Rumah Adat Betang

Pada masa lalu, kehidupan suku-suku Dayak yang berdiam di pedalaman Kalimantan itu hidup secara berkelompok-kelompok. Di mana kehidupan yang mereka jalani pasti dilalui bersama, hal itu terwujud dalam sebuah karya yaitu, Huma Betang (Rumah Betang).

Betang memiliki keunikan tersendiri dapat diamati dari bentuknya yang memanjang serta terdapat hanya terdapat sebuah tangga dan pintu masuk ke dalam Betang. Tangga sebagai alat penghubung pada Betang dinamakan hejot. Betang yang dibangun tinggi dari permukaan tanah dimaksudkan untuk menghindari hal-hal yang meresahkan para penghuni Betang, seperti menghindari musuh yang dapat datang tiba-tiba, binatang buas, ataupun banjir yang terkadang melanda Betang. Hampir semua Betang dapat ditemui di pinggiran sungai-sungai besar yang ada di Kalimantan.


katingankab.go.id/ktg/images/foto/pariwisata4.jpg

Betang dibangun biasanya berukuran besar, panjangnya dapat mencapai 30-150 meter serta lebarnya dapat mencapai sekitar 10-30 meter, memiliki tiang yang tingginya sekitar 3-5 meter. Betang di bangun menggunakan bahan kayu yang berkualitas tinggi, yaitu kayu ulin (Eusideroxylon zwageri T et B), selain memiliki kekuatan yang bisa berdiri sampai dengan ratusan tahun serta anti rayap.

Betang biasanya dihuni oleh 100-150 jiwa di dalamnya, sudah dapat dipastikan suasana yang ada di dalamnya. Betang dapat dikatakan sebagai rumah suku, karena selain di dalamnya terdapat satu keluarga besar yang menjadi penghuninya dan dipimpin pula oleh seorang Pambakas Lewu. Di dalam betang terbagi menjadi beberapa ruangan yang dihuni oleh setiap keluarga.

Pada halaman depan Betang biasanya terdapat balai sebagai tempat menerima tamu maupun sebagai tempat pertemuan adat. Pada halaman depan Betang selain terdapat balai juga dapat dijumpai sapundu. Sapundu merupakan sebuah patung atau totem yang pada umumnya berbentuk manusia yang memiliki ukiran-ukiran yang khas. Sapundu memiliki fungsi sebagai tempat untuk mengikatkan binatang-binatang yang akan dikorbankan untuk prosesi upacara adat. Terkadang terdapat juga patahu di halaman Betang yang berfungsi sebagai rumah pemujaan.

Pada bagian belakang dari Betang dapat ditemukan sebuah balai yang berukuran kecil yang dinamakan tukau yang digunakan sebagai gudang untuk menyimpan alat-alat pertanian, seperti lisung atau halu. Pada Betang juga terdapat sebuah tempat yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan senjata, tempat itu biasa disebut bawong. Pada bagian depan atau bagian belakang Betang biasanya terdapat pula sandung. Sandung adalah sebuah tempat penyimpanan tulang-tulang keluarga yang sudah meninggal serta telah melewati proses upacara tiwah.

Salah satu kebiasaan suku Dayak adalah memelihara hewan, seperti anjing, burung, kucing, babi, atau sapi. Selain karena ingin merawat anjing, suku Dayak juga sangat membutuhkan peran anjing sebagai 'teman' yang setia pada saat berburu di hutan belanntara. Pada zaman yang telah lalu suku Dayak tidak pernah mau memakan daging anjing, karena suku Dayak sudah menganggap anjing sebagai pendamping setia yang selalu menemani khususnya ketika berada di hutan. Karena sudah menganggap anjing sebagai bagian dari suku Dayak, anjing juga diberi nama layaknya manusia.

Sangat patut disayangkan seiring dengan modernisasi bangunan-bangunan masa sekarang, Betang kini hampir di ujung kepunahan, padahal Betang merupakan salah satu bentuk semangat serta perwujudan dari sebuah kebersamaan suku Dayak. Mungkin nanti Betang akan benar-benar punah tetapi merupakan tanggung jawab kita kepada leluhur untuk tetap mempertahankan semangat Huma Betang. Patut kita sadari di dalam diri ini pasti terdapat rasa untuk tetap memperjuangkan kebudayaan dari leluhur.

 

Disadur dari artikel serupa di blog saya: BETANG

* gambar dari katingankab.go.id

Kata Kunci:
, , , , , , , , , , , , , ,

Bintang Sariyatno
Tentang Penulis

Bintang Sariyatno adalah administrator, penulis aktif-tetap, dan pemangku konten Betang.COM. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa Biologi Murni di Universitas Negeri Yogyakarta.

Terdapat 24 Komentar

  1. #1 Selasa, 2 Juni 2009 Pukul 9:18 WIB
    Sigerak

    menurut sy susah skali menerapkan pola hidup rmh betang di jaman skrg ini,, yg semuanya serba mementingkan kepentinan pribadi, mudah curiga, dll..

    jd yg ada bukan lah menelah mentah2 pola hidup ala rmh betang itu, tp dengan mengaplikasikan filosofi2nya ke berbagai hal.. misalnya seperti situs ini, keep going betang.com!!

  2. #2 Selasa, 2 Juni 2009 Pukul 9:26 WIB
    Angelic Layer

    Can't agree more with Sigerak. (:
    Itu lebih fleksibel dan dinamis. IMO, kebudayaan itu menyesuaikan, bukan mengikat.

  3. #3 Selasa, 2 Juni 2009 Pukul 10:14 WIB
    Jadmiko Agung Wicaksono

    Gak pernah liat rumah betang secara langsung walau sudah lama tinggal di palangkaraya ini membuktikan bahwa rumah betang telah hilang dari modernisasi perkota'an, mungkin rumah betang dapat di temukan di daerah pedalaman, dan harusnya rumah seperti ini di jaga baik dan di jadikan aset budaya daerah.

  4. #4 Selasa, 2 Juni 2009 Pukul 10:15 WIB
    Jadmiko Agung Wicaksono

    Gak pernah liat rumah betang secara langsung walau sudah lama tinggal di palangkaraya ini membuktikan bahwa rumah betang telah hilang dari modernisasi perkota'an, mungkin rumah betang dapat di temukan di daerah pedalaman, dan harusnya rumah seperti ini di jaga baik dan di jadikan aset budaya daerah.

  5. #5 Selasa, 2 Juni 2009 Pukul 11:21 WIB
    Agnes E. T.

    Sekarang aq lg d betang... :D

    pernah liad betang d tipi ajah. Tp orang dayak, biar tgl d kota jg masih ad yg bkin rumah yg tipenya memanjang kog... (tetangga gw tuh)

  6. #6 Rabu, 3 Juni 2009 Pukul 15:21 WIB
    Lie Siang In

    Artikel tentang Rumah Betang tak hanya ini saja. Akan menyusul lebih banyak artikel entang Betang nanti. :D

  7. #7 Rabu, 3 Juni 2009 Pukul 21:54 WIB
    sendy

    seumur hidup cuma pernah sekali liat rumah betang di palangkaraya itupun yg ada di dekat batang garing.......kecil lagi

  8. #8 Sabtu, 6 Juni 2009 Pukul 9:38 WIB
    Teja Windu Saputra

    wahhhh ngomongin soal Betang kapan ya bisa nginap barang semalam di rumah betaNG .....T_T..........

  9. #9 Minggu, 7 Juni 2009 Pukul 8:36 WIB
    anton

    dimasa depan nanti kalopun rmh betang masih ada... menurut sy hanya akan jadi pajangan, tdk dihuni lg :(

  10. #10 Minggu, 7 Juni 2009 Pukul 21:44 WIB
    Rudy Gunawan

    Bung anton, saya bersepakat dengan bung Sigerak di komentar pertama. Ini bukan masalah dihuni atau nggaknya, tapi lebih kepada pengaplikasian falsafah dan nilai-nilai yang terkandung dalam Betang tersebut.

    Disambung juga dengan komentar mbak Angelic Layer bahwa budaya itu dinamis, sesuatu akan terus berubah. Namun yang dipertahankan mati-matian bagi saya bukan bentuk budaya tersebut secara lahiriah, namun esensi, nilai-nilai, dll.

    ...walau begitu, saya juga nggak ingin rumah Betan punah. :|

  11. #11 Rabu, 17 Juni 2009 Pukul 6:42 WIB
    betang.COM | Bintang Sariyatno

    [...] sebenarnya sebuah ide yang tidak sengaja terlontar dari otak teman saya. Ide awal dari berdirinya Betang.COM ini berawal dari pembicaraan kami berdua yang tidak karuan ujungnya. Pada saat sedang seru-serunya [...]

  12. #12 Rabu, 17 Juni 2009 Pukul 6:48 WIB
    L’arriviste Excentrique » Blog Archive » Some Sort of Portal

    [...] for the name betang.COM itself, it originated from betang, a traditional Dayak-style house. It is made out of wood and elevated 3 – 5 metres from the ground, as a protection against [...]

  13. #13 Minggu, 21 Juni 2009 Pukul 13:52 WIB
    Deden

    Hhm,,
    rumah betang memang hrs tetap dijaga! Tp nanti lama2 pasti cm jd hiasan ajaa..
    Tp prinsip dr Huma Betang itu senDiri ap ya?

  14. #14 Minggu, 21 Juni 2009 Pukul 14:41 WIB
    Bintang Sariyatno

    Prisip rumah Betang adalah sebagai tempat kebersamaan bagi para anggota-anggota yang hidup didalamnya.
    hal itu dapat dilihat secara nyata dari kehidupan yang ada di rumah Betang,yaitu kebersamaan yang ada di dalamnya yang berlandaskan rasa kekeluargaan

  15. #15 Selasa, 30 Juni 2009 Pukul 21:41 WIB
    aldo

    mantap le,, puna bangga jadi oloh dayak tuh,,,

  16. #16 Rabu, 1 Juli 2009 Pukul 2:35 WIB
    How I Make $300 a Day Posting Links Online

    Cool post, just subscribed.

  17. #17 Sabtu, 24 Oktober 2009 Pukul 9:41 WIB
    ponpon

    Yang kaya gini mesti dipertahanin, biar kebudayaan kita nga disrobot negara lain

  18. #18 Senin, 26 Oktober 2009 Pukul 18:55 WIB
    nia

    nggak perlu terlalu repot cari kesimpulam,indonesia emang kaya,tapi terlalu sulit untuk melestarikan kekayaannya sendiri.tapi itulah indonesia.indonesia tetep no.1.selalulah lestarikan kekayaan indonesia ya kawan,,,,!!!

  19. #19 Selasa, 10 November 2009 Pukul 16:17 WIB
    Andri

    da yg bsa jwb ga, kta ny anak tangga bentang selalu ganjil?????????
    :D

  20. #20 Selasa, 10 November 2009 Pukul 16:24 WIB
    Andri

    npa hrs dibut buat gnjil ank tngga ny?????????
    dng alsan pa????????????

  21. #21 Jumat, 5 Februari 2010 Pukul 20:02 WIB
    enny

    Heeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeemmmmmmmmmmmmmmmm.......................
    Q pnya teman asli dayak tapi sayang dy gk tau rmah betang....................
    ANEH YA......................HIHIHI
    But,rumah betang is THE BEST............

  22. #22 Senin, 7 Juni 2010 Pukul 6:27 WIB
    Puyya

    Betang Toyoi ada di Tumbang Malahoi.setengah jam pjlanan mobil dari tumbang Jutuh.
    selain itu di wilayah barito, ada di desa Nihan, kira2 45mnt perjalanan dari muara teweh dgn mobil. Namanya Betang Tambau.
    kedua betang itu masih asli dan masih ditempati beberapa keluarga.

    @Rudy: kamu keren juga.semoga banyak anak Palangka yg punya cara pikir seperti km ya.setuju dengan pendapatmu.

  23. #23 Minggu, 4 Juli 2010 Pukul 0:47 WIB
    Robby Toepak

    Salam Persaudaraan untuk semua,jalin keakraban di antara kita suku Dayak yang menyukai perbedaan dan keanekaragaman.

  24. #24 Kamis, 8 Juli 2010 Pukul 5:53 WIB
    Anhar Gonggong

    Mengurangi Penderitaan pada Proses Demokrasi

    Edisi 260 | 06 Mar 2001 | Cetak Artikel Ini

    Kemelut politik yang terjadi sekarang bisa saja dipersalahkan kepada pemerintah dan elite politik. Tapi sesungguhnya semua terperangkap dalam suatu kejadian sejarah yang besar, yaitu munculnya demokrasi yang kedua kalinya di Indonesia. Pertama adalah dari kemerdekaan sampai tahun 1959, dan yang kedua adalah dari tahun 1999. Seperti munculnya gunung berapi, kekuatan rakyat yang mendorong demokrasi juga mengakibatkan perubahan.

    Kalau gunung berapi ditandai dengan goncangan lapisan tanah sampai kepada perubahan iklim dan kerusuhan pada mahluk hidup, maka api demokrasi menimbulkan goncangan pada seluruh sendi kehidupan sosial dan kerusuhan pada warga Indonesia. Seperti peristiwa alam, munculnya demokrasi ini disertai korban yang berjatuhan. Namun kami percaya dalam jangka panjangnya, manfaat perubahan tersebut jelas akan terasa oleh seluruh sistem kehidupan.

    Kalau kita bisa melihat proses demokratisasi dalam perspektif sejarah, maka kecenderungan untuk mengobarkan kebencian antara sesama warga akan banyak berkurang. Karenanya kita punya kewajiban untuk mengubah pola perubahan politik dari persaingan antara kepentingan menjadi suatu kerjasama sosial yang mengacu pada kepentingan rakyat banyak. Paling tidak,pengertian bersama akan mempercepat proses perubahan dan menghindari korban antara orang yang tidak bersalah.

    Untuk kesekian kalinya, Perspektif Baru berupaya untuk berperan serta dalam proses pendidikan politik masyarakat, dan kali ini kita dibantu oleh nara sumber Dr Anhar Gonggong, ahli sejarah dan ilmu politik yang mendapat gelar S3 dari Universitas Indonesia dan juga pernah belajar di Universitas Leiden, Belanda. Selain mengajar di Universitas Atmajaya dan perguruan tinggi lain, Anhar Gonggong juga banyak menyumbangkan pikirannya di berbagai forum dan media cetak serta elektronik. Dr. Anhar Gonggong adalah pejabat organik di Ditjen Kebudayaan yang dipindahkan dari Depdikbud ke Departemen Budaya dan Pariwisata. Inilah Perspektif Baru dengan pemandu Wimar Witoelar.

    Sekarang ini kita banyak melihat peristiwa sehari-hari, dan karena sangat mencekam barangkali konteks yang lebih luasnya tidak selalu sempat kita lihat. Sebetulnya apa maknanya segala kesulitan dan barangkali miskomunikasi yang sedang terjadi dalam perjalanan kita sebagai bangsa. Apakah ada sesuatu yang positif yang bisa diraih dari sini?

    Menurut saya ada, karena saya melihat apa yang terjadi sekarang itu hanya persoalan yang berkaitan dengan bagaimana kita melembagakan pekerjaan kita secara tepat. Dan sebenarnya ini adalah bagian dari komitmen kita untuk menjadi merdeka, berbangsa, dan membentuk negara republik yang demokratis. Komitmen ini sudah ada sejak 1916 ketika Tjokro Aminoto di dalam Kongres sentral Serikat Islam pertama, di Bandung, meminta kepada pemerintah Kolonial agar anak negeri diberi pemerintahan sendiri, dan pemerintahan itu ditata secara demokratis. Itu per dokumen. Itu kan sebenarnya sederhana, membangsa artinya menjadi satu dari yang banyak. Itu yang dilupakan selama ini. Ada satu kesalahan kita dalam berbangsa yaitu pemerintah tidak memulai dengan mengatur perbedaan-perbedaan yang ada. Dalam arti bahwa keadaan kita yang pluralistik itu adalah bagian dari posisi kehidupan kita membangsa. Kita sudah salah langkah sejak awal merdeka, dalam arti hanya sampai tahun 1958 kita membuka dialog. Baru sekarang terbuka lagi. Sejak tahun 1959 sampai Soeharto jatuh dialog itu tidak ada. Saya tidak kenal anda dan andapun tak kenal saya, padahal kita mau menyatakan hidup bersama sebagai bangsa. Bagaimana kita bisa mengenal kalau kita tidak bisa ketemu lagi? Disitu hebatnya kaum pergerakan, selama 4-5 tahun mereka bisa ciptakan satu image bahwa kita ini satu. Celakanya sejak tahun 59 kita ini pecah.

    Betul sekali, jadi meskipun banyak kantong-kantong dimana hidup orang Indonesia dengan pemikiran yang seharusnya bisa dipertemukan, tapi baru sekarang mereka bertemu. Tentu yang kita khawatir, pada saat bertemu kelihatannya jadi kontra produktif. Apa salah kesan begitu?

    Itu ada benarnya, karena paling tidak selama 40 tahun ini kita tidak berkomunikasi secara benar. Tapi kalau saya bertemu dengan anda seperti sekarang ini 2-3 kali, saya kira pemikiran kita bisa bertemu. Saya yakin betul itu, karena apa? Karena komitmen awal kita, kita mau satu. Kita ingin menjadi merdeka karena kita mau hidup bersatu, bersama, untuk menghilangkan kebusukan-kebusukan yang diatur oleh sistem feodalisme dan diciptakan oleh sistem kolonial.

    Sekarang kan ada masalah komunikasi yang dibanyak hal bisa kita atasi, terus ada soal kekerasan, dan kelihatannya ini menjadi ciri dari tahun-tahun sekarang. apa itu bagian dari proses politik?

    Sebenarnya tidak perlu terjadi, karena yang menyebabkan ini terjadi adalah 2 hal, pertama adalah manajemen pemerintah yang salah sejak dulu dan kedua adalah karena terputusnya komunikasi. Sebagai contoh, orang Madura datang ke Sampit itu sudah 3 generasi. Artinya apa? Tidak ada yang suruh mereka datang ke sana. Dia datang dengan segala macam kelemahannya, diterima juga oleh orang Dayak. Tapi kenapa sekarang terjadi? Apa artinya itu? Karena pemerintah daerah Kalimantan Tengah salah memanage pemerintahan dan salah memahami kondisi masyarakat mereka. Bahwa di situ ada orang Dayak, ada orang Madura yang pendatang, dan orang Madura ini punya cara hidup yang berbeda, dan ini yang nggak pernah dikatakan oleh pemerintah daerah, atau diolah oleh pemerintah daerah untuk mempertemukan orang-orang ini. Celakanya ini bertambah rumit karena pemerintah masa lalu menciptakan satu sistem pemerintahan yang otoriter.

    Jadi sebetulnya ada beberapa puluh tahun yang terbuang dari segi pengembangan demokrasi. Apakah masih bisa terkejar dan bagaimana mengejarnya, katakanlah strategi umumnya?

    Saya masih optimis melihat bahwa ini masih bisa kita kejar, dalam arti kata bagaimanapun pertentangan diantara kita, tapi komitmen kita ke depan tetap demokratis kan. Bagaimanapun perbedaan dari pemimpin kita yang ada sekarang, komitmen mereka tetap yaitu menegakan sebuah republik yang demokratis. Persoalannya sekarang adalah apa yang bisa kita lakukan untuk memulai kembali. Saya kira ada kelemahan utama yang selama ini kelihatan, yaitu bahwa demokrasi kita tidak dipahami secara benar padahal sederhana. Demokrasi kan unsurnya ada kebebasan, ada aturan, dan aturan itu lewat lembaga. Nah, selama kita merdeka, selama 40 tahun 3 hal ini tidak pernah ada. Lembaga tidak pernah jalan, lembaga yang jalan hanya presiden, baik oleh Sukarno maupun Suharto. Lembaga lain tidak jalan karena itu di bawah mereka semua. Begitu juga aturan, tidak pernah jalan. Karena UUD 45 sangat lemah dan itu diinjak-injak. Sukarno menginjak-injak, Suharto juga. Terus kita berpegang pada apa? Nggak ada. Kebebasan akhirnya tidak mempunyai kanalisasi, karena aturan dan lembaga nggak ada. Akhirnya ketika terbuka kebebasan itu kita melakukan seperti apa yang kita mau.

    Sukarno memang sangat dominan sebagai eksekutif, Suharto juga dan di 2 periode itu DPR tidak berperan sama sekali. Sekarang DPR sangat kuat, apa itu kuncinya demokrasi? Dan bagaimana selanjutnya kualitas demokrasi itu?

    Ada yang keliru dalam memahami itu sekarang. Sekarang lembaga-lembaga mulai nampak, tapi saya melihat persoalannya ini bukan hanya sekedar lembaga tapi isi lembaga itu. Kulaitas dari isi lembaga itu juga harus diperhatikan. Disini rusaknya kita, recruitment pemimpin-peminpin kita itu juga sangat lemah. Partai apa sih yang pernah dia lakukan? Nggak ada. Padahal partai itu sumber dari pada recruitment. Orang yang duduk di DPR itu adalah orang partai. Kalau orang partai duduk didalam tidak ngerti apa-apa tentang tugas, habis juga. Maka jangka panjangnya saya kira minimal satu generasi, dan kita harus memulai dari awal untuk menciptakan lembaga itu berisi apa? Ada teman saya bercerita, anda tahu apa tugas yang tiap hari saya kerjakan? saya ngajarin kakak sepupu saya untuk pakai dasi dan jas. Ini kelihatan sederhana, tapi bisa bayangkan, bagaimana dia bisa memikirkan republik ini kalau pakai dasi aja nggak bisa.

    Ada strukturnya, isinya yang belum sepenuhnya lengkap. Apa mungkin kita kejebak dalam istilah jaman dulu, kita belum siap untuk demokrasi. Bagaimana up gradingnya mengejar ketinggalan itu?

    Kesalahan kita adalah karena partai tidak pernah melakukan pendidikan politik. Pemerintah juga tidak pernah melakukan pendidikan politik. Dulu Sukarno ada indoktrinasi Manipol Usdek, Suharto melanjutkannya dalam bentuk lain. Yang menyedihkan saya adalah bahwa sudah 4 tahun ini saya mengadakan sayembara mengarang, menulis tentang demokrasi, tentang nasionalisme untuk tingkat SMA. Apa yang terjadi? Pola pikir anak sangat rusak, sehingga menulis aja dengan pola P4. Di sini Departemen Pendidikan harus mengembalikan sistem pendidikan dalam pengertian sistem pendidikan yang berkaitan dengan bagaimana kita memahami diri kita sebagai warga negara yang baik. Oleh karena itu kalaukita mau kedepan, paling tidak antara 5-10 tahun mendatang, yang kita harus kerjakan itu memperbaiki sistem pendidikan dan melakukan pendidikan politik. Kita harus katakan pada partai, pada pemerintah untuk melakukan itu semua. Siapa yang mau melakukan kalau bukan kita?

    Sekarang kira-kiranya akan diperoleh di mana pendidikan politik luar sekolah yang efektif dan lumayan cepat?

    Misalnya dengan membentuk group diskusi, seperti pengalaman saya di Yogya. Kita bisa lakukan itu karena group diskusi kan tidak perlu dibentuk hanya oleh mahasiswa, masyarakat juga bisa melakukan itu. Artinya apa? Ada semacam counter culture yang harus dilakukan dalam kaitan pendidikan politik itu. Memang partai-partai politik tidak terlalu banyak bisa diharapkan kalau masih seperti sekarang, tapi ada kelompok-kelompok yang lebih bebas yang bisa melakukan itu namun harus dengan peranan media, seperti yang anda lakukansekarang dengan program Perspektif Baru ini. Saya kira ini adalah salah satu cara yang cukup strategis untuk memberikan pendidikan politik.

    Anda tadi mengatakan bahwa pada dasarnya semua pimpinan politik dari berbagai aliran itu menginginkan demokrasi, bagaimana anda sangat yakin mengatakan itu kalau kita punya tradisi totaliter selama 32 tahun?

    Saya mempunyai keyakinan itu karena dasar republik ini dibangun dengan komitmen itu sebenarnya. Kita mau jadi bangsa dari jaman pergerakan nasional dasarnya adalah itu . Kita sudah diajar dengan segala cara apalagi dengan situasi terbuka kayak sekarang, tapi kesalahannya ada 2 pemimpin kita yang memotong itu. Kita sekarang akan kembali mau berusaha dan kita sedang bergumul sekarang. Bahwa ada kekuatan yang pro dan kontra, itu hal yang biasa. Cuman masalahnya menurut saya yang harus kita lakukan adalah mengembalikan aturan itu supaya digunakan secara benar. Jadi kita berjalan diatas aturan, sejelek apapun aturan itu. Andaikata lembaga-lembaga yang ada dalam republik yang kita ciptakan sekarang berjalan diatas aturan, contoh yang terakhir Memorandum. Dalam hal ini anggota DPR salah, tapi dimana letak salahnya? Karena dia mau mempercepat Sidang Istimewa. Itu jelas salah dan tidak prosedural. Kenapa tidak memberi kesempatan pada pak Abdurahman Wahid untuk mengatakan "oke, saya akan balas", tapi tolong juga pak Abdurahman Wahid melihat hal itu sebagai suatu proses. Dan itu bukan akhir dari sebuah kekuasaan.

    Memorandumnya sendiri nggak ada salahnya?

    Tidak ada. Kesalahan orang adalah melihat Memorandum itu akan dimacam-macamin secara politik. Ini kan komitmen kita untuk berdemokrasi dan ada peluang-peluang itu. Saya masih melihat itu walaupun saya tahu tidak ada suku bangsa di Indonesia yang tidak otoriter. Kesulitan kita adalah ketika kita mau menjalankan suatu lembaga secara demokratis, pada saat yang bersamaan kita tidak mendidik diri untuk melakukan itu. Dan itu yang terhenti selama ini, dan yang menyebabkan saya optimis dalam melihat komitmen ini bisa kita kembangkan bersama, serta kita masih bisa melakukan pendidikan kedepan.

    Tapi tetap kita memang harus masuk kedalam full demokrasi, dalam demokrasi lengkap, nggak dalam demokrasi bertahap, terpimpin?

    Tidak ada. Demokrasi harus langsung. Menurut saya sambil jalan melakukan pendidikan itu, tanpa harus ada istilah demokrasi lain. Kesalahannya apa? karena kita macam-macami demokrasi itu. Kita berikan kata "demokrasi liberal", walaupun dalam kenyataannya demokrasi terpimpin, dan jamannya Suharto kita kenal demokrasi Pancasila. Padahal kita tidak bisa menangkap esensinya. Walaupun harus diakui sistem pemerintahan yang paling sulit dilaksanakan adalah sistem demokrasi. Setiap saat kita harus belajar ini, dan Amerika juga sampai sekarang masih belajar. Hasil pemilihan di Amerika yang sekarang, menandakan bahwa Amerika belum menemukan bentuk, tapi hebatnya dia mendasari diri pada aturan dan menghargai aturan itu.Al Gore kan sebenarnya masih punya kesempatan, tapi dia melihat rakyatnya dan Mahkamah Agung sudah mengeluarkan keputusannya Kalau dia tidak menghargai Mahkamah Agung, siapa lagi yang akan menghargai walaupun ada peluang untuk dia. Itu hebatnya.Jadi artinya orang Amerika saja masih belajar apalagi kita.

    Bagaimana mengenai keutuhan teritorial jadi separatisme dan sebagainya, apakah itu terpisah dengan demokrasi, kalau tidak apa hubungannya dengan proses demokratisasi? Cara mengatasi keinginan-keinginan daerah untuk merdeka?

    Saya kira ini jangan dilihat secara sempit. Kemarahan Aceh itu hanya karena salah manajemen negara. Saya tahu benar, historis misalnya Daud Beureuh tidak pernah mau melepaskan diri dari republik ini. Dia pernah diajak oleh Tengku Mansyur untuk mendirikan negara Sumatera tahun 49. Apa jawabnya? "Saya tidak mau. Saya republik. Dalam diri saya adalah Republik Indonesia, negara kesatuan". Artinya kan Daud Beureuh tidak mau memberontak oleh karena apa-apa. Ada kemarahan yang disebabkan oleh karena kesalahan di Jakarta. Saya tidak melihat kerusuhan-kerusuhan yang mau melepaskan diri, tapi itu menurut saya karena emosi, sistoris, dan saya tidak yakin bahwa kesempatan ini terbuka buat mereka. Itu semacam reaksi aja. Tapi hubungannya ini dengan demokrasi dimana? Mari kita kembalikan tatanan kehidupan kita secara benar. Jadi beri kesempatan daerah untuk mengatur dirinya. Itu yang seharusnya dilakukan dengan adanya otonomi daerah sekarang. Kesalahan mereka lagi sekarang kalau saya kaitkan demokrasi dengan otonomi daerah, kesalahannya dimana? Kesalahannya adalah oleh penafsiran orang terhadap otonomi daerah merupakan penafsiran etnik. Padahal kalau ada aturannya, kita berjalan dan laksanakan itu, disitu tidak ada persoalan etnik. Di situ tujuannya adalah untuk menegakan Republik Indonesia, tapi dasar kekuatan republik ini dari daerah. Menguatnya daerah berarti menguatnya republik, demokrasi disini ketemunya di situ.

Tinggalkan Komentar

Komentar diharapkan dalam Bahasa Indonesia, Inggris, Dayak (Kalteng), atau Banjar.
Ingin mempunyai gambar avatar sendiri jika berkomentar? Segera daftarkan diri di Gravatar!

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Dari Meja Redaksi

Maskot Hatue en Bawi

Maskot Hatue en Bawi Hatue en Bawi, alias Laki-laki dan Perempuan dalam Bahasa Dayak Ngaju, adalah nama dari dua figur ...

Laporan lainnya...

» Mengapa Berupa Situs? (9)
» Komentar 101: Facebook (18)
» HUT Tambun Bungai (6)

Dalam Jaringan

Komunitas Facebook

Kabar Kalteng

Sebuah galat telah terjadi, yang kemungkinan berarti umpan tersebut sedang anjlok. Coba lagi nanti.