #2 Jumat, 19 Juni 2009 Pukul 13:59 WIB
    riomigang

    Tabe pahari,

    Betul itu, kasus yg paling heboh waktu kasus biaya website kabupaten Halmahera Barat, Malut yg mencapai 9,7 milyar. Selidik2, ternyata dikorupsi oleh pemdanya. Entah web-developernya dpt brpa, tp se pengalaman sy plg2 gak dpt byk, malah mgkn dituding sbg bagian pelaku korupsi. Webnya ini http://www.halmaherautara.com gak pernah update, dan secara pengelolaan, jauh kalah dgn situs betang.com. Salut buat pemuda/i utus itah..

    Peristiwa tersebut semoga tidak terjadi di Kalteng..

    Khusus usulan web pariwisata kalteng sbnarnya sdah sy sampaikan di forum formal maupun langsung kepd otorita tertinggi prov. Kalteng, namun nampaknya masih acuh krn sibuk dgn sektor lainnya..

    Sangat sayang bila calon turis yg berlimpah di luar negeri sana & kebingungan mencari tempat eksotis, tidak jadi datang krn tidak mendapat info jelas melalui media internet.. Entah sampai kapan hal ini diacuhkan oleh pihak2 terkait.. terutama dinas pariwisata kalteng, krn apabila hanya satu pihak sj yg bergerak (misal utus itah membuat sdri) tanpa didukung stakeholder (pemda terutama), pembangunan pariwisata kalteng bakal berjalan timpang..

    Demikian..

  3. #3 Jumat, 19 Juni 2009 Pukul 14:16 WIB
    Rudy Gunawan

    Dulu juga saya shok liat berita itu. Dana bermilyar-milyar untuk sebuah situs? Ahhh, korupsi dalam bidang IT ternyata gila-gilaan. Apalagi ditunjang oleh pejabat-pejabat yang acuh tak acuh bahkan nggak gitu mengerti soal IT. Beberapa waktu lalu di Yogya, komunitas saya pernah diundang suntuk memberi pelatihan nge-blog dan promosi pariwisata di internet kepada mereka yang terlibat dalam bidang pariwisata seperti pemilik hotel, dll. Acara tersebut didukung oleh Dinas Pariwisata DIY, dan hasilnya bisa dibilang memuaskan. Sayng sekali Pemda kita masih nggak begitu melihat potensi di internet ini.

    Masalah biaya, dll. Betang.COM ini saja untuk pembuatan dan pengelolaannya nggak sampai 7 digit rupiah. Murah sekali, apalagi karena sebagian besar kontennya merupakan sumbangan dan kontribusi. Kelemahannya ya pada SDM dan tidak adanya support resmi dari stakeholder. SDM karena semua bagian dari Betang.COM ini bekerja dengan sukarela tanpa dibayar dan sifatnya yang nirlaba. Agak susah karena kebanyakan orang masih butuh uang, hahaaa...

    Tanpa dukungan dari pemda, upaya untuk memperkenalkan Betang.COM ini sendiri ke masyarakat Kalteng pun masih kurang. Selama ini kita hanya bergantung pada promosi di internet saja, misalnya di Facebook dan melalui koneksi-koneksi di dunia blog. Hasilnya memang masih belum maksimal, namun beberapa artikel di sini sudah menempati posisi yan cukup bagus di search engine. Cukup lumayan untuk memberi informasi pada para pencari info.

    Tabe.

  4. #4 Jumat, 19 Juni 2009 Pukul 14:31 WIB
    denny borneo

    benar jg,promosi pariwisata itah diinternet masih sangat kurang. sy sendiri sering mencari2 info ttg wisata di kalteng tp infonya sedikit sekali. puji tuhan sy tau betang.com ini dari pencarian google.com
    tp jika dilihat2 lagi sebagai warga yg dari lahir sampai skrg tetap di kalteng, sy bingung dimana ya pariwisata kalteng itu,, apa cuma aboretum? bkt tangkiling? kok seperti nya kurang terpelihara gt ya
    dr yg sy tau bule2 luar negri tau nya kalteng karena ada orang utan dan tanjung puting, tapi transport ke tanjung puting sendiri masih susah bgt! gmn tuh? sy yg bisa disebut wisatawan lokal sj malas heheheee, apalagi wisatawan indonesia atau luar negri. yg kesana paling2 bule2 peneliti luar negri aja ya

    jd bingung neh....

    "pengelolaannya nggak sampai 7 digit rupiah"

    wah berapa tuh
    bagi2 info dong hehehee... sapa tau jd inspirasi nehh

  5. #5 Jumat, 19 Juni 2009 Pukul 14:38 WIB
    denny borneo

    lo koq komentar sy tulisan nya dri pontianak??
    salah neh,asli dari palangka raya

  6. #6 Jumat, 19 Juni 2009 Pukul 15:25 WIB
    apri

    Hmm..., menurut saya badan pariwisata itu sangatlah perlu terutama untuk memperkenalkan daya tarik pariwisata palteng
    seperti kita ketahui bahwa di Kalteng sangat banyak sekali terdapat objek pariwisata, dan kalau memang pariwisata ini dikelola dengan baik hasil juga dapat nambah pemasukan daerah.

  7. #7 Jumat, 19 Juni 2009 Pukul 20:32 WIB
    riomigang

    Tabe pahari,

    @ Rudy: Jujur pahari..walaupun kedua org tua sy pns di kalteng, namun dgn mata kepala sdri sy melihat bhw umumnya pegawai negeri memang punya kecenderungan yg mirip, yakni tidak luwes dan kurang begitu mampu memaksimalkan potensi di sekitarnya. Itu mengapa, walaupun disentil, sgt jarang pemda/pemkot segera menanggapi ide penuh terobosan. Mata kepala mrk sudah lihat, disentil, disenggol, tetap gak bergeming. Apabila mnjwb, jwbnnya mrk sdrhana, tahun ini tidak ada programnya. fiuwww...

    @ Deny: sedikit review masa lalu nih..dulu sekali sy pernah riset menyelesaikan tesis sy di tanjung puting, jujur sj sy meminta bantuan pemda provinsi, kemudian pemda kabupaten kotim, bahkan dinas kehutanan yg mengurusi TNTP untuk sekedar numpang transport dari Kumai ke Teluk Pulai. Hasilnya?? akhirnya sy urus dan sewa transport sdri. Beberapa bulan sy tinggal di tempat terpencil tanpa perhatian dr pihak tsb bhw apa yg sy lakukan utk mengharumkan nama Kalteng di UGM & utk scope dunia ilmu pengetahuan. fiuwww...(walau begitu sy tdk kecewa krn memang bgtulah pelayanan qt, so jgn berharap byk pariwisata kalteng bs maju pesat bila segi pelayanan/hospitality, diabaikan)

    @ Apri: Harus ada itu, krn badan tsb bisa menjembatani pihak swasta & pemerintah.

  8. #8 Jumat, 19 Juni 2009 Pukul 21:45 WIB
    Bintang Sariyatno

    untuk pencarian di search engine pariwisata kalteng memang sedikit ketimbang pencarian dengan memakai keyword prwvinsi lain, khususnya Pulau Jawa.
    melihat hal ini saya juga beranggapan perlu adanya suatu lembaga untuk dapat menjadi tempat masyarakat yang ingin mengunjungi ataupun hanya ingin mencari informasi mengenai wisata Kalteng.
    mudah-mudahan badan yang dimaksud ini dapat terwujud.

  9. #9 Sabtu, 20 Juni 2009 Pukul 13:42 WIB
    Agnes E. T.

    @gun chama : tuh kan... Makane, sm tmen jgn narik baiaran... Aq minta diajari buad webx aj XP

    aq jg ampir seumur idup tinggal d kalteng, tjuan wisata plg banter y k tangkiling, arboreteum itu, sma danao yg dket arbo itu, bukit batu, nambah lg kumkum,,,

    emang d kalteng kaiakx prlu ad badan khusus yg nanganin mslh pariwisata ini. Dr kcil tgl d palangka, tp tmpad tjuan represing plg banter itu2 aj, tmpadx jg g keurus dgn bæk, trkadang trliad kumuh malah... Klw ad tamu dr luar mw minta diajak jalan2, aq jd bingung mw ngajak kmana... XP

  10. #10 Minggu, 21 Juni 2009 Pukul 8:47 WIB
    riomigang

    Rekan2, setuju tidak bila sy katakan bhw satu2nya obyek wisata (di palangka) yg tertanam di otak bahkan di alam bwh sadar qt sejak berpuluh tahun lalu adlh tangkiling & arboretum?

    Bila setuju, maka sy katakan bhw itu dpt berarti 2 hal. pertama, daya tarik obyek tsb mungkin sgt dahsyat. kedua, hal itu sgt mgkn berarti selama puluhan thn, pariwisata kalteng sbnrnya tdk ada perubahan..

  11. #11 Senin, 22 Juni 2009 Pukul 16:35 WIB
    Ary Wibowo S.

    to riomigang: benar! yg saya ingat terus hanya arboretum/kumkum dan tangkiling saja
    saya setuju jika di katakan berpuluh2 tahun ini pariwisata kalteng hanya jalan di tempat saja :(

  12. #12 Jumat, 26 Juni 2009 Pukul 13:37 WIB
    Rudy Gunawan

    @ denny borneo:

    "pengelolaannya nggak sampai 7 digit rupiah"

    wah berapa tuh
    bagi2 info dong hehehee... sapa tau jd inspirasi nehh

    Sesuai kantong mahasiswa lah. :P
    Nggak mahal-mahal amat. Toh untuk hosting bisa numpang di hosting yang kusewa. Paling cuma buat beli domain dan ongkos internetan aja. Yang lain macam desain dan maintenance nggak keluar biaya untuk honor karena dikerjakan sendiri.

    Yah, benar itu, siapapun sekarang bisa buat web kayak gini kok. :))

    lo koq komentar sy tulisan nya dri pontianak??
    salah neh,asli dari palangka raya

    Bisa jadi karena IP address yang saudara gunakan adalah IP address yang terdaftar sebagai IP addrss Kota Pontianak.

    Dan mohon maaf, untuk database kota di Indonesia kita masih kurang lengkap. Maklum memakai database gratis.
    Munkin juga karena itu.

    @ riomigang:

    @ Rudy: Jujur pahari..walaupun kedua org tua sy pns di kalteng, namun dgn mata kepala sdri sy melihat bhw umumnya pegawai negeri memang punya kecenderungan yg mirip, yakni tidak luwes dan kurang begitu mampu memaksimalkan potensi di sekitarnya. Itu mengapa, walaupun disentil, sgt jarang pemda/pemkot segera menanggapi ide penuh terobosan. Mata kepala mrk sudah lihat, disentil, disenggol, tetap gak bergeming. Apabila mnjwb, jwbnnya mrk sdrhana, tahun ini tidak ada programnya. fiuwww...

    Menurut saya, kecenderungan mayoritas PNS memang masih pada sesuatu yang konservatif dan memegang nilai-nilai lama (baca: Orde Baru?) dan masih menutup diri terhadap isu agen perubahan / agent of change. Ironisnya nilai-nilai konservatif ini bukan nilai yang membawa kepada kemajuan tapi malah stagnansi selama berpuluh-puluh tahun.

    Bisa jadi karena dari dulu (entah sekarang, tapi bisa jadi juga) motivasi orang menjadi PNS adalah karena hidup yang teratur dan terjamin, sehingga tindakan-tindakan yang "keluar jalur" dan tidak biasa dilakukan oleh instansi-instansi dianggap sebagai sesuatu yang merepotkan, lebih lagi tidak menguntungkan secara pribadi. Menurut mereka PNS pakem-nya masih sesuatu yang konvensional dan konservatif. Begit kurang kreatifitas dan isu agen perubahan di jajaran birokrasi kita. :(

    Hal yang ironis lagi, pernah kubaca sebuah tulisan J.J. Kusni: "Dari pembicaraan-pembicaraan intensif dan pengamatan langsung selama bertahun-tahun di Kalteng, kudapati bahwa yang menjadi ideal mereka adalah menjadi pegawai negeri betapa pun kecilnya gaji yang mereka peroleh. Menjadi pegawai negeri dianggap sebagai pekerjaan ideal dan dicoba diproleh dengan macam-macam cara termasuk mnyogok."

    Rekan2, setuju tidak bila sy katakan bhw satu2nya obyek wisata (di palangka) yg tertanam di otak bahkan di alam bwh sadar qt sejak berpuluh tahun lalu adlh tangkiling & arboretum?

    Whew, saya menyiyakan. Saya setuju bahwa hanya itulah objek wisata di Palangka yang diketahui oleh sebagian besar warganya. Sektor pariwisata kita masih sangat kurang. Mungkin kritik dalam salah satu komentar di artikel Hotel Aquarius tempo hari itu tepat sasaran http://betang.com/artikel/wisata/hotel-aquarius-boutique-palangka-raya.html

    @ Agnes E. T.:

    @gun chama : tuh kan... Makane, sm tmen jgn narik baiaran... Aq minta diajari buad webx aj XP

    Lah kamu kan mahasiswa IT, je. :P
    Sementara aku kan bukan. :))

    Lagipula aku kan nggak bisa mengajari kalo nggak secara langsung. :D

  13. #13 Rabu, 1 Juli 2009 Pukul 14:14 WIB
    Badan Pariwisata Kalimantan, Perlukah? «

    [...] 17 Juni 2009. Telah dimuat di Harian Kalteng Pos (15-16 Juni 2009) dan di portal Kalimantan Tengah http://www.betang.com, serta situs resmi Pemprov Kalteng [...]

  14. #14 Senin, 6 Juli 2009 Pukul 22:52 WIB
    jeadist

    Saya rasa ide yang baik kalau membangun suatu badan pariwisata guna membantu jalannya promosi pariwisata. Namun saya kira, saat kita membicarakan promosi, kita harus juga tidak melupakan apa yang dipromosikan.

    Berbicara kondisi pariwisata di Kalteng, kalau boleh saya mengungkapkan pendapat pribadi : pariwisata kalteng tidak hanya berjalan di tempat, tapi saya pribadi jujur *sekali lagi saya pribadi* menganggap hampir mati alias sekarat. Pertengahan bulan mei 2009 saat saya melakukan penelitian di arboretum tentang Anak Himba Outbond yang diklaim berbasis community, jalan akses arboretum masuk ke dalam hutan rusak total. Jembatan kayu tidak dapat dilalui sampai ke dalam, hanya sebatas sisi awal. Kata masyarakat setempat dikarenakan taman hutan ini menjadi kawasan reintroduksi *perlu penelitian lebih lanjut*. Setidaknya dari observasi saya selama 8 hari disana, BKSDA yang memiliki lahan ini sepertinya "diam" dengan kondisi kerusakan arboretum. Lantas peneliti2 atau wisatawan yg tertarik dengan potensi flora arboretum tidak dapat lagi menikmati potensi tersebut.

    atau kita sebut lagi taman alam bukit tangkiling. Secara teori yang harus di cross cek dengan fakta di lapangan atau aplikasinya adalah, salah satu syarat daerah atau daya tarik dapat dikatakan sebagai daya tarik wisata *karena tidak lagi ada istilah objek dan daya tarik wisata, hanya daya tarik wisata* dan saya lebih suka menyebut dengan destinasi wisata adalah something to see, something to do, something to buy yang kemudian terkait dengan 4 A salah duanya atraksi dan aksesibilitas. Untuk syarat itupun kondisi destinasi yang kita aku-akui atau kita elu-elukan atau kita bangga-banggakan sebagai potensi daya tarik wisata tidak bisa disebut sebagai sebuah destinasi wisata. Apakah hanya melihat pemandangan alam dapat dikatakan berwisata??

    Tentunya pengertian wisata atau pariwisata adalah kegiatan yang dilakukan satu orang atau lebih yang melakukan perjalanan meninggalkan rumahnya dengan tidak bermaksud mencari kerja, mencari pengalaman baru, melakukan kegiatan dengan motivasi-motivasi dan melakukan kegiatan yang berbeda dari rutinitas hariannya. Tentunya kegiatan wisata ini seperti yang ditulis para senior di atas adalah harus ada akses yang cukup, pelayanan yang cukup, fasilitas yang cukup, sehingga layak untuk dikunjungi wisatawan *Walau yang cukup tsb jg sederhana*

    Jadi saya rasa, sebelum membuat badan pariwisata apalagi membawa nama Kalimantan yang tidak hanya mencakup Kalteng tapi jg membawa nama 3 provinsi lainnya *atau sebagai pelopor/penggerak*, kita baik pemda maupun para aktivis pariwisata harus memperhatikan dan memperbaiki kondisi destinasi wisata yang kita miliki dulu. Bagaimana kita mau mempromosikan destinasi agar dikunjungi tapi destinasi tsb belum bisa dikatakan layak? Bukankah kita mempermalukan diri kita sendiri?

    Berbicara promosi tidak hanya bisa dilakukan oleh Badan pariwisata, Tour Operator pun bisa walau dalam skala yg lebih kecil. Maksud saya, tour operator bisa merintis promosi pariwisata daerah. Tapi apakah kita punya tour operator di kalteng yg benar2 profesional? Setau saya *Semoga saya salah, karena yg saya tau belum tentu benar* ada 1-2 BPW yg menawarkan paketnya ke BPW lain di jawa dan bali namun tidak seimbang jumlahnya dengan agen perjalanan wisata *yang katanya agen perjalanan wisata tapi semua hanya sebatas ticketing, lantas jarang yg menjual paket wisata* Justru BPW inilah yang lantas juga efektif dalam mempromosikan destinasi wisata. Jadi kenapa tidak kita dorong terbentuknya BPW atau tour operator yang lebih profesional. :)

    selama saya terlibat dengan hal2 yg berbau tour dan promosi destinasi, itulah yang saya lihat. Bahkan, hampir semua wisatawan asing yang berkunjung ke Kalteng dihandle atau ditangani oleh BPW dari luar kalteng. *walaupun ada 1-2 biro perjalanan dari kalteng yg menawarkan paket2nya ke biro di luar kalteng seperti Bali dan beberapa di pulau jawa dgn sistem join*

    Menanggapi tren pariwisata dunia saat ini yang beralih dari mass tourism atau pariwisata masal yang mementingkan jumlah kunjungan tanpa memperhatikan kualitas wisatawan sudah mulai beralih ke arah alternative tourism dimana jumlah kunjungan wisatawan tidak menjadi hal yang utama namun kelestarian Sumber daya yang menjadi potensi dan nilai edukasi bagi wiatawan-lah yang dipentingkan. Sehingga wisatawan yang dijangkau pun berkualitas. salah satu bentuknya adalah konsep ecotourism atau pariwisata ekologi. TNTP memang sudah menerapkan kosep ecotourism ini dng baik. Tapi saya belum mendengar taman nasional lainnya di kalteng yang demikian. Saat sepupu saya mengurus izin dan mencari informasi utk penelitian di Taman Nasional Sebangau ternyata hasil yang didapat mengecewakan. Mungkin karena terbilang baru sehingga tidak bisa disamakan dengan TNTP. Tapi harus dilihat apakah ekowisata benar2 ekowisata atau hanya sekedar cover??? Tentunya dilihat dari penerapan di lapangan salah satunya aktivitas ecotourist di destinasi.

    Yah hanya itu pendapat saya yang masih anak kemarin sore....
    maaf kalau menyinggung atau kurang berkenan...
    sekedar memberikan opini yang *semoga* bisa saya pertanggungjawabkan, hehehe...
    bukan bermaksud pesimis..., tapi justru melihat fakta2 inilah membuat saya semakin bersemangat untuk membangun "huma" saya :)

    tabe :)

  15. #15 Selasa, 7 Juli 2009 Pukul 11:29 WIB
    riomigang

    Argumen yg sgt baik Jean. Krn fakta bhw kita tertinggal itulah (baik infrastruktur, sdm, ekonomi, pariwisata, dll) dibanding ketiga propinsi lainnya di bumi Kalimantan, tidak seharusnya membuat pesimis. Kalteng yg disebut2 sbg propinsi paling miskin & tertinggal scr infrastruktur adalah PELOPOR & INOVATOR Forum Percepatan Pembangunan Kalimantan (FKRP2RK).

    Mengherankan, Ajaib & Luar biasa yg dilakukan oleh kalteng tsb., kan udah plg "kecil"-"miskin" pula tapi berani berinisiatif. Gara2 "kecebur" berani itulah, pembangunan infrstrktur kalteng "menggila" atau makin bagus.

    Bgmana pariwistanya? setali tiga uang. Tdk bs berlarut2 dlm agenda lama/konvensional, promosi & perbaikan sj (ini tugas harian disparnibud prov, kota, kabupaten). Mesti ada perombakan radikal. Dan jalannya melalui upya "penceburan" itu, melalui badan par kalimantan (bukan badan par. kalteng), yg visi misi & tgsnya beda dgn badan pariwisata di destinasi lainnya, yg tdk melulu konteksnya hanya tuk berpromosi.

    Krn melalui badan ini bs merangsang inevstor luar utk mngembagkan sisi aksesbilitas, amenitas & daya tarik, sbb provinsi tdk cukup biaya utk berpromosi & merenovasi. Melalui badan ini pula bs saling memecut ke-4 provisni utk bersaing scr kooperatif (bekerjasama dlm persaingan yg sehat utk kemajuan bersama).

    Bila kita msh dlm stigma "daya tarik wisata kalteng jelek", sulit kita keluar dr kondisi skrg.
    Persepsi negatif pariwisata kalteng tdk maju memang sebuah realita. Namun bila kita masih berkutat pd mslh "being", selamanya akan terkerangkeng dgn stigma itu. Mari keluar dr persoalan "being" itu, tp gapai "meaning of life", yg berbasis visi & iman.

    Niscaya, kalimantan (bukan hanya kalteng) akan lebih dr singapura itu. Negara yg alam, tumbuhan, tak ada gunung/bukit, tak punya sungai & riam, tak punya orang utan & budayanya dulu tdk ada apa-apa, tp krn visi & believing mrk, krn kepiawaian+krj keras SDM nya mendayagunakan kreativitas, inovasi & pengetahuan mjd destinasi terpopuler di dunia.

    Apalagi Kalteng & kalimantan yg kaya itu..mengapa takut mjd pelopor?

    *khusus menyoroti mslh 'being & meaning' tsb bs bc di blog sy berjudul "qou vadis kebudayaan dayak"

    Ok Jean..jgn takut tuk menulis & menuangkan pemikiranmu ya..GB

  16. #16 Sabtu, 22 Agustus 2009 Pukul 4:06 WIB
    jaona

    hey guys,does anobody speak english or french. I am from madagascar but very interested in the dayak ma'anyan history, culture and language.can anyone help me?

  17. #17 Sabtu, 22 Agustus 2009 Pukul 8:40 WIB
    Rio Migang

    Hi Jaona,
    Nice to see you here..
    I'm maanyanese, i can speak english but not too good.
    What can i help you?

    Please contact me via mail: riomigang@yahoo.com
    or via my weblog wwww.BorneoTourismWatch.wordpress.com

    Regards,

  18. #18 Jumat, 2 Oktober 2009 Pukul 2:15 WIB
    tahi kucing

    tahi kucing yang menulis.

  19. #19 Senin, 12 Oktober 2009 Pukul 10:17 WIB
    tugas IBD (CULTURAL SURVIVAL) - sifa ngebolgs

    [...] lagu Rasa Sayang’e yang terjadi beberapa waktu lalu. Kasus ini hangat dibicarakan karena pihak pariwisata Malaysia mengunakan lagu tradisional Maluku, Rasa Sayang’e sebagai lagu promosi untuk kampanye [...]

  20. #20 Rabu, 16 Desember 2009 Pukul 1:30 WIB
    BAYOE

    akan bang RIO,,
    aku lagi TESIS kea tuh bang..... lokus palangkaraya.... mikeh terkendala data ih kareh bang..... (paksa studi mandiri)..... tujuan mulia kea tuh kisah ah.. mngharumkan nama kalimantan tengah.... hheheheheh..... tege no. je tau hubung kah bang.... akan sharing.. TRIMS....

  21. #21 Rabu, 6 Januari 2010 Pukul 13:05 WIB
    asinamura

    Hi temans,
    Untuk mengembangkan Pariwisata Kalimantan Tengah, tidak harus menunggu gerak dari pemerintah, tapi tentu saja dukungan pemerintah memang penting sekali.
    Gaung wisata KalTeng yang sebenarnya sangat unik dan menarik ini, jika dikemas "nyeni" dan masyarakat Kalteng "sadar wisata" artinya masyarakatnya menerima pelancong dengan tangan terbuka dengan senyuman,serta dijalankan secara profesional tentu saja akan menarik wisatawan.
    apalagi jika Wisata kalteng bisa dicapai dengan biaya tidak mahal (akomodasi/transportasi mudah dan terjangkau).

  22. #22 Jumat, 15 Januari 2010 Pukul 7:43 WIB
    Asst.

    @Bayoe: Silahkan add via YM: riomigang, via telp. studio 021-324 29 238
    @Asinamura: terima kasih

  23. #23 Senin, 19 April 2010 Pukul 13:48 WIB
    rainer

    pemilihan duta pariwisata aku rasa malah membuang-buang waktu dan tenaga. malah ajang seperti ini hanya untuk mempromosikan diri bukan obyek wisata daerah.

Tinggalkan Komentar

Komentar diharapkan dalam Bahasa Indonesia, Inggris, Dayak (Kalteng), atau Banjar.
Ingin mempunyai gambar avatar sendiri jika berkomentar? Segera daftarkan diri di Gravatar!

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Dari Meja Redaksi

Maskot Hatue en Bawi

Maskot Hatue en Bawi Hatue en Bawi, alias Laki-laki dan Perempuan dalam Bahasa Dayak Ngaju, adalah nama dari dua figur ...

Laporan lainnya...

» Mengapa Berupa Situs? (9)
» Komentar 101: Facebook (18)
» HUT Tambun Bungai (6)

Dalam Jaringan

Komunitas Facebook

Kabar Kalteng

Sebuah galat telah terjadi, yang kemungkinan berarti umpan tersebut sedang anjlok. Coba lagi nanti.