Menunggu ‘Oloh Itah’ Jadi Menteri

Mungkin hanya orang 'sakit' atau tertidur terlalu panjang yang mengatakan di Kalteng tidak ada kemajuan. Pimpinan daerah silih berganti, semuanya sama-sama memiliki komitmen tinggi membangun wilayah. Kalimantan Tengah yang dulunya hanya belukar kini telah berubah pesat. Bersamaan dengan membaiknya kondisi sosial politik dan perekonomian negara, Bumi Tambun Bungai juga mulai tumbuh menjadi kawasan modern.

Kerja keras para pemangku kepentingan dan dukungan masyarakat membuahkan hasil yang cukup berarti. Tengok saja, kini hampir semua kabupaten dapat terhubung melalui perjalanan darat. Di sisi lain berbagai sarana vital seperti lembaga pendidikan dan kesehatan juga terus ditingkatkan keberadaannya. Demikian pula lompatan-lompatan kemajuan di sektor lain.


matanews.com/wp-content/uploads/PelantikanDPR011009-3.jpg

Sudahnya saatnya Suku Dayak menunjukkan kepada dunia bahwa putra Tambun Bungai juga memiliki kompetensi dan sejajar dengan suku-suku lain. Saat ini Kalteng sudah memiliki banyak stok putra-putri terbaik, dengan berbagai gelar dan keahlian.

Tak bermaksud sukuisme, seharusnya orang Dayak memegang posisi-posisi penting di daerah ini karena mengenal cukup baik karakteristik wilayah. Sudah saatnya pula orang Dayak jadi pejabat negara, tak hanya orang Jawa, Batak, atau Bugis saja seperti yang terjadi selama ini. Warga Kalteng harus mempunyai channel orang kuat di Jakarta. Artinya, harus ada putra Dayak yang terlibat dalam penentu kebijakan kekuasaan di Ibukota negara. Dengan adanya orang Dayak menjadi pejabat negara secara otomatis akan meningkatkan posisi tawar 'Oloh Itah' di pentas nasional. Sebagian besar warga berharap, kapan giliran putra Kalteng menjadi menteri.

Di era 60-an, Gubernur Tjilik Riwut pernah mengeluarkan kebijakan memanggil seluruh putra daerah agar kembali ke Kalteng untuk membangun daerah. Ternyata setelah dicermati, kebijakan itu ada pula sisi negatifnya, sebab akhirnya Kalteng banyak kehilangan kader yang merintis karier di Jakarta. Sejatinya, orang-orang inilah yang dapat diharapkan membangun pondasi eksistensi warga Kalteng di tingkat nasional.

Setelah Tjilik Riwut wafat, praktis Kalteng tak lagi memiliki figur yang merepresentasikan Suku Dayak. Kevakuman ini berlangsung puluhan tahun, hingga akhirnya muncul sosok Agustin Teras Narang sebagai Ketua Komisi II DPR RI. Kehadiran Teras Narang di Senayan membuat warga Kalteng bangga. Bangga karena sangat jauh dari stigma 4D (Datang, Duduk, Diam, Duit), tapi betul-betul menunjukkan kualitasnya sebagai wakil rakyat.

Sayangnya itu tak berlangsung lama karena Teras Narang lebih tertarik menjadi gubernur di kampung halamannya. Sepuluh tahun terakhir memang ada beberapa warga Kalteng yang berhasil menjadi anggota DPR RI, tapi tak terdengar gregetnya. Tak jelas, apakah penampilannya memang 'memble’' atau kiprahnya tak terekspose media.

Secara kasat mata, dinamika pembangunan di Kalteng bergerak sangat positif. Seandainya Tjilik Riwut masih hidup, beliau pasti tersenyum bangga, karena 'anak cucunya' dapat mewujudkan sebuah impian besar yang pernah dicita-citakan. Yaitu Kalteng yang maju dan bermartabat.

Tapi bila masih hidup mungkin pula hati Sang Pioneer itu tambah trenyuh. Soalnya, ketika Kalteng maju dan berkembang kearipan lokal mulai tergusur di wilayah ini. Orang tak lagi memandang budaya dan warisan Datu Hiang sebagai sesuatu yang sakral. Modernisasi terasa semakin menggerus primordialisme. Kini, suara garantung dan syair karungut hanya terdengar lamat-lamat. Generasi muda Dayak dapat dihitung dengan jari yang peduli dengan warisan budayanya. Pertahanan budaya hanya ditopang oleh kaum tua. Kalteng masih beruntung memiliki agama Kaharingan, karena sebagian besar hanya umat Kaharinganlah yang secara konsisten menjalankan warisan budaya Dayak melalui berbagai upacara adat.

Tak dapat ditampik, ketika Kalteng maju sebagian orang Dayak perkotaan malah menepi ke pinggiran kota. Akhirnya, yang berdomisili di perkotaan sebagian besar adalah pendatang. Di Kalteng penduduk perkotaan mulai dipadati Suku Banjar dan Jawa. Saat ini dominasi Suku Banjar cukup tinggi, mereka menguasai perdagangan. Bahkan banyak orang Dayak yang berkomunikasi dengan bahasa Banjar dari pada bahasa ibunya sendiri. Suku Banjar yang memang berbakat berdagang merambah hampir semua kawasan di Kalteng. Antara lain Palangka Raya, Kuala Kapuas, Sampit, Ampah, Tumbang Samba, hingga Tewah.

Di Sampit kita sulit mencari di mana sebenarnya komunitas Dayak berada. Dalam komunikasi sesama warga yang sering dipakai adalah bahasa Banjar dialek Sampit. Sementara bahasa Dayak jarang terdengar. Demikian pula di Kuala Kapuas, Buntok, dan Muara Teweh. Ironis sekali memang, akankah pada gilirannya nanti Suku Dayak juga bernasib seperti Suku Betawi yang terasing di negerinya sendiri.

Cendekiawan Dayak Kumpiadi Widen mengatakan, terpinggirkannya Suku Dayak dalam ‘'persaingan' karena belum berubahnya cara berfikir atau mindset. Sebagian orang Dayak masih ada yang merasa rendah diri dan menganggap dirinya tak semaju orang lain. Identitas kesukuan seperti penggunaan bahasa daerah dianggap kurang gaul.

Guru Besar Universitas Palangka Raya (Unpar) itu mengatakan, masih ada orang Dayak yang malu menggunakan bahasa daerahnya di depan umum. Yang dipakai justru bahasa Banjar.

* foto dari ANTARA, oleh Yudhi Mahatma

Kata Kunci:
, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Bambang M. Permadi
Tentang Penulis

Bambang M. Permadi adalah kontributor Betang.COM tinggal di Palangka Raya

Terdapat 8 Komentar

  1. #1 Rabu, 28 Oktober 2009 Pukul 0:27 WIB
    hamlennon

    Maaf Pak Bambang, boleh saya tanya. Dalam pengertian bapak, apa yang bapak maksud dengan Putra Daerah Kalimantan Tengah?

  2. #2 Rabu, 18 November 2009 Pukul 1:56 WIB
    asu

    asu...............................................

  3. #3 Rabu, 18 November 2009 Pukul 1:57 WIB
    asu

    bambang asu

  4. #4 Rabu, 18 November 2009 Pukul 1:58 WIB
    asu

    asu lagi

  5. #5 Rabu, 18 November 2009 Pukul 1:58 WIB
    asu

    dimanapun asu lagi

  6. #6 Rabu, 18 November 2009 Pukul 1:59 WIB
    asu

    asu lagi bam bam bam

  7. #7 Rabu, 16 Desember 2009 Pukul 18:26 WIB
    hamlennon

    Hampir dua bulan saya menunggu konfirmasi Pak Bambang dalam comment saya yg pertama yang menanyakan pengertian "putra daerah" dalam persepsi saudara Bambang. Saya sangat tidak sepakat kalau pengertian "Putra daerah" atau lebih spesifik yang anda sebutkan sebagai "Putra Tambun Bungai" adalah harus suku Dayak. Saya rasa anda telah mereduksi pengertian tersebut! Bukankah seharusnya "Putra Daerah" seperti yang dimaksud adalah sekelompok pemuda yang dilahirkan di suatu daerah yang nantinya akan menjadi pilar-pilar pembangunan dan demokrasi di tanah kelahirannya sendiri. Seharusnya kita bisa menempatkan semangat primordialisme kita dengan bijak.
    Saya sebenarnya masih cenderung sepakat jika pemimpin suatu daerah adalah orang yang dilahirkan di daerah tersebut, walaupun harus dilengkapi dengan parameter yang lain. Tapi kalau ternyata itu semua dipersempit dengan mengatakan bahwa yang boleh menjadi pemimpin disana hanya boleh dari satu suku saja, dan celakanya hal tersebut diamaini begitu saja, maka saya sangat keberatan dengan statement tersebut. Saya rasa realitas seperti ini dapat menjadi bahan evaluasi kita terhadap bingkai Nation-State yang selama ini kita citakan-citakan di Indonesia.

    NB : buat admin tolong beberapa comment diatas yang anda rasa tidak sopan bisa anda hapus. Sangat menganggu peradaban, hehehehe, terima kasih.

  8. #8 Senin, 28 Desember 2009 Pukul 16:07 WIB
    putra

    maaf paK Bambang asli orang mana ya...???

    dilihat secara kasat mata bukan uluh itah deh...

Tinggalkan Komentar

Komentar diharapkan dalam Bahasa Indonesia, Inggris, Dayak (Kalteng), atau Banjar.
Ingin mempunyai gambar avatar sendiri jika berkomentar? Segera daftarkan diri di Gravatar!