Teras Narang Masih Terlalu Kuat

Bulan Juni 2010 mendatang Kalteng kembali menghelat pesta demokrasi. Kini, salah satu proses pemilihan secara langsung itu adalah pemilihan pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalteng periode 2010 – 2015.

Salah satu calon yang diunggulkan tentu saja calon incumbent Agustin Teras Narang. Tak berlebihan, Teras Narang memang cukup memiliki kapasitas sebagai pemimpin Kalteng. Ini dibuktikan dengan keberhasilannya memimpin sekitar 2 juta penduduk wilayah ini dalam periode kepemimpinan sebelumnya. Secara kebetulan Teras Narang juga diusung parpol besar PDI-Perjuangan, yang dikenal cukup solid dan memiliki mesin politik yang tangguh. Bagi publik Kalteng, khususnya pemilih tradisional dan berpendidikan agaknya tak terlalu sulit menentukan siapa yang harus dipilih dalam pilkada nanti.


atn-center.org/view.asp?id_foto=220

Saat ini di Bumi Tambun Bungai hampir belum ada figur calon gubernur yang memiliki ketokohan seperti Teras Narang. Muda, smart, dan memiliki jaringan luas di pemerintah pusat. Di provinsi ini bukan tak ada kader berkelas yang mampu memimpin, hanya saja kapasitasnya baru dalam level kabupaten/kota. Mereka cukup berhasil memimpin daerahnya, tapi belum tentu mampu mengakomodir beragam kepentingan di tingkat propinsi. Sebut saja nama Wahyudi K. Anwar(Bupati Kotawaringin Timur), Zain Alkim (Bupati Barito Timur), Baharudin H. Lisa (Bupati Barito Selatan), atau Willy M. Yosef (Bupati Murung Raya ). Kandidat yang cukup potensial bakal menandingi Teras Narang justru adalah wakilnya sendiri, yaitu Achmad Diran. Persoalannya, apakah Diran punya 'perahu' dan cukup amunisi untuk maju dalam pilkada.

Nama-nama bupati ini beberapa pekan terakhir ramai diberbincangkan bakal maju menandingi Teras Narang di Pilkada Kalteng mendatang. Sejumlah politisi di wilayah ini mulai melakukan manuver menggalang dukungan untuk mencalonkan kandidat tertentu. Wacana bahwa paket Gubernur dan Wakil Gubernur Kalteng harus pasangan Muslim sempat mengemuka. Wacana sentimen agama dalam pilkada yang memiliki tensi politik tinggi sebenarnya sangat disayangkan. Sebab, Kalteng yang penduduknya sangat pluralistis sebenarnya tak pernah mempersoalkan hal tersebut. Politisasi agama terbukti akan membuat porak porandanya harmonisasi sosial. Tapi, politik adalah pertarungan kepentingan yang sulit ditepis.

Wacana pasangan Muslim otomatis akan menjadi rival politik Teras Narang yang beragama non–Muslim. Masalahnya, apakah isu agama laku dijual di Kalteng?

Kalteng bukan Aceh atau Jawa yang dapat membuat penduduknya menentukan pilihan bedasarkan agama tertentu. Cara berfikir masyarakat di daerah ini masih cukup realistis dan obyektif.

Masih tingginya 'nilai jual' Teras Narang dalam pilkada mendatang membuat figur wakil gubernur tidak menjadi begitu penting. Artinya, dengan siapapun dipasangkan Teras Narang tetap menang. Ada kabar, Teras Narang bakal meninggalkan Achmad Diran dan mencari pendamping lain. Belakangan santer beredar Teras Narang bakal menggaet Didik Salmijardi (mantan Bupati Kotawaringin Timur).

Sejauh ini informasinya masih sangat prematur, setiap detik ritme politik selalu berubah. Yang pasti Teras Narang masih terlalu kuat untuk disaingi.

* foto dari atn-center.org

Kata Kunci:
, , , , , , , , ,

Bambang M. Permadi
Tentang Penulis

Bambang M. Permadi adalah kontributor Betang.COM tinggal di Palangka Raya

Terdapat 14 Komentar

  1. #1 Selasa, 6 Oktober 2009 Pukul 10:17 WIB
    SATRIABAJAHITAM

    Satu hal yang sangat tepat dari apa yang dikatakan oleh pak Permadi adalah bahwa masyarakat Kalteng bukanlah masyarakat yang menentukan pemimpin berdasarkan agama, ras, ataupun suku....
    Satu hal yang menjadi tolak ukur dari masyarakat Kalteng dalam menentukan pemimpin adalah bahwa " Jika pemimpin itu memiliki visi dan misi yang akan membuat Kalteng menjadi propinsi berjaya dan raya..dan mencintai Kalteng dan semua unsur yang terkandung didalamnya sebagaimana dia mencitai Tuhannya......."....
    Bravo Kalteng!!!!!!!

  2. #2 Selasa, 27 Oktober 2009 Pukul 14:02 WIB
    juanjie

    Hal menarik adalah ketika pemimpin seperti yang anda kemukakan tersebut, (Muda, smart, dan memiliki jaringan luas di pemerintah pusat) hmmm.. seperti ada yang aneh.. atau lucu atau kemaruk. cobalah memandang lebih luas seperti apa gambaran rinci kalteng's setelah narang's family memimpin (mungkin lebih tepat menguasai kalteng) jika anda pernah "terbang" lihat sektor hutan menyedihkan (memang illegal logging diberantas "lihat milik narang's family adakah tersentuh). pelototi juga undang-undang negara mana yang bisa menunjukkan bahwa gubernur dapat menjadi bupati defenitif seperti terjadi di barito utara, ketika terlihat kepentingan narang's family dan malah telah berjalan kepentingannya barulah dia seakan-akan tersadar. haha, pelototi juga berapa proyek fiktif saat gubernur yang juga kemaruk pengen jadi bupati tersebut yang terjadi di batara yg juga menyangkut narang's... btw lolos juga. yah ada gunanya pesan ortu beliau "belajarlah hukum untuk melawan hukum".. banyak lagi....tapi cukuplah untuk membuka borok tulisan penjilat anda. terakhir yang saya kagum adalah teras narang sebagai gubernur spanduk!!!!

  3. #3 Selasa, 3 November 2009 Pukul 13:16 WIB
    dr.Febriandri

    menjadi orang nomer 1 di kalimantan tengah menjadikan mimpi bagi siapa pun untuk seluruh warga kalteng.semua memerlukan perjuangan dan kerja keras.disini juga sebenarnya tidak di permasalahkan bagaimana dana atau alat kendaraan yang digunakan dalam menuju kursi orang nomer 1 kalimantan tengah.kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, dan rasa kepimpinan yang tinggi menjadi dasar untuk bisa memimpin dan membangun bumi isen mulang.tapi dalam hal ini saya kurang berpendapat bahwa Yth bpk Teras narang di nilai berhasil dalam membangun provinsi kalimantan tengah tercinta.keadilan yang di rasakan masih sangat kurang dalam implementasi kinerja beliau di lapangan.contoh hal dalam pengembangan sumber daya alam.seharusnya tidak dengan bebas nya memberikan surat ijin landclearing kepada perusahaan baru.dengan adanya peraturan dari Dinas pertanahan agraria (saya lupa nomer berapa), khusus wilayah yang di huni oleh warga meskipun hanya memiliki surat tanah berupa adat dan tanda tangan dari camat terkait, tidak di perbolehkan untuk masuk dalam peta landclearing.contoh warga kabupaten seruyan.banyak sekali warga yang mengeluh hak tanah nya di rebut oleh perusahaan.dengan iming" uang dan paksaan seharusnya aparat pemerintah dan hukum berkewajiban melindungi warga nya.1 contoh hal lagi tentang ketidak adilan kepemimpinan beliau.langkah dalam menetapkan formasi jabatan memang di perhitungkan, di tetapkan, dan di pilih oleh bupati/gubernur terkait.tapi orang yang tidak dekat dan di anggap musuh malah di kesampingkan.padahal, yang di anggap musuh itu sebenarnya orang yang sudah mendarmabhaktikan dan berjuang membangun kepemerintahan dan pernah mengharumkan nama kalimantan tengah.masa PNS golongan IVc masa bhakti lebih dari 20 tahun malah disingkirkan menjadi staf ahli.jangan kan bekerja, ruang kerja pun tidak di beri.maaf bila saya terlalu banyak berbicara disini.tp melalui media ini agar mata warga kalimantan tengah khusus nya kabupaten seruyan bisa melihat, bahwa keadilan yang di kumandangkan oleh sang pemimpin belum bisa kita acungi jempol.kendaraan politik jangan disangkutpautkan dengan kepemerintahan.sebab pemerintah itu menyangkut hajat hidup orang banyak. sekali lagi terima kasih atas ijin dari moderator untuk saya berkomentar disini.salam kenal dari saya.

    dr.Febriandri BS, Sp.A(k)

  4. #4 Rabu, 4 November 2009 Pukul 15:12 WIB
    hamlennon

    Salam kenal dr. Febriandri, anda jadi ikut take me out ga? hehehehe

  5. #5 Kamis, 5 November 2009 Pukul 13:57 WIB
    Onjoi Napoi

    Tidak ada pemimpin yang sempurna, demikian pula Teras Narang. Apapun yang dilakukan Teras Narang adalah sebuah dharma bhakti untuk membangun tanah kelahiran. Adalah sangat terpuji bila memberikan memasukan secara konstruktif dan bertanggungjawab bagi pembangunan Kalteng di segala bidang. Hanya pandai mengkritik dan menghujat kebijakan Teras dari pinggiran adalah perbuatan orang-orang pengecut, yang menjadi penumpang gelap reformasi di Kalteng.
    Buat Bung Bambang Permadi, salam jurnalis !

  6. #6 Sabtu, 5 Desember 2009 Pukul 23:50 WIB
    Warga Puruk Cahu

    Berlindung dari kata pepatah "tidak ada manusia yang sempurna" adalah sebuah sikap yang tidak berjiwa kestria, yang tidak mau mengakui kesalahan yang pernah ada. Adanya sebuah kritikan, itu sebetulnya "cahaya" untuk membantu melihat kesalahan yang kadang terlupa dan terabaikan. Kritikan adalah sebuah "curahan hati" rakyat atas kebijakan yang relatif tidak berpihak dan melukai hati rakyat. Dan itu benar-benar ada, bukan hanya omong kosong belaka.

    Kawan, jangan terlalu fanatik...!! kadang-kadang fanitisme membuat mata menjadi buta untuk melihat realitas yang ada. Berikanlah sehelat ruang untuk objektifitas bertandang di otak mu.

  7. #7 Kamis, 24 Desember 2009 Pukul 14:53 WIB
    Ery donk mangkin

    HIDUP PAK TERAS NARANG,,, SAYA TETAP DUKUNG KAMU....

  8. #8 Senin, 28 Desember 2009 Pukul 16:48 WIB
    Putra Kapuas

    Hhmm...
    Teras Masih Terlalu Kuat?

    berdasarkan survey apa tuh??
    kayanya diragukan kevalidannya...
    tidak menyebutkan sumbernya secara jelas...

    buka mata donk mas...
    lihat realitas yang ada...
    Kalteng itu bukan hanya Palangkaraya saja...
    perhatikan juga warga-warga yang ada dipelosok...
    terutama masyarakat2 adat..
    mereka masih sangat ketergantungan dengan alam...
    ketika mereka menebang pohon untuk membuat sebuah rumah yang luasnya mungkin tidak seluas kamar mandinya Pak Teras, langsung para polisi hutan bertindakuntuk menagkap...
    namun hal ini berbanding terbalik apabila Narang Brother melakukannya...
    saya tau alasanya kenapa mereka bisa menebang pohon karena telah mendapat izin kan...???
    tapi izinnya dari saudara sendiri masa harus ditolak... hehehehehe
    kan ngga lucu...

    mm...
    apakah itu adil bagi saudar2 kita yang ada dipedalaman yang untuk makan sehari-hari saja belum tentu terpenuhi...
    sementara para petinggi semakin memperkaya diri...

    untuk pilkada nanti kalau bisa masyarakat jangan terlalu membawa isu-isu rasisme...
    kita sudah punya pengalaman buruk ditahun 2001 karena sukuisme,
    jadi jangan lah dikompor-kompori...
    mengenang situasi itu saya begitu sangat sedih dan ngeri...

    cukup isu suku, agama, ras, dan golongan tersebut disimpan dalam hati saja...

    karena Kalteng adalah bagian dari Indonesia siapapun boleh memimpin asalkan punya Kredibel dan mempunyai kapabilitas yang cukup sebagai pemimpin daerah,
    namun terkadang masyarakat kurang percaya terhadap orang asing...
    katanya takut ditipu...

    ya udah lah kayanya komen saya terlalu panjang...
    semoga Pilkada Kalteng 2010 nanti berjalan aman, lancar, damai, bermartabat, serta berkeadilan...
    Amin...
    dan mendapatkan pemimpin yang baru untuk membawa Kalteng menjadi daerah yang potensi disegala bidang baik ekonomi, edukasi, pariwisata dan lain sebagainya

  9. #9 Senin, 4 Januari 2010 Pukul 11:46 WIB
    Ilmie,, S.Sos

    Sebenarnya tidak ada pemimpin yg bnr2 smpurna,,,,,
    Teras = Karir bagus, but nafsu banget buat dinilai baik & hebat dlm mmbngun Kalteng..... Kasus robohnya jembatan Timpah pada ruas jl. Buntok-Palangka Raya adalah bukti bahwa ketidaksabaran gubernur untuk segera meresmikan jembatan yg memang belum layak untuk dinyatakan "jadi". Unsur politik begitu kental dlm pengebutan pembangunan jembatan tsb, dan akhirnya......... ambruk...... memakan korban jiwa...... Kontraktor yg jd kambing hitam.... Gubernur??? cuci tangan...... So.... masih Pro Teras??

  10. #10 Selasa, 2 Februari 2010 Pukul 22:02 WIB
    THATHA BARITO

    Kita memang hobinya mencela org lain!!!!!!!!.....karena kemampuan kt cuman segitu....ngak lebih, masih untung kalau dihargai jd pengemis,biasanya org yg suka mencela adalah penjilat dan suka dipuji....Warga barito sepuluh tahun menunggu jalan ke p,raya tanpa melewati prop.tetangga...... berapa gubernur tlh berganti ternyata hanya retorika belaka padahal ngakunya putra barito ....hanya beberapa tahun ini kt bisa merasakan kebebasan itu dari jeratan ekonomi prop.tetangga.......Pemimpin Nasionalis memang harapan org dayak sejati, bukan pemimpin yg bisanya hanya mempolitisi agama...mimpin kabupaten aja msh tertinggal mau jadi pemimpin kalteng mimpi kali!!!!!!!!!!!!!!!!

  11. #11 Sabtu, 6 Februari 2010 Pukul 19:07 WIB
    Agerson Namang

    1. Pemimpin yang baik akan berjalan paling depan membawa rakyatnya menuju kemakmuran sedangkan penguasa membiarkan rakyatnya berjalan menuju jurang.
    2. Pemimpin yang baik selalu mendengarkan suara rakyatnya, sedangkan penguasa selalu ingin didengar.
    3. Pemimpin yang baik tidak memperkaya diri sendiri, sedangkan penguasa melahap habis apa yang ada dihadapannya.
    4. Pemimpin yang baik tidak menaruh dendam, sedangkan penguasa menghukum mati musuh-musuhnya.
    5. Pemimpin yang baik berani mangakui kesalahan dan memperbaiki, sedangkan penguasa selalu mencari pembenaran untuk setiap tindakannya.
    6. Pemimpin yang baik tidak akan menjadikan sentimen pribadi untuk menghindar dari rapat-rapat koordinasi yang bertujuan untuk kesejahteraan rakyat.

  12. #12 Sabtu, 6 Februari 2010 Pukul 19:51 WIB
    Agerson Namang

    Putra Kapuas, juanjie, & dr.Febriandri : kayaknya lebih baik daripada BOB HASAN yang pungut hasilnya, koq anda ga protes waktu itu? saya merasa bangga kalau warga kalteng yang pegang HPH di Kalteng. Trims.

  13. #13 Jumat, 12 Februari 2010 Pukul 15:19 WIB
    Jonathan Tundang

    Kami Dukung...!!! menjadi Gubernur.

    Bapak AT Narang, VIVA semoga Jaya Selalu.

    Salam Sejahtera.

  14. #14 Senin, 22 Februari 2010 Pukul 0:09 WIB
    Andre S Tunjang

    Secara Pribadi Pa Teras Is ok. Beliau betul visioner dan berwawasan, namun perkenankan saya menyampaikan beberapa hal yang menjadi kelemahan kepemimpan beliau, yaitu :
    1. Pa Teras, sudah diketahui oleh warga kalteng seluruhnya, dikelilingi oleh kroninya (keluarga + partainya), yang dalam berbagai aspek kehidupan sangat ambisius mengusahai berbagai lapangan bisnis di Kalteng, sampai2, pa Teras sanggup menyurati walikota, atas desakan kroni, untuk mencabuti ijin SPBU di jln Iman Bonjol (terlepas polimik status tata ruangnya).
    2. Masalah RTRWP Kalteng yang sampai kini tidak tuntas, adalah salah satu wujud kegagalan Pa Teras yang amat sangat menganggu proses investasi di Kalteng. RTRWP jadi masalah karena terlalu luas lahan yg berstatus HP dan HL yang dikonversikan menjadi lahan berstatus KPP dan KPPL, yang ternyata sudah diberi ijin untuk perkebunan sawit, yg ternyata milik SIAPA ?, Kroni juga.
    3. Sampai akhir masa jabatannya, tidak ada satu pun pembangkit listrik yang dbangun, padahal kalteng selalu krisis listrik (miskin listrik). Dalam beberapa bulan jelang pilkada baru rame dicanangkan kepada publik. (tampaknya lebih bernuansa politik). Singkatnya 1 periode pa Teras jadi Gub Kalteng, krisis listrik tetap terjadi.
    4. Perintah Gub. untuk melarang pembakaran lahan secara tidak ada pengecualian, menyebabkan petani peladang tidak lagi bisa berusaha untuk bertahan hidup. Larangkan diterapkan, solusi tidak ada. Usulan isentif untuk petani peladang tidak digubris oleh beliau. (bukti tidak ada sikap pembelaan terhadap rakyat kalteng asli).
    5. Pembangunan Rel Kereta Api, tampaknya hanya mimpi, karena hanya sampai wacana saja, tidak ada realisasi sampai kini.

    singkat kata, tidak ada hal-hal yang baru dan menonjol serta spektakuler yang dilakukan oleh Pa Teras. Kebanyakan program, adalah program lanjutan dari gubernur sebelumnya. Beliau tampak baik sebagai penerus, tetapi gagal total sebagai inisiator pembangunan. Kalteng saat ini butuh seoarang pemimpin yang kreatif dan berani memulai (inisiator), untuk memacu percepatan pembangunan dan memakmurkan rakyat Kalteng.

    Trims.

Tinggalkan Komentar

Komentar diharapkan dalam Bahasa Indonesia, Inggris, Dayak (Kalteng), atau Banjar.
Ingin mempunyai gambar avatar sendiri jika berkomentar? Segera daftarkan diri di Gravatar!