Maskot Hatue en Bawi
Oleh Amanda Kistilensa • Redaksi • Senin, 6 Juli 2009 pukul 15:49 WIB
15 Komentar •
Hatue en Bawi, alias Laki-laki dan Perempuan dalam Bahasa Dayak Ngaju, adalah nama dari dua figur kecil yang berfungsi sebagai logo dan maskot resmi Betang.COM. Bagaimana asal-muasal dan proses pembuatannya? Itu semua akan diuraikan dalam artikel ini.
Pada awal pembuatan portal Betang.COM, yang tentu belum memiliki maskot, menjelang Ujian Nasional saya diminta secara pribadi oleh Rudy Gunawan (pengelola Betang.COM) untuk mendesain maskot untuk Betang.COM. Maskot ini, tentunya, merepresentasikan Kalimantan Tengah. Untuk mewakili kedua gender secara adil, akhirnya saya memutuskan untuk membuatnya satu pasangan; satu laki-laki, dan satu perempuan.

Meski bisa dibilang gambarnya simpel, jangan salah sangka; perancangan kedua maskot itu melalui tahap pencarian referensi yang cukup sulit. Di dunia internet sekalipun sulit mencari referensi wujud pakaian dan motif yang digunakan oleh suku Dayak (belum memperhitungkan jumlah sub-suku Dayaknya sendiri yang banyak, tidak hanya berada di Kalimantan Tengah, dan mungkin menggunakan motif yang berbeda-beda pula!). Dan dari tiap referensi pun, sulit menemukan titik temu dari desainnya masing-masing.
Referensi sudah didapat, tahap berikutnya adalah langkah tersulit--merancang desain baju. Di satu sisi, maskot yang simpel berarti tidak harus repot-repot mengurus akurasi detail kostum, tetapi di sisi lain maskot juga harus bisa menunjukkan apa yang direpresentasikannya dengan jelas.
Di luar dugaan, proses penggambaran sketsanya tidak membutuhkan banyak waktu; mungkin karena masih tahap membuat kostum (belum beserta motif yang jauh lebih rumit), hanya dalam sekitar 10 menit sketsa pensil Faber-Castell 2B Hatue en Bawi sudah (kurang lebih) selesai. Sketsa ini dikerjakan di kertas bekas printing yang gagal.
Sketsa langsung ditebalkan menggunakan drawing pen Faber-Castell 0.1, yang dilakukan dalam waktu yang sama singkatnya. Oleh karena itu, bisa dimaklumi bila hasilnya seperti ini:

Tahap berikutnya: sketsa yang telah dipindai menjadi dasar gambar yang dikerjakan di Photoshop CS2. Ringkasnya, sketsa dasar disalin dan langsung diwarnai dengan blok-blok warna --tidak persis disalin dari sketsa tentunya, tetapi juga dibuat lebih rapi. Juga bagian yang salah seperti garis yang miring atau mata yang ukurannya tidak sama, serta bentuk mandau yang tidak benar dimodifikasi.
Ini semua dengan bantuan suatu perangkat menakjubkan bernama graphic tablet, yang memungkinkan penorehan garis langsung pada gambar di layar komputer. Milik saya adalah model Bamboo Fun berwarna putih (atau, tidak begitu putih sekarang. Terutama ujung yang sering dipegang yang kini berwarna abu-abu kusam).

Pertama, penentuan warna: warna kostum diambil dari referensi baju berwarna kombinasi merah-hitam-emas. Untuk warna bulu pada ikat kepala, yang diambil ya... warna yang realistis saja. Jadi sayangnya, tidak ada simbolisme yang kompleks dalam pemilihan warna, hanya memilih berdasar yang benar-benar ada pada referensi saja. Ini juga karena saya khawatir jika saya memilih warna yang aneh-aneh justru akan memakai warna yang sebenarnya tidak ada secara tradisional.
Kemudian bagian yang menguras waktu paling banyak (tidak melebih-lebihkan kalau mengatakan waktu yang terpakai lebih dari satu jam), yaitu menambahkan detail. Pertama, menambahkan sedikit bayangan dan pencahayaan agar gambarnya tidak terlalu dua-dimensi. Kemudian, saatnya tiba untuk mengerjakan motif.

Tidak ada referensi yang dengan jelas menampilkan motif pada pakaian adat wanita Dayak. Yang bisa saya lihat hanya semacam motif melingkar-lingkar, jadi saya benar-benar ber-'improvisasi' dalam membuat motif. Yang pertama saya kerjakan adalah motif pada ikat kepala dan baju maskot perempuannya, menggunakan motif melingkar-lingkar ini, karena menurut saya feminim kesannya.
Yang lelaki tidak bisa dianggap benar-benar mengenakan baju, berarti mengerjakannya lebih mudah, kan? Salah besar; karena sebagian besar usaha saya terletak pada motif yang ada pada maskot lelaki. Pengelola secara spesifik meminta tato pada badan yang lelaki, dan memberikan referensi motif tato kepada saya. Agak sulit karena referensinya tidak begitu besar, tetapi dengan sedikit improvisasi jadi. Motif pada ikat kepala pun mengikuti tato, dengan jauh lebih banyak improvisasi dan pencampuran beberapa motif berbeda. (Baru belakangan saya diberitahu oleh pengelola bahwa motif pada ikat kepalanya itu tidak sesuai dengan yang biasa ada di Kalimantan Tengah--yang didominasi oleh objek alami seperti tumbuhan dan Burung Enggang, yang lebih menyerupai motif pada maskot perempuannya... Maaf atas kesalahan kecil ini...)

Untuk talawang (tameng, perisai), pencarian melalui Google Images dengan kata kunci "Dayak shield" mempertemukan saya dengan gambar ini [http://i8.ebayimg.com/06/i/000/f5/e4/7582_1.JPG] yang saya jadikan referensi... dengan sedikit modifikasi, tentunya. Kemudian, saya memperbaiki bentuk mandau yang terus dikritik oleh pengelola. Setelah hal ini selesai, saya menunjukkan gambar yang telah selesai kepada yang bersangkutan untuk dievaluasi. Setelah hal-hal kecil lain telah diperbaiki, pengelola memberikan thumbs-up-nya dan maskot siap dipakai!
* gambar Bamboo Fun dari jayabarucomputer.indonetwork.co.id
Kata Kunci:
bahasa dayak, bawi, dayak, desain, enggang, hatue, internet, kalimantan tengah, mandau, motif, ngaju, portal, proyek, talawang, tradisional, ujian nasional, ukiran
Hak Cipta
Materi ini dilindungi oleh UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta dan merupakan tanggungjawab penulisnya.
Harap mengikuti halaman Hak Cipta dan Penyangkalan untuk penggunaan dan pemanfaatan materi.
Tentang Penulis
Amanda Kistilensa adalah adalah desainer grafis untuk logo, maskot, dan banner Betang.COM. Masih berstatus sebagai (calon) mahasiswi Institut Teknologi Bandung.
Cetak Halaman Ini
Sebarkan via Email




















gunawanrudy
Kapan-kapan kalau ada proyek re-design buat Betang.COM, logo ini tetap dipertahankan. Toh sudah jadi trademark.
Desain baru akan tetap menyesuaikan dengan logo tersebut.
Makasih banyak ya.
Xaliber von Reginhild
Pertamax~!
Tatonya memang yang paling detil
Amnd
@ Tuan Pengelola: Iya, awas kalau diganti ya
@ Xaliber: Gagal pertamax!
Rudolf Guntler
Beda 9 menit kok masih bisa-bisanya bilang "pertamax?"
Xaliber von Reginhild
Hiah, klik submit-nya itu telat... =_=
Btw, tadinya saya kira ini vector pakai pen tool...
gunawanrudy
Halah alesan.
Ayo penulisnya tolong balas komen dengan terperinci.
Lim_li
Bagus cuy.....sebagai maskot hatue en bawi betang com
bener2 mantap dahhhh..... ^ _ ^
Amnd
@ Xaliber: Nggak pakai Pen tool karena saya nggak ngerti pen-tool. Sekadar tracing dengan brush jadinya. Padahal kalau dibuat dengan vektor kan bagus...
Agnes E. T.
bagus banget manda... aku gag nyangka seribed gitu mikir bikin gambar dan desainnya...
Rudy Gunawan
Agen, kau kan tukang gambar juga...
Bikinin jga doang ah. Hwahahahaaa...
Agnes E. T.
ah dikao gun chama... saia tag pandai pula menggambar nie...
rafandra
gambar nya gak bisa download ya?
Hendra
bolehkah saya mengambil ide gambarnya dan memodifikasinya?
untuk keperluan acara seminar regional kalimantan...
saya ingin memunculkan kesan-kesan 'kalimantan' nya...
Rudy Gunawan
@ Hendra:
Maaf agak telat membalas.
Gambar tersebut akan dijadikan gambar dalam bentuk apa? Selebaran, spanduk, baliho, atau pamflet?
Selanjutnya, kontak ke email/ponsel saya saja. Ada di bagian kanan bawah http://gunawanrudy.com/
Terimakasih.
Emily
bolehkah saya mengambil ide gambarnya dan memodifikasinya?
untuk keperluan acara seminar regional kalimantan...
saya ingin memunculkan kesan-kesan 'kalimantan' nya...