Kenta Dari Pulut (Ketan)

Seperti kita ketahui bahwa khususnya di Kalimantan Tengah banyak sekali terdapat berbagai jenis kuliner, dari yang sering kita temui sampai yang jarang kita temui pada kali ini saya akan berbagi sedikit informasi yang saya ketahui tentang kuliner khas di Kalimantan Tengah. Apakah itu mari kita bahas bersama-sama.

Kenta, mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita atau ada yang masih belum tahu apa itu kenta?

Kenta merupakan salah satu makanan khas di Kalimantan Tengah, berbahan dasar dari ketan dan termasuk makanan khas Dayak yang sudah langka atau jarang dijumpai lagi. Mengapa dibilang langka? Mungkin karena proses pembuatannya yang rumit dan memerlukan banyak tenaga kerja. Untuk pembuatan kenta biasanya memerlukan kurang-lebih 5 orang tenaga kerja dan memakan waktu sekitar 1 hari penuh.

Prosesnya pertama-tama gabah kering ketan direndam terlebih dahulu ke dalam air selama ± 7 - 8 jam dan kemudian ditiriskan. Selanjutnya setelah cukup kering gabah tadi langsung disangrai dalam bahasa Dayaknya manyanga. Pada proses manyanga ini dibutuhkan banyak tenaga, untuk satu kali manyanga dibutuhkan waktu kurang-lebih 10 - 15 menit. Yang tidak kalah pentingnya dalam proses manyanga ini adalah ketika kita mengaduk padi yang sedang disangrai (sanga), kita tidaklah boleh berhenti untuk mengaduk sampai padi yang di sangrai ini benar-benar kering. Karena kalau pengadukannya sempat berhenti akibatnya padi tadi akan gosong dan tidak dapat digunakan untuk dijadikan Kenta.

Setelah disangrai sampai kering gabah tadi langsung ditumbuk secara manual menggunakan lesung yang terbuat dari kayu yang bertujuan untuk memisahkan gabah dari kulitnya. Pada tahap inilah pembuatan kenta memerlukan banyak tenaga untuk menumbuk gabah. Biasanya untuk menumbuk gabah yang sudah disangrai memerlukan 3 orang pekerja. Dua orang pekerja bertugas untuk menumbuk ketan dan satu orangnya lagi bertugas untuk mengaduk ketan yang sedang ditumbuk (bahasa dayaknya tukang karuit). Alat untuk mengaduknya pun unik yaitu dari bilah bambu yang di ujungnya agak diruncingkan untuk mempermudah mengaduk ketan yang ditumbuk.

Proses penumbukan baru bisa dihentikan bila ketan tadi sudah terpisah dari kulitnya. Tahap selanjutnya, gabah yang sudah selesai ditumbuk tadi dibersihkan lagi menggunakan kiap atau nyiru untuk memisahkan kulit gabah dari beras. Dan hasil akhir yang didapatkan berupa beras yang berbentuk gepeng, mirip seperti sereal gandum quakeroatmeal.

Kenta bisa langsung dimakan setelah selesai proses pembuatannya, namun bisa juga diolah lagi menurut selera masing-masing. Misalnya kenta dicampur dengan parutan dan air kelapa lalu ditaburi sedikit gula pasir atau kenta diseduh dengan air panas dan dicampur dengan susu.

Untuk sekedar informasi, pembuatan kenta biasanya lebih sering dilakukan setelah orang selesai melakukan kegiatan memanen padi sebagai rasa syukur atas hasil panen yang didapatkan. Kegiatan ini dilakukan mirip seperti yang dilakukan saudara kita di Jawa Barat, upacara kepada Dewi Sri Pohaci dianggap sebagai dewi padi, dewi pemberi berkah.

Membuat kenta tidaklah mudah, butuh kesabaran dan ketekunan karena bila satu proses saja salah maka kita akan bisa lagi maju ke proses berikutnya untuk membuat kenta. Nah, sekarang Anda sudah tahu mengapa kenta sudah jarang kita temui lagi. Tapi bagi Anda yang penasaran dengan proses pembuatannya kalau ada waktu anda bisa mengunjungi Kuala Kurun pada saat penyelenggaraan Festival Mihing Manasa. Pada festival seni daerah ini ada diadakan juga lomba membuat kenta. Jadi anda bisa langsung melihat bagaimana proses pembuatan kenta itu sendiri.

Mungkin hanya itu yang dapat saya sampaikan semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua dan sampai jumpa lagi di wisata kuliner berikutnya.

Salamat hasundau melai harian andau.

Kata Kunci:
, , , , , , , , , , ,

Apri Guna D. Y. S.
Tentang Penulis

Apri Guna D. Y. S. adalah kontributor Betang.COM khususnya bidang kuliner. Menjalani studi sebagai mahasiswa jurusan Biologi Murni di Universitas Negeri Yogyakarta.

Terdapat 15 Komentar

  1. #1 Minggu, 21 Juni 2009 Pukul 9:52 WIB
    Rico

    Wah aq jd rindu mo mkan pulut dgn parutan kelapa gula merah.... hmmm enak lg klo da teh manis dengan kue apam ataw cucur..... hahahaha

  2. #2 Minggu, 21 Juni 2009 Pukul 10:13 WIB
    Bintang Sariyatno

    Walaupun, dari pembuatan kuliner ini memerlukan banyak tenaga kerja, tapi hasilnya tidak perlu ditanyakan lagi karena pasti sesuai dengan selera.
    walaupun kenta jarang ditemui pasti banyak yang rindu untuk mencicipi makanan ini.
    mudah-mudahan wisata kuliner Kalimantan Tengah dapat terus maju.

    "Pri, pakasak pakasak je beken ndai balut akan itah!"

  3. #3 Minggu, 21 Juni 2009 Pukul 10:54 WIB
    Tino Frenki

    Wah kenta emank lezat n jd"x pngen pulang......!!!!

    Tp kei ngu Ikau ih Ngua PRI.....wi ikau koki j mantap kn tah luh are mdu naharep rinjing n ketel tiap anadau,,hehehe

  4. #4 Minggu, 21 Juni 2009 Pukul 12:06 WIB
    apri

    @ Bintang :ioh tang, kareh ndai q pakasak je beken akam.
    @ Tino : dia ulih ku nampa kabuat kenta te Tin harus ikau umba nampa

  5. #5 Senin, 22 Juni 2009 Pukul 18:23 WIB
    riky

    akui mangat auh kenta toh lah, tau tiris-tiris iweh balua mahi amun ikau pakasak.

  6. #6 Senin, 22 Juni 2009 Pukul 18:48 WIB
    Apri Guna D. Y. S.

    @ Riky : ie te wal, dia ulih mun aku pakasak kabuat itah rami-rami ih manampa.

  7. #7 Selasa, 23 Juni 2009 Pukul 15:14 WIB
    eddyranan

    Kenta tidak harus menggunakan gabah ketan. Bagi yang kurang menyukai ketan, maka kenta dapat dibuat dari gabab padi biasa dan sebaiknya gabah muda yang baru diambil (ngetem) karena masih memiliki bau khas. Bagi yang belum pernah menikmati kenta, jangan terlalu banyak mengkonsumsinya, karena kenta akan mengembang di perut dan anda akan kekenyangan selanjutnya tau sendiri..

  8. #8 Selasa, 23 Juni 2009 Pukul 19:40 WIB
    apri

    wah..., terima kasih buat pa Eddyranan yang sudah memberikan informasi untuk melengkapi artikel tentang kenta ini.

  9. #9 Kamis, 25 Juni 2009 Pukul 15:48 WIB
    Agnes E. T.

    TT____TT
    aq jg jd pngen icip2 mknan khas kalteng.,
    tp seumur idup, aq twx saiur kalakai ma pakis ma umbut rotan aj... G prnh mam kenta... :((

  10. #10 Kamis, 25 Juni 2009 Pukul 18:00 WIB
    apri

    @ Agnes E. T. : wah rugi dong sebagai orang Dayak tapi ga pernah makan kenta.

  11. #11 Selasa, 28 Juli 2009 Pukul 16:18 WIB
    ritta

    salam kenal . . .
    jadi handak buli kan huma si muara tuhup asai e , mahining kenta, jd tahi jida puji kuman kenta . 4 bln yg lalu sebelum alm kak iwan meninggal di mau kitim kenta u/ saya kelg di jakarta, krn suami blm pernah makan kenta , sekarang ingat kenta jd ingat sama kaka .jgn lp kirim2 kentanya he he he . tx ya

  12. #12 Rabu, 19 Agustus 2009 Pukul 8:44 WIB
    Agnes E. T.

    Ey...aq bknx sombong y, tp aq sdh nyicip yg namax kenta... (apa pulut y?) whatever lah... Yg pntg dy ketan... Dsuguhin melisa swaktu aq brtandang krmhx...
    Thanks to melisa... :*

  13. #13 Sabtu, 10 Oktober 2009 Pukul 8:44 WIB
    ina ervana f

    hanyar piji kia aku mahining wadai kenta.
    biasa eh amun si bangkuang ji inyanga kilau jite sasagun, bi tepung behas.
    handak kia mancoba bila buli kareh

  14. #14 Selasa, 25 Mei 2010 Pukul 20:33 WIB
    intan

    Kenta bisa di campur susu ? seperti makan muesli dong. Di negara barat juga ada makanan mirip kenta (rasanya juga mirip) namanya muesli,tapi dicampur buah kering seperti kirmis, aprikot dll, dimakan dengan susu cair biasanya untuk sarapan

  15. #15 Minggu, 30 Mei 2010 Pukul 22:44 WIB
    wandy

    mangat ampi lah, mka tahi jd dia mangkuman kenta....
    uuummmm... yummy...yummyy.......issshhhhhhh....
    handak mahantis iweh awi....
    eh.... lam knal, uluh dayak kea tuh....???????

Tinggalkan Komentar

Komentar diharapkan dalam Bahasa Indonesia, Inggris, Dayak (Kalteng), atau Banjar.
Ingin mempunyai gambar avatar sendiri jika berkomentar? Segera daftarkan diri di Gravatar!

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Dari Meja Redaksi

Maskot Hatue en Bawi

Maskot Hatue en Bawi Hatue en Bawi, alias Laki-laki dan Perempuan dalam Bahasa Dayak Ngaju, adalah nama dari dua figur ...

Laporan lainnya...

» Mengapa Berupa Situs? (9)
» Komentar 101: Facebook (18)
» HUT Tambun Bungai (6)

Dalam Jaringan

Komunitas Facebook

Kabar Kalteng

Sebuah galat telah terjadi, yang kemungkinan berarti umpan tersebut sedang anjlok. Coba lagi nanti.