Teras Narang Masih Terlalu Kuat
Oleh Bambang M. Permadi • Sosial Politik • Jumat, 25 September 2009 pukul 14:15 WIB
34 Komentar •
Bulan Juni 2010 mendatang Kalteng kembali menghelat pesta demokrasi. Kini, salah satu proses pemilihan secara langsung itu adalah pemilihan pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Kalteng periode 2010 – 2015.
Salah satu calon yang diunggulkan tentu saja calon incumbent Agustin Teras Narang. Tak berlebihan, Teras Narang memang cukup memiliki kapasitas sebagai pemimpin Kalteng. Ini dibuktikan dengan keberhasilannya memimpin sekitar 2 juta penduduk wilayah ini dalam periode kepemimpinan sebelumnya. Secara kebetulan Teras Narang juga diusung parpol besar PDI-Perjuangan, yang dikenal cukup solid dan memiliki mesin politik yang tangguh. Bagi publik Kalteng, khususnya pemilih tradisional dan berpendidikan agaknya tak terlalu sulit menentukan siapa yang harus dipilih dalam pilkada nanti.

atn-center.org/view.asp?id_foto=220
Saat ini di Bumi Tambun Bungai hampir belum ada figur calon gubernur yang memiliki ketokohan seperti Teras Narang. Muda, smart, dan memiliki jaringan luas di pemerintah pusat. Di provinsi ini bukan tak ada kader berkelas yang mampu memimpin, hanya saja kapasitasnya baru dalam level kabupaten/kota. Mereka cukup berhasil memimpin daerahnya, tapi belum tentu mampu mengakomodir beragam kepentingan di tingkat propinsi. Sebut saja nama Wahyudi K. Anwar(Bupati Kotawaringin Timur), Zain Alkim (Bupati Barito Timur), Baharudin H. Lisa (Bupati Barito Selatan), atau Willy M. Yosef (Bupati Murung Raya ). Kandidat yang cukup potensial bakal menandingi Teras Narang justru adalah wakilnya sendiri, yaitu Achmad Diran. Persoalannya, apakah Diran punya 'perahu' dan cukup amunisi untuk maju dalam pilkada.
Nama-nama bupati ini beberapa pekan terakhir ramai diberbincangkan bakal maju menandingi Teras Narang di Pilkada Kalteng mendatang. Sejumlah politisi di wilayah ini mulai melakukan manuver menggalang dukungan untuk mencalonkan kandidat tertentu. Wacana bahwa paket Gubernur dan Wakil Gubernur Kalteng harus pasangan Muslim sempat mengemuka. Wacana sentimen agama dalam pilkada yang memiliki tensi politik tinggi sebenarnya sangat disayangkan. Sebab, Kalteng yang penduduknya sangat pluralistis sebenarnya tak pernah mempersoalkan hal tersebut. Politisasi agama terbukti akan membuat porak porandanya harmonisasi sosial. Tapi, politik adalah pertarungan kepentingan yang sulit ditepis.
Wacana pasangan Muslim otomatis akan menjadi rival politik Teras Narang yang beragama non–Muslim. Masalahnya, apakah isu agama laku dijual di Kalteng?
Kalteng bukan Aceh atau Jawa yang dapat membuat penduduknya menentukan pilihan bedasarkan agama tertentu. Cara berfikir masyarakat di daerah ini masih cukup realistis dan obyektif.
Masih tingginya 'nilai jual' Teras Narang dalam pilkada mendatang membuat figur wakil gubernur tidak menjadi begitu penting. Artinya, dengan siapapun dipasangkan Teras Narang tetap menang. Ada kabar, Teras Narang bakal meninggalkan Achmad Diran dan mencari pendamping lain. Belakangan santer beredar Teras Narang bakal menggaet Didik Salmijardi (mantan Bupati Kotawaringin Timur).
Sejauh ini informasinya masih sangat prematur, setiap detik ritme politik selalu berubah. Yang pasti Teras Narang masih terlalu kuat untuk disaingi.
* foto dari atn-center.org
Kata Kunci:
agustin teras narang, barito selatan, barito timur, gubernur, informasi, islam, kotawaringin timur, murung raya, pilkada, tambun bungai
Hak Cipta
Materi ini dilindungi oleh UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta dan merupakan tanggungjawab penulisnya.
Harap mengikuti halaman Hak Cipta dan Penyangkalan untuk penggunaan dan pemanfaatan materi.
Tentang Penulis
Bambang M. Permadi adalah kontributor Betang.COM tinggal di Palangka Raya
Cetak Halaman Ini
Sebarkan via Email




















SATRIABAJAHITAM
Satu hal yang sangat tepat dari apa yang dikatakan oleh pak Permadi adalah bahwa masyarakat Kalteng bukanlah masyarakat yang menentukan pemimpin berdasarkan agama, ras, ataupun suku....
Satu hal yang menjadi tolak ukur dari masyarakat Kalteng dalam menentukan pemimpin adalah bahwa " Jika pemimpin itu memiliki visi dan misi yang akan membuat Kalteng menjadi propinsi berjaya dan raya..dan mencintai Kalteng dan semua unsur yang terkandung didalamnya sebagaimana dia mencitai Tuhannya......."....
Bravo Kalteng!!!!!!!
juanjie
Hal menarik adalah ketika pemimpin seperti yang anda kemukakan tersebut, (Muda, smart, dan memiliki jaringan luas di pemerintah pusat) hmmm.. seperti ada yang aneh.. atau lucu atau kemaruk. cobalah memandang lebih luas seperti apa gambaran rinci kalteng's setelah narang's family memimpin (mungkin lebih tepat menguasai kalteng) jika anda pernah "terbang" lihat sektor hutan menyedihkan (memang illegal logging diberantas "lihat milik narang's family adakah tersentuh). pelototi juga undang-undang negara mana yang bisa menunjukkan bahwa gubernur dapat menjadi bupati defenitif seperti terjadi di barito utara, ketika terlihat kepentingan narang's family dan malah telah berjalan kepentingannya barulah dia seakan-akan tersadar. haha, pelototi juga berapa proyek fiktif saat gubernur yang juga kemaruk pengen jadi bupati tersebut yang terjadi di batara yg juga menyangkut narang's... btw lolos juga. yah ada gunanya pesan ortu beliau "belajarlah hukum untuk melawan hukum".. banyak lagi....tapi cukuplah untuk membuka borok tulisan penjilat anda. terakhir yang saya kagum adalah teras narang sebagai gubernur spanduk!!!!
dr.Febriandri
menjadi orang nomer 1 di kalimantan tengah menjadikan mimpi bagi siapa pun untuk seluruh warga kalteng.semua memerlukan perjuangan dan kerja keras.disini juga sebenarnya tidak di permasalahkan bagaimana dana atau alat kendaraan yang digunakan dalam menuju kursi orang nomer 1 kalimantan tengah.kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, dan rasa kepimpinan yang tinggi menjadi dasar untuk bisa memimpin dan membangun bumi isen mulang.tapi dalam hal ini saya kurang berpendapat bahwa Yth bpk Teras narang di nilai berhasil dalam membangun provinsi kalimantan tengah tercinta.keadilan yang di rasakan masih sangat kurang dalam implementasi kinerja beliau di lapangan.contoh hal dalam pengembangan sumber daya alam.seharusnya tidak dengan bebas nya memberikan surat ijin landclearing kepada perusahaan baru.dengan adanya peraturan dari Dinas pertanahan agraria (saya lupa nomer berapa), khusus wilayah yang di huni oleh warga meskipun hanya memiliki surat tanah berupa adat dan tanda tangan dari camat terkait, tidak di perbolehkan untuk masuk dalam peta landclearing.contoh warga kabupaten seruyan.banyak sekali warga yang mengeluh hak tanah nya di rebut oleh perusahaan.dengan iming" uang dan paksaan seharusnya aparat pemerintah dan hukum berkewajiban melindungi warga nya.1 contoh hal lagi tentang ketidak adilan kepemimpinan beliau.langkah dalam menetapkan formasi jabatan memang di perhitungkan, di tetapkan, dan di pilih oleh bupati/gubernur terkait.tapi orang yang tidak dekat dan di anggap musuh malah di kesampingkan.padahal, yang di anggap musuh itu sebenarnya orang yang sudah mendarmabhaktikan dan berjuang membangun kepemerintahan dan pernah mengharumkan nama kalimantan tengah.masa PNS golongan IVc masa bhakti lebih dari 20 tahun malah disingkirkan menjadi staf ahli.jangan kan bekerja, ruang kerja pun tidak di beri.maaf bila saya terlalu banyak berbicara disini.tp melalui media ini agar mata warga kalimantan tengah khusus nya kabupaten seruyan bisa melihat, bahwa keadilan yang di kumandangkan oleh sang pemimpin belum bisa kita acungi jempol.kendaraan politik jangan disangkutpautkan dengan kepemerintahan.sebab pemerintah itu menyangkut hajat hidup orang banyak. sekali lagi terima kasih atas ijin dari moderator untuk saya berkomentar disini.salam kenal dari saya.
dr.Febriandri BS, Sp.A(k)
hamlennon
Salam kenal dr. Febriandri, anda jadi ikut take me out ga? hehehehe
Onjoi Napoi
Tidak ada pemimpin yang sempurna, demikian pula Teras Narang. Apapun yang dilakukan Teras Narang adalah sebuah dharma bhakti untuk membangun tanah kelahiran. Adalah sangat terpuji bila memberikan memasukan secara konstruktif dan bertanggungjawab bagi pembangunan Kalteng di segala bidang. Hanya pandai mengkritik dan menghujat kebijakan Teras dari pinggiran adalah perbuatan orang-orang pengecut, yang menjadi penumpang gelap reformasi di Kalteng.
Buat Bung Bambang Permadi, salam jurnalis !
Warga Puruk Cahu
Berlindung dari kata pepatah "tidak ada manusia yang sempurna" adalah sebuah sikap yang tidak berjiwa kestria, yang tidak mau mengakui kesalahan yang pernah ada. Adanya sebuah kritikan, itu sebetulnya "cahaya" untuk membantu melihat kesalahan yang kadang terlupa dan terabaikan. Kritikan adalah sebuah "curahan hati" rakyat atas kebijakan yang relatif tidak berpihak dan melukai hati rakyat. Dan itu benar-benar ada, bukan hanya omong kosong belaka.
Kawan, jangan terlalu fanatik...!! kadang-kadang fanitisme membuat mata menjadi buta untuk melihat realitas yang ada. Berikanlah sehelat ruang untuk objektifitas bertandang di otak mu.
Ery donk mangkin
HIDUP PAK TERAS NARANG,,, SAYA TETAP DUKUNG KAMU....
Putra Kapuas
Hhmm...
Teras Masih Terlalu Kuat?
berdasarkan survey apa tuh??
kayanya diragukan kevalidannya...
tidak menyebutkan sumbernya secara jelas...
buka mata donk mas...
lihat realitas yang ada...
Kalteng itu bukan hanya Palangkaraya saja...
perhatikan juga warga-warga yang ada dipelosok...
terutama masyarakat2 adat..
mereka masih sangat ketergantungan dengan alam...
ketika mereka menebang pohon untuk membuat sebuah rumah yang luasnya mungkin tidak seluas kamar mandinya Pak Teras, langsung para polisi hutan bertindakuntuk menagkap...
namun hal ini berbanding terbalik apabila Narang Brother melakukannya...
saya tau alasanya kenapa mereka bisa menebang pohon karena telah mendapat izin kan...???
tapi izinnya dari saudara sendiri masa harus ditolak... hehehehehe
kan ngga lucu...
mm...
apakah itu adil bagi saudar2 kita yang ada dipedalaman yang untuk makan sehari-hari saja belum tentu terpenuhi...
sementara para petinggi semakin memperkaya diri...
untuk pilkada nanti kalau bisa masyarakat jangan terlalu membawa isu-isu rasisme...
kita sudah punya pengalaman buruk ditahun 2001 karena sukuisme,
jadi jangan lah dikompor-kompori...
mengenang situasi itu saya begitu sangat sedih dan ngeri...
cukup isu suku, agama, ras, dan golongan tersebut disimpan dalam hati saja...
karena Kalteng adalah bagian dari Indonesia siapapun boleh memimpin asalkan punya Kredibel dan mempunyai kapabilitas yang cukup sebagai pemimpin daerah,
namun terkadang masyarakat kurang percaya terhadap orang asing...
katanya takut ditipu...
ya udah lah kayanya komen saya terlalu panjang...
semoga Pilkada Kalteng 2010 nanti berjalan aman, lancar, damai, bermartabat, serta berkeadilan...
Amin...
dan mendapatkan pemimpin yang baru untuk membawa Kalteng menjadi daerah yang potensi disegala bidang baik ekonomi, edukasi, pariwisata dan lain sebagainya
Ilmie,, S.Sos
Sebenarnya tidak ada pemimpin yg bnr2 smpurna,,,,,
Teras = Karir bagus, but nafsu banget buat dinilai baik & hebat dlm mmbngun Kalteng..... Kasus robohnya jembatan Timpah pada ruas jl. Buntok-Palangka Raya adalah bukti bahwa ketidaksabaran gubernur untuk segera meresmikan jembatan yg memang belum layak untuk dinyatakan "jadi". Unsur politik begitu kental dlm pengebutan pembangunan jembatan tsb, dan akhirnya......... ambruk...... memakan korban jiwa...... Kontraktor yg jd kambing hitam.... Gubernur??? cuci tangan...... So.... masih Pro Teras??
THATHA BARITO
Kita memang hobinya mencela org lain!!!!!!!!.....karena kemampuan kt cuman segitu....ngak lebih, masih untung kalau dihargai jd pengemis,biasanya org yg suka mencela adalah penjilat dan suka dipuji....Warga barito sepuluh tahun menunggu jalan ke p,raya tanpa melewati prop.tetangga...... berapa gubernur tlh berganti ternyata hanya retorika belaka padahal ngakunya putra barito ....hanya beberapa tahun ini kt bisa merasakan kebebasan itu dari jeratan ekonomi prop.tetangga.......Pemimpin Nasionalis memang harapan org dayak sejati, bukan pemimpin yg bisanya hanya mempolitisi agama...mimpin kabupaten aja msh tertinggal mau jadi pemimpin kalteng mimpi kali!!!!!!!!!!!!!!!!
Agerson Namang
1. Pemimpin yang baik akan berjalan paling depan membawa rakyatnya menuju kemakmuran sedangkan penguasa membiarkan rakyatnya berjalan menuju jurang.
2. Pemimpin yang baik selalu mendengarkan suara rakyatnya, sedangkan penguasa selalu ingin didengar.
3. Pemimpin yang baik tidak memperkaya diri sendiri, sedangkan penguasa melahap habis apa yang ada dihadapannya.
4. Pemimpin yang baik tidak menaruh dendam, sedangkan penguasa menghukum mati musuh-musuhnya.
5. Pemimpin yang baik berani mangakui kesalahan dan memperbaiki, sedangkan penguasa selalu mencari pembenaran untuk setiap tindakannya.
6. Pemimpin yang baik tidak akan menjadikan sentimen pribadi untuk menghindar dari rapat-rapat koordinasi yang bertujuan untuk kesejahteraan rakyat.
Agerson Namang
Putra Kapuas, juanjie, & dr.Febriandri : kayaknya lebih baik daripada BOB HASAN yang pungut hasilnya, koq anda ga protes waktu itu? saya merasa bangga kalau warga kalteng yang pegang HPH di Kalteng. Trims.
Jonathan Tundang
Kami Dukung...!!! menjadi Gubernur.
Bapak AT Narang, VIVA semoga Jaya Selalu.
Salam Sejahtera.
Andre S Tunjang
Secara Pribadi Pa Teras Is ok. Beliau betul visioner dan berwawasan, namun perkenankan saya menyampaikan beberapa hal yang menjadi kelemahan kepemimpan beliau, yaitu :
1. Pa Teras, sudah diketahui oleh warga kalteng seluruhnya, dikelilingi oleh kroninya (keluarga + partainya), yang dalam berbagai aspek kehidupan sangat ambisius mengusahai berbagai lapangan bisnis di Kalteng, sampai2, pa Teras sanggup menyurati walikota, atas desakan kroni, untuk mencabuti ijin SPBU di jln Iman Bonjol (terlepas polimik status tata ruangnya).
2. Masalah RTRWP Kalteng yang sampai kini tidak tuntas, adalah salah satu wujud kegagalan Pa Teras yang amat sangat menganggu proses investasi di Kalteng. RTRWP jadi masalah karena terlalu luas lahan yg berstatus HP dan HL yang dikonversikan menjadi lahan berstatus KPP dan KPPL, yang ternyata sudah diberi ijin untuk perkebunan sawit, yg ternyata milik SIAPA ?, Kroni juga.
3. Sampai akhir masa jabatannya, tidak ada satu pun pembangkit listrik yang dbangun, padahal kalteng selalu krisis listrik (miskin listrik). Dalam beberapa bulan jelang pilkada baru rame dicanangkan kepada publik. (tampaknya lebih bernuansa politik). Singkatnya 1 periode pa Teras jadi Gub Kalteng, krisis listrik tetap terjadi.
4. Perintah Gub. untuk melarang pembakaran lahan secara tidak ada pengecualian, menyebabkan petani peladang tidak lagi bisa berusaha untuk bertahan hidup. Larangkan diterapkan, solusi tidak ada. Usulan isentif untuk petani peladang tidak digubris oleh beliau. (bukti tidak ada sikap pembelaan terhadap rakyat kalteng asli).
5. Pembangunan Rel Kereta Api, tampaknya hanya mimpi, karena hanya sampai wacana saja, tidak ada realisasi sampai kini.
singkat kata, tidak ada hal-hal yang baru dan menonjol serta spektakuler yang dilakukan oleh Pa Teras. Kebanyakan program, adalah program lanjutan dari gubernur sebelumnya. Beliau tampak baik sebagai penerus, tetapi gagal total sebagai inisiator pembangunan. Kalteng saat ini butuh seoarang pemimpin yang kreatif dan berani memulai (inisiator), untuk memacu percepatan pembangunan dan memakmurkan rakyat Kalteng.
Trims.
Komandan
Hidup Pak Teras Narang.
Komandan
Maju Terus Bangun Kalteng ku, Sejahterakan Rakyat mu, Angkatlah Martabat Kalteng kita. bersama saling bahu membahu untuk menuju suata kemakmuran, tapi pak ada keluhan tolong pgoram Utama nanti LISTRIK pak. Karena sumber atau salah satu ronda perekonimian adalah di Listrik. dengan kondisi LISTRIK yg seperti sekarang Jeebaar preeeett. masyarakat akan sangat menderita.
narang ilahi
hidup teras narang...
sikat habis orang madura,anda adalah orang yang berani melakukannya...
Kita kristenkan Kalteng.isi seluruh pejabat pemerintahan dengan kader gereje
Emily
1. Pemimpin yang baik akan berjalan paling depan membawa rakyatnya menuju kemakmuran sedangkan penguasa membiarkan rakyatnya berjalan menuju jurang.
2. Pemimpin yang baik selalu mendengarkan suara rakyatnya, sedangkan penguasa selalu ingin didengar.
3. Pemimpin yang baik tidak memperkaya diri sendiri, sedangkan penguasa melahap habis apa yang ada dihadapannya.
4. Pemimpin yang baik tidak menaruh dendam, sedangkan penguasa menghukum mati musuh-musuhnya.
5. Pemimpin yang baik berani mangakui kesalahan dan memperbaiki, sedangkan penguasa selalu mencari pembenaran untuk setiap tindakannya.
6. Pemimpin yang baik tidak akan menjadikan sentimen pribadi untuk menghindar dari rapat-rapat koordinasi yang bertujuan untuk kesejahteraan rakyat.
Amat Balegu
5 tahun kepemimpinan Teras Narang di Kalteng cukup bagus, cukup banyak perubahan dan kemajuan yang telah dicapai. Namun di balik itu dominansi "Trah Narang" di segala sektor usaha serta sikap politiknya yang terlalu "Merah" menimbulkan antipati dari sebagian masyarakat Kalteng. Seorang pemimpin adalah milik seluruh rakyat, bukan milik satu golongan tertentu, atau agama tertentu.
Pak Teras saya nilai belum bisa memposisikan dirinya sebagai "pemimpin untuk semua". Seandainya beliau bisa merangkul semua golongan pasti saya akan angkat beliau menjadi Manusia Setengah Dewa (pinjam istilah Iwan Fals).
Bravo buat Mas Bambang
Oloh Itah Kea
Saya kagum pada Pak Teras di awal kepemimpinannya dulu yang mengatakan "Sanggup Mundur" apabila tidak bisa menangani kebakaran lahan dan bencana asap. Saya bangga karena Kalteng dipimpin Putra Daerah yang energik, visioner, berani dan siap dikritik !!!!
Saya juga kagum tatkala ada rekan jurnalis yang menagih janji beliau tersebut saat terjadi bencana asap tahun 2007 malah 'dibungkam' lewat redaksinya. Sikap otoriternya mulai terlihat.
Kekaguman saya bertambah lagi pada saat KLW PWI 2010 di Hotel Batu Suli, Pak Atu Narang hadir memberikan sambutan, yang salah satu intinya beliau mengatakan bisa 'menekan' para bupati dari PDIP agar membantu rekan2 PWI di daerah.
Saya kembali terkagum2 ketika Beliau mau repot-repot menyurati walikota perihal izin SPBU Imam Bonjol ....
Pula ketika Atu Narang, Asdi Narang, Aries Narang terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi & DPR RI, Serta Andrey Narang yang kini menjabat Ketua DPC PDIP Kota Palangka Raya .... KAGUMMMM Le
Lepah uras akan ewen ... jatun tinai bagi akan ita je bara ngaju, ngawa, bentuk
cristian
maju terus pak teras narang
kita bungkam suku2 dan agama2 lainnya dengan peraturan semua pejabat harus orang dayak..
karena kalau tidak demikian maka orang2 islam akan menguasai tanah kalteng..
padahal orang2 dayak bukan muslim...dan mereka tidak mau ikut menjaga pelestarian adat agama hindu keharingan agama resmi rakyat kalteng
dan pastinya kalau bukan u kami pasti di tindas ma suku2 lainnya.
hidup dayak...kita bangun kalimantan dengan di isi suku2 dayak..kita bangun kerajaan ruhul kudus di kalteng
Kalau ada yang melawan orang dayak ada di belakangmu...kita penggal semuanya..seperti di sampit dan kereng pangi..
Amy
maju terus pak teras narang
kita bungkam suku2 dan agama2 lainnya dengan peraturan semua pejabat harus orang dayak..
karena kalau tidak demikian maka orang2 islam akan menguasai tanah kalteng..
padahal orang2 dayak bukan muslim...dan mereka tidak mau ikut menjaga pelestarian adat agama hindu keharingan agama resmi rakyat kalteng
dan pastinya kalau bukan u kami pasti di tindas ma suku2 lainnya.
hidup dayak...kita bangun kalimantan dengan di isi suku2 dayak..kita bangun kerajaan ruhul kudus di kalteng
Kalau ada yang melawan orang dayak ada di belakangmu...kita penggal semuanya..seperti di sampit dan kereng pangi..
Ahmad Yohanes Visnu Damek
Gubernur Kalimantan Tengah harusnya orang asli Kalimantan Tengah. Tak peduli agamanya apa dan dari partai mana. Ia harus mampu dan mau merangkul semua golongan dan semua SARA agar Kalimantan Tengah maju. Hati-hati dengan calon pemimpin yang memiliki pemikiran sempit dan hanya membela kepentingan golongannya saja! Selamat memilih, pilihan anda menentukan masa depan Kalimantan Tengah, bumi Tambun Bungai yang kita cintai.
usop
Jika kita melihat ke belakang dan kitab Perjanjian Lama, bagaimana bangsa Israel keluar dari Mesir. Bangsa Mesir yang semula menerima baik bangsa Israel malah bertolak belakang ingin menghancurkan bangsa itu. Dan atas perjuangan yang keras pula, bangsa Israel bisa luput dari kekejaman bangsa Mesir. Nah, jika kita lihat cuplikan ayat tersebut, betapa besar keinginan rakyat israel untuk keluar dari genggaman dan belenggu bangsa Mesir yang iri melihat bangsa itu semakin besar dan semakin kuat. Dayak
juga seperti itu, malahan banyak sekali etnis-etnis non-Dayak menganggap Dayak itu sebagai pengganggu, dan mungkin saja perencanaan pemusnahan Genosida terpikir dari benak mereka. Namun ini hanya prediksi dari ketakutan hati seorang anak Dayak yang mungkin-mungkin saja bisa terjadi setiap saat terhadap kaum kita. Belajar dari pengalaman Israel, Tuhan telah menunjukan jalan kepada mereka untuk perubahan. Dan apakah Dayak juga bisa berubah? Tergantung pada kita sendiri, para kaum Dayak Kalimantan Barat. Jika dari awal kita tidak bersatu, bagaimana kita bisa berubah?
Diskriminasi terhadap orang dayak sepertinya sudah sangat terasa sampai sekarang, mulai dari Pemilu hingga sistem kerakyatan saja sudah ada diskriminasi. Lihat saja, pada festival adat setiap tahun khususnya di Ketapang ini. Untuk memperoleh dana dari pemerintah saja begitu sulitnya, hanya untuk festival adat saja. Tapi ketika etnis dari Melayu ingin melakukan festival dayak, sepertinya lancar-lancar saja. Tapi entah kenapa, untuk festival khusus adat Dayak, suku asli kalimantan saja pengajuan dana kepada pemerintahan begitu sulitnya? Benar ada diskriminasi di situ. Tidak hanya itu, lihatlah di jalan-jalan besar Ketapang, dahulunya bundaran kita yang berbentuk rumah adat dayak berubah menjadi rumah adat melayu yang berwarna kuning dan hijau, seakan akan corak dayak sengaja di hapuskan dari kota Ketapang kita ini?
Memang, untuk sementara kita rakyat Dayak hanya bisa meratap nasib kita itu. Tapi tidak selamanya kita berdiam diri saja.
Hilangkanlah pandangan orang terhadap Rakyat Dayak, bahwa kita adalah rakyat kafir!! Apa gunanya saudara kita bersembahyang di Masjid, di Gereja, di Kuil, Klenteng dan sebagainya, karena dengan menjejal gelar "Dayak", berubah di mata kaum non-Dayak sebagai orang kafir. Celakalah orang munafik seperti itu, benar pandangan Yesus Kristus bahwa Hal yang paling haram bukanlah Segala sesuatu yang keluar dari perut, karena sampah itu akan dibuang ke dalam jamban, tetapi celakalah orang yang munafik yang paling haram, karena dari padanya lah yang keluar dari hati melalui mulutnya itulah yang paling haram. Merekalah yang menganggap bangsa Dayak itu kafir yang mengkafirkan diri sendiri. Seakan-akan yang mereka keluarkan dari mulut mereka itu seperti orang yang tak ber-Tuhan.
Marilah rakyat Dayak, kita buka mata. Buka hati dan bergeraklah. Berhenti kita tergoda janji mereka yang ingin menghancurkan kita. Kita bukan suatu ketakutan untuk bangsa lain, karena kita bagian dari mereka
Ahmad Yohanes Visnu Damek
Terima kasih, Saudara-saudaraku semuanya. Suara telah ditentukan, ayo kita dukung penuh siapa pun yang terpilih nanti.
Tameng Pemberlakuan Adat
Kristen di Indonesia dipusatkan di Kalimantan
Itu begini, waktu ada konferensi gereja-gereja di Asia Pasifik di Jepang tahun 2003 itu diputuskan bahwa penduduk Asia ini 20 persen tinggal di kota dan 80 persen tinggal di desa. Kemudian diputuskan saat itu, mari kita garap yang 80 persen. Kita jangan konsentrasi terlalu jauh ke kota. Makanya 80 persen harus kita garap terutama di pedalaman yang ada di Asia.
Para peserta konferensi yang berkumpul bersama saat itu memutuskan bahwa tiap negara harus mempunyai pilot project kristenisasi jangka pendek. Akhirnya diputuskan bahwa setiap negara harus menentukan sendiri-sendiri daerahnya dan wakil dari Indonesia memutuskan Kalimantan. Kalimantan akan dijadikan sebagai pulau Kristen. Akhirnya mereka menggalakkan misi Kristen di Kalimantan. Dengan menguasai Kalimantan maka itu akan menjadi kekuatan besar.
Berarti adanya gubernur Kristen di Kalimantan sudah direncanakan?
Iya. Karena itu dia akan kepung dulu Kalimantan Barat, Tengah, dan Timur, kemudian setelah itu baru Kalimantan Selatan. Mereka belajar dari Uganda. Uganda yang dulunya mayoritas Islam, yakni di atas 80 persen. Namun sekarang Islam di sana tinggal 23 persen. Kenapa itu bisa terjadi? Ternyata di Uganda itu luar biasa. Islam bisa menyusut di sana karena yang diserang memang daerah pedalaman dan pedesaan. Ini yang mau dipraktekan dan sedang dikerjakan di Indonesia.
Strategi yang mereka lakukan apa saja?
Strategi yang dilakukan adalah dengan pemberdayaan masyarakat. Itu adalah satu-satunya cara yang paling efektif, karena orang-orang suku Dayak itu secara ekonomi tidak berdaya. Cara memberdayakan dan menarik simpati mereka supaya masuk Kristen adalah dengan pemberdayaan ekonomi (Community Development). Makanya saya bilang penginjilan di dalam agama Kristen sekarang luar biasa. Mereka tidak memakai penginjilan verbal, tapi dakwah bil hal nya yang lebih ditekankan.
Setelah beberapa provinsi di Kalimantan dikuasai Kristen, apa berpengaruh terhadap Kristenisasi?
Ya jelas dong kalau pemimpinnya Kristen maka apa pun yang berkaitan dengan Kristenisasi akan lebih dipermudah. LSM-LSM akan lebih mudah masuk. Jangankan di tingkat gubernur, di tingkat kabupaten saja itu pengaruhnya luar biasa.
Anda pernah mengatakan di Indonesia ini ada hidden mission yang dilakukan Kristen, maksudnya?
Misi itu bisa bersifat tersembunyi. Tidak bisa dilihat mata secara langsung. Tapi gerakannya ada. Contoh gerakan Tent Maker (Tukang Kemah) saja kan kita tidak tahu, tapi misinya jelas ke mana-mana. Kita tidak tahu tetangga kita itu pendeta atau bukan. Ternyata dia sedang melancarkan misinya luar biasa. Dan banyak gerakan-gerakan yang mereka lakukan dengan penghancuran nilai-nilai baik lewat media maupun kegiatan lain. Belum lagi dalam industrialisasi di mana negara-negara berkembang itu selalu bergantung kepada lembaga internasional. Di situ ada hidden mission secara internasional. Contohnya begini ada IMF, Bank Dunia yang bisa memberikan bantuan dengan berbagai persyaratan. Siapa sebenarnya di belakang IMF, Bank Dunia tersebut?
Artinya banyak di sekeliling kita itu kegiatan-kegiatan yang mengandung hidden mission?
Iya banyak, mulai dari sektor perbankan, pendidikan dan lainnya yang tanpa kita sadar, termasuk di jaringan kampus, misalnya munculnya Jaringan Islam Liberal. Coba lihat bagaimana orang IAIN memperdalam agama Islam bukan ke Saudi tapi ke Amerika, ke Kanada. Di sana memang ada pelajaran Islamologi, tapi yang mengajar kan Kristen. Sehingga mereka ketika belajar ilmu tafsir Alqurannya menggunakan ilmu Hermeneutika, yang biasa digunakan pendeta untuk menafsirkan bible. Akhirnya pulang ke Indonesia oleh-olehnya macam-macam, tak karu-karuan dan tafsiran aneh-aneh. Jadi memang pengaruh kristenisasi dalam Islam Liberal itu luar biasa.
Yang mesti dilakukan umat Islam menghadapi hidden mission itu seperti apa?
Saya katakan di Indonesia ini, selama ukhuwah wathoniyah lebih dikedepankan daripada ukhuwah Islamiyah maka kita tidak bisa menghadapinya. Tidak sedikit ulama dan tokoh Islam di Indonesia sekarang yang masih mengedepankan ukhuwah wathoniyah dibanding ukhuwah Islamiyah. Jadi ukhuwah Islamiyah-nya seolah disepelekan. Padahal secara hirarki, ukhuwah Islamiyah itu yang mestinya dijunjung tinggi, setelah itu baru ukhuwah wathoinyah dan baru ukhuwah basyariyah. Yang harus dijunjung tinggi kan mestinya persatuan umat dulu. Islam mengajarkan kepentingan Islam di atas segalanya di banding kepentingan lain.
Selain itu?
Ya mari kita kembalikan fungsi Masjid seperti zaman Rasulullah. Tidak hanya menjadikan masjid itu sebagai imam shalat saja tapi imam organisasi.[] pendi/www.mediaumat.com
Pengalaman Luas Sebagai Misionaris
Mowo Purwito sebelumnya adalah seorang pendeta dan dosen di Seminari Alkitab Nusantara dan beberapa seminari Indonesia. Sarjana Theologi Seminari Alkitab Nusantara Malang ini juga berpengalaman mengikuti berbagai training di luar negeri terkait misi Kristen dan aktif di berbagai organisasi misi. Ia juga pernah aktif di Partai Damai Sejahtera (PDS) yakni sebagai ketua Kaderisasi dan Tim Perumus Kebijakan DPW PDS Jawa Timur itu. Ia mendapat Sertifikat Misi Internasional dari Fuller Housing Ministry, California untuk terjun pada pelayanan Christianity Development di Louisiana USA. Seharusnya laki-laki kelahiran Situbondo 28 Oktober 1965 itu berangkat bersama keluarga ke Louisiana pada Desember 2006, namun batal karena keburu masuk Islam (mualaf).
Keingintahuannya yang besar akan ajaran Islam dan kegalaunnya terhadap ajaran Kristen itu memang telah mengantarkan pada hidayah sehingga ayah dari tiga orang anak ini pun masuk Islam, tepatnya pada 16 September 2006 . Setelah masuk Islam, berbagai tantangan, cacian, makian dan sebagainya harus ia hadapi. Namun ia tetap istiqomah dengan keyakinan barunya itu. Sekarang Mowo yang berganti nama menjadi Muhammad Yusuf Muttaqin aktif sebagai dosen kristologi dogmatik, misiologi, sosiologi agama, dan fenomenologi di beberapa perguruan tinggi Islam dan pondok pesantren.
Karena pengalamannya yang luas sebagai pendeta, dosen seminari, aktivis partai Kristen dan organisasi misi maka tentu Yusuf Muttaqin mengetahui banyak misi yang tersembunyi (hidden mission) dari kegiatan Kristenisasi di Indonesia
Drs Mowo Purwito R, Dip. HRD. S. Th, MASM, MAR
(Muhammad Yusuf Muttaqin)
Mantan Pendeta dan Pengurus DPW PDS Jawa Timur |
Upaya Salibis Kuasai Panggung Politik
Selain memurtadkan umat dengan berbagai cara, kaum Salibis juga mengincar panggung politik. Sejumlah Pilkada dimenangkan. Kursi presiden tak mustahil jadi target.
Seperti tak kenal lelah, kaum Salibis terus beraksi. Setelah mentok memenangkan Pemilu 2004 lewat Partai Damai Sejahtera (PDS), mereka pun berusaha masuk ke panggung kekuasaan lewat jalur Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Di beberapa wilayah mereka menang.
Contoh teranyar adalah Pilkada Kalimantan Barat (Kalbar). Pasangan Cornelis-Christiandy Sanjaya (beragama Kristen) berhasil mengungguli pemenangan Pilkada. Keduanya ditetapkan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar periode 2008-2013 oleh KPUD Kalbar dalam rapat pleno terbuka di Ruang Serba Guna Gedung DPRD Kalbar, Pontianak, Selasa sore (27/11).
Pasangan itu, mendapat 930.679 suara atau 43,67 persen dari 2.131.089 suara sah. Jumlah tersebut mengungguli pasangan 'incumbent' Usman Ja'far-Laurentius Herman Kadir yang hanya meraih 659.279 suara atau 30,94 persen.
Pemilu Gubernur-Wakil Gubernur Kalbar diikuti empat pasangan calon. Dua calon lainnya yakni pasangan Oesman Sapta-Ignatius Lyong mendapat 335.368 suara (15,74 persen) dan Akil Mochtar-AR Mecer 205.763 suara (9,66 persen).
Menurut Sekjen Forum Advokasi Rehabilitasi Imunisasi Aqidah yang Terpadu Efektif dan Aktual (Arimatea) Pusat Diki Candra, kekalahan pasangan yang diusung ormas dan partai Islam pada Pilkada ini akibat kelemahan kaum Muslimin dan berpolitik. "Ini kejadian pertama yang memalukan di Indonesia, dimana umat Islam yang 57 persen dipimpin oleh Gubernur yang Salib, wakilnya pun Salib. Saya terlibat di sana dan saya berusaha, tapi memang terlambat," ujar Diki pada Sabili. Menurutnya, pada Pilkada ini, salah seorang calon sengaja ada yang memberikan dukungan dan setelah itu menghilang. Akibatnya, suara umat Islam terpecah. Sedangkan suara kalangan Nasrani terfokus pada satu suara. Akhirnya mereka menang. "Korban yang bersangkutan, langsung bertemu saya," imbuh pria kelahiran Tasikmalaya, 11 Agustus 1964 ini.
Padahal, sebelum Pilkada berlangsung, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Barat beserta Ormas Islam telah membuat kesepakatan bersama untuk memenangkan Pilkada. Di antara pernyataan itu berbunyi, anjuran kepada umat Islam untuk mencoblos nomor 1 yaitu H Usman Ja'far-Laurentius Herman Kadir dalam Pemilihan Gubernur tanggal 15 November 2007. MUI Kalbar juga menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk menggunakan hak pilihnya dan menjaga pelaksanaan Pemilihan Gubernur secara tertib dan aman. Kendati demikian, kedua pasangan yang didukung umat Islam, kalah lantaran suara mereka terpecah pada pasangan lainnya.
Sebelumnya, Teras Narang (Kristen) terpilih menjadi Gubernur di Kalimantan Tengah. Padahal, jumlah umat Islam di provinsi itu mayoritas, yaitu lebih dari 70 persen. Agustin Teras Narang, SH, terpilih sebagai Gubernur Kalimantan Tengah dengan angka mutlak mengambil 43,97 persen hati rakyat Kalimantan Tengah. Suara rakyat pemilih Teras dan pasangannya tersebut mencakup hampir mutlak seluruh Kabupaten/Kota di Kalimantan Tengah, yaitu pada 12 Kabupaten dan 1 Kota (dari 13 Kabupaten dan 1 Kota).
Teras Narang mengungguli calon pasangan lainnya, Asmawi Agani-Kayahani (20,55 persen), Nihin-Nusa (20,25 persen), Usop-Rinco (4,04 persen) dan Fawzy-Garang (10,72 persen).
Bersama dengan ormas Islam yang ada di tempat itu, Forum Arimatea juga sempat mengatur strategi, khususnya menghadapi Pilkada 11 Kabupaten/Kota se-Kalteng yang akan diselenggarakan secara serentak pada 7 Juni 2008 mendatang. Delapan di antaranya merupakan kabupaten pemekaran yaitu Murung Raya, Barito Selatan, Barito Timur, Pulang Pisau, Katingan, Seruyan, Lamandau, dan Sukamara, karena berdirinya juga pada waktu yang sama. Sedangkan tiga kabupaten/kota lainnya yang melaksanakan Pilkada yaitu Kota Palangkaraya, Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Barito Utara.
Pada 15 Juli 2007, beberapa tokoh Islam menandatangani Memorandum of Understanding (MoU). Di antara poin yang mereka sepakati bahwa gerakan ini dilatarbelakangi oleh kondisi dan gerakan pihak non- Muslim yang sudah menguasai sistem dan struktur di pemerintahan, ekonomi, sosial politik dan budaya, sedangkan mayoritas penduduk Kalimantan Tengah 70 persen adalah umat Islam. Dalam kesepakatan itu juga mereka memberikan wewenang kepada Sekjen Forum Arimatea Diki Candra untuk menggalang kekuatan, baik finansial, maupun politik dan moral di pusat pemerintahan atau Jakarta, dengan tetap berpijak pada misi menghadang gerakan non Muslim.
Diki Candra menuturkan, dalam lembar kesepakatan itu terdapat nama salah seorang calon gubernur. "Dia terbuka sama saya. Dia bilang, memang benar dia dipermainkan oleh kalangan Salib. Ia mengaku dicalonkan oleh sekelompok orang. Dia sudah dikasih uang pendahuluan untuk daftar. Ketika berlangsung Pemilu, yang punya uang ngilang. Akhirnya yang terjadi, suara umat Islam terpecah menjadi empat suara. Calon Kristen sendirian. Ini tujuannya untuk memecah suara umat Islam," papar Diki.
Hal serupa terjadi juga di Sumatera Utara. Rudolf Pardede yang menggantikan Gubernur Sumatra Utara, Rizal Nurdin yang tewas karena pesawat yang ditumpanginya jatuh pada 5 September 2005, resmi mendaftarkan diri sebagai calon Gubernur Sumatera Utara. Sebelumnya ia adalah Wakil Gubernur Sumatra Utara. Dari September 2005 hingga 8 Februari 2006, jabatannya adalah pelaksana harian Gubernur Sumatra Utara. Melalui Keputusan Presiden No. 27/2006, ia dikukuhkan sebagai Gubernur.
Pria yang sejak 18 Juli 2003, ditetapkan sebagai tersangka oleh Badan Reserse Kriminal Polri atas kasus pemalsuan ijazah yang digunakannya saat mencalonkan diri menjadi kepala daerah, berencana memimpin wilayah yang 73 persen dihuni oleh umat Islam melalui Pilkada yang akan diselenggarakan pada 16 April 2008 mendatang. Jika tidak hati-hati, kemenangan kaum Salibis akan berulang.
Persis seperti di Sumatera Utara, di Kalimantan Timur pun demikian. Setelah Gubernur Suwarna nonaktif karena terjerat kasus korupsi, maka Wakil Gubernur Drs Yornalis (dari Nasrani) pun memimpin Kaltim yang berpenduduk 70 persen Muslim. Tidak mustahil dirinya akan maju untuk berlaga pada Pilkada 22 April 2008 yang dilakukan serentak di 13 Kabupaten dan Kota di Kaltim.
Perjuangan Salibis tentu takkan berhenti. Masih menurut Diki Candra, mereka juga akan memenangkan Pilkada di wilayah lain. Bahkan, tak mustahil mereka mengincar kursi presiden. "Dari informasi yang kami terima langsung dari para politikus Salib, mereka sekarang sedang berusaha mengusung, mendekati Megawati melalui lingkaran-lingkarannya agar pendamping Megawati nanti dari mereka. Kenapa mereka sekarang begitu percaya diri? Karena uji coba kasus di Kaltim dan Kalbar berhasil," tambah Diki.
Dengan percobaan melalui Pilkada di beberapa daerah ini, kalangan Salibis makin memantapkan langkahnya untuk merebut RI-1 atau paling tidak menjadi pendamping sebagai sebagai Wakil. Hal ini amat masuk akal, kalau mereka bisa menang. Terbukti, di beberapa daerah, meski jumlah mereka minoritas, kalangan Salibis berhasil merebut jabatan Kepala Daerah.
Ketua Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan (FAKTA) Abu Deedat Syihab juga mengakui hal ini. "Untuk menguasai dan mengkristenkan suatu negeri, pertama harus dikuasai pemerintahannya," ujar Abu Deedat. Untuk itu, kalangan Salibis selalu melakukan strategi. Di antaranya, kalau mereka tidak mungkin menang jika mencalonkan diri sebagai Gubernur atau Walikota/Bupati, mereka cukup dengan mendapatkan wakilnya. Ini pengaruhnya sangat besar bagi umat Islam.
Abu Deedat mencontohkan daerah Sumatera Utara. Ketika seorang gubernur meninggal, maka secara undang-undang yang naik adalah wakilnya dari Salibis. "Sebelumnya, tak pernah di Medan itu ada Festival Natal, konvoi festival Natal di jalanan, tapi setelah wakilnya dari Salibis naik, terasa sekali nuansanya. Mereka luar biasa gerakannya," papar Abu Deedat.
Di antara gerakan mereka adalah membagi-bagikan buku dan pensil yang ada salibnya. "Kabarnya itu dilakukan oleh istri gubernur," imbuh Abu Deedat seraya berharap agar partai Islam tidak menjadikan calonnya dari kalangan Nasrani meskipun posisinya hanya wakil. "Karena ketika gubernurnya atau walikota Muslim meninggal, yang naik wakilnya sebelum habis masa jabatan," ujarnya.
Mengenai adanya strategi penguasaan beberapa wilayah oleh kalangan Salibis ini, tak dipungkiri oleh Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPP Partai PDS Sabar Martin Sirait. Kepada Sabili ia menuturkan, "Semua parpol ingin duduk di eksekutif. Kita ada di Poso, kita yang memenangkan beberapa bupati di sana. Di Jakarta kita yang pertama mendukung Foke (Fauzi Bowo, red). Kita yang pertama mendeklarasikan mendukung Foke. Yang lain bersama-sama menyusul. Karena kader-kader kita banyak yang mampu, ada di beberapa daerah kader kita yang turun."
Untuk itu, PDS juga membuka diri untuk berkoalisi dengan siapa pun. "Kalau ada yang sejalan dengan kita, ya kita bisa kerja sama," imbuhnya. Bahkan, PDS pun siap mengajukan diri sebagai presiden atau wakil presiden. "Saya kira sangat wajar kalau PDS mengajukan diri menjadi presiden atau wakil. Itu kan hak warga negara yang dilindungi UU. Yang penting kita membangun demokrasi dimana setiap warga negara memiliki hak yang sama. Bukan karena primordialisme," ujar Sabar Martin Sirait.
Kalau di beberapa daerah mereka berhasil memecah suara umat Islam dan menyatukan pilihannya pada satu calon, maka tak mustahil strategi itu akan mereka terapkan dalam pentas nasional. Kursi Presiden pun terancam direbut Salibis kalau umat Islam masih senang berpecah dan tidak waspada.
Peresmian Gedung
Wono Agung, 24 - 26 Juli 2001
K alimantan Tengah adalah salah satu propinsi yang tergolong miskin di Indonesia. Dengan mayoritas suku Dayak, mereka hidup bertani dan ada sebagian kecil yang menjadi pegawai negri. Sebagian suku Dayak sudah menjadi Kristen. Pada saat sekarang pelayanan Gepembri baru menjangkau daerah transmigrasi yang berlokasi di Kecamatan Maliku, Kabupaten Kuala Kapuas.
Pada tanggal 24 Juli 2001 yang lalu, Ketua Sinode Gepembri, Pdt. Hardi Farianto didampingi seketaris Sinode, Pdt. Daniel Arianto berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 06.15 menuju Kalimantan Tengah. Pesawat tiba di Bandara Cilik Riwut, Palangkaraya pukul 07.45. Kami disambut oleh Bp. Suwondo, salah seorang pengurus Gepembri Wono Agung, dan bersamanya kami melanjutkan perjalanan dengan mini bis. Perjalanan dengan bis hanya bisa membawa kami sampai ke Kampung Besarang. Dan dari Besarang kami harus menggunakan transportasi air yang dikenal dengan klotok, yaitu perahu yang dijalankan dengan mesin genset, untuk menyeberangi Sungai Rapat yang lebarnya kurang lebih 500 meter. Kemudian dari muara sungai kami harus masuk lagi ke pedalaman sekitar setengah jam sebelum kami mencapai Wono Agung.
Upacara peresmian
Sebelum kedatangan kami, jemaat Wono Agung sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk upacara peresmian gedung gereja. Acara peresmian pada keesokkan harinya, 25 Juli 2001, dimulai pukul 10.00 dengan mengundang gereja tetangga dan warga sekitar.
Puji Tuhan Camat Maliku turut hadir di dalam acara peresmian. Beliau adalah seorang camat yang energik, rendah hati mau datang dari Maliku naik sepeda motor bersama dengan pembantunya. Dari kantornya sampai di gereja ia menempuh kurang lebih 1 jam perjalanan. Pak camat adalah seorang Kristen dan pemimpin masyarakat yang baik, ia sangat memperhatikan dan mau terjun langsung melihat keadaan warganya serta tidak membeda-bedakan suku / etnis warganya.
Acara peresmian dipimpin oleh ketua Sinode dan disaksikan oleh bapak camat serta undangan lainnya. Sedangkan kebaktian peresmian dipimpin oleh Pdt. Daniel Arianto dengan mengambil tema "Kehadiran Gereja Harus Menjadi Garam dan Terang".
Setelah acara selesai, kami dihidangkan masakan dan sempat pula berbincang-bincang dengan bapak camat. Kami rasakan pertemuan dengan beliau sangat menghibur hati kami karena ia sangat mendukung kehadiran Gepembri di Wono Agung.
Menjelang sore Pdt. Daniel Arianto melakukan sakramen baptisan kudus yang dilakukan di sungai di sekitar desa.
Setelah menginap semalam lagi, pada keesokkan harinya, 26 Juli 2001 kami harus meninggalkan Desa Wono Agung naik ojek menuju muara. Di muara kembali kami naik klotok ke Desa Besarang dan dengan menggunakan mobil Kijang kami pun tiba di Palangkaraya.
Kota Palangkaraya dihuni oleh berbagai etnis dengan ekonomi dikuasai oleh suku Bugis dan etnis tertentu. Kita masih ingat apa yang terjadi tahun lalu di mana ada dua etnis yang saling membunuh, peristiwa itu sangat menggemparkan kita. Suku Tionghoa tidak banyak berada di kota ini, kami hanya menemukan satu restoran milik orang Singkawang. Dia sekeluarga pindah dari Jakarta ke sini setelah kerusuhan Mei 1998 yang lalu. Jadi tidak ada gereja Tionghoa di Kalimantan Tengah. Palangkaraya disebut kota pasir, bukan karena berada di tepi pantai tetapi kota ini berada di pedalaman, daerah yang dipenuhi dengan pasir. Sepanjang jalan kita tidak menemukan bukit atau gunung, semuanya datar. Kita juga dapat melihat hutan yang dulunya sangat lebat dan kaya dengan flora dan fauna namun kini sudah musnah karena penebangan dan kebakaran yang semuanya ini akibat ulah manusia sendiri.
Akhirnya kami pun kembali ke Jakarta dengan pesawat terbang. Kita harap visi dan misi penginjilan Sinode tetap tidak berubah untuk tetap menyampaikan Injil kepada setiap suku, khususnya di Kalimantan Tengah. Kita tahu masih banyak suku Dayak yang belum mengenal Kristus. Ladang sudah menguning dan siap untuk dituai, tetapi pekerjanya masih sedikit. Siapakah yang terbeban untuk terjun ke ladang Tuhan?
rully
Yang pst jika seorang pemimpin daerah khususnya kalteng yg skrg d pimpin dr kalangan non Muslim adalah s'mata2 utk membangun terlebih Gub kalteng skrg yg jg akan mencalonkan diri kedua kalinya adalah putra daerah yaitu bpk A. Teras Narang. Sangat2 jauh dn d luar fikiran utk mengupayakan kristenisasi Kalteng,,tdk ada itu.! Dan kmi memilih beliau d samping krn dia putra daerah,slm kepemimpinan beliau sblmx terlht pembangunan nyata wlupun blm smuanya. Bkn krn mslh agama. Apakah salah jika kmi memilih pemimpin kmi yg hy kebetulan beragama non Muslim tp dia betul2 tulus membangun tanah leluhurnya?
Utk narang ilahi,cristian & amy kalian jgn jd provokator ya.! Sy tau kalian pakai nama palsu
Taltidel
"Teras" selalu di depan; walaupun sering "diinjak", Teras selalu tetap teguh, tabah, sabar, bersahaja, visioner, tepat waktu, dll. Dalam menjalankan roda pemerintahan selalu memakai aturan/koridor. Jangan selalu melihat kelemahan orang lain, lihatlah diri sendiri, apakah sudah sempurna ? Coba anda lihat, apa yang dapat dibanggakan oleh Amur Family di Kab. Pulang Pisau ? Coba anda bikin survey tentang kemajuan selama beliau memerintah dari pertengahan 2003 - 2010 sekarang. Saya sudah hampir 8 tahun tinggal di pulpis sejak awal pemekaran, yg saya banggakan dari Amur adalah :
1. Beliau sudah membangun "Amur Family".
Saya sebenarnya tidak mempermasalahkan siapapun yang memimpin walaupun banyak familynya, yang terpenting berkualitas, jujur, tidak serakah, punya visi dan komitmen yang tinggi ttg kemajuan pembangunan kab. seperti kemajuan eko. kerakyatan, sarana dan prasarana yang tersedia serta pertumbuhan eko. yang meningkat, dll.
2. Dalam menempatkan para pejabat tidak sesuai dengan pangkat, pendidikan serta kualifikasi sdmnya. Banyak pangkat yang baru kemarin dpt menduduki eselon, pdhal byk yang lebih senior. Tdk usah disebut satu persatu krn banyuak sekuali, ia ampun byk pelanggaran aturan kepeg. yg tdk ditaati. Ada yg baru 4,5 thn jd PNS sdh dpt menduduki eselon III, dll.
3.
Taltidel
"Teras" selalu di depan; walaupun sering "diinjak", Teras selalu tetap teguh, tabah, sabar, bersahaja, visioner, tepat waktu, dll. Dalam menjalankan roda pemerintahan selalu memakai aturan/koridor. Jangan selalu melihat kelemahan orang lain, lihatlah diri sendiri, apakah sudah sempurna ? Coba anda lihat, apa yang dapat dibanggakan oleh Amur Family di Kab. Pulang Pisau ? Coba anda bikin survey tentang kemajuan selama beliau memerintah dari pertengahan 2003 - 2010 sekarang. Saya sudah hampir 8 tahun tinggal di pulpis sejak awal pemekaran, yg saya banggakan dari Amur adalah :
1. Beliau sudah membangun "Amur Family".
Saya sebenarnya tidak mempermasalahkan siapapun yang memimpin walaupun banyak familynya, yang terpenting berkualitas, jujur, tidak serakah, punya visi dan komitmen yang tinggi ttg kemajuan pembangunan kab. seperti kemajuan eko. kerakyatan, sarana dan prasarana yang tersedia serta pertumbuhan eko. yang meningkat, dll.
2. Dalam menempatkan para pejabat tidak sesuai dengan pangkat, pendidikan serta kualifikasi sdmnya. Banyak pangkat yang baru kemarin dpt menduduki eselon, pdhal byk yang lebih senior. Tdk usah disebut satu persatu krn banyuak sekuali, ia ampun byk pelanggaran aturan kepeg. yg tdk ditaati. Ada yg baru 4,5 thn jd PNS sdh dpt menduduki eselon III, dll.
3. Masalah agama jgn selalu dikaitkan dgn mslah politik pemerintahan, mslah agama adalah utk diri kita sendiri untuk menyelamatkan diri kita sendiri serta tanggung jawab kita kpd Allah. Semua ajaran agama di muka bumi ini menganjurkan kita utk selalu berbuat baik antar sesama manusia dan makhluk hidup lainnya (tumbuhan, binatang darat, laut & udara). Krn dgn selalu melakukan tindakan kebaikan akan membawa berkah dan pahala krn kita selalu menolong umat Tuhan jua di muka bumi ini dan "tiket" utk mencapai tujuan ke sorga "duniawi" dan "akhiran" amin.
Ahmad Yohanes Visnu Damek
Kristenisasi? Saya tidak setuju! Islamisasi? Saya juga tidak setuju! Apa tujuan kita beragama? Mau jadi mayoritas yang superior dan menindas minoritas? Nehi.... nehi.... Agama membuat kita jadi beradab: menghormati Pencipta dan sesama mahluk ciptaan-Nya. Jangan gunakan agama hanya untuk menipu, seolah-olah kita baik, alim, tapi kemudian kita menginjak kepala orang. Perbaiki ahlak kita dengan agama, hidup dengan baik. Jangan campur adukkan agama dengan politik. Biarkan siapapun menjadi pemimpin, sepanjang ia masih berjalan di alur kebaikan, tanpa memandang agamanya.
kristus islam
tp kenyataannya keadilan dalam keagamaan sudah sangat nyata tidak nampak...muslim yg 80% dan non muslim sisanya dalam kehidupan masyarakat kalteng di anak tirikan...bantuan pembangunan malah terbalik lebih banyak orang kristen yg dapat...penyesatan agama terjadi di mana baik di media cetak dan elektronik..
kendali pemerintahan di kalteng sepenuhnya di kuasai org2 kristen dan orang muslim hanya di jadikan babu dan juga pembantu...
orang kristen mang pandai memainkan politik pecah belah antar sesama ummat islam setelah gagal di ambon mereka pergi ke kalimantan...
dan pemberontakan,di ambon dan papua dalangnya adalah org2 kristen
Anhar Gonggong
Anhar Gonggong
Mengurangi Penderitaan pada Proses Demokrasi
Edisi 260 | 06 Mar 2001 | Cetak Artikel Ini
Kemelut politik yang terjadi sekarang bisa saja dipersalahkan kepada pemerintah dan elite politik. Tapi sesungguhnya semua terperangkap dalam suatu kejadian sejarah yang besar, yaitu munculnya demokrasi yang kedua kalinya di Indonesia. Pertama adalah dari kemerdekaan sampai tahun 1959, dan yang kedua adalah dari tahun 1999. Seperti munculnya gunung berapi, kekuatan rakyat yang mendorong demokrasi juga mengakibatkan perubahan.
Kalau gunung berapi ditandai dengan goncangan lapisan tanah sampai kepada perubahan iklim dan kerusuhan pada mahluk hidup, maka api demokrasi menimbulkan goncangan pada seluruh sendi kehidupan sosial dan kerusuhan pada warga Indonesia. Seperti peristiwa alam, munculnya demokrasi ini disertai korban yang berjatuhan. Namun kami percaya dalam jangka panjangnya, manfaat perubahan tersebut jelas akan terasa oleh seluruh sistem kehidupan.
Kalau kita bisa melihat proses demokratisasi dalam perspektif sejarah, maka kecenderungan untuk mengobarkan kebencian antara sesama warga akan banyak berkurang. Karenanya kita punya kewajiban untuk mengubah pola perubahan politik dari persaingan antara kepentingan menjadi suatu kerjasama sosial yang mengacu pada kepentingan rakyat banyak. Paling tidak,pengertian bersama akan mempercepat proses perubahan dan menghindari korban antara orang yang tidak bersalah.
Untuk kesekian kalinya, Perspektif Baru berupaya untuk berperan serta dalam proses pendidikan politik masyarakat, dan kali ini kita dibantu oleh nara sumber Dr Anhar Gonggong, ahli sejarah dan ilmu politik yang mendapat gelar S3 dari Universitas Indonesia dan juga pernah belajar di Universitas Leiden, Belanda. Selain mengajar di Universitas Atmajaya dan perguruan tinggi lain, Anhar Gonggong juga banyak menyumbangkan pikirannya di berbagai forum dan media cetak serta elektronik. Dr. Anhar Gonggong adalah pejabat organik di Ditjen Kebudayaan yang dipindahkan dari Depdikbud ke Departemen Budaya dan Pariwisata. Inilah Perspektif Baru dengan pemandu Wimar Witoelar.
Sekarang ini kita banyak melihat peristiwa sehari-hari, dan karena sangat mencekam barangkali konteks yang lebih luasnya tidak selalu sempat kita lihat. Sebetulnya apa maknanya segala kesulitan dan barangkali miskomunikasi yang sedang terjadi dalam perjalanan kita sebagai bangsa. Apakah ada sesuatu yang positif yang bisa diraih dari sini?
Menurut saya ada, karena saya melihat apa yang terjadi sekarang itu hanya persoalan yang berkaitan dengan bagaimana kita melembagakan pekerjaan kita secara tepat. Dan sebenarnya ini adalah bagian dari komitmen kita untuk menjadi merdeka, berbangsa, dan membentuk negara republik yang demokratis. Komitmen ini sudah ada sejak 1916 ketika Tjokro Aminoto di dalam Kongres sentral Serikat Islam pertama, di Bandung, meminta kepada pemerintah Kolonial agar anak negeri diberi pemerintahan sendiri, dan pemerintahan itu ditata secara demokratis. Itu per dokumen. Itu kan sebenarnya sederhana, membangsa artinya menjadi satu dari yang banyak. Itu yang dilupakan selama ini. Ada satu kesalahan kita dalam berbangsa yaitu pemerintah tidak memulai dengan mengatur perbedaan-perbedaan yang ada. Dalam arti bahwa keadaan kita yang pluralistik itu adalah bagian dari posisi kehidupan kita membangsa. Kita sudah salah langkah sejak awal merdeka, dalam arti hanya sampai tahun 1958 kita membuka dialog. Baru sekarang terbuka lagi. Sejak tahun 1959 sampai Soeharto jatuh dialog itu tidak ada. Saya tidak kenal anda dan andapun tak kenal saya, padahal kita mau menyatakan hidup bersama sebagai bangsa. Bagaimana kita bisa mengenal kalau kita tidak bisa ketemu lagi? Disitu hebatnya kaum pergerakan, selama 4-5 tahun mereka bisa ciptakan satu image bahwa kita ini satu. Celakanya sejak tahun 59 kita ini pecah.
Betul sekali, jadi meskipun banyak kantong-kantong dimana hidup orang Indonesia dengan pemikiran yang seharusnya bisa dipertemukan, tapi baru sekarang mereka bertemu. Tentu yang kita khawatir, pada saat bertemu kelihatannya jadi kontra produktif. Apa salah kesan begitu?
Itu ada benarnya, karena paling tidak selama 40 tahun ini kita tidak berkomunikasi secara benar. Tapi kalau saya bertemu dengan anda seperti sekarang ini 2-3 kali, saya kira pemikiran kita bisa bertemu. Saya yakin betul itu, karena apa? Karena komitmen awal kita, kita mau satu. Kita ingin menjadi merdeka karena kita mau hidup bersatu, bersama, untuk menghilangkan kebusukan-kebusukan yang diatur oleh sistem feodalisme dan diciptakan oleh sistem kolonial.
Sekarang kan ada masalah komunikasi yang dibanyak hal bisa kita atasi, terus ada soal kekerasan, dan kelihatannya ini menjadi ciri dari tahun-tahun sekarang. apa itu bagian dari proses politik?
Sebenarnya tidak perlu terjadi, karena yang menyebabkan ini terjadi adalah 2 hal, pertama adalah manajemen pemerintah yang salah sejak dulu dan kedua adalah karena terputusnya komunikasi. Sebagai contoh, orang Madura datang ke Sampit itu sudah 3 generasi. Artinya apa? Tidak ada yang suruh mereka datang ke sana. Dia datang dengan segala macam kelemahannya, diterima juga oleh orang Dayak. Tapi kenapa sekarang terjadi? Apa artinya itu? Karena pemerintah daerah Kalimantan Tengah salah memanage pemerintahan dan salah memahami kondisi masyarakat mereka. Bahwa di situ ada orang Dayak, ada orang Madura yang pendatang, dan orang Madura ini punya cara hidup yang berbeda, dan ini yang nggak pernah dikatakan oleh pemerintah daerah, atau diolah oleh pemerintah daerah untuk mempertemukan orang-orang ini. Celakanya ini bertambah rumit karena pemerintah masa lalu menciptakan satu sistem pemerintahan yang otoriter.
Jadi sebetulnya ada beberapa puluh tahun yang terbuang dari segi pengembangan demokrasi. Apakah masih bisa terkejar dan bagaimana mengejarnya, katakanlah strategi umumnya?
Saya masih optimis melihat bahwa ini masih bisa kita kejar, dalam arti kata bagaimanapun pertentangan diantara kita, tapi komitmen kita ke depan tetap demokratis kan. Bagaimanapun perbedaan dari pemimpin kita yang ada sekarang, komitmen mereka tetap yaitu menegakan sebuah republik yang demokratis. Persoalannya sekarang adalah apa yang bisa kita lakukan untuk memulai kembali. Saya kira ada kelemahan utama yang selama ini kelihatan, yaitu bahwa demokrasi kita tidak dipahami secara benar padahal sederhana. Demokrasi kan unsurnya ada kebebasan, ada aturan, dan aturan itu lewat lembaga. Nah, selama kita merdeka, selama 40 tahun 3 hal ini tidak pernah ada. Lembaga tidak pernah jalan, lembaga yang jalan hanya presiden, baik oleh Sukarno maupun Suharto. Lembaga lain tidak jalan karena itu di bawah mereka semua. Begitu juga aturan, tidak pernah jalan. Karena UUD 45 sangat lemah dan itu diinjak-injak. Sukarno menginjak-injak, Suharto juga. Terus kita berpegang pada apa? Nggak ada. Kebebasan akhirnya tidak mempunyai kanalisasi, karena aturan dan lembaga nggak ada. Akhirnya ketika terbuka kebebasan itu kita melakukan seperti apa yang kita mau.
Sukarno memang sangat dominan sebagai eksekutif, Suharto juga dan di 2 periode itu DPR tidak berperan sama sekali. Sekarang DPR sangat kuat, apa itu kuncinya demokrasi? Dan bagaimana selanjutnya kualitas demokrasi itu?
Ada yang keliru dalam memahami itu sekarang. Sekarang lembaga-lembaga mulai nampak, tapi saya melihat persoalannya ini bukan hanya sekedar lembaga tapi isi lembaga itu. Kulaitas dari isi lembaga itu juga harus diperhatikan. Disini rusaknya kita, recruitment pemimpin-peminpin kita itu juga sangat lemah. Partai apa sih yang pernah dia lakukan? Nggak ada. Padahal partai itu sumber dari pada recruitment. Orang yang duduk di DPR itu adalah orang partai. Kalau orang partai duduk didalam tidak ngerti apa-apa tentang tugas, habis juga. Maka jangka panjangnya saya kira minimal satu generasi, dan kita harus memulai dari awal untuk menciptakan lembaga itu berisi apa? Ada teman saya bercerita, anda tahu apa tugas yang tiap hari saya kerjakan? saya ngajarin kakak sepupu saya untuk pakai dasi dan jas. Ini kelihatan sederhana, tapi bisa bayangkan, bagaimana dia bisa memikirkan republik ini kalau pakai dasi aja nggak bisa.
Ada strukturnya, isinya yang belum sepenuhnya lengkap. Apa mungkin kita kejebak dalam istilah jaman dulu, kita belum siap untuk demokrasi. Bagaimana up gradingnya mengejar ketinggalan itu?
Kesalahan kita adalah karena partai tidak pernah melakukan pendidikan politik. Pemerintah juga tidak pernah melakukan pendidikan politik. Dulu Sukarno ada indoktrinasi Manipol Usdek, Suharto melanjutkannya dalam bentuk lain. Yang menyedihkan saya adalah bahwa sudah 4 tahun ini saya mengadakan sayembara mengarang, menulis tentang demokrasi, tentang nasionalisme untuk tingkat SMA. Apa yang terjadi? Pola pikir anak sangat rusak, sehingga menulis aja dengan pola P4. Di sini Departemen Pendidikan harus mengembalikan sistem pendidikan dalam pengertian sistem pendidikan yang berkaitan dengan bagaimana kita memahami diri kita sebagai warga negara yang baik. Oleh karena itu kalaukita mau kedepan, paling tidak antara 5-10 tahun mendatang, yang kita harus kerjakan itu memperbaiki sistem pendidikan dan melakukan pendidikan politik. Kita harus katakan pada partai, pada pemerintah untuk melakukan itu semua. Siapa yang mau melakukan kalau bukan kita?
Sekarang kira-kiranya akan diperoleh di mana pendidikan politik luar sekolah yang efektif dan lumayan cepat?
Misalnya dengan membentuk group diskusi, seperti pengalaman saya di Yogya. Kita bisa lakukan itu karena group diskusi kan tidak perlu dibentuk hanya oleh mahasiswa, masyarakat juga bisa melakukan itu. Artinya apa? Ada semacam counter culture yang harus dilakukan dalam kaitan pendidikan politik itu. Memang partai-partai politik tidak terlalu banyak bisa diharapkan kalau masih seperti sekarang, tapi ada kelompok-kelompok yang lebih bebas yang bisa melakukan itu namun harus dengan peranan media, seperti yang anda lakukansekarang dengan program Perspektif Baru ini. Saya kira ini adalah salah satu cara yang cukup strategis untuk memberikan pendidikan politik.
Anda tadi mengatakan bahwa pada dasarnya semua pimpinan politik dari berbagai aliran itu menginginkan demokrasi, bagaimana anda sangat yakin mengatakan itu kalau kita punya tradisi totaliter selama 32 tahun?
Saya mempunyai keyakinan itu karena dasar republik ini dibangun dengan komitmen itu sebenarnya. Kita mau jadi bangsa dari jaman pergerakan nasional dasarnya adalah itu . Kita sudah diajar dengan segala cara apalagi dengan situasi terbuka kayak sekarang, tapi kesalahannya ada 2 pemimpin kita yang memotong itu. Kita sekarang akan kembali mau berusaha dan kita sedang bergumul sekarang. Bahwa ada kekuatan yang pro dan kontra, itu hal yang biasa. Cuman masalahnya menurut saya yang harus kita lakukan adalah mengembalikan aturan itu supaya digunakan secara benar. Jadi kita berjalan diatas aturan, sejelek apapun aturan itu. Andaikata lembaga-lembaga yang ada dalam republik yang kita ciptakan sekarang berjalan diatas aturan, contoh yang terakhir Memorandum. Dalam hal ini anggota DPR salah, tapi dimana letak salahnya? Karena dia mau mempercepat Sidang Istimewa. Itu jelas salah dan tidak prosedural. Kenapa tidak memberi kesempatan pada pak Abdurahman Wahid untuk mengatakan "oke, saya akan balas", tapi tolong juga pak Abdurahman Wahid melihat hal itu sebagai suatu proses. Dan itu bukan akhir dari sebuah kekuasaan.
Memorandumnya sendiri nggak ada salahnya?
Tidak ada. Kesalahan orang adalah melihat Memorandum itu akan dimacam-macamin secara politik. Ini kan komitmen kita untuk berdemokrasi dan ada peluang-peluang itu. Saya masih melihat itu walaupun saya tahu tidak ada suku bangsa di Indonesia yang tidak otoriter. Kesulitan kita adalah ketika kita mau menjalankan suatu lembaga secara demokratis, pada saat yang bersamaan kita tidak mendidik diri untuk melakukan itu. Dan itu yang terhenti selama ini, dan yang menyebabkan saya optimis dalam melihat komitmen ini bisa kita kembangkan bersama, serta kita masih bisa melakukan pendidikan kedepan.
Tapi tetap kita memang harus masuk kedalam full demokrasi, dalam demokrasi lengkap, nggak dalam demokrasi bertahap, terpimpin?
Tidak ada. Demokrasi harus langsung. Menurut saya sambil jalan melakukan pendidikan itu, tanpa harus ada istilah demokrasi lain. Kesalahannya apa? karena kita macam-macami demokrasi itu. Kita berikan kata "demokrasi liberal", walaupun dalam kenyataannya demokrasi terpimpin, dan jamannya Suharto kita kenal demokrasi Pancasila. Padahal kita tidak bisa menangkap esensinya. Walaupun harus diakui sistem pemerintahan yang paling sulit dilaksanakan adalah sistem demokrasi. Setiap saat kita harus belajar ini, dan Amerika juga sampai sekarang masih belajar. Hasil pemilihan di Amerika yang sekarang, menandakan bahwa Amerika belum menemukan bentuk, tapi hebatnya dia mendasari diri pada aturan dan menghargai aturan itu.Al Gore kan sebenarnya masih punya kesempatan, tapi dia melihat rakyatnya dan Mahkamah Agung sudah mengeluarkan keputusannya Kalau dia tidak menghargai Mahkamah Agung, siapa lagi yang akan menghargai walaupun ada peluang untuk dia. Itu hebatnya.Jadi artinya orang Amerika saja masih belajar apalagi kita.
Bagaimana mengenai keutuhan teritorial jadi separatisme dan sebagainya, apakah itu terpisah dengan demokrasi, kalau tidak apa hubungannya dengan proses demokratisasi? Cara mengatasi keinginan-keinginan daerah untuk merdeka?
Saya kira ini jangan dilihat secara sempit. Kemarahan Aceh itu hanya karena salah manajemen negara. Saya tahu benar, historis misalnya Daud Beureuh tidak pernah mau melepaskan diri dari republik ini. Dia pernah diajak oleh Tengku Mansyur untuk mendirikan negara Sumatera tahun 49. Apa jawabnya? "Saya tidak mau. Saya republik. Dalam diri saya adalah Republik Indonesia, negara kesatuan". Artinya kan Daud Beureuh tidak mau memberontak oleh karena apa-apa. Ada kemarahan yang disebabkan oleh karena kesalahan di Jakarta. Saya tidak melihat kerusuhan-kerusuhan yang mau melepaskan diri, tapi itu menurut saya karena emosi, sistoris, dan saya tidak yakin bahwa kesempatan ini terbuka buat mereka. Itu semacam reaksi aja. Tapi hubungannya ini dengan demokrasi dimana? Mari kita kembalikan tatanan kehidupan kita secara benar. Jadi beri kesempatan daerah untuk mengatur dirinya. Itu yang seharusnya dilakukan dengan adanya otonomi daerah sekarang. Kesalahan mereka lagi sekarang kalau saya kaitkan demokrasi dengan otonomi daerah, kesalahannya dimana? Kesalahannya adalah oleh penafsiran orang terhadap otonomi daerah merupakan penafsiran etnik. Padahal kalau ada aturannya, kita berjalan dan laksanakan itu, disitu tidak ada persoalan etnik. Di situ tujuannya adalah untuk menegakan Republik Indonesia, tapi dasar kekuatan republik ini dari daerah. Menguatnya daerah berarti menguatnya republik, demokrasi disini ketemunya di situ.