Menunggu ‘Oloh Itah’ Jadi Menteri

Mungkin hanya orang 'sakit' atau tertidur terlalu panjang yang mengatakan di Kalteng tidak ada kemajuan. Pimpinan daerah silih berganti, semuanya sama-sama memiliki komitmen tinggi membangun wilayah. Kalimantan Tengah yang dulunya hanya belukar kini telah berubah pesat. Bersamaan dengan membaiknya kondisi sosial politik dan perekonomian negara, Bumi Tambun Bungai juga mulai tumbuh menjadi kawasan modern.

Kerja keras para pemangku kepentingan dan dukungan masyarakat membuahkan hasil yang cukup berarti. Tengok saja, kini hampir semua kabupaten dapat terhubung melalui perjalanan darat. Di sisi lain berbagai sarana vital seperti lembaga pendidikan dan kesehatan juga terus ditingkatkan keberadaannya. Demikian pula lompatan-lompatan kemajuan di sektor lain.


matanews.com/wp-content/uploads/PelantikanDPR011009-3.jpg

Sudahnya saatnya Suku Dayak menunjukkan kepada dunia bahwa putra Tambun Bungai juga memiliki kompetensi dan sejajar dengan suku-suku lain. Saat ini Kalteng sudah memiliki banyak stok putra-putri terbaik, dengan berbagai gelar dan keahlian.

Tak bermaksud sukuisme, seharusnya orang Dayak memegang posisi-posisi penting di daerah ini karena mengenal cukup baik karakteristik wilayah. Sudah saatnya pula orang Dayak jadi pejabat negara, tak hanya orang Jawa, Batak, atau Bugis saja seperti yang terjadi selama ini. Warga Kalteng harus mempunyai channel orang kuat di Jakarta. Artinya, harus ada putra Dayak yang terlibat dalam penentu kebijakan kekuasaan di Ibukota negara. Dengan adanya orang Dayak menjadi pejabat negara secara otomatis akan meningkatkan posisi tawar 'Oloh Itah' di pentas nasional. Sebagian besar warga berharap, kapan giliran putra Kalteng menjadi menteri.

Di era 60-an, Gubernur Tjilik Riwut pernah mengeluarkan kebijakan memanggil seluruh putra daerah agar kembali ke Kalteng untuk membangun daerah. Ternyata setelah dicermati, kebijakan itu ada pula sisi negatifnya, sebab akhirnya Kalteng banyak kehilangan kader yang merintis karier di Jakarta. Sejatinya, orang-orang inilah yang dapat diharapkan membangun pondasi eksistensi warga Kalteng di tingkat nasional.

Setelah Tjilik Riwut wafat, praktis Kalteng tak lagi memiliki figur yang merepresentasikan Suku Dayak. Kevakuman ini berlangsung puluhan tahun, hingga akhirnya muncul sosok Agustin Teras Narang sebagai Ketua Komisi II DPR RI. Kehadiran Teras Narang di Senayan membuat warga Kalteng bangga. Bangga karena sangat jauh dari stigma 4D (Datang, Duduk, Diam, Duit), tapi betul-betul menunjukkan kualitasnya sebagai wakil rakyat.

Sayangnya itu tak berlangsung lama karena Teras Narang lebih tertarik menjadi gubernur di kampung halamannya. Sepuluh tahun terakhir memang ada beberapa warga Kalteng yang berhasil menjadi anggota DPR RI, tapi tak terdengar gregetnya. Tak jelas, apakah penampilannya memang 'memble’' atau kiprahnya tak terekspose media.

Secara kasat mata, dinamika pembangunan di Kalteng bergerak sangat positif. Seandainya Tjilik Riwut masih hidup, beliau pasti tersenyum bangga, karena 'anak cucunya' dapat mewujudkan sebuah impian besar yang pernah dicita-citakan. Yaitu Kalteng yang maju dan bermartabat.

Tapi bila masih hidup mungkin pula hati Sang Pioneer itu tambah trenyuh. Soalnya, ketika Kalteng maju dan berkembang kearipan lokal mulai tergusur di wilayah ini. Orang tak lagi memandang budaya dan warisan Datu Hiang sebagai sesuatu yang sakral. Modernisasi terasa semakin menggerus primordialisme. Kini, suara garantung dan syair karungut hanya terdengar lamat-lamat. Generasi muda Dayak dapat dihitung dengan jari yang peduli dengan warisan budayanya. Pertahanan budaya hanya ditopang oleh kaum tua. Kalteng masih beruntung memiliki agama Kaharingan, karena sebagian besar hanya umat Kaharinganlah yang secara konsisten menjalankan warisan budaya Dayak melalui berbagai upacara adat.

Tak dapat ditampik, ketika Kalteng maju sebagian orang Dayak perkotaan malah menepi ke pinggiran kota. Akhirnya, yang berdomisili di perkotaan sebagian besar adalah pendatang. Di Kalteng penduduk perkotaan mulai dipadati Suku Banjar dan Jawa. Saat ini dominasi Suku Banjar cukup tinggi, mereka menguasai perdagangan. Bahkan banyak orang Dayak yang berkomunikasi dengan bahasa Banjar dari pada bahasa ibunya sendiri. Suku Banjar yang memang berbakat berdagang merambah hampir semua kawasan di Kalteng. Antara lain Palangka Raya, Kuala Kapuas, Sampit, Ampah, Tumbang Samba, hingga Tewah.

Di Sampit kita sulit mencari di mana sebenarnya komunitas Dayak berada. Dalam komunikasi sesama warga yang sering dipakai adalah bahasa Banjar dialek Sampit. Sementara bahasa Dayak jarang terdengar. Demikian pula di Kuala Kapuas, Buntok, dan Muara Teweh. Ironis sekali memang, akankah pada gilirannya nanti Suku Dayak juga bernasib seperti Suku Betawi yang terasing di negerinya sendiri.

Cendekiawan Dayak Kumpiadi Widen mengatakan, terpinggirkannya Suku Dayak dalam ‘'persaingan' karena belum berubahnya cara berfikir atau mindset. Sebagian orang Dayak masih ada yang merasa rendah diri dan menganggap dirinya tak semaju orang lain. Identitas kesukuan seperti penggunaan bahasa daerah dianggap kurang gaul.

Guru Besar Universitas Palangka Raya (Unpar) itu mengatakan, masih ada orang Dayak yang malu menggunakan bahasa daerahnya di depan umum. Yang dipakai justru bahasa Banjar.

* foto dari ANTARA, oleh Yudhi Mahatma

Kata Kunci:
, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Bambang M. Permadi
Tentang Penulis

Bambang M. Permadi adalah kontributor Betang.COM tinggal di Palangka Raya

Terdapat 26 Komentar

  1. #1 Rabu, 28 Oktober 2009 Pukul 0:27 WIB
    hamlennon

    Maaf Pak Bambang, boleh saya tanya. Dalam pengertian bapak, apa yang bapak maksud dengan Putra Daerah Kalimantan Tengah?

  2. #2 Rabu, 18 November 2009 Pukul 1:56 WIB
    asu

    asu...............................................

  3. #3 Rabu, 18 November 2009 Pukul 1:57 WIB
    asu

    bambang asu

  4. #4 Rabu, 18 November 2009 Pukul 1:58 WIB
    asu

    asu lagi

  5. #5 Rabu, 18 November 2009 Pukul 1:58 WIB
    asu

    dimanapun asu lagi

  6. #6 Rabu, 18 November 2009 Pukul 1:59 WIB
    asu

    asu lagi bam bam bam

  7. #7 Rabu, 16 Desember 2009 Pukul 18:26 WIB
    hamlennon

    Hampir dua bulan saya menunggu konfirmasi Pak Bambang dalam comment saya yg pertama yang menanyakan pengertian "putra daerah" dalam persepsi saudara Bambang. Saya sangat tidak sepakat kalau pengertian "Putra daerah" atau lebih spesifik yang anda sebutkan sebagai "Putra Tambun Bungai" adalah harus suku Dayak. Saya rasa anda telah mereduksi pengertian tersebut! Bukankah seharusnya "Putra Daerah" seperti yang dimaksud adalah sekelompok pemuda yang dilahirkan di suatu daerah yang nantinya akan menjadi pilar-pilar pembangunan dan demokrasi di tanah kelahirannya sendiri. Seharusnya kita bisa menempatkan semangat primordialisme kita dengan bijak.
    Saya sebenarnya masih cenderung sepakat jika pemimpin suatu daerah adalah orang yang dilahirkan di daerah tersebut, walaupun harus dilengkapi dengan parameter yang lain. Tapi kalau ternyata itu semua dipersempit dengan mengatakan bahwa yang boleh menjadi pemimpin disana hanya boleh dari satu suku saja, dan celakanya hal tersebut diamaini begitu saja, maka saya sangat keberatan dengan statement tersebut. Saya rasa realitas seperti ini dapat menjadi bahan evaluasi kita terhadap bingkai Nation-State yang selama ini kita citakan-citakan di Indonesia.

    NB : buat admin tolong beberapa comment diatas yang anda rasa tidak sopan bisa anda hapus. Sangat menganggu peradaban, hehehehe, terima kasih.

  8. #8 Senin, 28 Desember 2009 Pukul 16:07 WIB
    putra

    maaf paK Bambang asli orang mana ya...???

    dilihat secara kasat mata bukan uluh itah deh...

  9. #9 Selasa, 18 Mei 2010 Pukul 18:24 WIB
    bopo suripto

    Dalam mendifinisikan putra daerah yang harus suku tertentu tentu haruslah berpandangan secara arif dan bijaksana.
    kalau mengacu pada sesungguhnya putra daerah seperti yang anda maksudkan maka sama saja anda menghina,meremehkan bahkan tidak mengakui peranan raja kotawaringin yang telah mendahului dan juga mewariskan kalteng kepada anda.
    anda orang terpelajar yang tidak mau membaca sejarah siapa yang telah membesarkan dan berjuang untuk kalteng.
    Pelestarian adat dayak dan penghoramatan seperti yang anda maksudkan suadah sangat menyimpang kalau yang di salahkan adalah para pendatang....
    ingat didunia suku dan ras pada suatu waktu akan hilang dan akan muncul suku dan kebudayaan baru..dan kalau kita meninjau kembali asal mula suku dayak adalah berasal dan berinduk dari china yang kemudian menetap dam bergaul kemudian menetap di kalteng atas dasar percampuran tersebut lahirlah suku dayak.Dan kalau anda menyimpulkan bahwa putra daerah adalah dayak maka pertanyaan ini akan kembali kepada anda apakah anda asli putra kalimantan dalalu siapakah yang patut di persalahkan atas hilangnya suku sebelum anda

  10. #10 Kamis, 20 Mei 2010 Pukul 1:33 WIB
    joko tole

    Bahaya laten terus terjadi di kalteng,semangat barbarisme dan pemaksaan adat istiadat yang sangat bertentangan dengan agama lain merupakan pelanggaran yang sangat berat.Penghoramatan yang di inginkan oleh masyarakat dayak adalah mengikuti ritual2 mereka yang tentunya bagi ummat islam sangat bertentangan,kita memang harus saling menghormati tetapi kita tdk boleh ikut melaksanakannya.
    sebagimana dalam kitab suci alqur'an di terangkan agamu adalah agamau,agamuku adalah agamaku.
    pendiskriminasian agama pun terjadi disana seharusnya ummat muslim yang mencapi lebih dari 70 % haru mendapat lebih banyak bantuan akan tetapi malah sebaliknya mendapat beberapa persen saja.
    dulu mereka berkoar2 bahwa mereka tidak memusuhi agama islam tapi pada kenyataannya sekarang inilah yang terjadi.
    Perlu di ingat bahwa adat dan kebudayaan tidak sama dengan agama,agama lahir langsung dari yang maha esa ,sedangkan adat dan budaya adalah hasil manusia.

  11. #11 Kamis, 20 Mei 2010 Pukul 12:46 WIB
    Arya Winata

    AJUKAN KASUS DAYAK VS MADURA KE KOMHAM JENEWA

    MENGAPA TIDAK DIAJUKAN KE KOMNAS HAM?

    Karena perlu kiranya dipertimbangkan secara arif oleh semua pihak, terutama
    KOMNAS HAM yang
    impoten dan partisan. Kasus Timor, yang dikambing-hitam-kan adalah sebagian
    petinggi TNI-AD.
    Bagaimana dengan Ramos Horta? si don yuan, dia kagak ngerti apa itu politik.
    Bagaimana
    dengan sohib dia yang kini jadi orang nomor satu Timor Leste? Ia diskriminatif,
    mantan
    pembunuh pula. Diskriminatif, karena mayoritas aparat senior di pemerintahannya
    kini diisi
    orang orang Timor lulusan universitas Portugal, Australia, dan adaketurunan
    Portugis. Local
    people, dipinggirkan. Ini merupakan bom waktu bagi dirinya.

    BAWA KASUS DAYAK VS MADURA KE KOMISI PBB HAM JENEWA

    Soal pembantaian etnis imigran Madura (sebagian besar bahkan lahir di
    Kalimantan, tak kenal
    tanah leluhurnya Madura) oleh sebagian Dayak sesat (yang mengaku muslim maupun
    penganut
    animisme penyembah berhala), sudah saatnya dibawa ke Komisi HAM di United
    Nations di Jenewa.

    Sebagian kaum Dayak sesat itu telah terang terangan melanggar HAM ummat muslim
    etnis Madura
    yang dibantai seperti babi itu! Para Dayak sesat dan biadab itu pakai hukum apa?

    Ini NKRI, bukan negeri berdasarkan hukum adat untuk menindas etnis lain sebangsa
    dan se
    Tanah Air.

    ADA PERMUSUHAN LATEN DIKALANGAN SEBAGIAN SUKU DAYAK DAN MADURA

    Sungguh mengerankan, ribuan Madura muslim (ada yangnakal dan berkelakuan tidak
    islami,
    sehingga memprovokasi sebagian etnis Dayak setempat)sejak beberapa tahun
    terakhir jadi
    korban kebiadaban (baca: dibantai seperti babi) sebagian Dayak sesat, PBNU,
    pihak gereja
    tidak ada yang tampil ke depan menyatakan even cuma keprihatinan. Ingat kasus
    pembunuhan
    atas saksi hidup pengeboman satu gereja di Medan? Orang orang NU bersatu padu
    dengan pemuka
    gereja melakukan unjuk keprihatinan. Di mana nurani para pimpinan dua agama
    besar itu?

    Saya harus tekankan di sini: tidak seluruh suku bangsa Dayak sesat, yang baik
    cukup banyak.
    Begitu pula sebaliknya di kalangan suku bangsa Madura.

    Jelas, di kalangan sebagian suku Dayak dan Madura ada permusuhan laten. Ada
    kasus kasus di
    mana segelintir suku Madura di sana telah menyakitkan hati suku Dayak.

    Adalah prinsip dan norma universal, tamu apapun statusnya wajib menghormati
    local people.
    Sebaliknya, local people tidak ada dalih untuk cemburu buta terhadap kemajuan
    ekonomi
    pendatangm kalau dapat dibuktikan bahwa aktivitas ekonomi pendatang ternyata
    juga membawa
    kemaslahatan bagi mayoritas masyarakat setempat.

    Is that the case? para peneliti di kedua pihak dan pihak ketiga wajib mampu
    menampilkannya
    dalam angka/statistik yang akurat; bukan statistik badutan hasil rekayasa para
    aparat Pemda
    yang korup -- di Pusat maupun Daerah.

    TIDAK DIBENARKAN PENGUSIRAN SECARA PAKSA

    Pengusiran secara paksa, didahului teror pemusnahan etnis Madura dalam kasus
    Sampit,
    Palangkaraya baru baru ini, dan di masa lalu; tidak dapat dibenarkan dari segi
    apapun. The
    hell dengan hukum adat! Hukum Allah berlaku di atas segala hukum buatan manusia
    lemah.

    Apakah kaum migran Madura itu telah melanggar UUD 1945 hanya dengan bertempat
    tinggal dan
    mencari makan -- via berbagai usaha halal -- di Kalimantan? Tolong, Tuan Tuan
    besar Dayak
    jawab secara jujur, tanpa apologia berbelit-belit.

    SALING MENGENAL BUKAN SALING MEMUSNAHKAN

    Saya bersimpati kepada saudara saudara kita kaum Dayak, yang terbukti di masa
    lalu sampai
    kini terpinggirkan oleh bisnis sebagian kaum Madura pendatang itu. Namun, mari
    kita sama
    sama jujur mengaca diri: adakah kemampuan pada diri kita melakukan usaha yang
    sama (bisnis
    dll) yang halal menurut tatanan hukum negara maupun lebih lebih agama?

    Kedengkian, dendam hanya hadir pada hati yang keruh, kotor, tidak pernah
    mengagungkan Allah
    Tuhan YME. Semua orang, apapun etnisnya dan agamanya, termasuk muslim, dapat
    menjadi manusia
    dholim keji terhadap sesamanya.

    Jadikan insiden Sampit dll di Kalimantan itu pelajaran mahal bagi kita semua.
    Ingat, kita
    semua diciptakan Allah, bersuku suku, berbangsa bangsa, untuk saling mengenal
    dan saling
    menolong. Bukan untuk saling memusnahkan!

  12. #12 Kamis, 20 Mei 2010 Pukul 12:52 WIB
    Arya Winata

    joko tole

    Alkisah, di pulau Madura ada sebuah desa, namanya Pakadhangan. Desa ini termasuk wilayah Kabupaten Sumenep. Seorang pandai besi sangat terkenal bernama Empu Keleng, Empu Keleng mempunyai seorang anak angkat bernama joko tole. Ayah kandung Joko Tole adalah seorang raja yang bernama Adipeday. Ia sedang bertapa di gunung Ghegher. Ibunya bernama Raden Ayu Pottre Koneng, bertapa di gunung Pajhuddhan, wilayah Pamekasan.

    Saat itu Kerajaan Majapahit bertahta seorang raja bernama Sri Baginda Brawijaya. Ia memerintahkan membuat pintu gerbang besi yang besar dan megah. Empu Keleng dipanggil untuk ikut melaksanakan pembuatannya. Ia pun berangkat ke Majapahit.

    Pintu gerbang Majapahit sudah dikerjakan selama setahun tetapi belum selesai. Para pandai besi merasa terlalu lama meninggalkan rumahnya untuk mengerjakan gerbang itu. Empu Keleng pun jatuh sakit. Joko Tole, ayahmu sedang sakit, berangkatlah segera ke Majapahit menengok ayahmu, kata Ibu Joko Tole. Joko Tole pun segera menyusul ayahnya di Majapahit. Pekerjaan di bengkel besi diserahkan kepada teman-temannya.

    Setelah berjalan melewati beberapa desa, Joko Tole memasuki sebuah hutan yang lebat. Di situ ia bertemu seseorang Selamat datang Joko Tole, seru seorang yang mengenakan ikat kepala dan jubah hitam. Jangan terkejut, aku Adipeday, ayahmu, tambahnya. Joko Tole segera mencium tangan ayahnya.

    Ayah Joko Tole menyampaikan bahawa membangun pintu gerbang besi Majapahit tidak mudah dan lama. Ia memberi bunga hutan yang harus dimakan. Kelak akan keluar pateri dari dalam pusar, setelah tubuh Joko Tole dibakar. Bunga hutan itu diterima Joko Tole dan dimakannya. Kemudian Joko Tole meneruskan perjalanannya dan ditemani adiknya bernama Agus Dewi.

    Kedua bersaudara ini berjalan beriringan. Mereka asyik berbicara tetapi selalu waspada jika ada ancaman bahaya. Perjalanan mereka menuju pantai untuk menyeberangi selat Madura. Ketika tiba, betapa senangnya mereka melihat perahu. Sang nakhoda memerintahkan awak perahu untuk menyiapkan segalanya, namun ia tidak suka Joko Tole naik ke perahunya. Karena itu ia berbohong dengan mengatakan perahu sudah penuh.

    Ternyata perahu itu tidak bisa berlayar, karena kesaktian Joko Tole. Setelah akhirnya Joko Tole dan Agus Dewi diperkenankan naik perahu, barulah perahu itu dapat berlayar.

    Daratan pulau Jawa telah nampak. Perahu segera merapat ke dermaga. Tibalah mereka di kota Gresik. Di alun-alun, keduanya didekati oleh seorang lelaki, ia seorang Perdana Menteri yang diperintahkan untuk mencari kedua pemuda itu. Kalian tentu pemuda yang dalam impian raja Gresik. Kata sang perdana Menteri itu. Raja Gresik sangat gembira melihat kedatangan kedua anak muda itu. Keduanya dianggap anak sendiri. Setelah beberapa hari mereka tinggal di istana Gresik, Joko Tole mohon diri untuk menengok ayahnya yang sedang sakit. Sedang Agus Dewi tetap tinggal di istana, dan kelak akan dinikahkan dengan puteri kerajaan dan bertahta menjadi raja di Gresik.

    Setelah Joko Tole sampai di Majapahit. Ia bertemu dengan Empu Keleng. Mereka saling melepaskan rindu. Sementara itu, Sang raja Brawijaya kecewa karena pintu gerbang belum beres. Saya minta laporan kenapa pekerjaan kalian belum siap? sabda sang Raja. Semua pandai besi terdiam. Kalian harus bekerja keras agar besok pagi bisa selesai, sabdanya lagi. Ketika melihat ada anak muda sang raja bertanya, Hai, siapa kamu anak muda? Hamba Joko Tole, anak Empu Keleng. Kata Joko Tole sambil menyembah. Ia menerangkan, hendak membantu ayahnya. Ia pun menyanggupi menyelesaikan pintu gerbang dalam satu malam termasuk dihukum berat, bila tidak menepati janji.

    Empu Keleng merasa disambar petir mendengar kesanggupan Joko Tole. Bila tidak berhasil, pasti Joko Tole akan menerima hukuman berat. Sebaliknya para pandai besi sangat girang. Sesudah tengah hari, Joko Tole ke tempat pembangunan pintu gerbang. Bapak-bapak sekalian, aku mempunyai pateri yang sangat hebat. Bakarlah badanku, dari dalam pusarku akan keluar pateri. Jika sudah keluar paterinya rendamkan badanku ke dalam kolam, kata Joko Tole meyakinkan. Badan Joko Tole dibakar dengan kayu, keluarlah benda cair putih dari pusarnya. Bagian-bagian pintu gerbang segera dilekatkan. Akhirnya pintu gerbang yang indah dan megah selesai dalam satu malam.

    Raja Brawijaya sangat gembira menyaksikan pintu gerbang itu. Para pandai besi mendapat hadiah. Sedangkan Joko Tole menerima hadiah paling besar berupa perhiasan emas dan perak. Empu Keleng segera pulang ke Madura. Tolong bawalah semua hadiah dari Raja untuk ibu di rumah, kata Joko Tole. Saya akan tetap tinggal di Majapahit. Raja Brawijaya sangat berterima kasih kepada Joko Tole. Ia diangkat menjadi menteri Muda. Namanya diganti menjadi Menteri Kodapanole.

    Pada suatu hari, salah seorang Bupati dari Blambangan memberontak Raja Brawijaya. Kau kuperintahkan meredam perlawanan Bupati Blambangan. Tenyata Bupati Blambangan telah melarikan diri ke hutan. Ia akhirnya berhasil menangkap Bupati itu. Raja Brawijaya semakin menaruh kepercayaan kepada Menteri Kodapanole. Ia dinikahkan dengan putri raja. Perayaan pernikahan berlangsung meriah.

    Tidak lama kemudian, menteri Kodapanole memohon pulang ke Madura. Ia memerintah sebagai Bupati Sumenep. Ia sangat dicintai rakyatnya. Ayah angkatnya, Empu Keleng diajak untuk tinggal di Kabupaten. Aku ingin membangun desa, kata Empu keleng menolak ajakan secara halus dari Bupati Sumenep itu. Empu Keleng dan istrinya tetap tinggal di desa.

    Pada suatu hari menteri Kodapanole sakit keras. Akhirnya ia meninggal dunia. Rakyatnya berkabung. Jenasah menteri Kodapanole dimakamkan di desa Lanjhuk. Sebuah desa yang tidak jauh dari kota Sumenep.

  13. #13 Kamis, 20 Mei 2010 Pukul 12:54 WIB
    Arya Winata

    KH.Kholil Bangkalan : Punya Pasukan Lebah Penggempur Musuh

    KH KHOLIL adalah guru utama yang mencetak banyak ulama besar di Jawa Timur. Sampai sekarang, meski sudah meninggal, banyak ulama yang mengaku belajar secara gaib dengan Mbah Kholil. Banyak cara dilakukan untuk belajar kitab secara gaib dari ulama tersohor ini. Salahsatunya dengan berziarah serta bermalam di makam beliau.

    Seperti pernah dikisahkan KH Anwar Siradj, pe-ngasuh PP Nurul Dholam Bangil Pasuruan. Saat mempelajari kitab alfiyah, beliau mengalami kesulit-an. Padahal, kitab yang berupa gramatika Bahasa Arab tersebut, merupakan kunci untuk mendalami kitab-kitab lain.

    Kiai Anwar sudah mencoba berguru kepada kiai-kiai besar di hampir semua penjuru Jawa Timur. Tapi hasilnya nihil. Suatu ketika, seperti dikisahkan ustadz Muhammad Salim (santri Nurul Dholam), Kiai Anwar dapat petunjuk, agar mempelajari kitab alfiyah di makam Mbah Kholil.

    Petunjuk gaib itu pun dilaksanakan. Selama sebulan penuh Kiai Anwar ziarah di makam Mbah Kholil Bangkalan. Di makam itu dia mempelajari kitab alfiyah. ”Akhirnya Kiai Anwar bisa menghafal alfiyah,” jelas Ustadz Salim.

    Banyak ulama generasi sekarang yang meski tidak pernah ketemu fisik dan bahkan lahirnya jauh sesudah Mbah Kholil meninggal, mengakui kalau perintis dakwah di Pulau Madura ini adalah guru mereka. Bukan guru secara fisik, melainkan pembimbing secara batin.

    ***

    MBAH Kholil sempat menimba ilmu di Mekah selama belasan tahun. Satu angkatan dengan KH Hasyim Asy’ari. Selevel di bawahnya, ada KH Wahab Chasbullah dan KH Muhammad Dahlan.

    Ada tradisi di antara kiai sepuh zaman dulu, meski hanya memberi nasihat satu kalimat, tetap dianggap sebagai guru Demikian juga yang terjadi di antara 4 ulama besar itu. Mereka saling berbagi ilmu pengetahuan, sehingga satu sama lain, saling memanggilnya sebagai tuan guru.

    Menurut KH Muhammad Ghozi Wahib, Mbah Kholil paling dituakan dan dikeramatkan di antara para ulama saat itu. Kekeramatan Mbah Kholil, yang sangat terkenal adalah pasukan lebah gaib.

    ”Dalam situasi kritis, beliau bisa mendatangkan pasukan lebah untuk menyerang musuh. Ini sering beliau perlihatkan semasa perang melawan penjajah. Termasuk saat peristiwa 10 November 1945 di Surabaya,” katanya.

    Kiai Ghozi menambahkan, dalam peristiwa 10 November, Mbah Kholil bersama kiai-kiai besar seperti Bisri Syansuri, Hasyim Asy’ari, Wahab Chasbullah dan Mbah Abas Buntet Cirebon, menge-rahkan semua kekuatan gaibnya untuk melawan tentara Sekutu.

    Hizib-hizib yang mereka miliki, dikerahkan semua untuk menghadapi lawan yang bersenjatakan lengkap dan modern. Sebutir kerikil atau jagung pun, di tangan kiai-kiai itu bisa difungsikan menjadi bom berdaya ledak besar.

    Tak ketinggalan, Mbah Kholil mengacau konsentrasi tentara Sekutu dengan mengerahkan pasukan lebah gaib piaraannya. Di saat ribuan ekor lebah menyerang, konsentrasi lawan buyar.

    Saat konsentrasi lawan buyar itulah, pejuang kita gantian menghantam lawan. ”Hasilnya terbukti, dengan peralatan sederhana, kita bisa mengusir tentara lawan yang senjatanya super modern. Tapi sayang, peran ulama yang mengerahkan kekuatan gaibnya itu, tak banyak dipublikasikan,” papar Kiai Ghozi, cucu KH Wahab Chasbullah ini.

    Kesaktian lain dari Mbah Kholil, adalah kemampuannya membelah diri. Dia bisa berada di beberapa tempat dalam waktu bersamaan.

    Pernah ada peristiwa aneh saat beliau mengajar di pesantren. Saat berceramah, Mbah Kholil melakukan sesuatu yang tak terpantau mata. ”Tiba-tiba baju dan sarung beliau basah kuyub,” cerita Ghozi.

    Para santri heran. Sedangkan beliau sendiri cuek, tak mau menceritakan apa-apa. Langsung ngloyor masuk rumah, ganti baju.

    Teka-teki itu baru terjawab setengah bulan kemudian. Ada seorang nelayan sowan Mbah Kholil. Dia mengucapkan terimakasih, karena saat perahunya pecah di tengah laut, langsung ditolong Mbah Kholil.

    ”Kedatangan nelayan itu membuka tabir. Ternyata saat memberi pengajian, Mbah Kholil dapat pesan agar segera ke pantai untuk menyelamatkan nelayan yang perahunya pecah. Dengan karomah yang dimiliki, dalam sekejap beliau bisa sampai laut dan membantu si nelayan itu,” papar Ghozi yang kini tinggal di Wedomartani Ngemplak Sleman ini.

  14. #14 Kamis, 20 Mei 2010 Pukul 13:00 WIB
    Arya Winata

    Syaikhona Kholil dan sukarno

    Lahir di Bangkalan, Madura pada 11 Jumadist Tsani 1235H. Wafat 29 Ramadhan 1343 H. Pendidikan Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Bangil (Pasuruan), Pesantren Kebincandi, Pasuruan, Pesantren Banyuwangi, dan Makkah Al Mukarramah.

    Perjuangan/Pengabdian : Pengasuh Pesantren Kademangan, Bangkalan Madura

    Kehadiran Syaikhona Kholil Bangkalan telah mengharumkan bumi Madura

    Memang, kehadirannya ke dunia cuma sebentar, hanya 105 tahun. Namun, seluruh umurnya penuh manfaat. Kehidupannya yang tak mengenal lelah itu, diabadikan untuk pengembangan pesantren. Kiranya sangat wajar kalau Syaikhona Kholil Bangkalan dikukuhkan sebagai Bapak Pesantren Indonesia.

    Pribadi Kiai Kholil sangat kharismatik. Berwibawanya nama Syaikhona Kholil, jelas disebabkan dalam dirinya terkumpul berbagai ragam keutamaan dan kesempurnaan, baik lahir maupun batin. Kesempurnaan keulamaannya sama sempurnanya dengan kewaliannya.

    Dalam hierarki kewalian alam semesta, hampir semua wali Allah melihat Syaikhona Kholil sebagai wali Abdal (wali Allah yang mencapai paripurna, istiqomah dan rohani. Jumlah mereka di dunia ini ada tujuh. Para wali Abdal memiliki keistimewaan luar biasa, red.), bahkan terdapat waliyullah yang memandang sebagai Quthbul Gauts.

    Banyak karomah yang dimiliki Kiai Kholil juga menunjukkan tingginya akan kewaliannya, dan banyaknya murid yang ternama menunjukkan tingginya derajat keilmuannya. Semua murid Syaikhona Kholil merasa bangga pernah berguru kepadanya. Berguru kepada beliau merupakan sesuatu yang prestisius.

    Hampir ulama besar ternama di Madura dan jawa adalah murid Kiai Kholil. Selain itu, muridnya rata-rata berumur panjang, banyak diatas 90 tahun. Hal tersebut berkat doa Kiai Kholil yang mendo'akan semua muridnya agar berumur panjang dan bermanfaat ilmunya.

    Sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Turmudzi, bahwa Abu Bakrah meriwayatkan, ada seorang bertanya kepada Rasulullah, ''Ya Rasulullah, siapa orang yang paling baik?" "Orang yang panjang umur dan baik amalnya,'' jawab Rasul. Laki-laki itu bertanya lagi, "Lantas siapakah yang paling buruk?" Rasul menjawab,"Orang yang panjang umurnya, tapi buruk amalnya."

    Tampaknya doa Syaikhona Kholil terkabul, Allah menjadikan semua muridnya seperti yang sabdakan Rasulullah, dan muridnya tersebar di wilayah nusantara. Diantara ratusan muridnya itu, yakni Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari, Pendiri dan Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, yang juga Pendiri Nahdlatul Ulama' (NU), KH. R As'ad Syamsul Arifin, Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo, Asembagus, Situbondo, KH Abdul Wahab Hasbullah, Pengasuh Ponpes Tambak Beras, Jombang, Pelopor diskusi cendekiawan Taswirul Afkar, dan mantan Rois A'am PBNU, KH Bisri Syansuri, Pendiri dan Pengasuh Ponpes Mambaul Ma'arif, Denanyar, Jombang, dan pendiri Syarikat Islam Cabang Makkah, serta mantan Rois A'am PBNU, KH Bisri Mustofa, Rembang, KH Muhammad Siddiq, Jember, KH. Maskur, Singosari, Malang, Panglima Sabilillah, yang juga mantan Menteri Agama, KH Ridwan Abdullah, pencipta Lambang NU, yang juga kakek mantan Bupati Malang, (alm) Ir. H. Ibnu Rubianto, dan Ir. H. Soekarno, Proklamator Kemerdekaan RI, dan Presiden RI pertama.

    Menurut penuturan KH R As'ad Syamsul Arifin, Bung Karno diakui sebagai teman Kiai As'ad. Meski Bung Karno tidak resmi sebagai murid Syaikhona Kholil, namun ketika sowan ke Bangkalan, Syaikhona Kholil sempat memegang kepala Bung Karno dan meniup ubun-ubunnya.

    Menjelang akhir hayatnya, Syaikhona Kholil sering pergi ke Jombang, tempat pengajian Kiai Hasyim Asy'ari. Bahkan, kedatangan Kiai Kholil ke Tebu Ireng hanya untuk mendengarkan pengajian Kiai Hasyim Asy'ari. Hal ini suatu isyarat bahwa estafet perjuangan segera akan diserahkan kepada Kiai Hasyim Asy'ari, muridnya.

  15. #15 Kamis, 20 Mei 2010 Pukul 13:04 WIB
    Arya Winata

    Perjuangan Para Kaum Sarungan
    Saturday, 27 March 2010 15:11 Marwan Jafar
    E-mail Print PDF

    Oleh: Marwan Jafar

    (bagian pertama dari dua tulisan)

    Sejarah tumbuh, kembang, dan jatuh bangunnya peradaban Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran kaum sarungan. Begitu pula, sejarah berdiri, tegak, dan berdaulatnya negeri ini--diakui atau tidak--tidak dapat dilepaskan dari pergerakan dan peranan kaum sarungan. Melalui tradisi intelektual dan corak keagamaan yang khas nusantara atau lewat konsistensi dan kegigihan perjuangannya dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, kaum sarungan telah memainkan peran kesejarahan yang tidak bisa dianggap remeh.

    Pengawal Islam Indonesia

    Sejarah mencatat bahwa ajaran dan kultur kaum sarungan telah berkembang sejak lama di Indonesia. Kaum sarungan sebagai representasi Islam ala Indonesia yang khas bahkan telah ada sejak awal mula sejarah berkembangnya Islam di nusantara. Pengandaian kaum sarungan sebagai representasi Islam ala nusantara ini tidaklah berlebihan.

    Hal ini bukan saja karena kelompok tersebut yang melestarikan tradisi-tradisi keislaman khas nusantara, tetapi juga karena kaum sarungan melestarikan dan mewarisi pemikiran para ulama agung asal nusantara zaman dulu.

    Kemudian, peradaban bangsa Indonesia yang kini ada merupakan proses panjang yang sarat nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan yang tak ternilai harganya, termasuk oleh kaum sarungan.

    Kaum ini merupakan istilah khas bagi santri tradisional salafiyah yang memegang teguh ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah. Mereka-lah yang meyakini dan mengembangkan Islam moderat dan toleran dalam konteks kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.

    Kaum mayoritas yang tinggal di pedesaan ini mewarisi tradisi Islam kultural dari para pendahulu mereka yang berasal dari Arab melalui Persia-Gujarat-Malabar (India Barat) dan Ceilon-Koromandel (India Timur) menuju Samudra Pasai-Perlak-Malaka.

    Kemudian, berkembang ke Kamboja-Tiongkok-Aceh-Banten-Jawa-Kalimantan-Maluku. Proses penyiaran Islam secara turun-temurun antargenerasi ini, menurut Azyumardi Azra (Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, cet II, 1999: 31), sangat berpengaruh dalam alam pikiran keagamaan masyarakat nusantara, terutama tanah Jawa yang dilakukan oleh para walisongo.

    Selain itu, kaum sarungan juga melakukan transmisi nilai sufistik dengan pendekatan tarekat dalam institusi madrasah atau pesantren yang sangat sederhana, kemudian berkembang melalui jaringan organisasi futuwwah (persatuan pemuda) dan persatuan para pedagang.

    Pada awal abad ke-20, menurut Andree Feillard dalam NU vis a vis Negara (tahun 2008: 8-9), Kiai Abdul Wahab Hasbullah dengan dukungan Kiai Hasyim Asyari berhasil mengorganisasi kaum Muslim tradisionalis untuk merintis berdirinya madrasah bernama Nahdlatul Wathon (Kebangkitan Tanah Air) di Surabaya pada tahun 1916. Pengasuh pertama institusi ini adalah KH Mas Mansyur.

    Tidak lama setelah itu berkembang cabang-cabangnya di Kota Semarang, Malang, Gresik, Pasuruan, dan lainnya.

    Untuk mengakomodasi aspirasi kaum dagang, Kiai Wahab pada tahun 1918 mendirikan organisasi koperasi yang disebut Nahdlotut Tujjar (Kebangkitan Kaum Pedagang). Pada tahun 1919, berdiri sebuah institusi madrasah bernama Tashwirul Afkar yang bertujuan untuk menggembleng kaum muda dalam belajar Islam untuk membela kepentingan kaum Islam tradisional ala ahlussunnah wal jamaah.

    Hasilnya adalah terkoordinasinya pemuda yang diberi nama Syubbanul Wathon (Pemuda Patriot) antara tahun 1922-1924 yang concern dalam bidang hukum agama, dakwah, dan ilmu pengetahuan lainnya.

    Ketika umat Islam Indonesia mengenal paham tajdid ala Wahabi dengan jargon 'Kembali kepada Alquran dan Sunnah', kaum sarungan mengusulkan mereka agar tidak mempersoalkan masalah-masalah khilafat demi terjaganya ukhuwah Islamiyah. Namun, ajakan mereka ditolak. Begitu pula ketika Kongres Khilafah di Makkah (1925), di mana kelompok Wahabi sangat dominan, kaum sarungan kembali mengusulkan kongres untuk mengeluarkan keputusan yang menghormati tradisi keagamaan di tanah air. Namun, akhirnya, usulan tersebut juga ditolak.

    Sebagai reaksi atas peristiwa tersebut, KH Wahab Hasbulloh serta KH Hasyim Asyari, KH Bisri Sansuri, KH Dahlan, dan ulama pesantren lainnya berketetapan hati membentuk komite khilafat sendiri yang menggunakan nama Komite Hijaz. Pada saat itulah, disepakati agar ulama dan kaum santri di Indonesia yang berhaluan ahlussunnah wal jamaah membentuk wadah tersendiri bernama Nahdlatul Oelama pada 31 Januari 1926 atas usul KH Alwi Abdul Aziz dari Surbaya.

    Adanya jaringan kultural ini semakin jelas bahwa kontribusi kaum sarungan sangat tak ternilai harganya, terutama dalam khazanah intelektual (keagamaan) bagi bangsa dan negara.

    Karya-karya mereka menjadi inspirasi berharga dan terus dikaji di berbagai pondok pesantren dan lembaga pendidikan Islam di tanah air hingga kini.

    Ulama, seperti Syekh Yasin Al-Fadani, rektor Darul Ulum di Makkah, dan muridnya antara lain Ali Ibn Abdullah Al-Banjari (w 1951) dan Abd Al-Muhith Al-Sidoarji (w 1965), merupakan bukti untuk itu.

    Begitu juga Syekh Abd Al-Samad Al-Falimbani; Abd Wahab Bugis; Abdurrohman Masri Al-Batawi; Syekh Mahmud Arsyad Al-Banjari; pengarang kitab fikih Sabil Al-Muhtadin, Syekh Yusuf Makassar; pengarang kitab Safinah Al-Najah, Nuruddin Al-Raniri Aceh; Syekh Muhammad Saleh Darat Semarang; pengarang kitab fikih Majmu'ah Al-Syari'ah Al-Kufiyah Lil Awam, Syekh Ahmad Khotib Sambas (Kalimantan); Syekh Nawawi Al-Bantani (Banten) yang merupakan murid Syekh Khotib Sambas; Syekh Mahfudh Al-Turmasi (Termas); pengarang kitab antara lain Al-Muqoddimah Al-Hadhramiyah, Khosyiah Mauhibah Dzawi Al-Fadhl dan Kiai Kholil Bangkalan, keduanya merupakan murid dari Syekh Nawawi dan Syekh Kiai Bisri Musthofa Rembang, pengarang kitab Tafsir Alquran, serta ulama tersosor lainnya.

    Syamsul Munir Amir (2009: 3-5) menambahkan bahwa Syekh Nawawi yang dijuluki 'Sayyid Ulama Hijaz'--guru di Makkah dan sekitarnya--meski berasal dari Banten, karya-karyanya, seperti Tafsir Al-Munir, Sullam al-Taufiq, Maraqi al-Ubudiyah, Nasho'i al-Ibad, Qami'ath Thughyan, Kasyifat as-Saja, Nihayah az-Zain, dan Uqudu al-Lijain, serta lainnya, ternyata sangat mendunia dan menjadi rujukan dalam kajian keislaman di tanah air.

    Generasi berikutnya yang juga pernah belajar dengan Syekh Nawawi antara lain adalah KH Hasyim Asyari (pendiri NU dan pahlawan nasional), KH Wasith (ulama di Cilegon), Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), dan Kiai Kholil Bangkalan (Madura).

    Dari Kiai Kholil inilah, terajut tradisi mata rantai keilmuan yang melahirkan tokoh-tokoh pesantren tradisional atau salafiyah yang tersebar di daerah-daerah di Indonesia. Sebut saja, Kiai Hasyim Asyari (Tebuireng), Kiai Wahab Hasbulloh (Jombang), Kiai Maksum (Lasem), Kiai Munawwir (Krapyak, Yogyakarta), Kiai Muhammad Shiddiq (Jember), Kiai Manaf Abdul Karim (Lirboyo, Kediri).

    Tokoh lainnya yang sangat terkenal adalah KH Raden Asnawi (Kudus), KH Abdullah Ubaid (Surabaya), KH Wahid Hasyim (Tebuireng, Jombang), dan KH Bisyri Samsuri (Pati, pengusul gambar Ka'bah untuk PPP pada Pemilu 1977).

    Tokoh karismatik lainnya adalah KH Sahal Mahfud dari Kajen, Pati, yang dikenal ahli dalam fikih sosial; KH Ali Yafi dalam fikih transformatif; KH Ali Maksum dalam ilmu Alquran; dan ribuan tokoh pesantren salafiyah lainnya.

  16. #16 Kamis, 20 Mei 2010 Pukul 13:15 WIB
    Parebok

    Suku Dayak Kalimantan bukan asli penduduk kalimantan
    Banyak teori yang di terima adalah teori yang menyatakan imigrasi bangsa China dari Provinsi Yunan di Cina Selatan. Penduduk Yunan ber-imigrasi besar-besaran (dalam kelompok kecil) di perkirakan pada tahun 3000-1500 SM. Sebagian dari mereka mengembara ke Tumasik dan semenanjung Melayu, sebelum masuk ke Kalimantan. Sebagian lainnya melewati Hainan, Taiwan dan filipina. Menurut catatan H.TH. Fisher, imigrasi dari asia terjadi pada fase pertama zaman Tretier. Saat itu, pulau Kalimantan masih menyatu dengan benua Asia. yang memungkinkan ras mongoloid (cina) dari asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan Muller-Schwaner.

    Dari pegungungan itulah berasal sungai-sungai besar yang mengaliri seluruh daratan Kalimantan. Diperkirakan, dalam rentang waktu yang lama, mereka menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami tepi-tepi sungai tersebut hingga ke pesisir pulau Kalimantan.

    Dayak merupakan sebutan bagi penduduk asli pulau Kalimantan. Kelompok Suku Dayak ini terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku kecil, yang menyebar di seluruh Pulau Kalimantan (J. U. Lontaan, 1975).

    Dari masing-masing sub suku ini mempunyai adat istiadat dan budaya yang mirip (hampir mirip). Umumnya suku Dayak menyebutkan nama kelompok mereka berdasarkan nama sungai, nama pahlawan, nama alam dan sebagainya. Misalnya suku Iban asal katanya dari kata “ivan” dalam bahasa kayan, ivan adalah pengembara. Demikian juga menurut sumber yang lainnya bahwa mereka menyebut dirinya dengan nama suku Batang Lupar, karena berasal dari sungai Batang Lupar (daerah perbatasan Kalimantan Barat dengan Serawak, Malaysia). Suku Mualang, diambil dari nama seorang tokoh yang disegani di Tampun Juah dan nama tersebut diabadikan menjadi sebuah nama anak sungai Ketungau di daerah Kabupaten Sintang (karena suatu peristiwa) kemudian dijadikan nama suku Dayak Mualang. Dayak Bukit (Kanayatn/Ahe) berasal dari Bukit/gunung Bawang. Demikian juga asal usul Dayak Kayan, Kantuk, Tamambaloh, Kenyah, Benuag, Ngaju dan lain-lain masing-masing mempunyai latar belakang sejarah sendiri-sendiri.

    Sedangkan agama yang mereka anut sangat variatif. masyarakat Dayak masih memegang teguh kepercayaan dinamismenya, mereka percaya setiap tempat-tempat tertentu ada penguasanya, yang mereka sebut: Jubata, Petara, Ala Taala, Penompa dan lain-lain, untuk sebutan Tuhan yang tertinggi, kemudian mereka masih mempunyai penguasa lain dibawah kekuasaan Tuhan tertingginya: misalnya: Puyang Gana ( Dayak mualang) adalah penguasa tanah , Simara-mara (Dayak Kanayatn/Ahe) adalah penguasa api dan lain-lain.

    Adapun segelintir masyarakat Dayak yang telah masuk agama Islam dianggap oleh suku dayak telah menjadi sama dengan suku melayu. Banyak yang lupa akan identitas sebagai suku dayak mulai dari agama barunya dan aturan keterikatan dengan adat istiadatnya hingga mereka berusaha menguatkan perbedaan, suku dayak yang masuk Islam memperlihatkan diri sebagai suku melayu. Dan sesuai perkembangannya maka masuklah para misionaris dan misi kristiani/nasrani ke pedalaman Kalimantan. Setelah penduduk pendatang di pesisir berasimilasi dengan suku Dayak yang pindah ke Agama Islam,agama islam lebih identik dengan suku melayu dan agama kristiani/nasrani atau kepercayaan dinamismenya lebih identik dengan suku Dayak.

  17. #17 Kamis, 20 Mei 2010 Pukul 13:18 WIB
    Parebok

    Hutang Bangsa Pada Pesantren

    Oleh Hamid Fahmy Zarkasyi
    Pada periode awal pembangunan negara ini telah terjadi perdebatan sengit antara Dr.Sutomo dengan S.T.Alisyahbana tentang arah pembangunan negara Republik Indonesia. Bagi yang pertama negara ini hanya dapat dibangun berdasarkan khazanah budaya bangsa ini, sedang bagi yang kedua negara ini dapat maju hanya dengan meniru sepenuhnya budaya Barat. Yang pertama membanggakan pendidikan pesantren yang kedua mengagungkan pendidikan sekuler ala Barat, dengan argumentasi masing-masing. Meskipun argumentasi Dr.Sutomo cukup kuat dan rasional, namun pemikiran S.T.Alisyahbana sejatinya mewakili arus pemikiran para pengambil kebijakan kependidikan saat itu. Yang menarik di sini bukan argumentasi mereka masing-masing, tapi implikasi bahwa usaha meletakkan pendidikan pesantren sebagai rival pendidikan sekuler Barat memang telah lama wujud.

    Memang pondok atau pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang selalu berhadapan secara vis a vis dengan pendidikan sekuler yang dibawa oleh penjajah. Bukan hanya itu, keberadaannya sejak awal telah menunjukkan anti-penjajah dan mendukung kemerdekaan negara Republik Indonesia. Tak pelak lagi ia kemudian sangat dicurigai penjajah. Anehnya setelah negara Indonesia merdeka, pesantren juga dicurigai anti pemerintah dan menjadi sarang “komando jihad”. Kini pesantren kembali dicurigai sebagai sarang teroris. Apa sebenarnya substansi pendidikan Pesantren? dan bagaimanakah ia memainkan peranannya dalam lintasan sejarah bangsa ini?
    Substansi Pesantren
    Hakikatnya pendidikan pesantren tidak lepas dari Islam, dan pendidikan pesantren bermula tidak lama setelah Islam masuk ke Indonesia. Alasannya sangat sederhana. Islam, sebagai agama dakwah, disebarkan secara efektif melalui proses transmisi ilmu dari ulama ke masyarakat (tarbiyah wa ta’lim, atau ta’dib). Proses ini di Indonesia berlangsung melalui pesantren. Hal ini dapat dibuktikan di antaranya dari metode pembelajaran di pesantren. Metode sam’ (audit, menyimak), metode syarh (penjelasan ulama) dengan secara halaqah, metode tahfiz (hafalan) dll, yang terdapat terdapat di pesantren berasal dari tradisi intelektual Islam.

    Hanya saja istilah yang digunakan untuk sistim ini tidak sepenuhnya merujuk kepada kata bahasa Arab. Sebutan untuk pelajar yang mencari ilmu bukan murid seperti dalam tradisi sufi, atau thalib atau tilmidh seperti dalam bahasa Arab, tapi santri yang berasal dari bahasa sanskrit (san= orang baik; tra= suka menolong). Lembaga tempat belajar itupun kemudian mengikuti akar kata santri dan menjadi pe-santri-an atau “pesantren”. Di Sumatera pesantren di sebut rangkang atau meunasah atau surau. Ini menunjukkan pendekatan dakwah para ulama yang permisif terhadap tradisi lokal. Di Malaysia dan Thailand lembaga ini dikenal dengan nama pondok, merujuk kepada bahasa Arab funduk yang berarti hotel atau penginapan yang maksudnya asrama. Jadi meskipun istilah “pesantren” tidak memiliki akar kata dari tradisi Islam, tapi substansi pendidikannya tetap Islam.

    Keberadaan kiai atau ulama sebagai tokoh otoritatif, peserta didik, asrama dan sarana pendidikan, pendidikan agama Islam dan masjid sebagai pusat kegiatan kependidikan adalah unsur-unsur penting pendidikan pesantren yang sejatinya adalah juga unsur pendidikan Islam. Keempat unsur yang melingkupi santri ini dapat dianggap sebagai catur-pusat pendidikan. Ini lebih lengkap dibanding tri-pusat pendidikan (sekolah, masyarakat, keluarga), yang terdapat pada sistem sekolah pada pendidikan umum.

    Karakter pendidikan pesantren adalah menyeluruh. Artinya seluruh potensi pikir dan zikir, rasa dan karsa, jiwa dan raga dikembangkan melalui berbagai media pendidikan yang terbentuk dalam suatu komunitas yang sengaja didesain secara integral untuk tujuan pendidikan. Di dalam sistem sekolah pusat-pusat pendidikannya terpisah-pisah dan hampir tidak saling berhubungan. Di dalam kelas atau di masjid para santri diajar ilmu pengetahuan kognitif, dan di luar itu ia memperoleh bimbingan serta menyaksikan suri tauladan dari kiai atau gurunya serta kawan-kawannya. Jadi kehidupan di dalam pondok sudah merupakan pelajaran penting bagi santri seperti yang diajarkan oleh Islam itu sendiri. Doktrin tentang keimanan dalam teks, dilengkapi dengan pelajaran etika, ilmu, kemasyarakatan, pendidikan, dan lain-lain diluar kelas. Pengertian kurikulum bagi pendidikan pesantren tidak terbatas pada pelajaran atau kitab-kitab yang dipakai, tapi keseluruhan kegiatan di dalam asrama atau pondok.

    Dengan demikian tujuan pendidikan pesantren seperti halnya tujuan kehidupan manusia didunia ini adalah ibadah, yang spektrumnya seluas pengertian ibadah itu sendiri. Dengan catur-pusat pendidikan pesantren berfungsi sebagai “melting pot”, yaitu tempat untuk mengolah potensi-potensi dalam diri santri agar dapat berproses menjadi manusia seutuhnya (insan kamil). Santri tidak hanya disipakan untuk mengejar kehidupan dunia tapi juga mempersiapkan kehidupan akhirat. Tidak hanya untuk menjadi manusia berguna bagi masyarakatnya, tapi untuk menjadi manusia seutuhnya yang taat kepada Tuhannya. Pengolahan potensi diri ini didukung oleh bangunan spiritual, sistem nilai dan jiwa kedisiplinan yang kuat yang dapat klasifikasikan sedikitnya menjadi lima, yaitu Keikhlasan, kesederhanaan, ukhuwwah Islamiyah, kemandirian dan kebebasan.

    Peran pesantren
    Seperti disinggung di atas wujud pesantren hampir bersamaan dengan datangnya umat Islam dinegeri ini. Karenanya peran pesantren dalam membangun negeri ini sebernarnya sama dengan peran Islam itu sendiri. Peran Islam dalam membangunkan dunia Melayu sudah terbukti secara historis. Dalam teori Prof. Naquib al-Attas tentang Islamisasi masyarakat Melayu, Islam datang dengan membawa pandangan hidup baru yang ditandai oleh munculnya semangat rasionalisme dan intelektualisme. Pandangan hidup baru ini kemudian merubah pandangan hidup bangsa Melayu-Indonesia yang sebelumnya dikuasai oleh dunia mitologi yang rapuh. (lihat al-Attas, Preliminary Statement on A general theory of the Malay-indonesian archipelago, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1969).

    Menurut Snouck Hurgronje, agama Hindu tidak mempunyai peran dalam pembinaan spiritual masyarakat awam yang kebanyakan dari kasta rendah. Di Sumatera, yang pernah dikenal sebagai pusat berkumpulnya para pemikir Hindu, misalnya, pandangan hidup Hindu hampir tidak berpengaruh terhadap masyarakat waktu itu. Oleh karena itu pada masa kekuasaan kerajaan Hindu banyak anggota masyarakat yang tertarik pada pandangan hidup Islam.

    Namun, pandangan hidup Islam tidak serta merta dipahami masyarakat dengan hanya membaca syahadat. Ia memerlukan proses transformasi konsep-konsep ke dalam pikiran masyarakat; dan pemahaman suatu konsep hanya effektif dilakukan melalui proses belajar mengajar. Pesantren dalam hal ini berperan aktif dalam transformasi konsep-konsep penting dalam Islam ke tengah-tengah masyarakat waktu itu. Peran Islam dalam merubah pandangan hidup yang statis kepada yang dinamis, rasional dan teratur inilah yang disebut dengan proses Islamisasi, kebalikan dari “akulturalisasi” (penyesuaian agama dengan kultur setempat).

    Jadi Islam masuk ke Indonesia dan disebarkan melalui pendidikan pesantren dalam bentuk pandangan hidup, dan bukan sebagai gerakan politik seperti yang diasumsikan Prof. Sartono Kartodirdjo. Terbukti raja-raja di Jawa dan luar Jawa masuk Islam tanpa proses peperangan. Sebagai pandangan hidup Islam membawa konsep baru tentang Tuhan Yang Maha Esa, tentang manusia, tentang hidup, waktu, dunia dan akherat, bermasyarakat, keadilan, harta dan lain-lain.

    Dengan pandangan hidup Islam masyarakat lalu mengembangkan semangat pembebasan dan perlawanan terhadap penjajah. Pemberontakan petani di Banten tahun 1888, atau perang masyarakat Aceh melawan Belanda tahun 1873, misalnya, tidak lepas dari peran kaum santri dan pesantren. Jadi Islam tidak dapat dipahami hanya sebagai gerakan politik, tapi sebagai suatu pandangan hidup yang memberi warna baru terhadap gerakan politik.

    Peran pandangan hidup Islam terhadap bangkitnya bangsa Melayu dapat dilihat dari fenomena tersebarnya kultur Islam dan tersebarnya penggunaan bahasa Melayu sebagai alat untuk mengekspresikan karya sastra dan berbagai diskursus pemikiran kegamaan dan filsafat. Dengan merasuknya pandangan hidup Islam kedalam kultur Melayu, maka bahasa Melayu menjadi sangat kaya dengan kosa kata dan terminologi Islam. Ini juga sekaligus merupakan jembatan menuju lahirnya bahasa Melayu sebagai lingua franca.

    Selain itu dengan gerakan hijrah ke pelosok-pelosok pedesaan, pesantren mengembangkan masyarakat Muslim yang solid, yang pada gilirannya berperan sebagai kubu pertahanan rakyat dalam melawan penjajah. Peran para kiai dalam melawan penjajah tidak perlu dipertanyakan lagi. Raffles sendiri dalam bukunya The History of Java mengakui bahaya para kiai terhadap kepentingan Belanda. Sebab, menurutnya, banyak sekali kiai yang aktif dalam berbagai pemberontakan.

    Bahkan besarnya pengaruh kiai tidak hanya terbatas pada masyarakat awam, tapi juga menjangkau istana-istana. Kiai Hasan Besari, dari pesantren Tegalsari Ponorogo, misalnya berperan besar dalam meleraikan pemberontakan di Keraton Kartasura. Bukan hanya itu, pesantren dulu juga mampu melahirkan pujangga. Raden Ngabehi Ronggowarsito adalah santri Kiai Hasan Besari yang berhasil menjadi Pujangga Jawa terkenal.

    Di zaman pergerakan pra-kemerdekaan, peran pesantren juga sangat menonjol, lagi-lagi melalui alumninya. HOS Cokroaminoto pendiri gerakan Syarikat Islam dan guru pertama Soekarno di Surabaya, adalah juga alumni pesantren. KH. Mas Mansur, KH.Hasyim Ash’ari, KH. Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, KH.Kahar Muzakkir, (untuk menyebut beberapa nama) adalah alumni pesantren yang menjadi tokoh masyarakat yang sangat berpengaruh. Di tengah masyarakat mereka adalah guru bangsa, tempat merujuk segala persoalan di masyarakat. Di tengah percaturan politik menjelang kemerdekaan Republik Indonesia peran mereka tidak diragukan lagi.

    Ketika Jepang memobilisir tentara PETA (Pembela Tanah Air) guna melawan Belanda, para kiai dan santri mendirikan tentara Hizbullah. Di balik itu dalam pikiran mereka adalah kosep jihad melawan kezaliman, konsep ukhuwwah untuk membela sesama saudara seagama dan konsep kebebasan yang menolak segala bentuk penindasan. Itu semua tidak lepas dari pengaruh pandangan hidup Islam.

    Sesudah kemerdekaan, alumni-alumni pesantren terus memainkan perannya dalam mengisi kemerdekaan. Moh. Rasyidi, alumni pondok Jamsaren adalah Menteri Agama RI pertama, Mohammad Natsir alumni pesantren Persis, menjadi Perdana Menteri, KH.Wahid Hasyim, alumni pondok Tebuireng, KH.Kahar Muzakkir dan lain-lain menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan; KH.Muslih Purwokerto dan KH. Imam Zarkasyi alumni Jamsaren menjadi anggota Dewan Perancang Nasional; KH. Idham Khalid menjadi wakil Perdana Menteri dan ketua MPRS. Singkatnya, di awal-awal kemerdekaan RI para kiai dan alumni pesantren berpatisipasi hampir di setiap lini perjuangan bangsa. Perlu dicatat bahwa jabatan-jabatan itu bukan diraih untuk tujuan politik sesaat, tapi untuk sarana membela dan memperjuangkan agama, negara dan bangsa.

    Di era Orde Baru di tengah maraknya pembangunan fisik yang disertai dengan proses marginalisasi peran politik ummat Islam, kiai dan pesantren tetap memiliki perannya dalam membangun bangsa. Dampak pembangunan fisik yang tidak berangkat konsep character building adalah dekadensi moral, korupsi, tindak kekerasan dan lain-lain. Akibatnya pendidikan, khususnya sistem sekolah di kota-kota besar tidak lagi menjanjikan kesalehan moral dan sosial anak didik. Dalam kondisi seperti inilah pesantren muncul menjadi sebagai alternatif penting. Dengan jiwa ukhuwwah Islamiyah di pesantren tidak pernah terjadi “tawuran”; dan karena jiwa kemandirian di pesantren tidak sedikit dari santri drop out justru sukses sebagai pengusaha.

    Ketika terjadi upaya convergensi ilmu pengetahuan agama dan umum di pesantren, medan distribusi alumni pesantren menjadi semakin luas. Penyeberangan santri ke perguruan tinggi umum menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Para santri ini kemudian mengembangkan kajian-kajian agama secara informal dan intensif yang melibatkan mahasiswa-mahasiswa yang tidak memilik background agama. Kini peran pesantren tidak lagi langsung dimainkan oleh alumninya, tapi oleh murid-murid alumninya. Pergerakan mahasiswa seperti HMI, PMII, IMM yang marak pada dekade 70-an dan 80-an, dan juga gerakan LDK, usrah-usrah dan intensifikasi aktifitas masjid kampus dan lain-lain tidak dapat dipisahkan dari peran dan kontribusi alumni-alumni pesantren.

    Kini di zaman reformasi telah muncul sejumlah nama tokoh yang tidak lepas dari peran pendidikan pesantren, baik langsung maupun tidak langsung. Amien Rais, ketua MPR, Abdurrahman Wahid, pendiri PKB, Hidayat Nur Wahid, Presiden PKS, Hasyim Muzadi, Ketua PB NU, Nurcholis Madjid, Rektor Paramadina, adalah beberapa nama tokoh yang tidak lepas dari dunia pesantren. Hal ini tidak saja menunjukkan kualitas pendidikan pesantren dalam mencetak pemimpin dan tokoh-tokoh bangsa tapi membuktikan besarnya kepedulian santri terhadap problematika bangsa ini.

    Jika kini beberapa gelintir alumni pesantren dituduh terlibat dalam berbagai aksi yang dianggap ‘terror’, maka sangat absurd jika kemudian peran dan potensi pesantren dalam membangun bangsa ini, baik di masa lalu maupu di masa depan, dinafikan. Semestinya kini tidak perlu lagi mempertanyakan apa peran dan fungsi pesantren dalam membangun negara ini, yang justru perlu dipertanyakan adalah apa yang telah dilakukan pemerintah dalam membangun pesantren dan apa yang belum. Hasil kalkulasi inilah hutang bangsa ini pada pesantren. Wallahu a’lam.

  18. #18 Kamis, 20 Mei 2010 Pukul 13:40 WIB
    Parebok

    Gus Dur, Keturunan Nabi ke-33

    Gus Dur, keturunan nabi? banyak orang yang tidak percaya bahwa Gus Dur yang terkenal kontroversial ini adalah keturunan nabi, namun dalam kenyataannya, silsilah gus dur menyambung ke rasullulah SAW.

    Dapat dibuktikan dari sebuah Al-kitab Talchis karangan Abdulloh Bin Umar Assathiri. Sumber ini diklaim telah diteliti dan direstui Rois Aam Jam’iyah Ahlith Thoriqoh Al Muktabaroh An Nahdliyyah KH. Habib Lutfi Ali Yahya, Pekalongan.

    Berikut petikan silsilah Gus Dur sampai ke Nabi Muhammad SAW:
    1. Muhammad Salallahu Alaihi Wailaihi Wasalam,

    2. Sayyidina Fatimatus Zahro dengan Sayyidina Ali,

    3. Sayyidina Husen Bin Ali,

    4. Sayyidina Ali Zaenal Abidin,

    5. Sayyidina Muhammad Al-Baqir,

    6. Sayyidina Ja’far Shodiq,

    7. Sayyidina Ali AL-Uroidi,

    8. Sayyidina Muhammad Annaqib,

    9. Sayyidina Sayyidina Isa Arrumi,

    10. Sayyidina Ahmad Al-Muhajir Ilallah.

    11. Sayyidina Ubaidillah,

    12. Sayyidina Alawi,

    13. Sayyidina Muhammad,

    14. Sayyidina Alawi Muhammad,

    15. Sayyidina Ali Choli’ Qosam,

    16. Sayyidina Muhammad Shohibul Mirbath,

    17. Sayyidina Alawi,

    18. Sayyidina Amir Abdul Malik,

    19. Sayyidina Abdulloh Khon,

    20. Sayyidina Ahmad Syah Jalal,

    21. Sayyidina Jamaludin Khusen,

    22. Sayyidina Ibrohim Asmuro,

    23. Sayyidina Ishak,

    24. Sayyidina Ainul Yaqin (Sunan Giri),

    25. Sayyidina Abdurrohman (Jaka Tingkir),

    26. Sayyidina Abdul Halim (P. Benawa),

    27. Sayyidina Abdurrohman (P. Samhud Bagda),

    28. Sayyidina Abdul Halim,

    29. Sayyidina Abdul Wahid,

    30. Sayyidina Abu Sarwan.

    31. Sayyidina KH. As’ari,

    32. Sayyidina KH. Hasyim As’ari

    33. Sayyidina KH. Abdul Wahid Hasyim

    34 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

  19. #19 Kamis, 20 Mei 2010 Pukul 13:47 WIB
    Parebok

    Guru Syarwani Abdan Bangil , Mursyidnya Guru Ijiai

    Diantara semua guru -guru yang mendidik (alm) Guru Ijai , tentunya yang menjadi " waliyyan mursyidaa " bagi beliau adalah ulama tawadhu berikut ini, ulama yang lebih dikenal sebagai Guru Bangil .

    ‘Alimul ‘Allamah Al-’Arif Billah H Muhammad Syarwani Abdan atau Guru Bangil --pendiri Pondok Pesantren Datu Kalampaian Bangil Jawa Timur, adalah salah seorang ulama besar zuriat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Menurut silsilah yang ditulis KHM Irsyad Zein (Abu Daudi) dalam buku karangannya berjudul "Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari", Guru Bangil bernama H Muhammad Syarwani Abdan bin HM Abdan bin HM Yusuf bin HM Shalih Siam bin H Ahmad bin HM Thahir bin H Syamsuddin bin Sa’idah binti Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, lahir pada 1334 Hijriyah (1915 Masehi). dilahirkan di Desa Kampung Melayu Ilir Martapura Kalimantan Selatan

    Sejak kecil Muhammad Syarwani Abdan sudah mempunyai himmah (kemauan ) yang kuat untuk belajar menuntut ilmu agama. Pada masa usia sekolah, beliau sempat menempuh pendidikan di Madrasah Darussalam Martapura yang saat itu dipimpin oleh paman beliau sendiri yaitu Al Alimul Allamah KH. Muhammad Kasyful Anwar bin H. Ismail. Disamping itu, almarhum juga belajar dengan para guru dan ulama terkenal lainnya di Kota Martapura diantaranya‘Alimul Fadhil Qadhi HM Thaha, ‘Alimul Fadhil H Isma’il Khatib Dalam Pagar.

    Setelah menamatkan pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam , beliau Pada usia 16 tahun meneruskan pendidikan ke Tanah Suci Mekkah untuk menuntut ilmu bersama saudara sepupu beliau Al Alimul Allamah KH. Anang Sya’rani Arif dibawah bimbingan paman beliau sendiri yaitu Al Alimul Allamah KH. Muhammad Kasyful Anwar.

    Selama menimba berbagai ilmu agama di Mekkah beliau berguru kepada beberapa ulama terkenal diantaranya, Syeikh Sayyid Muhammad Amin Kutbi, Syeikh Sayyid Alwi /Ali Almaliki, Syeikh Umar Hamdan, , Syekh Muhammad Alwi , Syeikh Muhammad Arabi, Syeikh Hasan Massyath, Syeikh Abdullah Bukhori, Syeikh Saifullah Addagistani, Syeikh Syafi’i Kedah, dan Syeikh Sulaiman Ambon serta Syeikh Ahyad Bogori.

    Dengan berkat taufik dan hidayah Allah SWT, hanya dalam beberapa tahun Almukarram KH. Muhammad Syarwani Abdan dan Al Alimul Allamah KH. Anang Sya’rani Arif mulai dikenal diantara teman-teman dan para guru karena kepintaran keduanya, sehingga mereka dikenal dengan dua mutiara dari Banjar bahkan Almukarram KH. Muhammad Syarwani Abdan mendapat kepercayaan untuk mengajar di Masjidil Haram Mekkah beberapa tahun.

    Setelah 10 tahun menuntut ilmu di Tanah Suci , Almukarram KH. Muhammad Syarwani Abdan dan Al Alimul Allamah KH. Anang Sya’rani Arif pulang ke Martapura , Indonesia. Saat berada di tanah air beliau menggelar pengajian majlis ta’lim , muthala’ah dan ibadah. di rumah serta mengajar di Pesantren Darussalam Martapura.

    Pada tahun 1940 an , Guru Bangil bersama keluarga meninggalkan Kampung melayu Ilir Martapura dan hijrah ke Bangil Pasuruan untuk menyusul orang tua beliau yang sudah lebih dahulu menetap disana dan menuntut ilmu serta sempat belajar kepada beberapa ulama terkenal di Bangil dan Pasuruan diantaranya, KH. Muhdar Gondang Bangil, KH. Abu Hasan Wetan Angun Bangil, KH. Bajuri bangil dan KH. Ahmad Jufri Pasuruan. Kemudian mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Hj. Bintang putri tunggal H. Abdul Aziz.

    Di Bangil , Almukarram KH. Muhammad Syarwani Abdan juga menggelar pengajian untuk kalangan umum dan khusus dan juga untuk para kalangan alim ulama di Kota Bangil . Tapi sebelum itu , karena menghormati ulama setempat, ia tak membuka satu pengajian pun.

    Hingga suatu ketika, beberapa guru dan kiayi di Jawa Timur hendak menuntut ilmu kepada waliyyullah Mbah Kyai Haji Abdul Hamid bin Abdullah Basyaiban di Pasuruan , tapi justru disuruh pulang dan diminta untuk belajar kepada KH. Syarwani Abdan. Mulai saat itu, barulah HM Syarwani Abdan mau membuka pengajian. (inilah isyarat perintah , dimana Mbah Kyai Hamid , saat itu merupakan wali Quthb nya Kota Pasuruan -Red)

    Sekitar 1970-an, ‘Allimul’Allamah Al-Arif Billah H Muhammad Syarwani Abdan membuka Pondok Pesantren Datuk Kalampaian, yang santrinya kebanyakan berasal dari Martapura dan Ponpes ini kini diteruskan oleh anak sulung beliau , KH Kasyful Anwar terletak di Jalan Mujair Kelurahan Kauman , Bangil , Kabupaten Pasuruan, Jatim.

    Sedangkan diantara karya tulis beliau adalah Kitab Addakhiratussaminah Li Ahlil Istiqamah (simpanan berharga bagi orang yang istiqomah) yang telah diterbitkan pada tahun 1967 dan sempat dicetak sebanyak 3 kali.

    Menurut salah seorang murid beliau , KH. Syarwani Juhri ( Kal-Tim) , Guru Bangil adalah sosok ulama yang sangat mencintai Allah dan Nabi Muhammad SAW. "Beliau mencintai Allah dan Rasul-nya sejak masih remaja. Tidak ada lain tujuan beliau dalam beramal ibadah adalah mendapat ridha Allah dan dekat dengan Rasul-nya di akhirat kelak. Mirip dengan satu sahabat Nabi Muhammad bernama Rabiah bin Malik RA," ujarnya.

    Al Mukarram KH. Muhammad Syarwani Abdan wafat pada hari Senin tanggal 11/18 September 1989 pukul 19.00 WIB malam Selasa 12 Shafar 1410 H, dalam usia sekitar 76 tahun dan dimakamkan di Bangil Jawa Timur.

  20. #20 Kamis, 20 Mei 2010 Pukul 14:16 WIB
    Parebok

    Cerita tentang Karomah Gus Dur (sebagai bukti-bukti tanda-tanda kewalian)

    Artikel ini saya tulis sendiri , bagi Anda sebagai pembaca yang tidak menyukai tulisan/ketikan saya ini dilarang keras untuk mengumpat karena itu bukan akhlaq Rasulullah !!!.

    Menurut keterangan Kyai Agil siraj (Ketua PBNU) - SCTV dalam acara Mengenang 7 Hari Gus Dur tanggal 6 Januari 2010 jam 10.58

    1. Kisah Makam Surya Memesa dan Ziarah Syekh Ali Uraidi bin Imam Ja’far Shadiq

    Di sela-sela acara tahlilan hari ke-7 wafatnya Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, Selasa (5/1), Said Agil pernah diajak ziarah ke pedalaman Tasikmalaya, Panjulan. Gus Dur membawanya ke sebuah kuburan yang sepi. Untuk mencapai lokasi saja, harus menyebrang sebuah situ (danau).

    Saat tiba, Gus Dur menuju sebuah makam. Saat ditanya Said Agil, siapa jenazah yang telah dikebumikan di tanah ini? Gus Dur tidak langsung menjawab. “Dia orang sakti. Dia mencari musuh agar dia bisa dikalahkan,” ujar Said Agil meniru ucapan Gus Dur.

    Orang sakti yang dimaksud Gus Dur, sambung Said Agil, ternyata bernama Surya Mesesa, seorang penyebar agama Islam di pulau Jawa. Gus Dur memberitahukan kepada Said Agil, mengapa Surya Mesesa bisa masuk Islam.

    “Untuk mendapatkan musuh, Surya Memesa sampai ke Madinah, dan bertemu Syeikh Ali. Sama Syeikh Ali, Surya Mesesa disuruh mengangkat sebuah tongkat, dan tidak bisa. Karena itu, dia masuk Islam,” ujarnya.

    Ceritanya, Gus Dur bersama Said Aqil ingin membacakan surat Al-Fatihah untuk Syekh Ali sebanyak seribu kali. Namun ketika mereka baru membacakan al-Fatihah sebanyak 30 kali tiba-tiba seorang polisi datang mengusir mereka dan mengatakan, “Musyrik, haram!”

    Untung saja mereka bukan penduduk setempat, sehingga tidak dihukum berat, karena bagi mereka ziarah kubur adalah larangan berat. Namun Gus Dur sempat marah kepada polisi itu, “Kamu musuh Allah, Wahabi,” kata Gus Dur seperti dikutip Said Aqil saat memberikan testimoninya usai memimpin tahlilal 7 hari di Ciganjur, Selasa (5/1) malam.

    Said Aqil bercerita, Gus Dur berziarah ke makam Syekh Ali al-Uraidhi karena Syekh ini konon sempat mengalahkan seorang yang hebat bernama Surya Mesesa. Ia merasa tak terkalahkan. Bahkan untuk mendapatkan musuh, Surya Memesa sampai ke Madinah, dan bertemu Syekh Ali al-Uraidhi.

    “Sama Syeikh Ali, Surya Mesesa disuruh mengangkat sebuah tongkat, dan tidak bisa. Karena itu, dia masuk Islam,” ujar Said Aqil. Cerita ini diperolehnya dari Gus Dur saat ia diajak berziarah ke pedalaman Tasikmalaya, Panjulan.

    Said Aqil bertanya, “Makam siapa Gus?” Gus Dur menjawab, “Dia orang sakti. Dia mencari musuh agar dia bisa dikalahkan.” Karena itulah Gus Dur berziarah ke makam tersebut dan kemudian ke makam Syekh Ali al-Uraidhi.

    Menurut Kang Said, panggilan akrab KH Said Aqil Siradj, Gus Dur memang gemar berziarah ke makam para ulama dan sesepuh. Selain mendoakan mereka, dengan cara itu Gus Dur merangkai sejarah peristiwa yang terjadi beberapa ratus tahun yang lalu, yang bahkan tidak tertulis dalam buku-buku sejarah.

    Namun ada yang yang menarik ketika Gus Dur berziarah kesuatu makam, kata Kang Said. ”Kalau ada makam yang diziarahi Gus Dur, pasti kemudian makam itu ramai diziarahi orang. Gus Dur memang tidak hanya memberkahi orang yang hidup, tapi juga orang yang sudah mati,” katanya disambut tawa hadirin. (nam) (sumber 1 , sumber 2)

    2. Bertemu dan didoakan wali di madinah

    setelah berziarah (point 1) , beliau berdoa di raudah, malamnya gus dur ngajak kyai agil jalan2 ke masjid untuk mencari seorang wali

    setelah muter2 dimasjid, kyai agil ketemu sm orang pake surban tinggi, lagi ngajar santrinya banyak, bilang sm gus dur

    ‘apa ini wali gus ?’
    gus dur bilang, ‘bukan’

    akhirnya cari lagi,ketemu sm orang yg pake surban dengan jidat hitam , gus dur bilang ‘bukan ini’

    kemudian gus dur menghentikan langkah di dekat orang yg pake surban kecil biasa, duduk diatas sajadah, baru gus dur bilang, ‘ini adalah wali’

    kemudian kyai agil memperkenalkan pada wali tersebut, dalam bahasa arab, dan terjemahannya seperti ini

    ‘Syekh, ini sy perkenalkan namanya ustad Abdurrahman Wahid, ketua organisasi islam terbesar di asia’,

    tujuan dari mencari wali ini ialah ingin didoakan oleh seorang wali. akhirnya wali ini berdoa untuk gus dur semoga di ridloi, di ampuni , hidupnya sukses. setelah itu wali tersebut pergi sambil menyeret sajadahnya dan mengatakan ‘dosa apa saya? sampai2 maqom/kedudukan saya diketahui oleh orang’…

    dalam sebuah atsar (perkataan ulama2) menyatakan bahwa ‘yang mengetahui kedudukan seorang wali adalah sesama wali itu sendiri’

    3. Weruh sak durunge wineruh.

    Artikel ini sy ambil dari http://tengkuzulkarnain.net/index.php/artikel/index/72/Selamat-Jalan-Gusdur

    Kiayi Haji Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI yang ke-4 sudah lama saya kenal melalui siaran televisi, koran-koran dan buku-buku yang memuat pemikiran beliau. Namun yang paling berkesan bagi saya adalah saat kami berdua pernah duduk bersama seharian penuh dari pukul 07.00 pagi hari sampai 19.00 malam hari. Kebersamaan kami berlangsung di Riau, tepatnya di kediaman Gubernur Riau, H. M. Rusli Zainal. Ketika itu Gubernur Riau sendiri yang meminta saya untuk menemani Gusdur sebagai ‘pengganti’ tuan rumah, karena Gubernur Riau tidak dapat terus menerus menemani Gusdur.

    Jadilah pertemuan kami itu berlangsung aman, tanpa ada gangguan sedikitpun. Saya masih ingat rombongan Gusdur saat itu lumayan ramai juga, di antaranya adalah Muhaimin Iskandar (sekarang menjadi Menteri Tenaga Kerja RI), dan saudara Lukman Edi (seorang anggota DPR RI). Sepanjang hari itu, kami duduk bersebelahan dan berbicara panjang lebar mulai dari masalah agama, masalah negara, masalah pemimpin-pemimpin Indonesia.

    Ketika membicarakan masalah agama kami terlibat dalam pembicaraan sangat serius. Saat itu kami berkesempatan untuk membuktikan secara langsung kata-kata orang yang banyak saya dengar, yang menyatakan bahwa Gusdur menguasai banyak kitab-kitab klasik. Maka kami membuka dialog dengan mencuplik kitab-kitab klasik yang pernah kami baca mulai dari karangan Imam As Syafi’i, Imam Harmaini, Imam Al Ghazali, Imam Ibnu Katsir, dan lain-lain. Apa yang terjadi…? Gusdur ternyata bukan hanya mahir mengimbangi pembicaraan mengenai berbagai permasalahan yang kami kemukakan, namun dengan mahir beliau malah membacakan matan-matan semua persoalan tersebut dalam bahasa Arab yang asli, tepat seperti isi kitab yang asli. Tidak dapat kami pungkiri bahwa saat itu hati kami bergetar, kagum, heran, juga bahagia. Yakinlah kami bahwa Allah benar-benar Maha Kuasa dan telah menciptakan hamba-hambaNya dengan berbagai kelebihan. Subhanallah…

    Ketika membahas kepemimpinan nasional, Gusdur dengan disertai humor-humor kocak sana sini menjelaskan dan berdiskusi dengan kami tentang banyak hal. Satu yang sangat kami catat kuat dalam ingatan kami bahwa tidak pernah sekalipun terucap kata-kata jelek yang bersifat mempersalahkan seorangpun dari pemimpin nasional kita. Ketika membahas Pak Harto, nada ucapan beliau berubah menjadi sangat lembut dan serius. Saat itu Gusdur berkata dan kami masih ingat benar, beliau berucap begini: “Pak Harto sebagai seorang pemimpin nasional telah memberikan contoh sebuah pekerjaan yang terencana dan terukur. Program beliau direncanakan rapi dan diukur setelah waktu pelaksanaan berakhir.” Kemudian beliau berdiam berapa saat. Kemudian beliau tertawa kecil seraya berkata sambil tertawa: “laahha kalo saya, kerja kapan inget, terus saya buat saja..”

    Kesan saya saat itu muncul, sebagai orang Jawa asli, Gusdur terbiasa dengan sikap dan adab orang Jawa, mikul nduwur yaitu menghormati orang yang lebih tua. Beliau jujur dan humoris. Jujur dalam arti tidak menyembunyikan kelemahan dirinya.

    Pertemuan kami berjalan manis. Kami hanya berpisah beberapa menit saat waktu sholat Dzuhur dan Ashar tiba, untuk kemudian duduk kembali di meja yang sama. Ada beberapa keistimewaan Gusdur yang saya yakin muncul dari indera keenam beliau. Ketika beliau bertanya kepada kami: “Sampeyan itu kan orang Medan, kok kata Gubernur tadi, sampeyan orang Riau?” Kemudian kami menjelaskan bahwa ibu kami adalah orang Riau dari Rokan Hilir, Bagan Siapi-api. Namun kemudian beliau berkata: “Rumah sampeyan di Klender, sampeyan buat pengajian malam senin di Klender, terus sampeyan begini…sampeyan begitu..” yang kesemuanya tepat dan benar. Paling aneh adalah saat kami katakan bahwa kami akan pulang pukul 17.00 dengan pesawat Mandala, saat itu beliau berkata kepada saya dengan tegas: “Ndak, sampeyan pulang dengan saya naek Garuda jam 7 (malam).” Menanggapi ucapan itu kami diam saja sebab di tangan kami sudah ada tiket Mandala pukul 5 sore rute Pekanbaru-Jakarta.

    Ternyata pesawat Mandala delay sampai pukul 21.00, maka jadilah kami bertukar pesawat naik Garuda Indonesia bersama dengan Gusdur. Ada satu nasehat beliau kepada kami yang akan tetap kami ingat. “Negeri Riau adalah negerinya orang-orang Naqsyabandi. Dan dari sini telah muncul seorang wali besar Syaikh Abdul Wahab Rokan. Sampeyan musti jaga negeri ini, jangan dibiarkan begitu saja apalagi ibunya sampeyan orang asli negeri ini.” Saat itu beliau pegang tangan saya dan saya pun menjawab dengan rasa haru: “Iya Gus, saya pasti akan menjaga negeri saya ini.”

    Sekarang Gusdur telah berpulang bertemu dengan Sang Pencipta Yang Maha Tinggi. Setelah sebelumnya memandang dengan bashirah beliau kedatangan sang kakek tercinta, Ulama Besar pendiri NU untuk mendampingi beliau di alam barzakh. Kami berdoa semoga beliau nyaman berdekatan dengan Kakek dan Bapak beliau di tanah Jombang, Pesantren keluarga besar Syaikh Asy’ari.

    Selamat jalan Gusdur…Nasehat panjenengan senantiasa akan kami ingat sebagai kenangan manis antara orangtua kepada anaknya. Assalamu’alaika…

  21. #21 Kamis, 20 Mei 2010 Pukul 22:19 WIB
    Parebok

    37 pangkat/ Maqom Awlia

    Berikut di bawah ini Pangkat/ Maqom nya para Aulia Alloh yang diambil dari kitab Jami'u Karomatil Aulia:

    1.Qutub Atau Ghauts ( 1 abad 1 Orang )
    2. Aimmah ( 1 Abad 2 orang )
    3. Autad ( 1 Abad 4 Orang di 4 penjuru Mata Angin )
    4. Abdal ( 1 Abad 7 Orang tidak akan bertambah & berkurang Apabila ada wali Abdal yg Wafat Alloh menggantikannya dengan mengangkat Wali abdal Yg Lain ( Abdal=Pengganti ) Wali Abdal juga ada yang Waliyahnya ( Wanita )
    5. Nuqoba’ ( Naqib ) ( 1 Abad 12 orang Di Wakilkan Alloh Masing2 pada tiap2 Bulan)
    6. Nujaba’ ( 1 Abad 8 Orang )

    7. Hawariyyun ( 1 Abad 1 Orang ) Wali Hawariyyun di beri kelebihan Oleh Alloh dalam hal keberanian, Pedang ( Zihad) di dalam menegakkan Agama Islam Di muka bumi.

    8. Rojabiyyun ( 1 Abad 40 Orang Yg tidak akan bertambah & Berkurang Apabila ada salah satu Wali Rojabiyyun yg meninggal Alloh kembali mengangkat Wali rojabiyyun yg lainnya, Dan Alloh mengangkatnya menjadi wali Khusus di bulan Rajab dari Awal bulan sampai Akhir Bulan oleh karena itu Namanya Rojabiyyun.

    9. Khotam ( penutup Wali )( 1 Alam dunia hanya 1 orang ) Yaitu Nabi Isa A.S ketika diturunkan kembali ke dunia Alloh Angkat menjadi Wali Khotam ( Penutup ).

    10. Qolbu Adam A.S ( 1 Abad 300 orang )
    11. Qolbu Nuh A.S ( 1 Abad 40 Orang )
    12. Qolbu Ibrohim A.S ( 1 Abad 7 Orang )
    13. Qolbu Jibril A.S ( 1 Abad 5 Orang )

    14. Qolbu Mikail A.S ( 1 Abad 3 Orang tidak kurang dan tidak lebih Alloh selau mengangkat wali lainnya Apabila ada salah satu Dari Wali qolbu Mikail Yg Wafat )

    15.Qolbu Isrofil A.S ( 1 Abad 1 Orang )
    16. Rizalul ‘Alamul Anfas ( 1 Abad 313 Orang )

    17. Rizalul Ghoib ( 1 Abad 10 orang tidak bertambah dan berkurang tiap2 Wali Rizalul Ghoib ada yg Wafat seketika juga Alloh mengangkat Wali Rizalul Ghoib Yg lain, Wali Rizalul Ghoib merupakan Wali yang di sembunyikan oleh Alloh dari penglihatannya Makhluq2 Bumi dan Langit tiap2 wali Rizalul Ghoib tidak dapat mengetahui Wali Rizalul Ghoib yang lainnya, Dan ada juga Wali dengan pangkat Rijalul Ghoib dari golongan Jin Mu’min, Semua Wali Rizalul Ghoib tidak mengambil sesuatupun dari Rizqi Alam nyata ini tetapi mereka mengambil atau menggunakan Rizqi dari Alam Ghaib.

    18. Adz-Dzohirun ( 1 Abad 18 orang )
    19. Rizalul Quwwatul Ilahiyyah (1 Abad 8 Orang )
    20. Khomsatur Rizal ( 1 Abad 5 orang )
    21. Rizalul Hanan ( 1 Abad 15 Orang )
    22. Rizalul Haybati Wal Jalal ( 1 Abad 4 Orang )

    23. Rizalul Fath ( 1 Abad 24 Orang ) Alloh mewakilkannya di tiap Sa'ah ( Jam ) Wali Rizalul Fath tersebar di seluruh Dunia 2 Orang di Yaman, 6 orang di Negara Barat, 4 orang di negara timur, dan sisanya di semua Jihat ( Arah Mata Angin )

    23. Rizalul Ma'arijil 'Ula ( 1 Abad 7 Orang )
    24. Rizalut Tahtil Asfal ( 1 Abad 21 orang )

    25. Rizalul Imdad ( 1 Abad 3 Orang )
    26. Ilahiyyun Ruhamaniyyun ( 1 Abad 3 Orang ) Pangkat ini menyerupai Pangkatnya Wali Abdal
    27. Rozulun Wahidun ( 1 Abad 1 Orang )
    28. Rozulun Wahidun Markabun Mumtaz ( 1 Abad 1 Orang )

    Wali dengan Maqom Rozulun Wahidun Markab ini di lahirkan antara Manusia dan Golongan Ruhanny( Bukan Murni Manusia ), Beliau tidak mengetahui Siapa Ayahnya dari golongan Manusia , Wali dengan Pangkat ini Tubuhnya terdiri dari 2 jenis yg berbeda, Pangkat Wali ini ada juga yang menyebut " Rozulun Barzakh " Ibunya Dari Wali Pangkat ini dari Golongan Ruhanny Air INNALLOHA 'ALA KULLI SAY IN QODIRUN " Sesungguhnya Alloh S.W.T atas segala sesuatu Kuasa.

    29. Syakhsun Ghorib ( di dunia hanya ada 1 orang )
    30. Saqit Arofrof Ibni Saqitil 'Arsy ( 1 Abad 1 Orang )

    31. Rizalul Ghina ( 1 Abad 2 Orang ) sesuai Nama Maqomnya ( Pangkatnya ) Rizalul Ghina " Wali ini Sangat kaya baik kaya Ilmu Agama, Kaya Ma'rifatnya kepada Alloh maupun Kaya Harta yg di jalankan di jalan Alloh, Pangkat Wali ini juga ada Waliahnya ( Wanita ).

    31. Syakhsun Wahidun ( 1 Abad 1 Orang )
    32. Rizalun Ainit Tahkimi waz Zawaid ( 1 Abad 10 Orang )

    33. Budala' ( 1 Abad 12 orang ) Budala' Jama' nya ( Jama' Sigoh Muntahal Jumu') dari Abdal tapi bukan Pangkat Wali Abdal

    34. Rizalul Istiyaq ( 1 Abad 5 Orang )

    35. Sittata Anfas ( 1 Abad 6 Orang ) salah satu wali dari pangkat ini adalah Putranya Raja Harun Ar-Royid yaitu Syeikh Al-'Alim Al-'Allamah Ahmad As-Sibty

    36. Rizalul Ma' ( 1 Abad 124 Orang ) Wali dengan Pangkat Ini beribadahnya di dalam Air di riwayatkan oleh Syeikh Abi Su'ud Ibni Syabil " Pada suatu ketika aku berada di pinggir sungai tikrit di Bagdad dan aku termenung dan terbersit dalam hatiku "Apakah ada hamba2 Alloh yang beribadah di sungai2 atau di Lautan" Belum sampai perkataan hatiku tiba2 dari dalam sungai muncullah seseorang yang berkata "akulah salah satu hamba Alloh yang di tugaskan untuk beribadah di dalam Air", Maka akupun mengucapkan salam padanya lalu Dia pun membalas salam aku tiba2 orang tersebut hilang dari pandanganku.

    37. Dakhilul Hizab ( 1 Abad 4 Orang )

    Wali dengan Pangkat Dakhilul Hizab sesuai nama Pangkatnya , Wali ini tidak dapat di ketahui Kewaliannya oleh para wali yg lain sekalipun sekelas Qutbil Aqtob Seperti Syeikh Abdul Qodir Jailani, Karena Wali ini ada di dalam Hizab nya Alloh, Namanya tidak tertera di Lauhil Mahfudz sebagai barisan para Aulia, Namun Nur Ilahiyyahnya dapat terlihat oleh para Aulia Seperti di riwayatkan dalam kitab Nitajul Arwah bahwa suatu ketika Syeikh Abdul Qodir Jailani Melaksanakan Towaf di Baitulloh Mekkah Mukarromah tiba2 Syeikh melihat seorang wanita dengan Nur Ilahiyyahnya yang begitu terang benderang sehingga Syeikh Abdul qodir Al-Jailani Mukasyafah ke Lauhil Mahfudz dilihat di lauhil mahfudz nama Wanita ini tidak ada di barisan para Wali2 Alloh, Lalu Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani bermunajat kepada Alloh untuk mengetahui siapa Wanita ini dan apa yang menjadi Amalnya sehingga Nur Ilahiyyahnya terpancar begitu dahsyat , Kemudian Alloh memerintahkan Malaikat Jibril A.S untuk memberitahukan kepada Syeikh bahwa wanita tersebut adalah seorang Waliyyah dengan Maqom/ Pangkat Dakhilul Hizab " Berada di Dalam Hizabnya Alloh ", Kisah ini mengisyaratkan kepada kita semua agar senantiasa Ber Husnudzon ( Berbaik Sangka ) kepada semua Makhluq nya Alloh, Sebetulnya Masih ada lagi Maqom2 Para Aulia yang tidak diketahui oleh kita, Karena Alloh S.W.T menurunkan para Aulia di bumi ini dalam 1 Abad 124000 Orang, yang mempunyai tugasnya Masing2 sesuai Pangkatnya atau Maqomnya

  22. #22 Jumat, 21 Mei 2010 Pukul 1:40 WIB
    hamlennon

    Dalam memandang konflik etnis antara Dayak dan Madura di Sampit, seharusnya kita bisa lebih bijaksana. Penggunaan atribut keagamaan dalam menganalisis konflik ini juga masih saya pertanyakan! Apakah anda pernah melakukan riset pada kasus ini saudara Bopo Suripto alias Joko Tole alias Arya Winata. Anda sudah berkoar-koar agar kasus ini dibawa ke Jenewa, padahal apakah anda sudah memiliki data lengkap terhadap kasus pembunuhan yang ada disana? siapa biang keroknya? dan berapa korban jiwanya? Apakah kasus ini murni konflik etnis? Ataukah mungkin Kasus ini hanya sebuah konflik artifisial yang dibuat oleh para penguasa (sipil atau militer). Kalau kawan Bopo Suripto alias Joko Tole alias Arya Winata mau melihat konteksnya pada saat itu, bisa jadi ada ketersambungan antara konflik ini dengan konflik Poso karena jeda waktu yang tidak terlalu lama. Kalau anda tertarik bisa kita diskusikan lebih lanjut. Di komen ini saya sertakan alamat blog saya.

    Saya Muslim dan saya pernah menjadi saksi bahwa konflik kemarin jauh dari sentimen agama. Saat konflik sedang dalam puncaknya, seorang suku dayak mengetok pintu rumah kami. Awalnya kami ketakutan, tapi setelah dia menjelaskan maksudnya untuk memberikan sebuah kitab Al-Quran kepada kami maka kamipun menerimanya dengan hangat. Dia berujar bahwa kitab ini dia dapatkan dari sebuah rumah yang "dengan terpaksa" mereka bakar. Tapi mereka sempat menyelamatkan beberapa barang "berharga" ini dari rumah-rumah tersebut. Jujur saya terharu, dan sampai sekarang saya masih mengingat jelas momentum tersebut. Saya tanya kepada anda saudara Bopo Suripto alias Joko Tole alias Arya Winata, apakah anda pernah mendengar cerita seperti ini? Oh iya, untuk masalah pembakaran properti orang lain (vandalisme) saya juga tidak sepakat, apalagi pembunuhan.

    Dalam memandang agamapun saya menyesalkan sikap anda. Bisakah anda beragama dalam bingkai Indonesia, bhineka tunggal ika? Sepertinya anda seorang konservatif kawan Bopo Suripto alias Joko Tole alias Arya Winata, semoga saya salah. Dan perihal komen booming anda di artikel ini, sebenarnya pesan apa yang ingin anda sampaikan. Kisah Joko Tole kah?, Sejarah Ulama kah? atau garis keturunan para ulama? Lalu mau buat apa semua artikel ini? Legitimasi sejarahkah? Ga ada yang nyambung dengan kasus konflik. Malah tanggapan awal saya pada kasus ini bukan tentang konflik kemaren, lebih tepatnya tentang pengertian "putra daerah".

    Mungkin terasa gampang berucap dalam komen ini. Tapi siapakah anda? Orang jawa yang dibesarkan di Jawa? anda bisa jadi tidak pernah merasakan kearifan lokal di daerah kami, Kalimantan Tengah. Saya juga keturunan Jawa, tapi saya lebih empiris dalam memandang masyarakat Kal-teng karena saya dibesarkan disana. Pada saat kawan-kawan Papua berdiskusi tentang masalah kemerdekaannya dari Indonesia, sayapun tidak berani terlalu banyak berkomentar. Karena saya siapa? mereka yang lebih mengerti daerahnya, merasakan timpangnya pembangunan disana.

    Demikian tanggapan saya atas komen anda saudara Bopo Suripto alias Joko Tole alias Arya Winata. Semoga kita dapat berdiskusi dan bertindak dengan cara yang lebih populis, kritis dan maju. Wasalam!

  23. #23 Jumat, 21 Mei 2010 Pukul 19:51 WIB
    bopo suripto

    mengapa tidak ,kita cukup punya bukti yang harus di ungkapkan dimana bukti2 itu tersimpan dengan rapi.dan tentunya untuk mengungkapkan kebenaran itu tidak akan mungkin terjadi di indonesia karena karena dalang-dalang pembantaian akan selalu menghalanginya.
    indikasi nyata orang2 dayak sepakat mengatakan bahwa pembantain itu legal dan benar.
    Sebagai mahkluk yang beragama dalam ruang lingkup bhinnika tunggal ika sudah jelas bahwa kita harus saling menghormati menghormati bukan mengikuti.silahkan kalau mau beribadah beribadahah karena itu adalah hak dan kewajiban orang,akan tetapi merasa jengkel dan marah kalau kita tidak mengikuti ritual mereka itulah yang tidak boleh.
    Saya setuju dengan pelestarian adat akan tetapi adat dan agama itu sangat berbeda.namun pada kenyataanya Adat dayak yang harus di ikuti dan di hormati adalah suatu agama dan kepercayaan mereka.buktinya adalah jika orang dayak yang sudah masuk islam tidak di anggap sebagi orang dayak tetapi orang melayu padahal merekakan suku dayak.
    Pelestarian adat disini hanyalah sebagai kedok mereka belaka di satu sisi mereka memperjuangkan adat tetapi disisi lain mereka tidak mau mengakuinya.
    Perlu di ketahui penyerahan alqur'an sperti yang anda sampaikan adalah indikasi mereka tidak memusuhi islam,perlu di telaah kembali
    Orangislam adalah orang yang melaksanakan ajaran2 yang ada dalam alqur'an dan al hadist sperti sholat,mengaji dll.tetapi pada kenyataanya mereka membunuh orang yang melaksanakan ajaran2 tersebut sperti orang 2 yang sholat,mengaji dll,,,,,
    Keliru besar kalau anda mengira mereka tidak membunuh orang islam sperti pemahaman anda.Yaitu pada waktu sholat mereka tidak di bunuh karena islam setelah sholat mereka di bunuh karena bukan islam,dan juga mesjid tidak di bakar tetapi orang yang melestarikan mesjid dibunuh.
    perlu di pertanyakan kembali keislaman anda,apakah islam itu alqur'an,mesjid,atau orang yang melaksanakan ajaran di dalamnya.
    Oh ya tentang tentang joko tole...tolong baca sejarah siapa raja kotawaringin ini dan dari mana berasal,kalau kita mau membaca maka kita akan sadar bahwa raja kotawaringin adalah masih keturunan joko tole sehingga orang2 yg bertikai dan megatas namakan suku bisa sadar dan tidak memaksakan adat suku tertentu....
    Dan jangan lupa bahwa hutang kepada para wali2 allah sangat besar walaupun indonesia indonesia 90% beragama islam mereka tetap tidak mau memdirikan negara islam ini tidak lain adalah kecintaan mereka kepada BHINIKA TUNGGAL IKA dan penghormatan kepada agama2 minoritas lainnya,,,dan juga menjadi pelajaaran bagi orang2 dayak.
    Penghormatan kepada Al-Qur'an itu penting..tp lebih penting Menghormati orang2 yang mengamalkannya karena alqur'an itu ada yang tersirat dan tersurat,agamamu adalah untukmu dan agamuku adalah untukku silahkan laksanakan agamamu.

  24. #24 Senin, 14 Juni 2010 Pukul 4:07 WIB
    Tameng Pemberlakuan Adat

    Berarti adanya gubernur Kristen di Kalimantan sudah direncanakan

    Iya. Karena itu dia akan kepung dulu Kalimantan Barat, Tengah, dan Timur, kemudian setelah itu baru Kalimantan Selatan. Mereka belajar dari Uganda. Uganda yang dulunya mayoritas Islam, yakni di atas 80 persen. Namun sekarang Islam di sana tinggal 23 persen. Kenapa itu bisa terjadi? Ternyata di Uganda itu luar biasa. Islam bisa menyusut di sana karena yang diserang memang daerah pedalaman dan pedesaan. Ini yang mau dipraktekan dan sedang dikerjakan di Indonesia.

    Strategi yang mereka lakukan apa saja?

    Strategi yang dilakukan adalah dengan pemberdayaan masyarakat. Itu adalah satu-satunya cara yang paling efektif, karena orang-orang suku Dayak itu secara ekonomi tidak berdaya. Cara memberdayakan dan menarik simpati mereka supaya masuk Kristen adalah dengan pemberdayaan ekonomi (Community Development). Makanya saya bilang penginjilan di dalam agama Kristen sekarang luar biasa. Mereka tidak memakai penginjilan verbal, tapi dakwah bil hal nya yang lebih ditekankan.

    Setelah beberapa provinsi di Kalimantan dikuasai Kristen, apa berpengaruh terhadap Kristenisasi?

    Ya jelas dong kalau pemimpinnya Kristen maka apa pun yang berkaitan dengan Kristenisasi akan lebih dipermudah. LSM-LSM akan lebih mudah masuk. Jangankan di tingkat gubernur, di tingkat kabupaten saja itu pengaruhnya luar biasa.

    Anda pernah mengatakan di Indonesia ini ada hidden mission yang dilakukan Kristen, maksudnya?

    Misi itu bisa bersifat tersembunyi. Tidak bisa dilihat mata secara langsung. Tapi gerakannya ada. Contoh gerakan Tent Maker (Tukang Kemah) saja kan kita tidak tahu, tapi misinya jelas ke mana-mana. Kita tidak tahu tetangga kita itu pendeta atau bukan. Ternyata dia sedang melancarkan misinya luar biasa. Dan banyak gerakan-gerakan yang mereka lakukan dengan penghancuran nilai-nilai baik lewat media maupun kegiatan lain. Belum lagi dalam industrialisasi di mana negara-negara berkembang itu selalu bergantung kepada lembaga internasional. Di situ ada hidden mission secara internasional. Contohnya begini ada IMF, Bank Dunia yang bisa memberikan bantuan dengan berbagai persyaratan. Siapa sebenarnya di belakang IMF, Bank Dunia tersebut?

    Artinya banyak di sekeliling kita itu kegiatan-kegiatan yang mengandung hidden mission?

    Iya banyak, mulai dari sektor perbankan, pendidikan dan lainnya yang tanpa kita sadar, termasuk di jaringan kampus, misalnya munculnya Jaringan Islam Liberal. Coba lihat bagaimana orang IAIN memperdalam agama Islam bukan ke Saudi tapi ke Amerika, ke Kanada. Di sana memang ada pelajaran Islamologi, tapi yang mengajar kan Kristen. Sehingga mereka ketika belajar ilmu tafsir Alqurannya menggunakan ilmu Hermeneutika, yang biasa digunakan pendeta untuk menafsirkan bible. Akhirnya pulang ke Indonesia oleh-olehnya macam-macam, tak karu-karuan dan tafsiran aneh-aneh. Jadi memang pengaruh kristenisasi dalam Islam Liberal itu luar biasa.

    Yang mesti dilakukan umat Islam menghadapi hidden mission itu seperti apa?

    Saya katakan di Indonesia ini, selama ukhuwah wathoniyah lebih dikedepankan daripada ukhuwah Islamiyah maka kita tidak bisa menghadapinya. Tidak sedikit ulama dan tokoh Islam di Indonesia sekarang yang masih mengedepankan ukhuwah wathoniyah dibanding ukhuwah Islamiyah. Jadi ukhuwah Islamiyah-nya seolah disepelekan. Padahal secara hirarki, ukhuwah Islamiyah itu yang mestinya dijunjung tinggi, setelah itu baru ukhuwah wathoinyah dan baru ukhuwah basyariyah. Yang harus dijunjung tinggi kan mestinya persatuan umat dulu. Islam mengajarkan kepentingan Islam di atas segalanya di banding kepentingan lain.

    Selain itu?

    Ya mari kita kembalikan fungsi Masjid seperti zaman Rasulullah. Tidak hanya menjadikan masjid itu sebagai imam shalat saja tapi imam organisasi.[] pendi/www.mediaumat.com

    Pengalaman Luas Sebagai Misionaris

    Mowo Purwito sebelumnya adalah seorang pendeta dan dosen di Seminari Alkitab Nusantara dan beberapa seminari Indonesia. Sarjana Theologi Seminari Alkitab Nusantara Malang ini juga berpengalaman mengikuti berbagai training di luar negeri terkait misi Kristen dan aktif di berbagai organisasi misi. Ia juga pernah aktif di Partai Damai Sejahtera (PDS) yakni sebagai ketua Kaderisasi dan Tim Perumus Kebijakan DPW PDS Jawa Timur itu. Ia mendapat Sertifikat Misi Internasional dari Fuller Housing Ministry, California untuk terjun pada pelayanan Christianity Development di Louisiana USA. Seharusnya laki-laki kelahiran Situbondo 28 Oktober 1965 itu berangkat bersama keluarga ke Louisiana pada Desember 2006, namun batal karena keburu masuk Islam (mualaf).

    Keingintahuannya yang besar akan ajaran Islam dan kegalaunnya terhadap ajaran Kristen itu memang telah mengantarkan pada hidayah sehingga ayah dari tiga orang anak ini pun masuk Islam, tepatnya pada 16 September 2006 . Setelah masuk Islam, berbagai tantangan, cacian, makian dan sebagainya harus ia hadapi. Namun ia tetap istiqomah dengan keyakinan barunya itu. Sekarang Mowo yang berganti nama menjadi Muhammad Yusuf Muttaqin aktif sebagai dosen kristologi dogmatik, misiologi, sosiologi agama, dan fenomenologi di beberapa perguruan tinggi Islam dan pondok pesantren.

  25. #25 Kamis, 8 Juli 2010 Pukul 6:19 WIB
    Anhar Gonggong

    Anhar Gonggong
    Mengurangi Penderitaan pada Proses Demokrasi

    Edisi 260 | 06 Mar 2001 | Cetak Artikel Ini

    Kemelut politik yang terjadi sekarang bisa saja dipersalahkan kepada pemerintah dan elite politik. Tapi sesungguhnya semua terperangkap dalam suatu kejadian sejarah yang besar, yaitu munculnya demokrasi yang kedua kalinya di Indonesia. Pertama adalah dari kemerdekaan sampai tahun 1959, dan yang kedua adalah dari tahun 1999. Seperti munculnya gunung berapi, kekuatan rakyat yang mendorong demokrasi juga mengakibatkan perubahan.

    Kalau gunung berapi ditandai dengan goncangan lapisan tanah sampai kepada perubahan iklim dan kerusuhan pada mahluk hidup, maka api demokrasi menimbulkan goncangan pada seluruh sendi kehidupan sosial dan kerusuhan pada warga Indonesia. Seperti peristiwa alam, munculnya demokrasi ini disertai korban yang berjatuhan. Namun kami percaya dalam jangka panjangnya, manfaat perubahan tersebut jelas akan terasa oleh seluruh sistem kehidupan.

    Kalau kita bisa melihat proses demokratisasi dalam perspektif sejarah, maka kecenderungan untuk mengobarkan kebencian antara sesama warga akan banyak berkurang. Karenanya kita punya kewajiban untuk mengubah pola perubahan politik dari persaingan antara kepentingan menjadi suatu kerjasama sosial yang mengacu pada kepentingan rakyat banyak. Paling tidak,pengertian bersama akan mempercepat proses perubahan dan menghindari korban antara orang yang tidak bersalah.

    Untuk kesekian kalinya, Perspektif Baru berupaya untuk berperan serta dalam proses pendidikan politik masyarakat, dan kali ini kita dibantu oleh nara sumber Dr Anhar Gonggong, ahli sejarah dan ilmu politik yang mendapat gelar S3 dari Universitas Indonesia dan juga pernah belajar di Universitas Leiden, Belanda. Selain mengajar di Universitas Atmajaya dan perguruan tinggi lain, Anhar Gonggong juga banyak menyumbangkan pikirannya di berbagai forum dan media cetak serta elektronik. Dr. Anhar Gonggong adalah pejabat organik di Ditjen Kebudayaan yang dipindahkan dari Depdikbud ke Departemen Budaya dan Pariwisata. Inilah Perspektif Baru dengan pemandu Wimar Witoelar.

    Sekarang ini kita banyak melihat peristiwa sehari-hari, dan karena sangat mencekam barangkali konteks yang lebih luasnya tidak selalu sempat kita lihat. Sebetulnya apa maknanya segala kesulitan dan barangkali miskomunikasi yang sedang terjadi dalam perjalanan kita sebagai bangsa. Apakah ada sesuatu yang positif yang bisa diraih dari sini?

    Menurut saya ada, karena saya melihat apa yang terjadi sekarang itu hanya persoalan yang berkaitan dengan bagaimana kita melembagakan pekerjaan kita secara tepat. Dan sebenarnya ini adalah bagian dari komitmen kita untuk menjadi merdeka, berbangsa, dan membentuk negara republik yang demokratis. Komitmen ini sudah ada sejak 1916 ketika Tjokro Aminoto di dalam Kongres sentral Serikat Islam pertama, di Bandung, meminta kepada pemerintah Kolonial agar anak negeri diberi pemerintahan sendiri, dan pemerintahan itu ditata secara demokratis. Itu per dokumen. Itu kan sebenarnya sederhana, membangsa artinya menjadi satu dari yang banyak. Itu yang dilupakan selama ini. Ada satu kesalahan kita dalam berbangsa yaitu pemerintah tidak memulai dengan mengatur perbedaan-perbedaan yang ada. Dalam arti bahwa keadaan kita yang pluralistik itu adalah bagian dari posisi kehidupan kita membangsa. Kita sudah salah langkah sejak awal merdeka, dalam arti hanya sampai tahun 1958 kita membuka dialog. Baru sekarang terbuka lagi. Sejak tahun 1959 sampai Soeharto jatuh dialog itu tidak ada. Saya tidak kenal anda dan andapun tak kenal saya, padahal kita mau menyatakan hidup bersama sebagai bangsa. Bagaimana kita bisa mengenal kalau kita tidak bisa ketemu lagi? Disitu hebatnya kaum pergerakan, selama 4-5 tahun mereka bisa ciptakan satu image bahwa kita ini satu. Celakanya sejak tahun 59 kita ini pecah.

    Betul sekali, jadi meskipun banyak kantong-kantong dimana hidup orang Indonesia dengan pemikiran yang seharusnya bisa dipertemukan, tapi baru sekarang mereka bertemu. Tentu yang kita khawatir, pada saat bertemu kelihatannya jadi kontra produktif. Apa salah kesan begitu?

    Itu ada benarnya, karena paling tidak selama 40 tahun ini kita tidak berkomunikasi secara benar. Tapi kalau saya bertemu dengan anda seperti sekarang ini 2-3 kali, saya kira pemikiran kita bisa bertemu. Saya yakin betul itu, karena apa? Karena komitmen awal kita, kita mau satu. Kita ingin menjadi merdeka karena kita mau hidup bersatu, bersama, untuk menghilangkan kebusukan-kebusukan yang diatur oleh sistem feodalisme dan diciptakan oleh sistem kolonial.

    Sekarang kan ada masalah komunikasi yang dibanyak hal bisa kita atasi, terus ada soal kekerasan, dan kelihatannya ini menjadi ciri dari tahun-tahun sekarang. apa itu bagian dari proses politik?

    Sebenarnya tidak perlu terjadi, karena yang menyebabkan ini terjadi adalah 2 hal, pertama adalah manajemen pemerintah yang salah sejak dulu dan kedua adalah karena terputusnya komunikasi. Sebagai contoh, orang Madura datang ke Sampit itu sudah 3 generasi. Artinya apa? Tidak ada yang suruh mereka datang ke sana. Dia datang dengan segala macam kelemahannya, diterima juga oleh orang Dayak. Tapi kenapa sekarang terjadi? Apa artinya itu? Karena pemerintah daerah Kalimantan Tengah salah memanage pemerintahan dan salah memahami kondisi masyarakat mereka. Bahwa di situ ada orang Dayak, ada orang Madura yang pendatang, dan orang Madura ini punya cara hidup yang berbeda, dan ini yang nggak pernah dikatakan oleh pemerintah daerah, atau diolah oleh pemerintah daerah untuk mempertemukan orang-orang ini. Celakanya ini bertambah rumit karena pemerintah masa lalu menciptakan satu sistem pemerintahan yang otoriter.

    Jadi sebetulnya ada beberapa puluh tahun yang terbuang dari segi pengembangan demokrasi. Apakah masih bisa terkejar dan bagaimana mengejarnya, katakanlah strategi umumnya?

    Saya masih optimis melihat bahwa ini masih bisa kita kejar, dalam arti kata bagaimanapun pertentangan diantara kita, tapi komitmen kita ke depan tetap demokratis kan. Bagaimanapun perbedaan dari pemimpin kita yang ada sekarang, komitmen mereka tetap yaitu menegakan sebuah republik yang demokratis. Persoalannya sekarang adalah apa yang bisa kita lakukan untuk memulai kembali. Saya kira ada kelemahan utama yang selama ini kelihatan, yaitu bahwa demokrasi kita tidak dipahami secara benar padahal sederhana. Demokrasi kan unsurnya ada kebebasan, ada aturan, dan aturan itu lewat lembaga. Nah, selama kita merdeka, selama 40 tahun 3 hal ini tidak pernah ada. Lembaga tidak pernah jalan, lembaga yang jalan hanya presiden, baik oleh Sukarno maupun Suharto. Lembaga lain tidak jalan karena itu di bawah mereka semua. Begitu juga aturan, tidak pernah jalan. Karena UUD 45 sangat lemah dan itu diinjak-injak. Sukarno menginjak-injak, Suharto juga. Terus kita berpegang pada apa? Nggak ada. Kebebasan akhirnya tidak mempunyai kanalisasi, karena aturan dan lembaga nggak ada. Akhirnya ketika terbuka kebebasan itu kita melakukan seperti apa yang kita mau.

    Sukarno memang sangat dominan sebagai eksekutif, Suharto juga dan di 2 periode itu DPR tidak berperan sama sekali. Sekarang DPR sangat kuat, apa itu kuncinya demokrasi? Dan bagaimana selanjutnya kualitas demokrasi itu?

    Ada yang keliru dalam memahami itu sekarang. Sekarang lembaga-lembaga mulai nampak, tapi saya melihat persoalannya ini bukan hanya sekedar lembaga tapi isi lembaga itu. Kulaitas dari isi lembaga itu juga harus diperhatikan. Disini rusaknya kita, recruitment pemimpin-peminpin kita itu juga sangat lemah. Partai apa sih yang pernah dia lakukan? Nggak ada. Padahal partai itu sumber dari pada recruitment. Orang yang duduk di DPR itu adalah orang partai. Kalau orang partai duduk didalam tidak ngerti apa-apa tentang tugas, habis juga. Maka jangka panjangnya saya kira minimal satu generasi, dan kita harus memulai dari awal untuk menciptakan lembaga itu berisi apa? Ada teman saya bercerita, anda tahu apa tugas yang tiap hari saya kerjakan? saya ngajarin kakak sepupu saya untuk pakai dasi dan jas. Ini kelihatan sederhana, tapi bisa bayangkan, bagaimana dia bisa memikirkan republik ini kalau pakai dasi aja nggak bisa.

    Ada strukturnya, isinya yang belum sepenuhnya lengkap. Apa mungkin kita kejebak dalam istilah jaman dulu, kita belum siap untuk demokrasi. Bagaimana up gradingnya mengejar ketinggalan itu?

    Kesalahan kita adalah karena partai tidak pernah melakukan pendidikan politik. Pemerintah juga tidak pernah melakukan pendidikan politik. Dulu Sukarno ada indoktrinasi Manipol Usdek, Suharto melanjutkannya dalam bentuk lain. Yang menyedihkan saya adalah bahwa sudah 4 tahun ini saya mengadakan sayembara mengarang, menulis tentang demokrasi, tentang nasionalisme untuk tingkat SMA. Apa yang terjadi? Pola pikir anak sangat rusak, sehingga menulis aja dengan pola P4. Di sini Departemen Pendidikan harus mengembalikan sistem pendidikan dalam pengertian sistem pendidikan yang berkaitan dengan bagaimana kita memahami diri kita sebagai warga negara yang baik. Oleh karena itu kalaukita mau kedepan, paling tidak antara 5-10 tahun mendatang, yang kita harus kerjakan itu memperbaiki sistem pendidikan dan melakukan pendidikan politik. Kita harus katakan pada partai, pada pemerintah untuk melakukan itu semua. Siapa yang mau melakukan kalau bukan kita?

    Sekarang kira-kiranya akan diperoleh di mana pendidikan politik luar sekolah yang efektif dan lumayan cepat?

    Misalnya dengan membentuk group diskusi, seperti pengalaman saya di Yogya. Kita bisa lakukan itu karena group diskusi kan tidak perlu dibentuk hanya oleh mahasiswa, masyarakat juga bisa melakukan itu. Artinya apa? Ada semacam counter culture yang harus dilakukan dalam kaitan pendidikan politik itu. Memang partai-partai politik tidak terlalu banyak bisa diharapkan kalau masih seperti sekarang, tapi ada kelompok-kelompok yang lebih bebas yang bisa melakukan itu namun harus dengan peranan media, seperti yang anda lakukansekarang dengan program Perspektif Baru ini. Saya kira ini adalah salah satu cara yang cukup strategis untuk memberikan pendidikan politik.

    Anda tadi mengatakan bahwa pada dasarnya semua pimpinan politik dari berbagai aliran itu menginginkan demokrasi, bagaimana anda sangat yakin mengatakan itu kalau kita punya tradisi totaliter selama 32 tahun?

    Saya mempunyai keyakinan itu karena dasar republik ini dibangun dengan komitmen itu sebenarnya. Kita mau jadi bangsa dari jaman pergerakan nasional dasarnya adalah itu . Kita sudah diajar dengan segala cara apalagi dengan situasi terbuka kayak sekarang, tapi kesalahannya ada 2 pemimpin kita yang memotong itu. Kita sekarang akan kembali mau berusaha dan kita sedang bergumul sekarang. Bahwa ada kekuatan yang pro dan kontra, itu hal yang biasa. Cuman masalahnya menurut saya yang harus kita lakukan adalah mengembalikan aturan itu supaya digunakan secara benar. Jadi kita berjalan diatas aturan, sejelek apapun aturan itu. Andaikata lembaga-lembaga yang ada dalam republik yang kita ciptakan sekarang berjalan diatas aturan, contoh yang terakhir Memorandum. Dalam hal ini anggota DPR salah, tapi dimana letak salahnya? Karena dia mau mempercepat Sidang Istimewa. Itu jelas salah dan tidak prosedural. Kenapa tidak memberi kesempatan pada pak Abdurahman Wahid untuk mengatakan "oke, saya akan balas", tapi tolong juga pak Abdurahman Wahid melihat hal itu sebagai suatu proses. Dan itu bukan akhir dari sebuah kekuasaan.

    Memorandumnya sendiri nggak ada salahnya?

    Tidak ada. Kesalahan orang adalah melihat Memorandum itu akan dimacam-macamin secara politik. Ini kan komitmen kita untuk berdemokrasi dan ada peluang-peluang itu. Saya masih melihat itu walaupun saya tahu tidak ada suku bangsa di Indonesia yang tidak otoriter. Kesulitan kita adalah ketika kita mau menjalankan suatu lembaga secara demokratis, pada saat yang bersamaan kita tidak mendidik diri untuk melakukan itu. Dan itu yang terhenti selama ini, dan yang menyebabkan saya optimis dalam melihat komitmen ini bisa kita kembangkan bersama, serta kita masih bisa melakukan pendidikan kedepan.

    Tapi tetap kita memang harus masuk kedalam full demokrasi, dalam demokrasi lengkap, nggak dalam demokrasi bertahap, terpimpin?

    Tidak ada. Demokrasi harus langsung. Menurut saya sambil jalan melakukan pendidikan itu, tanpa harus ada istilah demokrasi lain. Kesalahannya apa? karena kita macam-macami demokrasi itu. Kita berikan kata "demokrasi liberal", walaupun dalam kenyataannya demokrasi terpimpin, dan jamannya Suharto kita kenal demokrasi Pancasila. Padahal kita tidak bisa menangkap esensinya. Walaupun harus diakui sistem pemerintahan yang paling sulit dilaksanakan adalah sistem demokrasi. Setiap saat kita harus belajar ini, dan Amerika juga sampai sekarang masih belajar. Hasil pemilihan di Amerika yang sekarang, menandakan bahwa Amerika belum menemukan bentuk, tapi hebatnya dia mendasari diri pada aturan dan menghargai aturan itu.Al Gore kan sebenarnya masih punya kesempatan, tapi dia melihat rakyatnya dan Mahkamah Agung sudah mengeluarkan keputusannya Kalau dia tidak menghargai Mahkamah Agung, siapa lagi yang akan menghargai walaupun ada peluang untuk dia. Itu hebatnya.Jadi artinya orang Amerika saja masih belajar apalagi kita.

    Bagaimana mengenai keutuhan teritorial jadi separatisme dan sebagainya, apakah itu terpisah dengan demokrasi, kalau tidak apa hubungannya dengan proses demokratisasi? Cara mengatasi keinginan-keinginan daerah untuk merdeka?

    Saya kira ini jangan dilihat secara sempit. Kemarahan Aceh itu hanya karena salah manajemen negara. Saya tahu benar, historis misalnya Daud Beureuh tidak pernah mau melepaskan diri dari republik ini. Dia pernah diajak oleh Tengku Mansyur untuk mendirikan negara Sumatera tahun 49. Apa jawabnya? "Saya tidak mau. Saya republik. Dalam diri saya adalah Republik Indonesia, negara kesatuan". Artinya kan Daud Beureuh tidak mau memberontak oleh karena apa-apa. Ada kemarahan yang disebabkan oleh karena kesalahan di Jakarta. Saya tidak melihat kerusuhan-kerusuhan yang mau melepaskan diri, tapi itu menurut saya karena emosi, sistoris, dan saya tidak yakin bahwa kesempatan ini terbuka buat mereka. Itu semacam reaksi aja. Tapi hubungannya ini dengan demokrasi dimana? Mari kita kembalikan tatanan kehidupan kita secara benar. Jadi beri kesempatan daerah untuk mengatur dirinya. Itu yang seharusnya dilakukan dengan adanya otonomi daerah sekarang. Kesalahan mereka lagi sekarang kalau saya kaitkan demokrasi dengan otonomi daerah, kesalahannya dimana? Kesalahannya adalah oleh penafsiran orang terhadap otonomi daerah merupakan penafsiran etnik. Padahal kalau ada aturannya, kita berjalan dan laksanakan itu, disitu tidak ada persoalan etnik. Di situ tujuannya adalah untuk menegakan Republik Indonesia, tapi dasar kekuatan republik ini dari daerah. Menguatnya daerah berarti menguatnya republik, demokrasi disini ketemunya di situ.

  26. #26 Senin, 23 Agustus 2010 Pukul 9:42 WIB
    jabon

    jabon
    pk saya akan menunggunya .. :-)

Tinggalkan Komentar

Komentar diharapkan dalam Bahasa Indonesia, Inggris, Dayak (Kalteng), atau Banjar.
Ingin mempunyai gambar avatar sendiri jika berkomentar? Segera daftarkan diri di Gravatar!

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Dari Meja Redaksi

Maskot Hatue en Bawi

Maskot Hatue en Bawi Hatue en Bawi, alias Laki-laki dan Perempuan dalam Bahasa Dayak Ngaju, adalah nama dari dua figur ...

Laporan lainnya...

» Mengapa Berupa Situs? (9)
» Komentar 101: Facebook (18)
» HUT Tambun Bungai (6)

Dalam Jaringan

Komunitas Facebook

Kabar Kalteng

Sebuah galat telah terjadi, yang kemungkinan berarti umpan tersebut sedang anjlok. Coba lagi nanti.