<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Menuju Perlindungan Budaya Itah</title>
	<atom:link href="http://betang.com/artikel/sosial-politik/menuju-perlindungan-budaya-itah.html/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://betang.com/artikel/sosial-politik/menuju-perlindungan-budaya-itah.html</link>
	<description>Kalimantan Tengah, portal online Kalteng memuat artikel dan berita tentang Dayak, seni, humaniora, adat, budaya, wisata, kuliner, pertambangan, dan sejarah.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 26 Feb 2010 13:36:27 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: SUKU DAYAK &#171; C4ppy&#39;s Blog</title>
		<link>http://betang.com/artikel/sosial-politik/menuju-perlindungan-budaya-itah.html#comment-1290</link>
		<dc:creator>SUKU DAYAK &#171; C4ppy&#39;s Blog</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 Dec 2009 12:17:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://betang.com/?p=735#comment-1290</guid>
		<description>[...] sebuah suku yang hidup dan menetap di pulau Kalimantan. Suku Dayak adalah nama suku yang memiliki budaya yang bersifat daratan bukan budaya maritim. Budaya daratan yang dimaksud disini adalah sebuah [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] sebuah suku yang hidup dan menetap di pulau Kalimantan. Suku Dayak adalah nama suku yang memiliki budaya yang bersifat daratan bukan budaya maritim. Budaya daratan yang dimaksud disini adalah sebuah [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: marte</title>
		<link>http://betang.com/artikel/sosial-politik/menuju-perlindungan-budaya-itah.html#comment-1172</link>
		<dc:creator>marte</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 04:07:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://betang.com/?p=735#comment-1172</guid>
		<description>tulisannya sangat bagus, silahkan kunjungi blog berikut ini : www.himdas.blogspot.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tulisannya sangat bagus, silahkan kunjungi blog berikut ini : <a href="http://www.himdas.blogspot.com" rel="nofollow">http://www.himdas.blogspot.com</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Lussua</title>
		<link>http://betang.com/artikel/sosial-politik/menuju-perlindungan-budaya-itah.html#comment-621</link>
		<dc:creator>Lussua</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Jul 2009 22:34:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://betang.com/?p=735#comment-621</guid>
		<description>hal yang penting dalam melestarikan kebudayaan daerah, adalah bagaimana menciptakan manusia yang memiliki mental, mencintai kebudayaan daerahnya itu sendiri. pembentukan rasa kecintaan in paling tepat dilakukan secara berkesinambungan, mulai dari masa kanak-kanak....
masalah lainnya, bagaimana dengan kemajuan jaman? apakah kita mesti melakukan counter cultur atau mengikuti arus modernisasi (kemajuan jaman?
dalam melestarika kebudayaan daerah, memang tidak perlu melakukan gerakan menolak modernisasi, karena modernisasi sudah tidak terpisahkan dari kehidupan kita semua. tindakan yang perlu dilakukan adalah kita harus mempunyai rasa integritas dan keperdulian dalam melestarikan kebudayaan derah. dengan ada rasa tersebut, kita bisa mencoba dan berusaha membuat suatu filter, yang miniman dari diri kita sendiri, dalam memilah bentuk-bentuk dalam kehidupan kita, yang mana bentuk yang berguna dan tidak. dengan filter tersebut dan rasa integritas dan kepedulian terhadap kebudayaan daerah, yang akhirnya kita wujudkan dalam tindakan dan perilaku sehari-hari, merupakan salah satu partisipasi kita sebagai individu yang turut membantu melestarikan kebudayaan daerah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hal yang penting dalam melestarikan kebudayaan daerah, adalah bagaimana menciptakan manusia yang memiliki mental, mencintai kebudayaan daerahnya itu sendiri. pembentukan rasa kecintaan in paling tepat dilakukan secara berkesinambungan, mulai dari masa kanak-kanak....<br />
masalah lainnya, bagaimana dengan kemajuan jaman? apakah kita mesti melakukan counter cultur atau mengikuti arus modernisasi (kemajuan jaman?<br />
dalam melestarika kebudayaan daerah, memang tidak perlu melakukan gerakan menolak modernisasi, karena modernisasi sudah tidak terpisahkan dari kehidupan kita semua. tindakan yang perlu dilakukan adalah kita harus mempunyai rasa integritas dan keperdulian dalam melestarikan kebudayaan derah. dengan ada rasa tersebut, kita bisa mencoba dan berusaha membuat suatu filter, yang miniman dari diri kita sendiri, dalam memilah bentuk-bentuk dalam kehidupan kita, yang mana bentuk yang berguna dan tidak. dengan filter tersebut dan rasa integritas dan kepedulian terhadap kebudayaan daerah, yang akhirnya kita wujudkan dalam tindakan dan perilaku sehari-hari, merupakan salah satu partisipasi kita sebagai individu yang turut membantu melestarikan kebudayaan daerah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Bintang Sariyatno</title>
		<link>http://betang.com/artikel/sosial-politik/menuju-perlindungan-budaya-itah.html#comment-496</link>
		<dc:creator>Bintang Sariyatno</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 13:34:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://betang.com/?p=735#comment-496</guid>
		<description>saya setuju sekali dengan mbak Riani,mudah-mudahan mata pelajaran muatan lokal tadi tidak seperti yang diberikan sewaktu saya SD dulu yang biasanya di taruh di hari sabtu. 
seingat saya mata pelajaran mulok dulu sangat-sangat dianggap tidak penting oleh teman-teman dan sangat membosankan.
mudah-mudahan sekarang pemerintah bisa memberikan perhatian yang lebih untuk generasi sekarang! 
kan hasilnya untuk kita juga nantinya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya setuju sekali dengan mbak Riani,mudah-mudahan mata pelajaran muatan lokal tadi tidak seperti yang diberikan sewaktu saya SD dulu yang biasanya di taruh di hari sabtu.<br />
seingat saya mata pelajaran mulok dulu sangat-sangat dianggap tidak penting oleh teman-teman dan sangat membosankan.<br />
mudah-mudahan sekarang pemerintah bisa memberikan perhatian yang lebih untuk generasi sekarang!<br />
kan hasilnya untuk kita juga nantinya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Rudy Gunawan</title>
		<link>http://betang.com/artikel/sosial-politik/menuju-perlindungan-budaya-itah.html#comment-428</link>
		<dc:creator>Rudy Gunawan</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 11:29:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://betang.com/?p=735#comment-428</guid>
		<description>OMG, komentar-komentar yang masuk panjang-panjang ya, sama dengan artikelnya. Tapi ini bagus! Diskusi yang sehat!

Ayo Bung Lukas, segera lah online dan jawablah komentar yang masuk ini. :D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>OMG, komentar-komentar yang masuk panjang-panjang ya, sama dengan artikelnya. Tapi ini bagus! Diskusi yang sehat!</p>
<p>Ayo Bung Lukas, segera lah online dan jawablah komentar yang masuk ini. <img src='http://betang.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Riani G. Elikson</title>
		<link>http://betang.com/artikel/sosial-politik/menuju-perlindungan-budaya-itah.html#comment-419</link>
		<dc:creator>Riani G. Elikson</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 16:05:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://betang.com/?p=735#comment-419</guid>
		<description>Di tengah pesatnya kemajuan teknologi sekarang dan semakin kecilnya bumi tempat kita hidup dan saling berinteraksi, budaya lokal memang berada pada posisi yang semakin ditinggalkan/terlupakan. Ada banyak alasan mungkin kenapa orang bisa melupakan budayanya. Salah satu adalah kurangnya rasa bangga memiliki budaya nenek moyangnya. Bila kita memandang budaya sendiri sebagai sesuatu yang membanggakan, dengan sendirinya kita akan dengan senang hati melestarikannya, menggunakannya dan menjadikannya bagian dari keseharian kita. Generasi tua berkewajiban dan yang memegang tanggungjawab menumbuhkan rasa bangga ini kepada generasi berikutnya. Pertanyaannya, sudah cukup baikkah usaha itu dilakukan? Jawabannya bisa kita lihat dari sikap generasi muda sekarang. 

Menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya sangat tepat bila dilakukan sedini mungkin dari kehidupan seseorang. Bahasa, misalnya. Orangtua mesti pandai berbahasa Dayak terlebih dulu, sebelum mentranserkan ke anak-anaknya. Orangtua juga mesti mempunyai sikap positif terhadap bahasa sendiri. Terkadang orangtua disadari atau tidak melakukan pelecehan terhadap bahasa Dayak itu sendiri. Misalkan, bila menjelaskan sesuatu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, sering kali digunakan bahasa Indonesia atau bahasa lainnya. Dan bila untuk bercerita hal-hal yang remeh-temeh, kutak itah ih. Pertanyaannya, apakah kita sudah menggali bahasa kita sedemikian rupa sehingga bahasa ini dapat mengekspresikan segala hal di dalam semua bidang termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi? Sudahkan kita memiliki kaidah-kaidah bahasa Dayak secara tertulis sehingga kita dapat menanamkan hal yang positif dan membanggakan tentang bahasa Dayak kepada generasi muda kita? Generasi tua dan intelektual Dayak yang berkompeten yang dapat melakukan ini. 

Memang tidak salah bahwa suatu bahasa menunjukkan peradaban sebuah bangsa atau suku bangsa. Disukai atau tidak, bahasa Dayak memang tidak punya cukup kata atau ekspresi untuk digunakan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang. Namun, pemilik bahasa itu sendiri sebenarnya dapat mengembangkan bahasanya agar dapat mengikuti kemajuan jaman. Hasilnya bisa dijadikan patokan/pedoman berbahasa bagi masyarakat Dayak pada umumnya. Bila generasi muda melihat atau membaca bagaimana bahasa Dayak bisa mengekspresikan hal-hal positif dan maju dari peradaban dunia sekarang, mereka tidak akan ragu untuk tahu, belajar dan menggunakannya. Bila bahasa Dayak dapat diidentikkan dengan berkembang dan majunya kehidupan penggunanya, generasi muda akan dengan sendirinya bangga berbahasa Dayak.

Di sinilah, generasi muda yang kelihatannya begitu tidak peduli, tidak bisa dipersalahkan sepenuhnya. 

Sebenarnya sudah banyak Sekolah Dasar di kota Palangka Raya yang menunjukkan usaha menumbuhkan minat siswa-siswanya terhadap budaya Dayak. Di Mata Pelajaran Muatan Lokal, diberikan Pelajaran Bahasa Dayak Ngaju. Mereka juga memberikan pilihan kegiatan ekstra. selain Pramuka, yaitu kegiatan Menari tarian Daerah (Dayak) dengan pemain musik pengiringnya juga oleh para siswa. Di tingkat SMP, juga dimasukkan kegiatan paduan suara dimana diajarkan juga lagu-lagu daerah berbahasa Dayak. Kita sangat menghargai usaha-usaha yang dilakukan oleh sekolah-sekolah ini, tapi tentunya itu jauh dari cukup hingga dapat menciptakan generasi muda Dayak yang peduli dengan budaya sendiri.

Memulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar dan masyarakat Dayak pada umumnya memang menjadi urutan yang tepat bila kita ingin berjuang untuk pelestarian budaya kita. Mulailah dengan memasukkan muatan lokal dalam plihan-pilihan kita. Misalnya, buku yang ingin kita baca, bahasa yang akan kita pakai atau ajarkan ke anak-anak kita, makanan yang ingin kita makan, tempat-tempat yang ingin kita kunjungi, dekorasi rumah yang ingin kita pajang, bunga yang ingin kita tanam, dan lain sebagainya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Di tengah pesatnya kemajuan teknologi sekarang dan semakin kecilnya bumi tempat kita hidup dan saling berinteraksi, budaya lokal memang berada pada posisi yang semakin ditinggalkan/terlupakan. Ada banyak alasan mungkin kenapa orang bisa melupakan budayanya. Salah satu adalah kurangnya rasa bangga memiliki budaya nenek moyangnya. Bila kita memandang budaya sendiri sebagai sesuatu yang membanggakan, dengan sendirinya kita akan dengan senang hati melestarikannya, menggunakannya dan menjadikannya bagian dari keseharian kita. Generasi tua berkewajiban dan yang memegang tanggungjawab menumbuhkan rasa bangga ini kepada generasi berikutnya. Pertanyaannya, sudah cukup baikkah usaha itu dilakukan? Jawabannya bisa kita lihat dari sikap generasi muda sekarang. </p>
<p>Menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya sangat tepat bila dilakukan sedini mungkin dari kehidupan seseorang. Bahasa, misalnya. Orangtua mesti pandai berbahasa Dayak terlebih dulu, sebelum mentranserkan ke anak-anaknya. Orangtua juga mesti mempunyai sikap positif terhadap bahasa sendiri. Terkadang orangtua disadari atau tidak melakukan pelecehan terhadap bahasa Dayak itu sendiri. Misalkan, bila menjelaskan sesuatu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, sering kali digunakan bahasa Indonesia atau bahasa lainnya. Dan bila untuk bercerita hal-hal yang remeh-temeh, kutak itah ih. Pertanyaannya, apakah kita sudah menggali bahasa kita sedemikian rupa sehingga bahasa ini dapat mengekspresikan segala hal di dalam semua bidang termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi? Sudahkan kita memiliki kaidah-kaidah bahasa Dayak secara tertulis sehingga kita dapat menanamkan hal yang positif dan membanggakan tentang bahasa Dayak kepada generasi muda kita? Generasi tua dan intelektual Dayak yang berkompeten yang dapat melakukan ini. </p>
<p>Memang tidak salah bahwa suatu bahasa menunjukkan peradaban sebuah bangsa atau suku bangsa. Disukai atau tidak, bahasa Dayak memang tidak punya cukup kata atau ekspresi untuk digunakan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang. Namun, pemilik bahasa itu sendiri sebenarnya dapat mengembangkan bahasanya agar dapat mengikuti kemajuan jaman. Hasilnya bisa dijadikan patokan/pedoman berbahasa bagi masyarakat Dayak pada umumnya. Bila generasi muda melihat atau membaca bagaimana bahasa Dayak bisa mengekspresikan hal-hal positif dan maju dari peradaban dunia sekarang, mereka tidak akan ragu untuk tahu, belajar dan menggunakannya. Bila bahasa Dayak dapat diidentikkan dengan berkembang dan majunya kehidupan penggunanya, generasi muda akan dengan sendirinya bangga berbahasa Dayak.</p>
<p>Di sinilah, generasi muda yang kelihatannya begitu tidak peduli, tidak bisa dipersalahkan sepenuhnya. </p>
<p>Sebenarnya sudah banyak Sekolah Dasar di kota Palangka Raya yang menunjukkan usaha menumbuhkan minat siswa-siswanya terhadap budaya Dayak. Di Mata Pelajaran Muatan Lokal, diberikan Pelajaran Bahasa Dayak Ngaju. Mereka juga memberikan pilihan kegiatan ekstra. selain Pramuka, yaitu kegiatan Menari tarian Daerah (Dayak) dengan pemain musik pengiringnya juga oleh para siswa. Di tingkat SMP, juga dimasukkan kegiatan paduan suara dimana diajarkan juga lagu-lagu daerah berbahasa Dayak. Kita sangat menghargai usaha-usaha yang dilakukan oleh sekolah-sekolah ini, tapi tentunya itu jauh dari cukup hingga dapat menciptakan generasi muda Dayak yang peduli dengan budaya sendiri.</p>
<p>Memulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar dan masyarakat Dayak pada umumnya memang menjadi urutan yang tepat bila kita ingin berjuang untuk pelestarian budaya kita. Mulailah dengan memasukkan muatan lokal dalam plihan-pilihan kita. Misalnya, buku yang ingin kita baca, bahasa yang akan kita pakai atau ajarkan ke anak-anak kita, makanan yang ingin kita makan, tempat-tempat yang ingin kita kunjungi, dekorasi rumah yang ingin kita pajang, bunga yang ingin kita tanam, dan lain sebagainya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Marvy Sahay</title>
		<link>http://betang.com/artikel/sosial-politik/menuju-perlindungan-budaya-itah.html#comment-382</link>
		<dc:creator>Marvy Sahay</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 10:16:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://betang.com/?p=735#comment-382</guid>
		<description>Saya kira tidak ada salahnya jika kita sekedar mengikuti budaya luar. Asalkan kita juga turut melestarikan budaya lokal milik kita sendiri. To: bung Lukas
Artikelnya bagus sekali.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya kira tidak ada salahnya jika kita sekedar mengikuti budaya luar. Asalkan kita juga turut melestarikan budaya lokal milik kita sendiri. To: bung Lukas<br />
Artikelnya bagus sekali.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: hinATa MoetZ</title>
		<link>http://betang.com/artikel/sosial-politik/menuju-perlindungan-budaya-itah.html#comment-372</link>
		<dc:creator>hinATa MoetZ</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2009 02:41:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://betang.com/?p=735#comment-372</guid>
		<description>aq jg sedih mlihat banyak nak muda yg gak pedulu kebudayaan nya :( T__T</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>aq jg sedih mlihat banyak nak muda yg gak pedulu kebudayaan nya <img src='http://betang.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /> T__T</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: upi</title>
		<link>http://betang.com/artikel/sosial-politik/menuju-perlindungan-budaya-itah.html#comment-367</link>
		<dc:creator>upi</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 21:49:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://betang.com/?p=735#comment-367</guid>
		<description>~~~~~~ketika kita jauh dari sesuatu itu, kita akan merindukannya~~~~~~~~
 So  :sad:  kayah2 mambaca tulisan jie jituh aku jadi dia sabar buli handak manampa sanggar tarian Budaya Itah :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>~~~~~~ketika kita jauh dari sesuatu itu, kita akan merindukannya~~~~~~~~<br />
 So  :sad:  kayah2 mambaca tulisan jie jituh aku jadi dia sabar buli handak manampa sanggar tarian Budaya Itah <img src='http://betang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: S™J</title>
		<link>http://betang.com/artikel/sosial-politik/menuju-perlindungan-budaya-itah.html#comment-359</link>
		<dc:creator>S™J</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 12:46:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://betang.com/?p=735#comment-359</guid>
		<description>Mode Resmi:

Sekadar nimbrung, budaya menurut saya juga adalah rekam jejak kehidupan serta peradaban para leluhur. Sayangnya, untuk kasus bangsa kita, sejak hadirnya kolonialisasi bangsa Eropa, peradaban leluhur di Nusantara secara umum mengalami stagnanasi. Akibatnya, peninggalan mereka tentu saja terasa sangat kuno dan ketinggalan jaman. Apa yg tersisa mungkin hanya serpihan-serpihan peradaban mereka saja. Seperti di Jawa misalnya, dulu banyak kitab babon (penting) berisi sejarah maupun ilmu leluhur yang di bawa ke Belanda. 

Kini, bangunan-bangunan karya peradaban masa lampu macam candi-candi hanya menyisakan misteri. Bagaimana sesungguhnya teknik arsitektur mereka hingga bisa membuat maha karya sedemikian rupa? Kita paling hanya bisa mereka-reka. Pengunjung pun umumnya hanya berdecak kagum &quot;Hebat.&quot; Stop di situ, tanpa memaknai atau mungkin sekadar membayangkan bagaimana seandainya / caranya membuat karya &quot;tandingan&quot; di masa sekarang.

Budaya menurut saya juga adalah hasil olah pola pikir dan citarasa. Tiap bangsa tentunya punya pola yang unik sesuai lingkungan tempat tinggalnya. Kalau menilik perkembangan peradaban sesama bangsa Asia seperti Cina atau Jepang, kita bisa melihat pola-pola. Gampangnya, desain berbagai produk dengan teknologi modern misalnya, akan tampak berbeda antara Jepang dengan Cina. Namun, dua-duanya bisa menghasilkan karya yang relatif sama secara kualitas, meski ciri khasnya tetap ada.

Saya pernah membaca sebuah artikel ekonomi (tapi lupa siapa penulis serta medianya) bahwa ilmu sosial satu itu, yang sekarang berkembang (Barat umumnya) adalah penerapan dari nilai-nilai kultur bangsa pengembangnya (sejak masa lampau). Bangsa Eropa bisa maju sesungguhnya lantaran menggali nilai-nilai leluhurnya, disamping adaptasi dan asimilasi (mungkin juga hasil merampok):p pemikiran-pemikiran bangsa lain.

Mengenai museum kebudayan, secara umum di Indonesia sepertinya relatif sama. Hanya menarik bagi anak-anak SD yang ramai-ramai berkunjung karena diwajibkan sekolahnya. Menurut saya, salah satu penyebabnya adalah kurangnya kreasi para kurator (sekarang hanya pemandu turis) museum. Saya sendiri pernah berkunjung ke museum Kraton Yogyakarta (pusat peradaban nih) dan merasa sangat kecewa dengan para &quot;kurator&quot; yang ada di sana. Ketika masuk ruang lukisan raja-raja misalnya, apa yang bisa disampaikan hanya informasi standar saja. &quot;Ini lukisan HB I beserta permaisuri, yang itu HB II...&quot; Laaah... kalau cuma itu sih saya juga tahu karena ada tulisannya. :))

*sekian dulu... komentar kepanjangan nih*</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mode Resmi:</p>
<p>Sekadar nimbrung, budaya menurut saya juga adalah rekam jejak kehidupan serta peradaban para leluhur. Sayangnya, untuk kasus bangsa kita, sejak hadirnya kolonialisasi bangsa Eropa, peradaban leluhur di Nusantara secara umum mengalami stagnanasi. Akibatnya, peninggalan mereka tentu saja terasa sangat kuno dan ketinggalan jaman. Apa yg tersisa mungkin hanya serpihan-serpihan peradaban mereka saja. Seperti di Jawa misalnya, dulu banyak kitab babon (penting) berisi sejarah maupun ilmu leluhur yang di bawa ke Belanda. </p>
<p>Kini, bangunan-bangunan karya peradaban masa lampu macam candi-candi hanya menyisakan misteri. Bagaimana sesungguhnya teknik arsitektur mereka hingga bisa membuat maha karya sedemikian rupa? Kita paling hanya bisa mereka-reka. Pengunjung pun umumnya hanya berdecak kagum "Hebat." Stop di situ, tanpa memaknai atau mungkin sekadar membayangkan bagaimana seandainya / caranya membuat karya "tandingan" di masa sekarang.</p>
<p>Budaya menurut saya juga adalah hasil olah pola pikir dan citarasa. Tiap bangsa tentunya punya pola yang unik sesuai lingkungan tempat tinggalnya. Kalau menilik perkembangan peradaban sesama bangsa Asia seperti Cina atau Jepang, kita bisa melihat pola-pola. Gampangnya, desain berbagai produk dengan teknologi modern misalnya, akan tampak berbeda antara Jepang dengan Cina. Namun, dua-duanya bisa menghasilkan karya yang relatif sama secara kualitas, meski ciri khasnya tetap ada.</p>
<p>Saya pernah membaca sebuah artikel ekonomi (tapi lupa siapa penulis serta medianya) bahwa ilmu sosial satu itu, yang sekarang berkembang (Barat umumnya) adalah penerapan dari nilai-nilai kultur bangsa pengembangnya (sejak masa lampau). Bangsa Eropa bisa maju sesungguhnya lantaran menggali nilai-nilai leluhurnya, disamping adaptasi dan asimilasi (mungkin juga hasil merampok)<img src='http://betang.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#112;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#112;' /> pemikiran-pemikiran bangsa lain.</p>
<p>Mengenai museum kebudayan, secara umum di Indonesia sepertinya relatif sama. Hanya menarik bagi anak-anak SD yang ramai-ramai berkunjung karena diwajibkan sekolahnya. Menurut saya, salah satu penyebabnya adalah kurangnya kreasi para kurator (sekarang hanya pemandu turis) museum. Saya sendiri pernah berkunjung ke museum Kraton Yogyakarta (pusat peradaban nih) dan merasa sangat kecewa dengan para "kurator" yang ada di sana. Ketika masuk ruang lukisan raja-raja misalnya, apa yang bisa disampaikan hanya informasi standar saja. "Ini lukisan HB I beserta permaisuri, yang itu HB II..." Laaah... kalau cuma itu sih saya juga tahu karena ada tulisannya. <img src='http://betang.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>*sekian dulu... komentar kepanjangan nih*</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

<!-- Dynamic page generated in 0.252 seconds. -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2010-02-28 12:29:25 -->
