Panglima Burung
Oleh Rudy Gunawan • Kisah • Rabu, 6 Mei 2009 pukul 10:34 WIB
96 Komentar •
Dalam masyarakat Dayak, dipercaya ada ada suatu makhluk yang disebut-sebut sangat agung, sakti, ksatria, dan berwibawa. Sosok tersebut konon menghuni gunung di pedalaman Kalimantan, bersinggungan dengan alam gaib. Pemimpin spiritual, panglima perang, guru, dan tetua yang diagungkan. Ialah panglima perang Dayak, Panglima Burung, yang disebut Pangkalima oleh orang Dayak pedalaman.

www.flickr.com/photos/beckzaidan/1102006510
Ada banyak sekali versi cerita mengenai sosok ini, terutama setelah namanya mencuat saat kerusuhan Sambas dan Sampit. Ada yang menyebutkan ia telah hidup selama beratus-ratus tahun dan tinggal di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Ada pula kabar tentang Panglima Burung yang berwujud gaib dan bisa berbentuk laki-laki atau perempuan tergantung situasi. Juga mengenai sosok Panglima Burung yang merupakan tokoh masyarakat Dayak yang telah tiada, namun dapat rohnya dapat diajak berkomunikasi lewat suatu ritual. Hingga cerita yang menyebutkan ia adalah penjelmaan dari Burung Enggang, burung yang dianggap keramat dan suci di Kalimantan.
Selain banyaknya versi cerita, di penjuru Kalimantan juga ada banyak orang yang mengaku sebagai Panglima Burung, entah di Tarakan, Sampit, atau pun Pontianak. Namun setiap pengakuan itu hanya diyakini dengan tiga cara yang berbeda; ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan ada yang ragu-ragu. Belum ada bukti otentik yang memastikan salah satunya adalah benar-benar Panglima Burung yang sejati.
Banyak sekali isu dan cerita yang beredar, namun ada satu versi yang menurut saya sangat pas menggambarkan apa dan siapa itu Penglima Burung. Ia adalah sosok yang menggambarkan orang Dayak secara umum. Panglima Burung adalah perlambang orang Dayak. Baik itu sifatnya, tindak-tanduknya, dan segala sesuatu tentang dirinya.
Lalu bagaimanakah seorang Panglima Burung itu, bagaimana ia bisa melambangkan orang Dayak? Selain sakti dan kebal, Panglima Burung juga adalah sosok yang kalem, tenang, penyabar, dan tidak suka membuat keonaran. Ini sesuai dengan tipikal orang Dayak yang juga ramah dan penyabar, bahkan kadang pemalu. Cukup sulit untuk membujuk orang Dayak pedalaman agar mau difoto, kadang harus menyuguhkan imbalan berupa rokok kretek.
Dan kenyataan di lapangan membuyarkan semua stereotipe terhadap orang Dayak sebagai orang yang kejam, ganas, dan beringas. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Dayak bisa dibilang cukup pemalu, tetap menerima para pendatang dengan baik-baik, dan senantiasa menjaga keutuhan warisan nenek moyang baik religi maupun ritual. Seperti Penglima Burung yang bersabar dan tetap tenang mendiami pedalaman, masyarakat Dayak pun banyak yang mengalah ketika penebang kayu dan penambang emas memasuki daerah mereka. Meskipun tetap kukuh memegang ajaran leluhur, tak pernah ada konflik ketika ada anggota masyarakatnya yang beralih ke agama-agama yang dibawa oleh para pendatang. Riuh rendah tak berubah menjadi ketegangan di ruang yang lingkup--yang oleh orang Dayak Ngaju disebut Danum Kaharingan Belum.
Kesederhanaan pun identik dengan sosok Panglima Burung. Walaupun sosok yang diagungkan, ia tidak bertempat tinggal di istana atau bangunan yang mewah. Ia bersembunyi dan bertapa di gunung dan menyatu dengan alam. Masyarakat Dayak pedalaman pun tidak pernah peduli dengan nilai nominal uang. Para pendatang bisa dengan mudah berbarter barang seperti kopi, garam, atau rokok dengan mereka.
Panglima Burung diceritakan jarang menampakkan dirinya, karena sifatnya yang tidak suka pamer kekuatan. Begitupun orang Dayak, yang tidak sembarangan masuk ke kota sambil membawa mandau, sumpit, atau panah. Senjata-senjata tersebut pada umumnya digunakan untuk berburu di hutan, dan mandau tidak dilepaskan dari kumpang (sarung) jika tak ada perihal yang penting atau mendesak.
Lantas di manakah budaya kekerasan dan keberingasan orang Dayak yang santer dibicarakan dan ditakuti itu? Ada satu perkara Panglima Burung turun gunung, yaitu ketika setelah terus-menerus bersabar dan kesabarannya itu habis. Panglima burung memang sosok yang sangat penyabar, namun jika batas kesabaran sudah melewati batas, perkara akan menjadi lain. Ia akan berubah menjadi seorang pemurka. Ini benar-benar menjadi penggambaran sempurna mengenai orang Dayak yang ramah, pemalu, dan penyabar, namun akan berubah menjadi sangat ganas dan kejam jika sudah kesabarannya sudah habis.
Panglima Burung yang murka akan segera turun gunung dan mengumpulkan pasukannya. Ritual--yang di Kalimankan Barat dinamakan Mangkuk Merah--dilakukan untuk mengumpulkan prajurit Dayak dari saentero Kalimantan. Tarian-tarian perang bersahut-sahutan, mandau melekat erat di pinggang. Mereka yang tadinya orang-orang yang sangat baik akan terlihat menyeramkan. Senyum di wajahnya menghilang, digantikan tatapan mata ganas yang seperti terhipnotis. Mereka siap berperang, mengayau--memenggal dan membawa kepala musuh. Inilah yang terjadi di kota Sampit beberapa tahun silam, ketika pemenggalan kepala terjadi di mana-mana hampir di tiap sudut kota.
Meskipun kejam dan beringas dalam keadaan marah, Penglima Burung sebagaimana halnya orang Dayak tetap berpegang teguh pada norma dan aturan yang mereka yakini. Antara lain tidak mengotori kesucian tempat ibadah--agama manapun--dengan merusaknya atau membunuh di dalamnya. Karena kekerasan dalam masyarakat Dayak ditempatkan sebagai opsi terakhir, saat kesabaran sudah habis dan jalan damai tak bisa lagi ditempuh, itu dalam sudut pandang mereka. Pembunuhan, dan kegiatan mengayau, dalam hati kecil mereka itu tak boleh dilakukan, tetapi karena didesak ke pilihan terakhir dan untuk mengubah apa yang menurut mereka salah, itu memang harus dilakukan. Inilah budaya kekerasan yang sebenarnya patut ditakuti itu.
Kemisteriusan memang sangat identik dengan orang Dayak. Stereotipe ganas dan kejam pun masih melekat. Memang tidak semuanya baik, karena ada banyak juga kekurangannya dan kesalahannya. Terlebih lagi kekerasan, yang apapun bentuk dan alasannya--entah itu balas dendam, ekonomi, kesenjangan sosial, dan lain-lain--tetap saja tidak dapat dibenarkan. Mata dibalas mata hanya akan berujung pada kebutaan bagi semuanya. Terlepas dari segala macam legenda dan mitos, atau nyata tidaknya tokoh tersebut, Panglima Burung bagi saya merupakan sosok perlambang sejati orang Dayak.
Catatan: artikel ini dirilis ulang dari blog pribadi saya, GunawanRudy.Com - Panglima Burung
* foto Panglima Burung? gambar Panglima Burung? tapi foto Burung Enggang oleh Fendy Zaidan
Kata Kunci:
cerita rakyat, dayak, enggang, kaharingan, kalimantan barat, kalimantan tengah, kerusuhan, konflik, kumpang, legenda, leluhur, mandau, mandau terbang, mitos, pangkalima, panglima burung, perang, perlambang, religi, ritual, sambas, sampit, sumpit
Hak Cipta
Materi ini dilindungi oleh UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta dan merupakan tanggungjawab penulisnya.
Harap mengikuti halaman Hak Cipta dan Penyangkalan untuk penggunaan dan pemanfaatan materi.
Tentang Penulis
Rudy Gunawan adalah administrator, editor, serta pemangku desain dan ide kreatif Betang.COM. Tengah berjibaku dengan studinya di jurusan Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada.
Cetak Halaman Ini
Sebarkan via Email




















Bintang Sariyatno
panglima burung yang dikenal selalu membantu warga yang tertindas, nampak kejam dan beringas sewaktu ia muncul amarahnya.
saya memdengar keberadaan panglima burung sudah sangat lama sekali kira-kira beberapa tahun yang lalu.
Agnes E. T.
Ngingat 'panglima burung' aq jd inged kjadian suram d masa lampaw...
Hrrrr.., mga kjadian kaiag gt g keulang lg...
Tp aq stuju ma kta gun chama klw panglima burung t menggambarkan suku dayak itu sendiri, bukan 'sesuatu' yg brdiri sndiri.
~info
Hallo.
Sekedar info aja nih, buat bantu-bantu Betang. Tulisan oleh gunawanrudy.com (Rudy Gunawan) ini telah di-copy-paste tanpa menyebutkan sumber di beberapa blog, misalnya:
1) http://www.smallcrab.com/others/35-lain-lain/411-panglima-burung-antara-mitos-dan-fakta
2) http://shiddiqiyyah.com/lain/?p=90
3) http://bayzelbee.blog.friendster.com/2009/02/panglima-burung/
4) http://blacklisthunter-akira.blogspot.com/2009/03/panglima-burung-panglima-perang-suku.html
Rudy Gunawan
Hahahaaa... Aku sudah tahu kok, cuma masih kubiarin aja. Well, aku percaya orang bisa tahu sendiri siapa penulis aslinya.
Anyway, nggak gabung kontributor? Kayaknya kamu hebat investigasi dan penyelidikan lewat google nih.
Upi
Hebat !!!
Membacanya saja aku seperti berada diantara Panglima Burung,mpe 3x bacanya sih .hahahah . Klo kebanyakan baca mimpi beneran kali yak (*_*)
Panglima Burung, Pangkalima Burung | Gunawan Rudy dot Com
[...] artikel asli ini dirilis ulang pada untuk [...]
andy revlino
Ceritanya benar-benar memukau, akan tetapi semuanya tergantung pada kepercayaan kita masing-masing.
Sebagai seorang DAYAK NGAJU, hendaknyalah kita bersama-sama menjaga cerita Sejarah yang tak mungkin akan terulang kembali.
"Salam tabe ih akan tundah kula pahari hong Kalimantan"
hadi balil
salut unik panglima burung dan keturunananya.so spcial buat orangorang kalimantan semua yaa.love peace...
Faridawati Erlina
Ok, morning everybody, sorry sy mohon izin gabung,kalo sekilas org luar kalteng dengarnya seram ya? tapi kita biasa ajha kho, so panglima burung emang jago abiz.... maksudnya hebat....wkt etnis di kalteng kemarin sy strezz 1 minggu, saking ngeliatnya keajaiban yang luar biasa terjadi, tapi selang berapa lama situasi sudah membaik baru kt nyadar, kejadian itu luar biasa diluar kuasa kita sebagai manusia biasa, ceritanya pasti my friend uda pernah dengar.........mybe emang beliau special tp......kynya yang turun ke medan baru anak2, cucu beliau azha.....udah hebat,apalagi beliau langsung.
ade taruna sea
memang sebuah karya seni yg indah dan tak trnilai..
agar smua org tau bahwa org dayak itu tidak lah kejam yang banyak orang pikirkan..
slam buat saudara2 q yg berada d penjuru kalimantan..
smoga misteri2 sejarah dayak sdikit demi sedikit akan trkuak yg selama ini belum kita ketahui..
iman
hebat banget, aq aja ampe merinding bacax. Maju teus Suku Dayak. Aq di balakangmu
Tapi aq bukan rang dayak loh.hehehehe,
panglima bulau
AQ TERKAGUM DENGAN TULISAN INI. PERKENALKAN SAYA PANGKALIMA BULAU
Nisa
ka,, BoLeh gaK minTa Ciri_2 buRung enggang nYa KaLtim
Andra rebon
Salut bro aku urang banjar aja katuju jua lwn sidintu!sama jua lawan pangeran samudra kalulah ato pangeran antasari salam datang di unda nie di kutabaru pulau laut kalsel dingsanakai !
r.amstrong
Aq salut dengan suku dayak,dan aq bangga punya saudara orang suku dayak....HIDUP SUKU DAYAK.
Lelie
Puna mantap ih te,,,nambah are2 ih mangat uluh luar katawan kesah dan budaya mitah je puna are dan bahalap....tingkatkan!!
Pang tujuh
hahaha........klo aq sih dah naik tingkat sekarang dah jadi PANGTUJUH berarti lebih tinggi dari panglima. aq bangga sebagai suku dayak asli dari dayak ibanic group.
idho anag ibu
syakira itu cuma crita nenek moyang yang turun tmurun saja..dan skarang itu uda lalu...sekarang kita cuma bagai mana menjaga hutan kalimantan....yg uda mulai habis...diambil oleh tangan tangan tak bertanggung jawab...oke"""
by idho borneo boy
cici
Ramah ,pemalu ,dan penyabar... YIRU TU'U SIFAT ULUN DAYAK ...tapi bila kesabaran sudah habis mereka bisa menjadi sangat bengis spt yg terjadi pada tragedi sampit , karempangi....WELUM DAYAK maaataaaaap !
Pangalok
Kalau yang dari Ibanic Group bilang tadi, dia lebih tinggi dari Panglima sebab dia Pangtujuh. Panglima sama Pangtujuh masih rendah dari saya sebab saya ini Pangalok lebih tinggi dong dari Pangtujuh (wow abizzzt)(Kamuda Kanayatn-Kalbar)hik...hik..hik.....ame alok boh.
andry hartono
ulun sangat kagum dengan panglima burung yang ulun tahu dan dengar cerita nya... soal nya ulun baru pulang dari banjarmasin...
feri
saya salah satu orang yang baru tau tapi saya juga ingin tau
aliyono
saya baru mengetahui ttg panglima burung beberapa tahun lalu, saat terjadi kerusuhan etnis di kalteng. kita berdoa aja agar kejadian serupa itu tidak terulang lagi. kasihan mereka yang ngak tahu apa-apa
tommy
respect to every tribe in Indonesia, dayak tribe is one of amazing tribes that our country has.
tommy
tapi saya prihatin sama kondisi alam kalimantan yg di eksploitasi abis2 an, kayak kaltim yg bnyk punya KP (kuasa pertambangan) bikin banjir di kaltim. Kalimantan, Papua, pulau lain di Indonesia yg memprihatinkan..
Aldi
bagus banget ceritanya panglima burung emank baik,penyabar tp serem jg y kalau di marah hehehehe.... ^_^
Emank sih sayank bgt kalau kalimantan yg bgs keindahan alam y di potong hutan y sama org luar karena kalimantan kan msh byk kebudayaan dan yg plg penting byk hewan" yg lucu biarpun serem" dikit sih hohohoho....
TP aq bingung knp y byk bgt yg sering bakar utan...? ,kan kasihan hewan yg ada di dlm hutan itu....
willy
cerita yang cukup menarik untuk pengetahuan tentang kalteng....
orang bakar utan itu untuk memperluas lahan untuk bertani.,yang jadi masalhxkan waktu membakar untuk membuka lahan baru itu APInya sering ga djga...jdi meluas dech APInya sampai2 kebun pnya orng jga ikut trbkr,,padahl Bapak Gubernur sudah memberi peringatan untuk tidak membakar lahan tanpa adanya pengawasan...jdi untuk masalah ini ga ada pihak yg bisa d salahkan,tpi kesadaran dari masyarakatnya sendiri lh yang mampu mengontrol api tsb agar wktu membakar apinya tidak mengenai atau meluas sampai mengenai kebun mlk orng dan hutan yang d lindungi oleh pemerintah.....jaya kalteng ku
yohanes
Panglima Burung adalah Panglima Perang Dayak yg akan tetap hidup dan tak akan pernah mati untuk selamanya.... Hidup Dayak... Kalau berani jangan takut-takut, Kalau takut jangan berani-berani.
Expoison
panglima burung krennnnnn
Binyo
Yah, permasalahan konflik antara suku dayak vs suku non dayak terjadi disebabkan oleh beberapa aspek ,, salah satunya ialah arogansi dari suku non dayak yg blum mau beradaptasi secara fleksibel di borneo . seharusnya perilaku sosial di representasikan dengan baik oleh mereka supaya dapat saling menjaga keharmonisan antar satu dan yang lain .. tdk hanya suku dayak , suku-suku mana pun khususnya di indonesia apabila keberadaannya di tanah kelahiran merasa terganggung niscaya akan memberikan sebuah reaksi yang tendensinya negatif . keanekaragaman ini harus kita jaga bersama-sama ,, hidup indonesia raya ...
Aji
Saya muslim dari suku jawa,saya tidak memihak spa2 dsini.tragedi sampit harus dlihat dg kcmata yg obyektif.saya pikir apa yg dlakukan oleh suku dayak tdk bsa spenuhx dsalahkan walaupun keterlaluan karena dri fakta yg ada suku madura yg memulai duluan apalagi mreka sbagai pendatang.apa yg akan kta lakukan jika tanah kta djajah oleh pihak lain?tentu kta semua akan mjawab dg jawaban sama yaitu mempertahankan diri /melawan.tpi saya sangat menyayangkan saudara2 kta yg lain tak tau apa2 ikut jdi korban.ini karena ulah segelintir orang tak bsa menghormati suku lain sbagai tuan rumah.suku dayak tidak melakukan pemberantasan tapi perang yg tentunya pasti ada pembantaian.utk saudaraku muslim madura yg tdk bersalah tpi ikut jadi korban AKU SAYANG KALIAN
yayan
ada versi lain dari cerita panglima burung... dia seorang sosok alam gaib... (kalo dari pandangan agama Islam boleh disebut Jin baik) namun hanya dapat dipanggil dalam keadaan tertentu oleh suku dayak,
konon katanya... setelah beberapa bulan terusirnya madura di kalteng... para tokoh paranormal dari madura ingin mengirim santet dan semacamnya ke pulau kalimantan.. namun gagal ilmunya.. (berdasarkan pengetahuan tokoh pintar dari kalimantan, pulau kalimantan telah dikelilingi tombak yang sangat banyak sehingga ilmu sakti manapun dari luar kalimantan tidak akan sampai menembus kalimantan)
tidak bisa mengirim ilmu santet dari luar kalimantan, maka para tokoh madura datang ke kal-sel dengan membawa 10.000 (sepuluh ribu) Jin untuk mengganggu masyarakat di kal-sel,, sehingga banyak kejadian kesurupan massal di sekolah sekolah, para tokoh di kalsel pun mencoba untuk melawan dengan 300 jin... namun tidak mampu mengalahkannya... namun tak berapa lama datang tokoh dayak yang membawa sesosok makhluk gaib yg sangat.. sangat.. sangat besar... sehingga 10.000 jin itu pada berlarian pergi... seorang tokoh dari kalsel pun takjub... dia bilang "baru kali ini saya benar2 menyaksikan Panglima Burung"...
nah spt itulah sedikit versi lain Panglima Burung... bukannya manusia hidup sekarang yg mengaku ngaku sebagai panglima burung
John
Sedikit nimbrung saudara2ku dan berbagi pengalaman. Saya dulu juga pernah tinggal beberapa bulan di Kalimantan, tepatnya Singkawang tahun 1996, kalbar. Saya pernah bertanya ke beberapa penduduk pribumi setempat tentang keberadaan Panglima Burung. Menurut salah satu orang tua di kampung itu "PB" adalah roh nenek moyang yang menjelma dalam diri seorang Pemuda pilihan untuk melaksanakan satu misi penting jika sukunya dalam bahaya dan salah satunya berperang. Tapi selama saya cermati dan berinteraksi secara lebih dekat orang-orang suku dayak adalah orang-orang yang sangat murah hati, pemaaf dan tidak pernah berfikiran negatif terhadap siapapun. tapi mereka juga tidak segan dalam menindak siapapun yang berniat menyakiti ataupun menginjak-injak kehormatan suku ataupun adat istiadat dayak. Sekedar sharing aja saudara-saudaraku
haryo
Berkat artikel ini saya bisa tahu tentang apa dan siapa "Panglima Burung". Mungkin bisa diulas tentang sejarah suku dayak mas. Karena banyak orang luar kalimantan yang telah terlanjur menganggap orang dayak sbg sosok yg kejam, sadis dll setelah peristiwa sampit. Walaupun kenyataannya tidak demikian benarnya. Salut untuk bentang.com yg telah ada dan akan terus ada untuk memajukan potensi kalimantan melalui tulisannya. thank's
bopo suripto
Kebenaran sepertinya tidak ada itu semua hanya legenda saja.Dan patut ketahui bahwa orang dayak itu sakti dan lain sebaginya hanya untuk menkut-nakuti orang lain.bukti mengatakan lain waktu peperangan di sampit sesungguhnya aparat keamanan sangat berpihak kepada orang dayak.seperti orang madura di ambil semua senjatanya sedangkan orang orang dayak di biarkan.coba anda lihat di desa parebok orang dayak banyak yang mati disana itu hanya melawan satu orang saja yaitu KH MAKDUR KETURUNAN WALISONGO DAN KETURUNAN NABI MUHAMMAD,,,SETIAP DIA BERTARUNG SETIAP HARINYA MELAWAN LIMA BAHKAN SAMPAI 5 TRUK ORANG DAYAK SEHARI itu dilakukan sampai satu minggu,,,,dia bilang sebelum kerusuhan berani berkorban asal semuanya selamat..setelah masyarakat parebok sudah aman maka dia pun wafat sebagi syuhada yang melawan keganasan perilaku syetan yang ada pada diri manusia.
orang dayak sengaja menutupi ini karena mereka takut akan kelemahan mereka bahwa mereka dengan masyarakat lainnya sama aja tidak sakti..
dan setelah kejadian ini orang madura bersumpah akan sama melakukan seperti yang mereka lakukan,
isratulyakin
asli crit ini sangat menarik sekali......aku suka
anang acil
jaharu ikam bopo suripto ikam handak men test urang kalimantan kah mengesahkan nang kada" ayo ksini na anak kampang nie
bopo suripto
ngapain mau percaya ama kaya gituan,sekarang tahun 2010 jangan bikin provokasi dan bikin orang-orang awam,karena kebanyakan orang awam mencari informasi lewat dunia maya karena dunia maya di anggap pedoman (kitab suci yang datang aling akhir)pembodohan massal sebaiknya di akhiri lebih baik membuktikan siapa saja yang korupsi daripada mengorek-ngorek kisah panglima burung.
jangan-jangan panglima burungnya itu adalah orang demokrat.dan dayaknya adalah orang no 1 di indonesia.atau jangan jangan panglima burungnya adalah simbol kutukan,mangkanya burung garuda bikin sial rakyat karena jadi lambang pendeitaan dan bertuliskan bhinnika tunggal ika(yang sengsara orang miskin juga)
Gajah mada
Panglima burung itu adalah woro sableng dan penerusnya adalah saya sang pangeran burung.Pada abad ke 6 SM,Sbelum Theles lahir ibunya mengidamkan telur mata burung lalu sang ayah mencari kian kemari,tapi hasilnya nihil lalu dia memutuskan untuk mendatangi sebuah kerajaan maya (bukan internet)dan dia mendapat wangsit dari langit setelah dia bermiditasi di belakang rumah saya.saya pada waktu itu sudah berumur 40 tahun,memasuki area kewalian.Ternyata ayah theles mengejar burung berwarna kuning,karena burung itu suka bersikap semau gue dan bertempat tinggal di pohon beringin.setelah dia mengejar cukup lama burung itu lelah dan mendatangi burung no 1 di indonesia burung itu berwarna biru,rumahnya di langit,makanya dia ga pernah ngerti urusan burung-burung di bumi,burung-burung kere kaya aku.Ayah theles kelelahan dan berteduh di bawah pohon beringin.tiba-tiba datanglah banteng merah yang di tuntun oleh manusia berkaca mata.Merekapun berkenalan dan mengatakan bahwa burung kuning dan burung biru adalah sama2 musuh mereka.ayah thelespun senang karena sekarang ada dua makhluk yang akan membantunya mendapatkan burung.dia membayangkan dua burung itu dimasak dan dimakan oleh ibu Theles.Diapun berencana untuk menyembeleh banteng merah dan menjadikan pengembalanya sebagai pembantu.tapi tampa diduga banteng2 itu menyeruduk ayah theles.2 burung itu pergi ketempat yang lebih cocok,daerah yang beriklim tropis.sesampainya di kalimantan (saat itu namanya suku-dayak-makan-landak)mengeluarkan mental-mental cari muka,dan semua jurus muslihat agar korupsi tak terlihat.
santri sidogiri
ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون (المائدة: 44)
Para ulama kita menyatakan bahwa ayat di atas tidak boleh dimaknai secara harfiyah. Sebab mengambil faham harfiyah; dengan memaknai makna zhairnya akan menghasilkan bumerang. Artinya, klaim "kafir" secara mutlak terhadap orang yang tidak memakai hukum Allah akan kembali kepada dirinya sendiri. Artinya sadar atau tidak sadar ia akan mengkafirkan dirinya sendiri, karena seorang muslim siapapun dia, [kecuali para Nabi dalam masalah ajaran agama], akan jatuh dalam dosa dan maksiat. Artinya, ketika orang muslim tersebut melakukan dosa dan maksiat berarti ia sedang tidak melaksanakan hukum Allah. Lalu, apakah hanya karena dosa dan maksiat, bahkan bila dosa tersebut dalam kategori dosa kecil sekalipun, ia dihukumi sebagai orang kafir?! Bila demikian berarti semenjak dimulainya sejarah kehidupan manusia tidak ada seorangpun yang beragama Islam, sebab siapapun manusianya pasti berbuat dosa dan maksiat. karenanya, firman Allah di atas tidak boleh dipahami secara harfiyah "Barangsiapa tidak memakai hukum Allah maka ia adalah orang kafir", pemahaman harfiyah semacam ini salah dan menyesatkan.
Al-Imam al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya dalam penjelasan ayat ini menyatakan bahwa ayat ini mengandung takwil sebagaimana dinyatakan oleh sahabat Abdullah ibn Abbas dan sahabat al-Bara’ ibn Azib. Al-Qurthubi menuliskan sebagai berikut:
“Seluruh ayat ini turun di kalangan orang-orang kafir (Yahudi). Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam Shahih Muslim dari hadits sahabat al-Bara’ ibn Azib. Adapun seorang muslim, walaupun ia melakukan dosa besar [selama ia tidak menghalalkannya], maka ia tetap dihukumi sebagai orang Islam, tidak menjadi kafir. Kemudian menurut satu pendapat lainnya; bahwa dalam ayat di atas terdapat makna tersembunyi (izhmar), yang dimaksud ialah: ”Barang siapa tidak memakai hukum Allah, karena menolak al-Qur’an dan mengingkarinya, maka ia digolongkan sebagai orang-orang kafir”. Sebagaimana hal ini telah dinyatakan dari Rasullah oleh sahabat Abdullah ibn Abbas dan Mujahid. Inilah yang dimaksud dengan ayat tersebut” [al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, j. 6, h. 190].
Selain penafsiran sahabat Abdullah ibn Abbas dan al-Bara’ ibn Azib di atas, terdapat banyak penafsiran serupa dari para sahabat lainnya. Di antaranya penafsiran Abdullah ibn Mas’ud dan al-Hasan yang menyebutkan bahwa ayat tersebut berlaku umum bagi orang-orang Islam, orang-orang Yahudi maupun orang-orang kafir, dalam pengertian bahwa siapapun yang tidak memakai hukum Allah dengan menyakini bahwa perbuatan tersebut adalah sesuatu yang halal maka ia telah menjadi kafir. Adapun seorang muslim yang berbuat dosa atau tidak memakai hukum Allah dengan tetap menyakini bahwa hal tersebut suatu dosa yang haram dikerjakan maka ia digolongkan sebagai muslim fasik. Dan seorang muslim fasik semacam ini berada di bawah kehendak Allah; antara diampuni atau tidak.
Pendapat lainnya dari al-Imam al-Sya’bi menyebutkan bahwa ayat ini khusus tentang orang-orang Yahudi. Pendapat ini juga dipilih oleh al-Nahhas. Alasan pendapat ini ialah;
1. Bahwa pada permulaan ayat ini yang dibicarakan adalah orang-orang Yahudi, yaitu pada firman Allah; “Lilladzin Hadu…”. Dengan demikian maka dlamir [kata ganti] yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah orang-orang Yahudi, bukan orang-orang Islam.
2. Bahwa pada ayat sesudah ayat ini, yaitu pada ayat 45, adalah firman Allah; “Wa Katabna ‘Alaihim…”. Ayat 45 ini telah disepakati oleh para ahli tafsir, bahwa dlamir yang ada di dalamnya yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi. Dengan demikian jelas antara ayat 44 dan 45 memiliki korelasi kuat bahwa yang dimaksud adalah orang-orang Yahudi [sebagaimana hal ini dapat dipahami dengan ’Ilm Munasabat al-Ayat].
Kemudian diriwayatkan bahwa sahabat Hudzifah ibn al-Yaman suatu ketika ditanya tentang ayat 44 ini; “Apakah yang dimaksud oleh ayat ini adalah Bani Isra’il?” sahabat Hudzaifah menjawab menjawab; “Benar, ayat itu tentang Bani Isra’il”. Sementara menurut al-Imam Thawus [murid Abdullah ibn Abbas] bahwa yang dimaksud “kufur” dalam ayat 44 ini bukan pengertian kufur yang mengeluarkan seseorang dari Islam, tetapi yang dimaksud “kufur” disini adalah dosa besar. Tentu berbeda, masih menurut Imam Thawus, dengan apa bila seseorang membuat hukum dari dirinya sendiri kemudian ia meyakini bahwa hukumnya tersebut adalah hukum Allah [atau lebih baik dari hukum Allah], maka orang semacam ini telah jatuh dalam kufur; yang telah benar-benar mengeluarkannya dari Islam. Al-Imam Abu Nashr al-Qusyairi, [dan Jumhur Ulama] berkata bahwa pendapat yang menyatakan orang yang tidak memakai hukum Allah maka ia telah menjadi kafir adalah pendapat kaum Khawarij. [Kelompok Khawarij terbagi kepada beberapa sub sekte. Salah satunya sekte bernama al-Baihasiyyah. Kelompok ini mengatakan bahwa siapa saja yang tidak memakai hukum Allah, walaupun dalam masalah kecil, maka ia telah menjadi kafir; keluar dari Islam].
Dalam kitab al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihain, al-Imam al-Hakim meriwayatkan dari sahabat Abdullah ibn Abbas dalam mengomentari tiga ayat dari surat al-Ma’idah (ayat 44, 45 dan 46) di atas, bahwa Abdullah ibn Abbas berkata: “Yang dimaksud kufur dalam ayat tersebut bukan seperti yang dipahami oleh mereka [kaum Khawarij], bukan kufur dalam pengertian keluar dari Islam. Tetapi firman Allah: “Fa Ula-ika Hum al-Kafirun” adalah dalam pengertian bahwa hal tersebut [tidak memakai hukum Allah] adalah merupakan dosa besar”. Artinya, bahwa dosa besar tersebut seperti dosa kufur dalam keburukan dan kekejiannya, namun demikian bukan berarti benar-benar dalam makna kufur keluar dari Islam. Pemahaman semacam ini seperti sebuah hadits dari Rasulullah, bahwa ia bersabda:
سباب المسلم فسوق وقتاله كفر (رواه أحمد)
(Mencaci-maki muslim adalah perbuatan fasik dan membunuhnya/memeranginya adalah perbuatan “kufur”). HR. Ahmad.
“Kufur” yang dimaksud dalam hadits ini bukan pengertian keluar dari Islam. Bukan artinya; bila dua orang muslim saling bunuh, maka yang membunuhnya menjadi kafir. Bukankah ”hukum bunuh” itu sendiri salah satu yang disyari’atkan oleh Allah, misalkan terhadap para pelaku zina muhsan [yang telah memliki pasangan], hukum qishas; bunuh dengan bunuh, memerangi kaum bughat [orang-orang Islam yang memberontak], dan lain-lain. Apakah kemudian mereka yang memberlakukan hukum bunuh tersebut telah menjadi kafir??!! Tentu tidak, karena nyatanya jelas mereka sedang memberlakukan hukum Allah.
Oleh karenanya peperangan sesama orang Islam sudah terjadi dari semenjak masa sahabat dahulu [lihat misalkan antara kelompok sahabat Ali ibn Abi Thalib, sebagai khalifah yang sah saat itu, dengan kelompok Mu’awiyah], dan kejadian semacam ini terus berlanjut hingga sekarang. Apakah kemudian orang-orang mukmin yang berperang atau saling bunuh sesama mereka tersebut menjadi kafir; keluar dari Islam??! Siapa yang berani mengkafirkan sahabat Ali ibn Abi Thalib, Ammar ibn Yasir, az-Zubair ibn al-Awwam, Thalhah ibn Ubadillah, Siti Aisyah [yang notabene Istri Rasulullah], dan para sahabat lainnya yang terlibat dalam perang tersebut??!! Orang yang berani mengkafirkan mereka maka dia sendiri yang kafir. Kemudian dari pada itu, dalam al-Qur’an Allah berfirman:
وإن طائفتان من المؤمنين اقتتلوا (الحجرات: 9)
Dalam ayat ini dengan sangat jelas disebutkan: “Apa bila ada dua kelompok mukmin saling membunuh....”. Artinya sangat jelas bahwa Allah tetap menyebut dua kelompok mukmin yang saling membunuh tersebut sebagai orang-orang mukmin; bukan orang kafir.
Yang ironis adalah ayat 44 QS. Al-Ma’idah ini oleh beberapa komunitas yang mengaku gerakan keislaman seringkali dipakai untuk mengklaim kafir terhadap orang-orang yang tidak memakai hukum Allah, termasuk klaim kafir terhadap orang yang hidup dalam suatu negara yang tidak memakai hukum Islam. Bahkan mereka juga mengklaim bahwa negara tersebut sebagai Dar Harb atau Dar al Kufr. Klaim ini termasuk di antaranya mereka sematkan kepada negara Indonesia. pertanyaannya; negara manakah yang secara murni memberlakukan hukum Islam??
Sayyid Quthub dalam karyanya “Fi Zhilal al-Qur’an” menyatakan bahwa masa sekarang tidak ada lagi orang Islam yang hidup di dunia ini, karena tidak ada satupun negara yang memakai hukum Allah. Menurutnya suatu negara yang tidak memakai hukum Allah waluapun dalam masalah sepele maka pemerintahan negara tersebut dan rakyat yang ada di dalamnya adalah orang-orang kafir. Kondisi semacam ini menurutnya tak ubah seperti kehidupan masa jahiliyah dahulu sebelum kedatangan Islam. Pernyataan Sayyid Quthub ini banyak terulang dalam karyanya; Fi Zhilal al-Qur’an. Lihat misalkan j. 2, h. 590, dan h. 898/ j. 2, Juz 6, h. 898/ j. 2, h. 1057/ j. 2, h. 1077/ j. 2, h. 841/ j. 2, h. 972/ j. 2, h. 1018/ j. 4, h. 1945 dan dalam beberapa tempat lainnya. Juga ia sebutkan dalam karyanya yang lain, seperti Ma’alim Fi al-Thariq, h. 5-6/ h. 17-18
Terakhir, saya kutip tulisan A. Maftuh Abegebriel yang menyimpulkan bahwa kekeliruan dalam memahami QS. al-Ma'idah: 44 tersebut adalah salah satu akar teologis dan politis dari berkembangnya gerakan radikal di beberapa negara timur tengah, seperti gerakan Ikhwan al-Muslimin pasca kepempinan dan wafatnya Syaikh Hasan al-Banna (Rahimahullah). Padahal di negara Mesir, yang merupakan basis awal gerakan al-Ikhwan al-Muslimun, belakangan menolak keras kelompok yang dianggap ekstrim ini bahkan memejarakan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Faham Sayyid Quthub di atas seringkali dijadikan “ajaran dasar” oleh banyak gerakan, seperti Syabab Muhammad, Jama’ah al-Takfir Wa al-Hijrah, Jama’ah al-Jihad, al-Jama’ah al-Islamiyyah dan banyak lainnya. Muara semua gerakan tersebut adalah menggulingkan kekuasan setempat dan mengklaim mereka sebagai orang-orang kafir dengan alasan tidak memakai hukum Islam. [Lebih luas tentang ini baca di antaranya; A. Maftuh Abegebriel, Fundamentalisme Islam; Akar teologis dan politis (Negara Tuhan; The Thematic Incyclopaedia), h. 459-555]. karenanya oleh beberapa kalangan, Sayyid Quthub dianggap sebagai orang yang menghidupkan kembali faham sekte al-Baihasiyyah di atas.
Sekali lagi, anda jangan memahami ayat di atas secara harfiyah. karena bila anda memahami secara harfiyah maka berarti sama saja anda menanamkan "akar terorisme" pada diri anda...!!! Hati-hati...!!!
QUEEN BIRD
Ada 3 Sifat Baik Burung Lelaki
DISIPLIN : Setiap pagi selalu bangun.
SOPAN : Setiap lihat wanita seksi selalu berdiri.
HORMAT : Selalu menunduk kalau lihat wanita yang sudah peot.
Ratu Burung
Panglima Burung
Tidak salah Tuhan menciptakan yang satu ini,kenapa punya pria disebut “burung”ternyata ada beberapa sebab :
1.Anda Tahu Burung Dara/ Merpati jika dilepas maka dia akan kembali ke kepasangannya,betapa setianya tuh burung,ada tetapinya kalau ada yang ngeplek/mancing dijalan kadang tuh burung belok,dalam artian kadang ada cewe cantik belok/selingkuh.
Dan Burung itu mempunyai sifat :
2- SOPAN- SANTUN , tiap lihat wanita cantik,SEXY selalu berdiri
3- HORMAT UNTUK YANG TUA, menunduk kalo lihat nenek2
4- DISIPLIN, Malam bangun kadang Pagi Bangun
5- TIDAK KELUAR KEMANA-MANA,selalu didalam kandang
6- KUAT Menahan beban 70 Kg
Ratu Burung
Cara Manguatkan Panglima Burung
udh lupa ini thread copas dari mana.. yang penting bagi-ilmu aja ya peace.. AMSIONG
Setiap lelaki akan merasa bangga jika mempunyai penis yang besar dan panjang. Karena pada saat berhubungan seks, jika penis tidak bisa tegak dan membesar (ereksi), maka bisa membuat pasangan akan merasa kecewa dan tidak puas. Walau ukuran penis tak menjadi satu-satunya tolok ukur bagi kaum adam untuk membuktikan 'kejantanan' mereka, namun tak ada salahnya jika kaum pria mulai peduli dan melakukan beberapa usaha untuk meningkatkan 'performa' dari organ reproduksi mereka tersebut.
Adapun tanda-tanda dari ereksi yang normal, penuh dan keras adalah sebagai berikut :
1. Bila penis dipegang atau dipencet akan terasa keras.
2. Penis tidak bisa ditekuk karena kaku sehingga sering disebut kayu.
3. Bila digoyang, penis akan bergoyang dan bergetar lalu kembali pada posisi semula.
Seberapa keras ereksi tersebut jarang diperhatikan. Tetapi kadang ereksi menjadi terganggu karena kondisi tubuh yang kurang fit, maka ukuran ereksi dan tingkat 'kekerasannya' akan menjadi sangat penting artinya.
Beberapa resep tradisional di bawah ini mungkin bisa bermanfaat untuk meningkatkan 'performa' penis (zakar) :
~ Menguatkan Penis
Ambil daun jarak dan daun jeruk nipis, kemudian tumbuk hingga halus. Setelah itu di-borehkan ke penis selama 1/2 jam. Lakukan setiap hari saat bangun dari tidur.
Jika anda melakukan resep ini secara teratur selama satu bulan, maka membuat penis Anda akan lebih tegak, kokoh dan kuat.
~ Mengeraskan Penis
Sebelum berhubungan seks, oleskan minyak bulus pada batang penis sambil diurut-urut pada batang penis. Sesudah dioleskan biarkan beberapa saat supaya minyak bulus tersebut meresap dan melancarkan sirkulasi darah batang penis. Sesudah itu dibersihkan dengan air hangat.
~ Memperbesar Penis
Bahan-bahan :
1 Sendok makan adas pulosari
2 ekor lindung atau belut liar (bukan yang diternakkan)
4 - 5 pucuk benalu cemara (banyak terdapatdisisi batang cemara).
Cara mengolah :
Belut dipotong antara tubuh dan kepalanya dan diambil kepalanya saja. Panggang kedua kepala belut tersebut di atas api hingga hangus dan menjadi arang. Lalu digerus sampai menjadi bubuk yang halus. Adas pulosari dan pucuk benalu cemara ditumbuk jadi satu, kemudian disaring dan ambil sarinya saja, kurang lebih seperempat cangkir.
Campurkan bahan tersebut dengan bubuk kepala belut sebanyak setengah sendok teh. Sisa bubuk kepala belut yang lain dapat dipergunakan untuk hari berikutnya. Selanjutnya aduk sampai rata, lalu campurkan ludah basi (ludah yang diambil habis bangun tidur pagi hari) aduk yang rata, gunakan bahan ramuan ini untuk mengurut penis.
Caranya mengurutnya dari atas (pucuk) penis, arah mengurut menurun. Lama pengurutan kurang lebih 10 menit, bahan ramuan di atas untuk sekali pakai. Esok paginya buat ramuan baru. Lakukan cara ini sampai satu bulan penuh, biasanya hasilnya sudah nampak dan memuaskan, penis akan membesar dan kuat.
~ Memperkuat Daya Seksual
Bahan-bahan :
2 buah jeruk purut
25 butir merica hitam
Garam seujung kuku
Cara membuatnya:
Jeruk diperas dan diambil airnya. Lada atau merica hitam ditumbuk sampai halus. Ketiga bahan (jeruk, merica, garam) dicampur dan aduk sampai rata. Kemudian minum sampai habis dengan ampasnya sekalian.
Aturan minum:
Diminum setiap hari pagi siang dan malam selama 1 bulan maka kejantanan anda akan pulih kembali. Jika sudah sembuh anda cukup minum satu kali setiap minggu. Maka kejantanan anda akan senantiasa terjaga.
~ Untuk Menyembuhkan Impotensi
Bahan-bahan :
500 gram buah pare, 250 gram kerang hijau yang sudah di kupas, 100 gram cabai hijau, 100 gram cabai merah, 150 gram tomat, 6 buah bawang merah, 3 siung bawang putih, 3 iris jahe, 3 iris kunyit, 3 iris lengkuas, 2 lembar daun salam, 1 batang serai, garam dan gula pasir secukupnya, minyak goreng secukupnya.
Cara mengolah :
Setelah dicuci bersih, buang biji buah pare kemudian dipotong atau diiris kasar-kasar. Iris cabai merah, cabai hijau dalam bentuk menyerong. Tomat di iris kasar. Tumislah semua bumbu sampai setengah layu, masukkan tomat, pare, kerang hijau, besi garam dan gula pasir secukupnya. Aduk sampai merata hingga setengah matang lalu angkat dan siap untuk disantap.
Resep-resep tersebut di atas diolah secara tradisional dari bahan-bahan alami yang hampir tak memiliki efek samping. Nah, selamat mencoba.
Ratu Burung
Dicari seorang pangliam burung yang bisa memuaskan saya...
punyaku gatel benget nih pa ada ya kalau ada hubungi saya...tak tunggu layanan dan pastinya dapat imbalan dari saya
Panglima Burung Tahayyul
Singkirkan Segala yang Berbau Tahayyul
Dari Khadijah, Rasulullah mendapatkan banyak anak, tiga putra dan empat empat putri. Mereka adalah Qasim, Thahir, Thayyib, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, dan Fathimah. Namun hanya Fathimah saja yang berumur agak panjang, hingga menurunkan anak-cucu. Setelah Khadijah wafat, beliau menikah lagi. Akan tetapi dari semua istrinya beliau tidak mendapatkan keturunan. Sampai akhirnya Rasulullah menikahi Maria al-Qibthiyah. Dari wanita ini lahir seorang anak laki-laki yang sangat di cintai oleh Nabi. Anak itu kemudian diberi nama Ibrahim.
Ternyata nasib Ibrahim sama dengan putra-putra beliau terdahulu. Ia wafat pada usia 18 bulan. Rasulullah sangat sedih ditinggal mati oleh anak kesayangannya. Beliau menangis, dan dari bibirnya keluarlah kata-kata yang mengiris perasaan. “Ibrahim, sayang ! Kami tak dapat berbuat apa-apa untukmu. Kehendak Ilahi tak dapat diubah. Ayahmu berlinang air mata. Hatinya sedih dan pilu atas kematianmu. Namun, kami tak akan mengatakan sesuatu yang akan menimbulkan kemarahan Allah. Apabila tidak ada janji Allah bahwa kami akan menyusulmu, kami akan menangis lebih banyak dan akan lebih sedih karena berpisah denganmu.” Seorang sahabat, Abdurrahman bin Auf menegur Nabi karena tangisnya ini. Ia berkata, “Tuan melarang kami menangisi orang mati, kenapa tuan sendiri menangis ketika anak tuan meninggal ?”. Sikap kritis sahabat Nabi ini ditanggapi dengan sopan , Rasulullah menyampaikan bahwa beliau tidak pernah melarang seseorang menangisi orang yang mati. Yang dilarangnya adalah apabila tangisan tersebut keterlaluan sehingga berkata-kata yg tidak sepatutnya, merobek-robek bajunya, dan menyayat-nyayat badannya. Berkabung dengan cara seperti inilah yang dilarang Rasulullah.
Menangisi orang mati itu wajar, apalagi yang mati adalah anaknya sendiri. Justru orang yang tidak terharu pada saat orang dekatnya meninggal, tidak bersedih hati, dan tidak juga mengeluarkan air mata, maka orang tersebut tak lebih dari sebongkah kayu yang tidak layak disebut manusia.
Hampir bersamaan dengan kematian putra Rasulullah ini terjadi peristiwa alam, yaitu gerhana matahari. Maka tersebarlah kabar di masyarakat bahwa gerhana ini terjadi karena kematian Ibrahim, putra Nabi. Rupanya tradisi jahiliyah masih juga terbawa-bawa ketika mereka sudah menjadi muslim. Ada kecenderungan atau lebih tepatnya kegandrungan masyarakat menghubung-hubungkan suatu peristiwa dengan peristiwa yang lain. Padahal secara ilmiah antar peristiwa itu tidak ada hubungannya sama sekali. Mengetahui adanya berita ini, Rasulullah pergi ke masjid kemudian beliau naik mimbar dan berpidato, “Matahari dan bulan adalah dua tanda kekuasaan (ayat) Allah. Keduanya tunduk pada perintah-Nya. Gerhana keduanya tidak terjadi karena kematian atau kehidupan seseorang. Bilamana terjadi gerhana matahari atau bulan, lakukanlah shalat.” Setelah mengatakan hal tersebut belaiu turun dari mimbar lalu melakukan shalat gerhana bersama-sama.
Sebelum Islam datang, di tanah Arab berkembang subur praktek tahayyul. Kepercayaan ini telah melekat, mendarah daging pada masyarakat. Mereka sangat bergantung sekali dengan kepercayaan yang irrasional ini. Suatu kali Umar bin Khaththab tertawa geli. Para sahabat bertanya-tanya kenapa Umar tertawa sendiri. Dalam keadaan masih setengah geli ia menceritakan bahwa dulu ia pernah makan tuhan. Tentu saja tuhan yang dimaksudkan Umar adalah tuhan buatannya sendiri.
Suatu ketika ia bepergian untuk berniaga. Seperti biasa ia menyiapkan segala perlengkapan, termasuk barang-barang yang dipercayai mengandung ‘magis’. Akan tetapi kali itu ia lupa membawa barang itu. Tentu saja ia sangat gelisah . Mengetahui kegelisahan ini, sahabatnya mengusulkan agar Umar membuat tuhan buatan (patung) dari bahan tepung, yang mirip dengan aslinya. Singkat cerita, di tengah perjalanan semua bekal makanan telah ludes, sementara perjalanan masih jauh.. Dengan terpaksa Umar makan tuhan (patung) buatannya sendiri. “Aku telah makan tuhan,” katanya.
Tidak saja Umar, Rasulullah sendiri semasa kecil juga mengalami hal yang sama. Bedanya, Umar betul-betul melakukan, sementara Rasulullah dihindarkan oleh Allah sehingga tak sampai melakukannya. Pada usia empat tahun, sebagaimana kanak-kanak lainnya, Muhammad kecil ingin menyertai saudara-saudara angkatnya ke hutan.
Keinginan ini disetujui oleh Halimatus-Sa’diyah, ibu asuhnya. Akan tetapi pada hari berikutnya, Muhammad dimandikan, rambutnya diminyaki, dan matanya dicelaki. Demi keselamatannya, tak lupa ia mengalungkan tasbeh Yaman yang bertusuk benang. Maksudnya, agar Muhammad terhindar dari roh-roh jahat. Muhammad kecil diselamatkan Allah dari perbuatan syirik ini. Ia melepaskan tasbeh yang menjadi jimat itu dari lehernya, sambil menenangkan ibu asuhnya bahwa Allah telah melindungi dan memeliharanya.
Tahayyul atau mitos telah berkembang di masyarakat yang masih terbelakang maupun yang sudah maju. Semakin terbelakang tingkat pendidikan suatu kaum, semakin banyak mitos yang berkembang di sana. Ada korelasi antara kualitas pendidikan dengan perkembangan tahayyul. Meskipun demikian bukan berarti tahayyul atau mitos itu mati jika suatu bangsa atau kaum telah maju tingkat pendidikannya. Di negara paling maju sekalipun ternyata mitos itu masih bisa hidup dan berkembang. Bahkan orang-orang modern telah mampu mengemas mitos dengan bungkus ilmiah. Tidak heran jika kemudian di jaman modern ini masih ditemukan orang-orang yg percaya pada ramalan-ramalan yg didasarkan pd mitos-mitos tertentu. Setiap ada pergantian tahun ada ramalan nasib dihubungkan dengan tahun babi, tahun tikus atau yang lain. Para dukun peramal ini makin canggih, seiring dgn kecanggihan jaman itu sendiri.
Bila dulu para dukun membuka praktek di tempat yang jauh, di lereng bukit atau di desa terpencil, maka dukun sekarang buka praktek di hotel-hotel berbintang dengan tarif tinggi. Yang datang tentu saja bukan sembarang orang, sebab paling tidak harus berkantong tebal. Di antara mereka ternyata banyak yang katanya terpelajar. Juga masih banyak didapati pedagang yang sebelum membuka dagangannya, mereka berkonsultasi terlebih dulu kepada dukun. Ia minta saran tentang waktu yang tepat dan berbagai persyaratan untuk membuka usahanya. Praktek yang paling lazim adalah dalam memilih waktu pernikahan. Orang tua yang hendak menikahkan anaknya selalu memilihkan ‘waktu yang tepat’. Pemilihan waktu ini didasarkan semata-mata pada kepercayaan tentang ‘hari baik’. Padahal Allah SWT telah menciptakan semua hari itu baik. Memang ada hari-hari tertentu yang sangat baik, seperti kedua hari raya, hari Jum’at, atau bulan Ramadhan. Akan tetapi hari baik atau bulan baik itu kaitannya dengan ibadah, bukan yang lainnya.
Mitos-mitos seperti ini berkembang hingga sekarang, padahal sama sekali tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah. Pikiran sehat manapun tidak bisa menerima perhitungan hari, baik dikaitkan dengan bintang, dengan hari kelahiran, atau apa saja. Hanya mereka yang sudah terlanjur kesusupan virus tahayyul saja yang bisa menerima dan mempercayainya.
Jika kita mau pindah rumah, maka pindahlah. Yang perlu dilakukan adalah menyelesaikan semua urusan administrasi, pamit pada tetangga lama yg mau ditinggalkan, kemudian berta’aruf dengan tetangga baru, mengemasi perabot dengan hati-hati, jika perlu mengadakan syukuran dengan mengundang kerabat dan tetangga kanan-kiri, tak perlu lagi berpikir, apakah hari ini baik atau buruk. Tak usah ditanyakan, apakah rumah itu membawa sial atau untung. Singkirkan segala kepercayaan tahayyul. Memerangi kepercayaan ini ternyata tidak pernah ada habisnya. Sepanjang hidupnya Rasulullah menghadapi mitos-mitos yg telah berkembang subur di masyarakatnya. Tidak gampang mencabut kepercayaan yg sudah terlanjur mengakar. Al-Qur’an menyebutkan dengan jelas bahwa salah satu misi yang diemban Rasulullah adalah melepaskan belenggu yang mengikat tangan dan kaki manusia. Belenggu itu bukan rantai besi, tapi segala jenis kemusyrikan. Termasuk di dalamnya adalah tahayyul atau mitos yang berkembang di masyarakat. Itulah belenggu yg memberati langkah maju manusia. Allah berfirman: “…. dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yg ada pada mereka…” (QS. al-A’raaf : 157)
Sebagai ummat Muhammad SAW kita berkewajiban selalu menyeru agar tetap waspada akan semua kepercayaan, mitos dan tahayyul yang berkembang dan sengaja dihidup-hidupkan oleh oknum-oknum tertentu.
[Lembar Jum'at Al Qalam Diterbitkan Oleh : Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Edisi : 06/VII, 26 Dzulqa'idah 1417, 04 April 1997]
Panglima Burung Tahayyul
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Manusia di zaman nabi Adam alaihissalam tentu sudah berpakaian yang lengkap dan menutup aurat. Kalau anda melihat lukisan yang katanya gambar nabi Adam dan isterinya, Hawwa, dengan telanjang atau berpakaian seadanya, itu adalah khufarat dan tahayyul. Dan sesungguhnya merupakan penghinaan kepada nabi. Dan menghina nabi merupakan dosa besar yang bisa menggugurkan syahadat. Lukisan seperti itu sama mungkarnya dengan lukisan nabi Muhammad.
Nabi Adam adalah nabi sekaligus makhluk cerdas pertama di bumi yang sudah pandai berbahasa dengan fasih, berpakaian indah dan menutup aurat, serta berperadaban maju. Al-Quran pun berpesan kepada anak-anak Adam untuk berpakaian, bukan seadanya, tapi pakaian yang indah, terutama ketika masuk masjid.
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A'raf:31)
Maka dahuluketika masih di surga terjadi hal-hal yang membuatnya terbuka aurat, maka Adam dan isterinya segera menutup aurat mereka dengan daun-daun surga. Jelas sekali bahwa urusan aurat ini sudah sangat dijaga oleh keduanya. Bagaimana mungkin ketika turun ke bumi, lalu keduanya hanya pakai cawat dan bikini saja? Sungguh sebuah khurafat sesat yang diajarkan orang barat.
Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia .(QS. Thaha: 121)
Penyebaran Agama di Pedalaman dan di Peradaban
Memang secara jujur harus kita akui bahwa saat ini para tokoh muslim tertinggal dalam menggarap wilayah terasing untuk penyebaran dakwah. Tentu ada banyak faktor yang menjadi latar belakang. Selain masalah dana, konsentrasi umat Islam saat ini memang sedang dalam proses mengIslamkan warga yang lebih maju, yaitu bangsa barat, baik Eropa, Amerika maupun Australia.
Jadi kalau pendeta kristen sedang sibuk mengIslamkan suku terasing, kita sebagai muslim sedang sibuk mengIslamkan bangsa-bangsa maju di dunia. Dan grafik pertumbahan umat Islam di Eropa dan Amerika sangat mencengangkan. Islam adalah agama yang paling cepat pertumbuhannya di sana.
Jadi kalau kita bikin hitung-hitungan untung rugi sederhana, tetap saja kita lebih untung, karena objek dakwah kita justru bangsa maju yang punya potensi sangat besar. Mereka sudah maju, kaya, berilmu, menguasai teknologi dan seterusnya. Bandingkan dengan objek dakwah yang masih belum pakai baju, tentu nilainya sangat berbeda.
Tapi bukan berarti kita boleh tinggal diam dan masa bodoh dengan kristenisasi di masyarakat terasing itu. Kita tetap wajib menyampaikan risalah Islam kepada mereka. Tentu ini juga merupakan pe-er besar buat umat Islam Indonesia.
Prestasi Penyebaran Islam
Kalau kita jujur dengan sejarah, sebenarnya yang bisa dibilang paling sukses dalam penyebaran ajarannya adalahagama Islam. Sebab hanya dalam waktu 50 tahun saja, manusia di setengah bulatan muka bumi sudah memeluk agama ini.
Bukan hanya sekedar dikenal dan dipeluk, bangsa-bangsa yang masuk Islam itu kemudian naik ke pentas peradaban dan secara bergiliran memimpin peradaban dunia. Mewariskan berbagai peninggalan sejarah yang hingga kini dipercaya sebagai jembatan antara Eropa kuno dengan Eropa modern.
Ketika Rasulullah SAW meninggal dunia, seluruh jazirah Arab sudah memeluk Islam. Ketika khalifah Umar bin Al-Khattab memerintah, tiga imperium besar jatuh ke tangan umat Islam: Romawi, Persia dan Mesir. Di masa khalifah Utsman bin Affan, Islam telah sampai ke negeri Cina. Bahkan menurut Buya Hamka, para shahabat nabi itu telah sampai juga di nusantara, salah satunya adalah Yazid bin Mu'awiyah.
Bandingkan dengan agama masehi yang di negerinya sendiri mengalami penghancuran. Di Eropa agama yang aslinya dibawa oleh nabi Isa 'alaihissalam malah mengalami perubahan mendasar, aqidah monotheisnya diganti dengan politheis. Sehingga tuhannya yang tadinya Maha Esa, cuma satu saja, yaitu Allah SWT, kemudian diubah sehingga tuhannya ada tiga. Nabi Isa yang hanya manusia biasa tiba-tiba di Eropa naik pangkat jadi tuhan juga.
Dalam kondisi yang 'ganti mesin' seperti itu, agama masehi kemudian disebarkan dengan paksa kepada rakyat, bahkan gereja Eropa berhasil memaksakan 'kesesatan' dan 'kesetanan' mereka ke gereja timur. Padahal awalnya gereja-gereja timur belum lagi berpaham trinitas, tapi karena kalah pengaruh akhirnya semua gereja mengamini konsep aqidah yang 100% berlawanan dengan ajaran nabi Isa yang asli.
Gereja barat yang berpaham keberhalaan (paganisme) berhasil menaklukkan gereja timur lewat sidang Konsili, 300-an tahun setelah wafatnya nabi Isa. Sejak itu seluruh sekte pada agama nabi Isa berubah menjadi tidak ada bedanya dengan agama-agama penyembah berhala. Agama nasrani mengalami proses penurunan degradasi, dari agama samawi yang agung, suci dan mulia, menjadi agama ardhi (bumi) yang rendah, syirik, bengis dan haus darah.
Kristen di Nusantara
Bangsa Indonesia tidak pernah mengenal agama Kristen kecuali lewat jalur darah dan mesiu. Sebab yang datang menyebarkan agama kristen paganis memang para penjajah yang punya tiga jurus. Gold, Gospel and Glory. Prajurit dan pastor dari Portugis serta Belanda datang ke negeri kita membawa angin kematian sekaligus kesesatan agama berhala plus tahayyulnya.
Padahal 9 abad sebelumnya, nusantara ini sudah kedatangan para da'i dari jazirah Arabia, bukan dari Gujarat.Maka secara penuh kesadaran, rakyat nusantara ini mulai belajar peradaban, teknologi, ilmu pengetahuan dan sistem kehidupan yang jauh lebih modern dari yang diajarkan oleh para biksu Budha dan ajaran kuno nenek moyang. Satu persatu mereka masuk Islam, mulai dari rakyat sampai akhirnya kerajaan-kerajaan Hindu Budha yang besar dan pernah jaya, semua ikut masuk Islam.
Sriwijaya, Majapahit, Singosari, Pajajaran adalah kerajaan-kerajaan besar yang generani penerusnya kemudian masuk Islam. Bahkan setelah abad ke-13, kerajaan itu sudah berganti menjadi negara Islam. Mulai dariSamudera Pasai, negara Demak Bintoro yang dipimpin oleh 9 wali (walisongo) hingga kerajaan induk suku Jawa, Keraton Mataram, semuanya adalah puncak penyebaran Islam di bumi pertiwi.
Jadi kalau dibandingkan dengan mengkristenkan suku primitif yang dilakukan oleh para misionaris sekarang ini, apa yang telah dilakukan oleh para da'i muslim di masa lalu sangat jauh berbeda nilainya. Yang dijadikan sasaran dakwah adalah negara dan para raja, pusat-pusat peradaban, bukan sekedar suku terasing.
Memang karakter Islam ketika disebarkan ke seluruh dunia sangat unik, sifatnya membangun peradaban. Maka kerajaan yang sudah maju dan besar umumnya akan lebih mudah masuk dan memeluk Islam. Lihat saja, di masa awal, yang memeluk agama Islam ini adalah kerajaan Romawi, kerajaan Persia dan kerajaan Mesir. Bahkan kerajaan India dan Cina. Semua adalah peradaban besar.
Suku Terasing Tetap Perlu Diperhatikan
Namun bukan berarti suku terasing tidak perlu dipikirkan, hanya saja skala prioritasnya tentu berbeda. Dan salah besar kalau dituduh bahwa penyebaran agama Islam ini tidak sampai ke pelosok wilayah yang terasing.
Sebut saja misalnya nama Irian sebagai sebuah pulau. Nama ini adalah nama yang disematkan oleh para penyebar agama Islam. Konon nama 'Irian' berasal dari istilah bahasa arab, yaitu 'uryan' yang maknanya tidak berbusana alias telanjang.
Barangkali ketika para penyebar agama Islam sampai di pulau ini di masa lalu, mereka mendapati penduduknya -saking primitifnya- tidak ada yang pakai baju. Maka disebutlah pulau ini dengan nama Urian atau Irian.
Suku Terasing Menjadi Objek Kristenisasi
Sebenarnya kita sebagai muslim tidak perlu susah hati kalau ada suku terasing yang diajak masuk kristen. Itu adalah hak para pastor dan pendeta. Dalam hal ini sebaiknya umat Islam bersaing saja secara sehat saja.
Kalau para pastor bisa membangun bandara di pulau terasing itu, maka tentu ini tantangan besar buat para da'i muslim, khususnya ormas dan orsospol keIslaman untuk melakukan proyek yang sama. Jadi kita bersaing secara adil dan sehat.
Pemurtadan
Namun yang sebenarnya lebih kita khawatirkan justru pemurtadan oleh para misionaris di tengah masyarakat yang sudah memeluk agama Islam. Sebab angkanya sangat besar dan hal ini jelas melanggar kode etik hubungan antara umat beragama.
Letak kecurangannya adalah bahwa bangsa ini yang sudah capek-capek diIslamkan sejak masa lalu, diangkat dari kubangan syirik dan lumpur keberhalaan oleh para wali, tiba-tiba diserobot oleh para pastor itu dan dimurtadkan dari agama Islam. Padahal nilai investasi yang telah dibenamkan oleh para penyebar dakwah sudah tidak ternilai harganya.
Bayangkan, sejak negeri ini masih bergelimang dengan paham keberhalaan, masih doyan makan kemenyan, hobi menyembah goa, batu dan pohon, mereka sudah digarap dengan baik dan dibuat maju cara berpikirnya, lalu mereka masuk Islam. Sekarang ketika penduduk negeri ini sudah benar-benar maju dan menjadi muslim berperadaban, tiba-tiba ada yang jadi penadah. Mereka tidak mau capek-capek mengerjakan dari awal. Tiba-tiba masyarakat muslim mereka diajak masuk geraja untuk ikut natal. Tiba-tiba di tengah pemukiman muslim, ada rumah yang dibikin acara kebaktian di dalamnya.
Semua ini adalah sebuah pengkhianatan besar dari kalangan kristen kepada umat Islam. Mereka bukan sekedar menyelamatkan 'domba-domba yang tersesat', tetapi sudah merampas domba milik orang orang lain secara tidak sah.
Inilah yang sangat kita sesalkan. Ketika mereka membangun sekolah kristen di semua wilayah negeri ini, dan ternyata yang sekolah di sana justru mayoritas muslim, ini sudah pelanggaran besar. Mereka menangkap ikan di kolam yang ada pemiliknya. Kalau menangkap ikan di laut lepas, silahkan saja. Nanti kita saling berlomba secara beradab. Tapi kolam ikan yang sudah ada pemiliknya, tentu tidak boleh dicuri dengan menerobos masuk. Ini penjarahan namanya.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Panglima Burung Tahayyul
Tinjauan Khurâfat dan Tahayyul
I. Pengertian
a. Khurafat
Khurâfat secara bahasa berarti takhayul, dongeng atau legenda
Sedangkan khurâfy adalah hal yang berkenaan dengan takhayul atau dongeng.
Dalam kamus munawir khurafat diartikan dengan: hal yang berkenaan dengan kepercayaan yang tidak masuk akal (batil)
Pengertian khurâfat dalam Islam
Khurâfat ialah semua cerita sama ada rekaan atau khayalan, ajaran-ajaran, pantang-larang, adat istiadat, ramalan-ramalan, pemujaan atau kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Islam .
Berdasarkan pengertian di atas, khurâfat mencakup cerita dan perbuatan yang direka-reka dan bersifat dusta. Begitu juga dengan pemikiran yang direka-reka merupakan salah satu bentuk khurafat.
b. Takhayul
Secara bahasa, berasal dari kata khayal yang berarti: apa yang tergambar pada seseorang mengenai suatu hal baik dalam keadaan sadar atau sedang bermimpi.
Dari istilah takhayul tersebut ada dua hal yang termasuk dalam kategori talhayul, yaitu:
1. Kekuatan ingatan yang yang terbentuk berdasarkan gambar indrawi dengan segala jenisnya, (seperti: pandangan, pendengaran, pancaroba, penciuman) setelah hilangnya sesuatu yang dapat diindera tersebut dari panca indra kita.
2. Kekuatan ingatan lainnya yang disandarkan pada gambar idrawi, kemudian satu dari unsurnya menjadi sebuah gambar yang baru. Gambar baru tersebut bisa jadi satu hal yang benar-benar terjadi, atau hal yang diluar kebiasaan (kemustahilan). Seperti kisah seribu satu malam, Nyai Roro Kidul dan cerita-cerita khurafat lainnya.
Takhayul diartikan juga: percaya kepada sesuatu yang tidak benar (mustahil) . Jadi takhayul merupakan bagian dari khurâfat.
Takhayul menjadikan seorang menyembah kepada pohon, batu atau benda keramat lainnya, mereka beralasan menyembah batu, pohon, keris dan lain sebagainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah (Taqarrub) atau karena benda-benda tersebut memiliki ke-digdaya-an (baca: kesaktian) yang mampu menolak suatu bencana atau mampu mendatangkan sebuah kemaslahatan. ini salah satu dampak takhayul. Jika demikian maka Tauhid Rubûbiyyah dan Tauhid Ibadah seorang hamba akan keropos dan hancur. Firman Allah;
ما نعبدهم إلا ليقربونا إلى الله زلفى (الزمر:3)
"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya"... (QS. 39:3).
Takhayul juga merupakan senjata para ahli bid'ah dalam menguatkan argumennya dengan dalih bahwasanya ini adalah sesuai dengan syari'at yang disandarkan secara dusta kepada salafus shalih.
Di antara faktor-faktor yang mendorong terjadinya khurâfat ialah :
1. Mudah mempercayai benda-benda takhayul
2. Dangkalnya ilmu agama
3. Terpengaruh dengan kelebihan seseorang atau sesuatu benda
Penolakan Islam terhadap mental khurâfat
1. Kepercayaan dan amalan dalam Islam berdasarkan keyakinan bukan sangkaan (Dzan)
2. Tidak mengikut hawa nafsu dan emosi
3. Menolak taklid buta
4. Melarang kepada seorang muslim untuk menuruti pemimpin yang zalim
5. Menolak dakwaan tanpa bukti
Apakah khurâfat dan takhayul juga termasuk syirik?
Untuk menetapkan hukum tersebut terlebih dahulu kita perlu mendefinisikan makna tauhid dan makna syirik, sehingga kita dapat menghukumi apakah khurafat dan takhayul termasuk syirik atau bukan.
Makna Tauhid
Tauhid berasal dari kata وحد يوحد yang berarti mengesakan atau menganggap satu.
Dalam pengertian syar'i berarti mengesakan Allah Swt. dalam hal kekhususanNya sebagia Rububiyah Uluhiyah dan Asma' dan Sifat. Ketiga hal tersebut tertuang dalam firman Allah:
Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilahdalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah) (QS. 19:65)
Secara garis besar Tauhid terbagi menjadi tiga, yaitu: Tauhid Rubûbiyah, Tauhid Ulûhiyyah dan Tauhid Asma wa Sifat.
1. Tauhid Rubûbiyyah; yaitu mengesakan Allah bahwa Dia adalah satu-satunya Pencipta, Penguasa dan Pengatur alam semesta ini. (al A'rof 54) (al Imran 179) (Yunus:31,32)
2. Tauhid Ulûhiyyah, atau disebut dengan tauhid Ibadah; yaitu mengesakan Allah dalam beribadah kepadaNya. (Luqman: 30)
3. Tuahid Asma wa Sifat; yaitu mengesakan nama-nama dan sifat-sifat Allah. Dalam hal ini mencakup dua hal: pertama menetapkan seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah, yang telah Dia tetapkan atas DzatNya pada al Qur'an dan Sunnah. Kedua adalah meniadakan penyerupaan baginya. Firman Allah "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Meliha"t. (QS. 42:11)
Tauhid yang dibawa oleh para rasul mencakup beberapa hal, yaitu menetapkan ketuhanan Allah Swt. Yang Esa dengan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, tidak beribadah kecuali kepadaNya, tidak menyerahkan segala urusan kecuali padaNya, tidak ada perlindungan kecuali milikNya, tidak kembali kecuali kepadaNya, dan tidak beramal kecuali karenaNya dalam hal ini mencakup asma dan sifat yang telah ditetapkan Allah bagi DzatNya.
Dan Ilah kamu adalah Ilah Yang Maha Esa; Tidak ada Ilah melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. 2:163)
Jadi tauhid adalah mengesakan Allah dari segi Rubûbiyyah (bahwa Dia adalah pencipta alam semesta ini), Ulûhiyyah (bahwa Allah adalah satu-satunya sesembahan dan meminta pertolongan) dan Asma dan Sifat.
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut,... (QS. 16:36)
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun...(QS. 4:36)
Arti dari ayat diatas adalah: Allah menyerukan kepada hambanya untuk menyembahNya tanpa menjadikan sekutu baginya, bahwasanya Dia adalah pencipta dan pemberi rizki pemberi nikmat dan pemberi karunia karunia kepada seluruh hambaNya pada semua keadaan. Maka sudah pasti Dialah yang lebih berhak untuk diesakan dan tidak menjadikan bagiNya sekutu.
Bagaimana nasib bagi orang yang mensekutukan Allah? Dalam hal ini Allah berfirman:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. 4:48)
Jadi syirik adalah menjadikan sekutu bagi Allah dalam hal ketuhananNya, atau menyembah selain Allah, dan menyerupakan sifat-sifat dan nama-nama Allah dengan yang lainnya. Atau mempercayai sesuatu diluar dari yang digariskan oleh Allah atas hambaNya.
Pada dasarnya, segala urusan dalam perkara Tauhid dan Ibadah harus mengikut al Qur’an dan Sunnah (al-It-tiba). Sementara perkara yang berkaitan dengan dunia berdasarkan rekaan kita (al-Ibtida’). Firman Allah:
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 5:3).
أنتم أعلم بأمور دنياكم
Rasulullah s.a.w. bersabda "Kalian lebih mengetahui dengan urusan dunia kalian”
Islam tidak membolehkan campurtangan manusia dalam hal urusan Ibadah, apalagi Tauhid. Sudah sepatutnya hanya mengikut apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya. Sementara dalam urusan keduniaan atau muamalat ia terbuka untuk manusia berkreativitas kecuali dalam perkara yang telah ditetapkan seperti haramnya riba, arak dan hukuman-hukuman yang telah ditentukan Allah s.w.t
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya:"Bahwasanya tidak ada Tuhan(yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. 21:25)
Penyembahan kepada Allah (ibadah) tidak boleh dilakukan kecuali dengan syari’at yang terkandung dalam kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Saw. Jadi setiap ibadah yang tidak mengikut kedua sumber tersebut maka ibadahnya ditolak berdasarkan hadis Nabi Saw. yang berbunyi:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
"Barangsiapa yang mengada-adakan dalam (urusan) agama ini suatu pekerjaan yang tiada daripadanya, maka (yang diada-adakan itu) tertolak." (Hadis Bukhari, Muslim).
Sementara hadis riwayat Abu Daud dan al-Tirmidhi yaitu hadis Hasan lagi Sahih menyatakan:
عن العرباض بن سارية رضي الله عنه قالو: وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم:... "إياكم ومحدثات الأمور فإن كل بدعة ضلالة" رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه وابن حبان في صحيحه وقال الترمذي حديث حسن صحيح
"Dan jauhilah oleh kamu akan perkara-perkara bid'ah (yang baru diada-adakan), kerana sesungguhnya tiap-tiap bid'ah itu adalah sesat."
Dari pengertian khurâfat, takhayul dan tauhid di atas kita bisa menyimpulkan bahwa: khurâfat dan takhayul adalah bagian dari syirik yang dilarang oleh Islam, karena khurâfat dan takhayul merusak kepercayaan dan peribadatan seorang hamba kepada Allah, Tuhan Yang Esa.
Bagi pelaku syirik hukumannya adalah: tidak akan mendapatkan ampunan dari Allah pada hari kiamat kelak.
II. Pengaruhnya pada bangunan masyarakat Islam
Seperti diketahui, sistem ibadah dalam Islam adalah sistem yang par excellen, satu dan lainnya saling melengkapi, sehingga menjadikan manusia sempurna untuk menjadi khalifah di muka bumi.
Ibadat yang betul dan sempurna seperti dikehendaki agama tidak memaksa orang menyisihkan diri dari masyarakat. Merubah hal ibadat dan apa yang ditentukan Allah dan RasulNya akan membawa kepada perpecahan ummat. Selanjutnya perpecahan akan menjadi penghalang untuk membangun ummat yang kokoh.
Peribadatan yang benar akan menjadikan umat pada satu kesatuan akidah dan amalan yang sempurna, menciptakan masyarakat yang bekerjasama, gotong royong dan terbinanya akhlak yang mulia.
Sedangkan khurâfat yang timbul dari prasangka, menuruti hawa nafsu, taklid buta dan berpegang pada kepercayaan tanpa bukti yang benar akan melahirkan masyarakat yang rapuh. Ummat mudah roboh karenanya.
Maka khurâfat dan takhayul semestinya harus dijauhi oleh pribadi setiap muslim.
III. Solusi Islam dalam mengembalikan ummat pada akidah shahihah
Untuk menanggulangi khurâfat dan takhayul yang terjadi pada masyarakat, perlu usaha setiap muslim mendalami ilmu agama. sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis nabi Saw.:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
" Aku telah tinggalkan kamu 2 perkara selama mana kamu berpegang teguh dengannya, tidak akan sesat selama-lamanya iaitu al-Quran dan sunnahku"
Dengan pemahaman Islam yang benar insyâAllah akan terjaga dari pemikiran-pemikiran khurâfat yang menyimpang. Wawlahua'lam bisshowab.
Burung Ababil
Agama memiliki keunikan tersendiri, unik karena setiap orang akan memiliki interpretasi yang beraneka ragam. Bagi sebagian orang agama dimaknai sebagai rutinitas spritual, bagi sebagian lain dimaknai sebagai segala tindakan yang bermuara pada kebenaran dan kebaikan.
Agama selalu muncul dalam ruang waktu yang berbeda-beda, sehingga bagi sebagian orang agama masih merupakan sebuah term yang harus dimaknai sesuai dengan perkembangan ruang dan waktu. Pada masa klasik, manusia mengenal agama sebagai sebuah tariqah menuju kebenaran dengan pemahaman yang sangat sempit. Bagi mereka agama memiliki makna ukrawi, sehingga dalam rana kehidupannya senantiasa dibumbui dengan hal-hal yang bersifat ukhrawi semata (ibadah mahdlah), manusia di masa klasik lebih cenderung meninggalkan urusan dunia demi tergapainya urusan ukrawi dengan kata lain, manusia mengesampingkan sebuah anugra yang sangat besar yaitu akal. Masa tersebut lebih dikenal dengan istilah “masa tradisionalisme”.
Waktu berjalan seiring dengan perkembangan jaman, manusia sudah melupakan agama karena bagi mereka agama hanya akan menjadikan seseorang terbelakang, mereka mulai membongkar kekuatan-kekuatan yang tersimpan dalam dirinya. Jaman ini menjadikan akal sebagai tuhan baru, karena bagi mereka hanya dengan akan manusia akan mampu membuka tabir-tabir kehidupan. Pada masa ini, agama tidak lagi memiliki peranan, keadaan ini didukung oleh Bapak psikotrapi Sigmund Frued dengan kritikannya bahwa manusia harus melepaskan diri dari agama karena agama baginya hanyalah sebuah ilusi belaka yang bersifat tahayyul. Kemudian diperkuat oleh Nietzscher seorang ateis terkemuka dunia dengan sebuah idenya “Tuhan telah mati”. Masa ini lebih dikenal dengan sebutan “jaman modertnisme”.
Agama kembali muncul pada masa post modertnisme, ketika manusia mulai menyadari bahwa mereka telah diperbudak oleh akal pikirannya. Berbagai peperangan terjadi karena setiap manusia berlomba-lomba memperkuat persenjataan. Masa post modertnisme muncul bersamaan dengan runtuhnya negara adikuasa Rusia. Pada masa inilah, agama kembali menemukan peranannya.
Namun sangat disayangkan, pada abad 21 ini, agama kembali menjadi persoalan krusial yang tak kunjung padam. Rangkaian peristiwa kekerasan selalu dinisbatkan pada agama. Peristiwa 11 september, Bali, Poso, Ambon bahkan baru-baru ini di Landon dan sharm el-musheh tidak lepas dari isu agama. Banyak kalangan beranggapan bahwa agama telah gagal menyebarkan kedamaian, cinta, kasih sayang, dan kemanusiaan. Ironinya, klaim kegagalan atas agama selalu dialamatkan pada umat Islam.
Lantas timbul sebuah pertanyaan. Apakah yang menyebabkan agama kembali menemukan kegagalannya dalam menyebarkan ajaran-ajarannya? Apakah agama Islam memiliki sifat anakronistik (tidak sesuai untuk jaman tertentu)? Untuk menjawab itu semua, timbul berbagai macam aliran yang berusaha merekonstruksi ulang tentang hukum-hukum dan ajaran-ajaran Islam yang berlaku.
Aliran liberal berpendapat untuk membenahi dan memajukan umat Islam harus diadakan reinterpretasi terhadap ajaran-ajaran Islam terutama yang berkaitan dengan muamalah sosial, karena bagi mereka interpretasi yang dihasilkan oleh ulama-ulama salaf tidak lagi memiliki ruang pada masa-masa saat ini, hal ini disebabkan karena adanya perbedaan sosial budaya yang berlaku.
Hasan Hanafi dengan kitabnya min al-aqidah ila as-tsaurah berusaha menjawab tuduhan-tuduhan para orientalis yang mengatakan bahwa Islam dengan ideologinya menjadi sebab terjadinya perpecahan diantara umat Islam, Islam dituduh tidak mampu menjawab tantangan kontemporer yang berkaitan dengan sosial budaya masyarakat. Kemudian dengan kitabnya min an-naqli ila ibda’ beliau berusaha menjawab tuduhan-tuduhan orientalis yang mengatakan bahwa Islam mengadopsi ajaran-ajaran Yunani, Budhaisme, Paris, dan sebagainya. Islam dituduh sebagai agama yang hanya melakukan pentaklidan tanpa memberikan konstribusi-konstribusi yang murni dari ajarannya. Dan yang terakhir dalam kitabnya min an-nash ila waaqi’ beliau berusaha menjawab steotipe para orientalis yang mengatakan bahwa Islam merupakan agama kekerasan yang hanya mensyariahkan tentang qishash, potong tangan, penyaliban, dan pembebanan bagi orang-orang yang tidak mampu memikulnya. Hasan at-Thurabi seorang pembaharu Sudan mencetus sebuah fiqih baru yang berusaha membangkitkan umat Islam untuk tidak hanya mengurus urusan furu’iah akan tetapi pada persoalan yang lebih komplek dan rumit seperti persoalan ekonomi dan sebagainya.
Sementara aliran garis keras masih berusaha mempertahankan hasil ijtihat yang dilakukan oleh ulama salaf karena bagi mereka, ulama salaf jauh lebih hati-hati dalam mengambil sebuah keputusan hukum dan secara kualitas keabsahan jauh lebih bisa dipertanggungjawabkan dari pada ulama-ulama masa kini. Perubahan yang terjadi pada masa sekarang bagi mereka tidak lain hanyalah perputaran kembali peritiwa-peristiwa di masa lalu.
Islam merupakan agama yang memiliki landasan-landasan yang paling komplit dibanding dengan agama-agama samawi lainnya. Islam memiliki ajaran-ajaran yang bersifat syumul dengan Al-qur’an sebagai landasan utama yang didukung oleh keberadaan hadits, ijma’ dan qiyas. Al-qur’an merupakan wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad yang mencangkup kehidupan manusia baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Sementara keberadaan hadits sebagai penguat atau penjelas dari ajaran-ajaran Al-qur’an yang masih bersifat umum. Begitu pula dengan Ijma’ dan Qiyas merupakan cara legal untuk menetapkan sebuah hukum yang tidak tercantum secara tersurat baik dalam Al-qur’an maupun hadits.
Pada masa-masa sekarang ini, umat Islam masih terbelenggu dalam rana kemunduran, hal tersebut disebabkan karena umat Islam masih bergelut pada hal-hal yang bersifat furui’ah. Umat Islam masih merasa bangga dengan keberasilan-keberasilan yang dicapai oleh ulama-ulama terdahulu tanpa berusaha untuk melanjutkan atau paling tidak mempertahankan kejayaan itu. Umat Islam masih terlalu kaku untuk mengambil sebuah tindakan yang bersifat kemaslahatan. Hukum-hukum Islam hanya dipandang sebelah mata tanpa mempelajari secara sempurna tentang makna dari tersyariahkannya hukum-hukum tersebut.
Bagi penulis, kita tidak perlu sampai melampaui batas untuk merubah tatanan Al-qur’an yang telah sempurna, akan tetapi yang harus kita perbaharui adalah tentang pemahaman kita tentang ajaran-ajaran Al-qur’an, karena ketika kita membaca Al-qur’an maka kita akan mengerti makna yang tertulis dan jika kita kembali membacanya maka kita akan menemukan pemahaman yang berbentuk lain yang mungkin akan lebih syumul, dan begitu seterusnya, semakin banyak kita berusaha mempelajari dan memahami makna literatur Al-Qur’an maka semakin banyak pula pemahaman yang akan kita peroleh, begitu pula dengan hukum-hukum normatif lainnya seperti hadits, ijma’ dan qiyas.
Untuk membawa umat Islam pada rana kemajuan, kita umat Islam harus selalu berusaha mempelajari dan menerapkan hukum-hukum Islam secara syumul dengan mempertajam keyakinan dan pemahaman kita bahwa norma-norma yang diterapkan dalam agama Islam tidak lain hanya untuk kemaslahatan umat manusia atau dengan kata lain membumikan ajaran-ajaran Islam atau hukum-hukum Islam karena pada dasarnya Tuhan tidak perlu dibela (Gus-Dur).
Burung Mana
Betul berul syetan sedang berubah jadi orang dayak....Makhluk paling kejam,suka makan orang,dan juga menyembelih orang untuk menyembah tuhannya yaiut syetan,,,
mudahan-mudahan orang dayak ga ada yang jadi mentri apalagi presiden bisa-bisa habis rakyat di jadikan persembahan tuhan2 mereka yaitu syetan
Burung Opes
betul....bisa-bisa ga bisa main ama panglima burung gue nih...kalau dayak jadi pemimpin..
Padahal Punyaku lagi oke banget bro...
Panglima Burung Tante
Iyo rek....
opo maneh kue Sipanglima burung
gole aku wae pasti weanak tenan..
ketimbang golek syetan ga ono hasile....
Burung babe
Nyian Panglima Burung
Lihat burungku penuh dengan bulu
bertelur dua sejak dari dulu
setiap hari kubawa selalu
kadang-kadang hidup dan juga layu..
Lihat burungku penuh dengan bulu
bertelur dua sejak dari dulu
setiap hari kubawa selalu
kadang-kadang hidup dan juga layu..
Lihat burungku penuh dengan bulu
bertelur dua sejak dari dulu
setiap hari kubawa selalu
kadang-kadang hidup dan juga layu..
Lihat burungku penuh dengan bulu
bertelur dua sejak dari dulu
setiap hari kubawa selalu
kadang-kadang hidup dan juga layu..
bopo suripto
Ini memang sejarah bro di desa parebok samuda berapa kali terjadi pertempuran dengan orang dayak,Dulu Kh abdul Qodir juga berperang dengan orang dayak.Pemicunya adalah tidak lain pada waktu itu oarang dayak sedang mencari tumbal untuk tewah dan pada waktu itu ada yang sudah kena yaitu orang hami 7 bulan.dan setelah itu Kh abdul qodir memerintahkan kesemua penduduk desa untuk mengungsi sementara kedalam pndok pesantren.setelah itu paman saya disuruh beristirahat di rumah yang memang sudah di incar oleh orang dayak pas tengah malam datanglah orang dayak untuk mengayau paman saya tetapi langsung di bunuh oleh Kh Abdul Qodir.
ternyata orang dayak tuh ga sakti juga sama aja.Tetapi yang buat mereka kalah adalah senjata mereka di rampas semua sama polisi bahkan jarum aja diambil sedang orang dayak di biarkan gimana tidak bisa menang.keledai aja yang ga bisa menang.
Kalau mereka mang sakti kenapa meraka beratus-ratus tahun di jajah ama belanda tidak bisa berbuat banyak dimana kesaktian mereka ga ada tuh ceritanya panglima burung bisa mengalahkan mereka sampai memenggal kepala mereka hanaya sekarang aja kan merka berkoar aku sakti.
Dan juga pada masa kalimantan ditaklukkna oleh gajah mada ga ada tuh yang bisa nandingi...kemana panglima burungnya ?katanya sakti mantra guna?
Generasi Parebok
kearifan Orang madura adalah mereka tidak memandang orang dayak itu salah karena pada hakikatnya yang membedakan kemuliaan orang bukan sukunya tetapi perbuatannya.Itulah sebabnya ketika orang 2 madura ingin membalas langsung si stop sama Kiyai semadura mereka bilang kalian bodoh berperang sama bangsanya sendiri dan lagian mereka juga mahkluk ciptaan allah,yang apabila kita membinasakannya sama saja kita tidak terima dengan ciptaan Allah mereka cuman tidak tahu aja sehingga mereka berbuat seperti itu dan untuk orang yang sudah meninggal tidak usah di tangisi karena mereka semua mati syahid karena mereka tidak tahu apa apa.
maka ketika itu orang-orang kalimantan yang ada di jawa semuanya aman.orang madura tidak ada tuh yang jelek-jelekin orang dayak karena mereka sadar satu jari menunjuj yang empat akan kembali ke dirinya sendiri.
Coz kalau boleh nantang orang dayak mari berlomba-lomba dalam kebaikan.
Parebok Bicara
Orang madura bukannya tidak mampu untuk melakukan perbutan seperti mereka seperti memenggal anak kecil,membunuh orang yang ga salah.
cuman karena aturan agama aja yang buat kita tidak membolehkannya contohnya pada waktu perang sampit ga ada tuh orang madura membunuh orang dayak sampit dan membunuh seenaknya.
Yang masuk kesampit itukan orang dayak dari kalbar,dan bahkan orang dayak yang ada di jawa cerita keluarganya dari kalbar banyak yang ikut berperang kesampit dan tidak kembali lagi itu tidak lain karena meraka banyak mati di desa parebok.
kalau ga perya kita punya bukti men..vidio..saksi hidup yang ikut perang dan juga camat samuda pada waktu itu.
saksi hidupnya cerita dan ketemu dengan saya aku bukan ga kebal katanya tapi terlalu banyak pada awalnya saya melawan sepuluh orang setelah mereka mati malah yang datang seratus orang dan pada waktu itu LORA MAKDUR menyuruh saya pergi dan sayapun pergi.
Sekarang orang-orang parebok dah siap segalanya...Allah bersama orang yang sabar dan teraniaya.
Keturunan wali songo di kalimantan tengah hanya ada di parebok
JAYA PAREBOK DESA SUCI DESANYA PARA WALIYULLAH
zaini
Saya orang banjar memang betul bp apa yang u ceritakan bahkan pada waktu itu aku ada di samauda pada hari pertama pertempuran di parebok melawan Lora Makdur saya kira dia sudah mati.Kemudia saya kesana untuk melihatnya eh pas ada disana beliu masih hidup dan orang2 dayak mati semua cuman yang masih hidup hanya sopirnya.itu karena sopirnya orang dayak parebok sendiri yang kawin dengan orang madura.
dan pada saat itu saya sadar andaikan orang madura tidak di tipu sama aparat keamananny san juga senjatanya tidak di ambil insyaallah dayak tidak akan berkutik.
Dan apa yang di ceritakan tentang panglima burung orang yang beragama islam kalau percaya maka itu perbuatan tahayyul yang sangat di benci alla dan di laknat allah
sekaranag mereka menyebarkan ini hanya untuk memusrikkan orang islam secara samar
Parebok
Di umumkan kepada semua masyarakat muslim yang ada di kalimantan di harapakan apabila masih belum ada yang diisi harap datang ke parebok.Disini kalian akan diisi dengan amalan para sahabat nabi,wali songo,Dan juga amalan joko tole yang mengalahkan Gajah Mada (yang menaklukkan kalimantan)antara lain
1.Ajian suanan bonang,sunan ampel,sunan gresik.dll
2.hizbul autad
3.hizbul abu bakar asyukron...amalannya sayyida umara ra sahabat nabi
4.hizbul Syekh abd qodir jailani...presidennya wali dunia
5.hizbul bahar(laut)
6.hizbul nasor..amalannya KH Hasim As'ari
7.sungai raja..amalannya joko tole yang mengalahkan gajah mada
8.toriqoh nagsabandiyah...amalannya tuan guru Zaini Ghoni martapura
9.Amalan menjadikan besi jadi air..amalannya lora makdur parebok
10.amalan bisa terbang...amalannya lora makdur parebok
11.bisa menghilang,kebal,memecah diri menjadi seribu...amalannya KH Abd Qodir pendiri pesantern tertua di kalteng dan juga pembasmi ngayau di parebok
12.Ajian gatot koco...
13.Asma badar...malan para sahabat nabi yang berperang pada perang badar
14.dan banyak lagi yang lainnya
SEMUANYA AKAN DI BIMBING LANGSUNG OLEH KETURUNAN WALISONGO,JOKO TOLE,DAN TENTUNYA KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW.ITU SEMUA UNTUK KEMASLAHATAN UMMAT ISLAM DI KALTENG YANG MULAI DI ADU DOMBA
PAREBOK MEMBERI BUKTI BUKAN JANJI MENGAMALKAN AMALAN NABI,SAHABAT NABI,WALIYULLAH,WALISONGO,DAN PARA ULAMA.
AL ULAMA WAROSATUL AMBIYA ULAMA PENERUS PARA NABI.
Bambang Pamungkas
Pengalaman saya sebagai pemain bola,saat saya bertandang ke kalimantan pada peka ke 30 saya bermain bola sebelum saya bermain bola tiba2 dengan keramahan masyarakat dayak yang begitu sabar pemurah aku jadi terharu dan tiada duanya selama aku mengarungi pertandingan di kota2 besar lainnya,Wanitanya pun cantik-cantik mulus bersih dan begitu lamah lembut.sehingga pada saat itu aku terpincut pada gadis kalimantan,,,,
kemudian kami menjalani hubungan pertemana,saling berkomunikasi pun kami lakukan sehingga pada saat yang tepat aku menembak dia.dan diapun menerima saya sebagai orang tambatan hatinya,,,
setelah kami resmi berhubungan beberapa bulan berikutnya kami melangsungkan pernikahan,,,
pada malam pertama istriku bilang ke saya mas panglima burungnya berdiri tuh katanya...besar dan kekar..sambil memegang panglima burung saya..panglima burung nih sakti mas katanya ..masa sih dik?iya ga percaya senjata yang paling ampuh yang digunakan setiap manusia ya ini pang lima burung,,,orang2 ada di dunia kan gara2 ada panglima burung..coba kalau tidak ada pasti sepi dunia.
dan buktinya panglima burung bisa membuat saya nikmat dan bisa juga buat saya sengsara ketika mau melahirkan.
kesaktian panglima burung yang paling nyata adalah memasukkan air bisa berubah jadi manusia,,,perut kempes bisa jadi kembung,,,bisa buat istri selalu tersenyum,,,dan juga bisa ditelan.
pokonya pangima burung senjata paling sakti di dunia
Megawati
Yup...pegalaman gue ama pangliam burung sangat menakjubka,,,ramah lembut...sopan,,,tapi kalau kemaunnya kumat di langsung berdiri ada di depan barisan melawan musuh yang ada di depan...buktinya setiap kali aku bertarung dengan pangima burung punyaku keluar duluan..
Dan satu malam kuat main berjam 2...sampai2 aku kecapean..
panglima burung memang edan..bisa buat ku bergelanjingan,,,bisa buatku ketagihan..
hidup panglima burung..hiduuuuuuuuuuuuuuuuuup
hidup tampa panglima burung apa kata duniaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.....
narang usop
ngapain pakai amalan...yang ribet gue nih punya amalannya pangliam burung..
ada amalan minak jinggo..miring..di jinjing monggo..
ada gaya lumba@ ..gaya patah2 gaya gergaji..
pokoknya enak tenan...me iso gawe amalan ku
Hamba Allah
Selagi diri masih berselimutkan hidup
segala yang terpakai hanyalah pinjaman
walau hanya sehela tarikan nafas
apalagi sekujur badan
dapatkah kau pertanggungjawakan... Wahai Dayak
Terhadap semua pebuatanmu pada Allah pencipta segenap alam
Kepada semua penghianatanmu ke pada hukum allah
Kepada semua makhluk yang engakau cincang dan engkau makan
Makhluk ciptaan Allah Yang Maha Esa termasuk juga kau Dayak...
Dan pendustaanmu pada Alqurn yaitu hukum allah dgn mengatakan Kalimantan adalah milik mu Bukan milik Allah
jawablah dengan cermin pada nuranimu sendiri.....
Arya Winata
saya merasa prihatin sekali pada sahabat dayak yang selalu mengejek dan mengatakan orang madura tidak pernah bermanfaat bagi anda.
ingat lah pada sejarah pengrbanan orang madura kepada orang kalimantan yang masih belum beragama islam.
1.Orang madura dari kerajaan demak adalah orang yang berjuang membantu pangeran samudra dan mengenalkan islam kepada orang melayu dan dayak..sehingga ada tuan guru ija...sehingga berkembangnya kerajaan islam di kalimantan tidak luput dari bantuan dari orang madura..apa kalaian pernah berterima kasih dan mengirimkan fatehah kepada orang yang telah mengenalkan islam sehingga kalian tahu bahwa islam itu agama yang benar.
2.Orang madura juga membantu ketika kerajaan di pontianak di serang dari sumatra
3.Raja jogjakarta adalah keturunan joko tole yang notabene dari madura tapi mereka tetap menerima putra2 dr kallimantan untuk menimba ilmu di sana.apakah kalian pernah berterima kasih
4.Di malang,surabaya,pasuruan,tempat putra-putri dari kalimantan menuntut ilmu selalu di jaga dan di anggap sebagai anak sendiri oleh orang2 madura..pernahkah kalian berterima kasih dan masih menjelek2 kan mereka
5.Dan juga presiden pertama kita SOEKARTNO YANG MENGAJARI DAN MENGISI ILMU KE BELIU ADALAH KH KHOLIL BANGKALAN masihkah kalaian menganggap orang madura tidak punya peran terhadap bangsa sehingga anda hidup di negara indonesia,tidak dijajah lagi oleh negara asing
6.Dan juga orang2 dayak mengatakan bahwa orang madura tidak berpendidikan...karena mereka tidak punya ijazah dan sekolah umum ..ingat orang madura adalah orang yang latar pendidikannya adalah santri..yang tentunya cara belajarnya yaitu melaui kitab kuning dan kalian memakai tulisan latin...tetapi perlu di ingat hakikatnya inti dari semuanya adalah sama..karena semua pelajaran umum yang anda pelajari adalah berasal dari kitab kuning atau salinan kitab kuning..
Didalam ajaran santri juga ada pelajarn mengenai tata negara....yang kemudian di terjemah dan di gunakan di sekolah umum.
Apa kalian masih meremehkan kemampuan dan intelktual orang madura,,,
Roy Cristin
Dayak adalalah penyembah syetan
Bagi suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, tradisi mengayau untuk kepentingan upacara Tiwah, yaitu upacara sakral terbesar suku Dayak Ngaju untuk mengantarkan jiwa atau roh manusia yang telah meninggal dunia menuju langit ke tujuh (Riwut, 2003 : 203). Menurut Lebar (1972 : 171), dikalangan masyarakat Kenyah, perburuan kepala penting dalam hubungannya dengan Mamat, yaitu pesta pemotongan kepala, yang mengakhiri masa perkabungan dan menyertai upacara inisiasi untuk memasuki sistem status bertingkat, Suhan, untuk para prajurit perang. Pemburu-pemburu kepala yang berhasil berhak memakai gigi macan kumbang di telinganya, hiasan kepala dari bulu burung enggang, dan sebuah tato dengan desain khusus..Serangan-serangan para pemburu kepala dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari sepuluh hingga dua puluh orang laki-laki yang bergerak secara diam-diam dan tiba-tiba. Mereka sangat memperhatikan pertanda-pertanda, khususnya burung-burung. Setelah digunakan dalam upacara-upacara Mamad, kepala-kepala itu digantung di beranda rumah panjang, berhadapan dengan ruang-ruang tengah yang menjadi tempat tinggal ketua rumah panjang. Di masa lalu Suku Dayak Kenyah dilaporkan sebagai pemburu kepala yang paling terkenal di Kalimantan. Seperti halnya suku Dayak Kenyah, suku Dayak Iban juga melakukan upacara perburuan kepala yang disebut Gawai. Upacara ini tidak hanya bersifat religius, tetapi juga melibatkan pesta besar-besaran dengan minum-minuman dan bersenang-senang
anang acil
ilmu apapun yg kita miliki sekalipun sakti nya manusia tu bila ia merampas hak" orang membohongi orang tentu tu akan memudar ilmu nya walau pun ia seorang turunan orang hebat , bukan kah madura hebat"ilmu nya lalu kenapa kalah ,karna dia tamak ,sombong,menghalal segala cara untuk kepentingan diri nya.dia anggap merasa paling hebat .
boji
Acil....Orang dayak paling merasa paling hebat,,,kenapa pada waktu penjajahan gajah mada,belanda,jepang ga yang ada bisa mengalahkan dan kenapa ilmu mereka tidak memudar ,,,padahal mereka lebih sombong,merampas,dan juga mengeruk semua kekayaan kalimantan,,,orang dayak ga ada yang membantu pulau2 lain lepas dari penjajahan,,,,orang dayak dalam berjuang dalam merebut kemerdekaan hanya ongkang2 kaki aja,,,yang membohongi tu sebenarnya orang dayak tidak ada tu namanya permusuan antarn suku,andaikan ada semestinya dari dulu,semenjak raja kotim,,siapa raja kotik apaka dia orang dayak,coba baca sejarah,,,raja kotim adlah masih keturunan joko tole...kenapa tidak berperang? itu tidak lain adalah orang dayak menyembah syetan,pemuratdan dan pemaksaan untuk tunduk dan mengikuti cerita dayak adalah sama artinya menyuruh orang lain murtad,
orang madura kala bukan ilmunya yang kalah...tp karena di tipu,,
pertama setelah orang madura unggul terus diadakan perdamain dan kemudian katanya damai setiap rumah orang madura harus di kasih kembang dalam botol sebagai tanda perdamain,kapolres,camat sampai turun langsung kedesa2 dan senjata orang madura di ambil semua dan orang dayak tidak, setelah itu baru orang dayak menyerang,,dan membantai orang yang ga megang apa2 ,,,hanya babi aja yang tidak bisa menang,,,
tidak ada tuh haknya orang dayak yang di rampas cuma untuk mencari-cari alasan aja untuk membenarkan perbuatannya..coz kalau memang ada yang merampok,merampas hak orang lain,berjudi,apakah orang dayak tidak,malahan kalau di lihat dari secara mendalam justru orang dakalah yang meman g akar masalahnya..kenapa,ssoalnya setiap tahun mereka selalu mencari tumbal kepala manusia untuk menyembah tuhan mereka,untuk membuat rumah,jembatan,dan juga untuk pesta2 lainnya seperti tewah,,apakah orang dayak tidak mengaca akan hal ini sebuah ajaran setan dan menyakiti hati agama lainnya...
Ilmu ga ada yang memudar karena di dalam alqur'an ada tiga rahasia tuhan yang tidak akan di ketahui manusia,,kematian,rizki,dan juga jodoh,,,
mansia tuh ga tahu apa2 hanya ngampung aja di dunia,,semuanya MILIk ALLAH SWT...
kalau boleh tahu kalimantan milik siapa,mana dahulu diciptakan dayak dengan kalimantan,,,
kalau sperti Kiyai,ulama,dan juga waliyullah,mereka mati bukan tidak sakti tp memang ajal mereka,,,ingat nabi muammad aja wafat,,,sahabat sayidan umar,ali,usman wafat di ujung pedang,,,terus menurut anda mereka tidak sakti,,terus kalau wafat mereka berdosa,dan bersalah tidak kan,,,terus kalau waktu dayak kalah dengan gaja mada,belanda,jepang,yang menurut pikiran anda apakah ilmunya orang dayak memudar,,,,terusa kenapa memudar?apakah karena sombong?,menghalalkan segala cara untuk kepentingan sendiri?,,,
jawabannya saya tunggu,,!
zarkasi
hati2 orang madura dan dayak kalau ngomong
perang suku hanya di jadikan sebagai alasan,,,untuk membunuh orang2 tidak berdosa demi kepentingan mereka saja....
memang cara mereka...begitu licik..
mereka menerapkan manajemen isu,manajemen konflik,manajemen solving dengan baik dan tersembunyi,,,orang dayak dan madura tuh ga tahu apa2 hanya di peralat aja.
buktinya yang sengsara tetap orang kecil yang kecil makin kecil dan yang kaya makin kaya,,,,
Ghoni
kalau mang dayak sakti,,,bisa ga membuat roh yang seperti ada di dalam diri manusia,siapa yang nyiptain manusia?,
siapa yang membuat orang dayak hidup?
siapa yang menciptakan kalimantan?
cara dayak mengucapkan terima kasih kepada tuhan bagaimana,...?
apakah kalimantan yang menciptakan orang dayak...?
zina
Mang kalau merampas,mengahalalkan segala cara dsb,,,apa buktinya seperti kh,ulama,dan juga anak2 kecil yang di bunuh tidak ada kan,,,kalau mau jujur dan membuktikan semuanya...harusnya kita harus sama2 turun ke daerah dan kepelosok desa dan catat apa aja yang d ambil dan di rampas dari orang dayak dan kita sama2 ingin tahu yang merampas hak itu siapa...dan di buktikan di hadapan orang banyak jangan hanya menebarkan isu yang tidak benar...tahukah ucapan orang dayak sebenarnya adalah manajemen isu yang sebenarnya untuk membenarkan perbuatannya...dan juga manajemen konfliknya...dan juga manajemen solvingnya...digunakan untuk memperbaiki citranya...
Di dunia tidak ada orang hebat yang hebat itu adalah Allah semata,karena ilmu yang di miliki manusia adalah semua atas kehendaknya...Perbuatan orang2 dayak sangat jelas memusuhi orang2 islam.karena mereka telah membinasakan para ulama yang mana dalam hadis nabi alulama warosatul ambiya..ulama adalah pewaris para nabi...dan derajat ulama sama dengan derajat para nabi sebelum nabi muhammad...dan juga orang tidak memusuhi orang2 islam karena tidak membakar mesjid,alqur'an sangat salah besar,,,apa gunanya menyelamatkan alqur'an dan mesjid kalau orang yang mengamalkan ajaran dalam alqur'an di binasakan orang yang memakmurkan mesjid di bantai...ingatlah pada sejarah nabi ketika nabi muhammad membakar mesjid karena mesjid apakah dia memusuhi islam...jawabannya tidakkan.
Seorang ulama dan waliyullah adalah orang yang selalu berpegang teguh kepada alqur'an dan hadis..dan di dalam diri mereka tidak ada namanya untuk membantai dan membasmi makhluk2 allah yang tidak berdosa,karena mereka malu kepada allah,,,kalau difikir tentang kesaktian dan kehebatan tidak ada tandingannya karena mereka langsung minta kepda AlLAH tidak minta kepada selainnya,dan juga mereka mempunyai kesaktian bukan untuk ajang kesombongan tetapi hanyalah sebagai penambah keyakinan kepda pencipta.karena mereka tahu meminta bantuan selain kepada allah adalah perbuatan syirik,,,
dan juga anda dapat baca sejarah nabi Muhammad SAW ketika dia di hina dan juga ingin di bunuh oleh para musuhnya maka datanglah para malaikat menawarkan dirnya untuk menghancurkan musuh2nya tetapi apa jawabnya adalh tidak ?malah nabi mendoakan musuh2nya,kalau bukan mereka yg benar maka anak2nya kelak diharapkan menjadi orang yang benar,Begitulah sifat para ulama dan wali2 allah meniru perbuatan nabi walau tidak seratus persen tetapi setelah melihat kejadian kemaren memang betul al ulama warosatul ambiaya yang mana mereka lebih berani mengorabnkan dirinya ketimbang orang lain,bagi mereka mati bukan suatu ketakutan malah mati membuta mereka bahagia karena mereka langsung bisa merasakan apa yang sudah di janjikan oleh ALLAh SWT.dan sekali lagi bukan karena mereka tidak sakti dan juga ilmunya pudar.
Kita menghormati kh dan ulama tidak lain adalah sebagai bentuk terima kasih kepd perjuangan leluhur mereka,,yang tentunya tampa perjuangan leluhur mereka mungkin kita tidak ada seperti sekarang ini,,,saat para malaikat ingin membinasan ummat manusia seluruhnya karena perbuatannya kepada nabi...namun apa jawabnya tidakkan...lalu apa balasan anda kepada para leluhur mereka yang telah memperjuangkan hidup anda,,,
Dan juga tampa perjungan para wali songo yang merupakan nenek moyang kh makdur kita tidak bisa seperti ini mengenal islam,beragama islam,dan juga orang yang beragama selain islam tetap di lindungi,dan atas leluhur mereka meraka tidak mendirikan negara islam.itu tidak lain adalah untuk menghormati dan memperjuangkan agama2 lainnya...lalu pertanyyaannya sebagai bentuk terima kasi kepada mereka anda memberikan apa kepada mereka.
joko tole
Diceritakan dalam sejarah Madura bahwa cucu Bukabu mempunyai anak bernama Dewi Saini alias Puteri Kuning (disebut Puteri Kuning karena kulitnya yang sangat kuning) Kesenangannya bertapa. Dengan perkawinan batin dengan Adipoday (suka juga bertapa) putera kedua dari Penembahan Blingi bergelar Ario Pulangjiwo, lahirlah dua orang putera masing masing bernama Jokotole dan Jokowedi.
Kedua putera tersebut ditinggalkan begitu saja dihutan, putera yang pertama Jokotole diambil oleh seorang pandai besi bernama Empu Kelleng didesa Pakandangan dalam keadaan sedang disusui oleh seekor kerbau putih, sedangkan putera yang kedua Jokowedi ditemukan di pademawu juga oleh seorang Empu.
Kesenangan Jokotole sejak kecil ialah membuat senjata-senjata seperti, keris, pisau dan perkakas pertanian, bahannya cukup dari tanah liat akan tetapi Jokotole dapat merubahnya menjadi besi, demikian menurut cerita. Pada usianya yang mencapai 6 tahun bapak angkatnya mendapat panggilan dari Raja Majapahit (Brawijaya VII) untuk diminta bantuannnya membuat pintu gerbang.
Diceritakan selama 3 tahun keberangkatannya ke Majapahit Empu Kelleng belum juga ada kabarnya sehingga mengkhawatirkan nyai Empu Kelleng Pakandangan karena itu nyai menyuruh anaknya Jokotole untuk menyusul dan membantu ayahnya, dalam perjalanannya melewati pantai selatan pulau Madura ia berjumpa dengan seorang yang sudah tua didesa Jumijang yang tak lain adalah pamannya sendiri saudara dari Ayahnya yaitu Pangeran Adirasa yang sedang bertapa dan iapun memenggil Jokotole untuk menghampirinya lalu Jokotolepun menghampiri, Adirasa lalu menceritakan permulaan sampai akhir hal ihwal hubungan keluarga dan juga ia memperkenalkan adik Jokotole yang bernama Jokowedi, selain itu Jokotole menerima nasehat-nasehat dari Adirasa dan ia juga diberinya bunga melati pula, bunga melati itu disuruhnya untuk dimakannya sampai habis yang nantinya dapat menolong bapak angkatnya itu yang mendapat kesusahan di Majapahit dalam pembuatan pintu gerbang.
Pembuatan pintu gerbang itu harus dipergunakan alat pelekat, pelekat yang nantinya akan dapat keluar dari pusar Jokotole sewaktu ia dibakar hangus, oleh karena itu nantinya ia harus minta bantuan orang lain untuk membakar dirinya dengan pengertian jika Jokotole telah hangus terbakar menjadi arang pelekat yang keluar dari pusarnya supaya cepat cepat diambil dan jika sudah selesai supaya ia segera disiram dengan air supaya dapat hidup seperti sediakala.
Jokotole diberi petunjuk bagaimana cara untuk memanggil pamannya (Adirasa). Apabila ia mendapat kesukaran, selain mendapat nasehat-nasehat ia juga mendapat kuda hitam bersayap (Si Mega) sehingga burung itu dapat terbang seperti burung Garuda dan sebuah Cemeti dari ayahnya sendiri Adipoday.
Setelah Jokotole pamit untuk ke Majapahit sesampainya di Gresik mendapat rintangan dari penjaga-penjaga pantai karena ia mendapat perintah untuk mencegat dan membawa dua sesaudara itu ke istana, perintah raja itu berdasarkan mimpinya untuk mengambil menantu yang termuda diantara dua sesaudara itu. Dua sesaudara itu datanglah ke istana, ketika dua orang sesaudara itu diterima oleh Raja diadakan ramah tamah dan di utarakan niatan Raja menurut mimpinya, karena itu dengan iklas Jokotole meninggalkan adiknya dan melanjutkan perjalanannya menuju Majapahit.
Setelah mendapat ijin dari ayah angkatnya untuk menemui Raja Majapahit ia lalu ditunjuk sebagai pembantu empu-empu, pada saat bekerja bekerja dengan empu-empu Jokotole minta kepada empu-empu supaya dirinya dibakar menjadi arang bila telah terbakar supay diambilanya apa yang di bakar dari pusarnya dan itulah naninya yang dapat dijadikan sebagai alat pelekat. Apa yang diminta Jokotole dipenuhi oleh empu-empu sehingga pintu gerbang yang tadinya belum bisa dilekatkan, maka sesudah itu dapat dikerjakan sampai selesai. Setelah bahan pelekatnya di ambil dari pusar Jokotole ia lalu disiram dengan air supaya dapat hidup kembali.
Selanjutnya yang menjadi persoalan ialah pintu gerbang tadi tidak dapet didirikan oleh empu-empu karena beratnya, dengan bantuan jokotole yang mendapat bantuan dari pamannya Adirasa yang tidak menampakkan diri, pintu gerbang yang tegak itu segera dapat ditegakkan sehingga perbuatan tersebut menakjubkan bagi Raja, Pepatih, Menteri-menteri dan juga bagi empu-empu, bukan saja dibidang tehnik Jokotole memberi jasa-jasanya pula bantuannya pula misalnya dalam penaklukan Blambangan, atas jasa-jasanya itu Raja Majapahit berkenan menganugerahkan Puteri mahkota yang bernama Dewi Mas Kumambang, tetapi karena hasutan patihnya maka keputusan untuk mengawinkan Jokotole dengan Puterinya ditarik kembali dan diganti dengan Dewi Ratnadi yang pada waktu itu buta karena menderita penyakit cacat, sebagai seorang kesatria Jokotole menerima saja keputusan Rajanya.
Setelah beberapa lama tinggal di Majapahit Jokotole minta ijin untuk pulang ke Madura dan membawa isterinya yang buta itu, dalam perjalanan kembali ke Sumenep sesampainya di pantai madura isterinya minta ijin untuk buang air, karena ditempat itu tidak ada air, maka tongkat Isterinya diambil oleh Jokotole dan ditancapapkan ke tanah yang ke betulan mengenai mata isterinya yang buta itu, akibat dari percikan air itu, maka tiba-tiba Dewi Ratnadi dapat membuka matanya sehingga dapat melihat kembali, karena itu tempat itu dinamakan "Socah " yang artinya mata.
Didalam perjalanannya ke Sumenep banyaklah kedua suami isteri itu menjumpai hal-hal yang menarik dan memberi kesan yang baik, misalnya sesampainya mereka di Sampang, Dewi Ratnadi ingin mencuci kainnya yang kotor karena ia menstruasi, lalu kain yang di cucinya itu dihanyutkan oleh kain sehingga tidak ditemukan. Kain dalam tersebut oleh orang Madura disebut "Amben" setelah isterinya kehilangan Amben maka Jokotole berkata Mudah-mudahan sumber ini tidak keluar dari desa ini untuk selama-lamanya, sejak itu desa itu disebut desa "Omben" dan ketika Jokotole menjumpai ayahnya ditempat pertapaan di Gunung Geger diberitahunya bahwa ia nantinya akan berperang dengan prajurit yang ulung dan bernama Dempo Abang (Sampo Tua Lang), seorang panglima perang dari negeri Cina yang menunjukkan kekuatannya kepada Raja-raja ditanah Jawa, Madura dan sekitarnya.
Pada suatu ketika waktu Jokotole bergelar Pangeran Setyodiningrat III memegang pemerintahan di Sumenep kurang lebih 1415 th, datanglah musuh dari negeri Cina yang dipimpin oleh Sampo Tua Lang dengan berkendaraan kapal yang dapat berjalan diatas Gunung diantara bumi dan langit.
Didalam peperangan itu Pangeran Setyoadiningrat III mengendarai kuda terbang sesuai petunjuk dari pamannya (Adirasa), pada suatu saat ketika mendengar suara dari pamannya yang berkata "pukul" maka Jokotole menahan kekang kudanya dengan keras sehingga kepala dari kuda itu menoleh kebelakang dan ia sendiri sambil memukulkan cambuknya yang mengenai Dempo Awang beserta perahunya sehingga hancur luluh ketanah tepat di atas Bancaran (artinya, bâncarlaan), Bangkalan. Sementara Piring Dampo Awang jatuh di Ujung Piring yang sekarang menjadi nama desa di Kecamatan Kota Bangkalan. Sedangkan jangkarnya jatuh di Desa/Kecamatan Socah
Dengan kejadian inilah maka kuda terbang yang menoleh kebelakang dijadikan lambang bagi daerah Sumenep, sebenarnya sejak Jokotole bertugas di Majapahit sudah memperkenalkan lambang kuda terbang.
Dipintu gerbang dimana Jokotole ikut membuatnya terdapat gambar seekor kuda yang bersayap dua kaki belakang ada ditanah sedang dua kaki muka diangkat kebelakang, demikian pula di Asta Tinggi Sumenep disalah sati Congkop (koepel) terdapat kuda terbang yang dipahat diatas marmer. Juga pintu gerbang rumah kabupaten (dahulu Keraton) Sumenep ada lambang kuda terbang. Di museum Sumenep juga terdapat lambang kerajaan yang ada kuda terbangnya, karena itu sudah sepantasnyalah jika pemerintahan kota Sumenep memakai lambang kuda terbang.
joko tole
KH. Moch. Kholil adalah guru utama yang mencetak banyak ulama besar di Jawa Timur. Sampai sekarang, meski sudah meninggal, banyak ulama yang mengaku belajar secara gaib dengan Mbah Kholil. Banyak cara dilakukan untuk belajar kitab secara gaib dari ulama tersohor ini. Salah satunya dengan berziarah serta bermalam di makam beliau. Seperti pernah dikisahkan KH. Anwar Siradj, pengasuh PP. Nurul Dholam Bangil Pasuruan. Saat mempelajari kitab Alfiyah, beliau mengalami kesulitan. Padahal kitab yang berupa gramatika Bahasa Arab tersebut, merupakan kunci untuk mendalami kitab-kitab lain.
Kiai Anwar sudah mencoba berguru kepada kiai-kiai besar di hampir semua penjuru Jawa Timur. Tapi hasilnya nihil. Suatu ketika, seperti dikisahkan ustadz Muhammad Salim (santri Nurul Dholam), Kiai Anwar dapat petunjuk, agar mempelajari kitab alfiyah di makam Mbah Kholil. Petunjuk gaib itu pun dilaksanakan. Selama sebulan penuh Kiai Anwar ziarah di makam, Mbah Kholil Bangkalan. Di makam itu dia mempelajari kitab alfiyah. "Akhimya Kiai Anwar bisa menghafal Alfiyah," jelas Ustadz Salim.
Banyak ulama generasi sekarang yang meski tidak pernah ketemu fisik dan bahkan lahirnya jauh sesudah Mbah Kholil meninggal, mengakui kalau perintis dakwah di Pulau Madura ini adalah guru mereka. Bukan guru secara fisik, melainkan pembimbing Mbah Kholil sempat menimba Ilmu di Mekah selama belasan tahun. Satu angkatan dengan KH. Hasyim Asy'ari. Selevel di bawahnya, ada KH. Wahab Chasbullah dan KH. Muhammad Dahlan. Ada tradisi di antara kyai sepuh zaman dulu, meski hanya memberi nasihat satu kalimat, tetap dianggap sebagai guru. Demikian juga yang terjadi di antara 4 ulama besar itu. Mereka saling berbagi ilmu pengetahuan, sehingga satu sama lain, saling memanggilnya sebagai tuan guru.
Menurut KH. Muhammad Ghozi Wahib, Mbah Khohil paling dituakan dan dikeramatkan di antara para ulama saat itu. Kekeramatan Mbah Kholil, yang sangat terkenal adalah pasukan lebah gaib. "Dalam situasi kritis, beliau bisa mendatangkan pasukan lebah untuk menyerang musuh. Ini sering beliau perlihatkan semasa perang melawan penjajah. Termasuk saat peristiwa 10 November 1945 di Surabaya," katanya.
Kiai Ghozi menambahkan, dalam peristiwa 10 November, Mbah Kholil bersama kiai-kiai besar seperti Bisri Syansuri, Hasyim Asy'ari, Wahab Chasbullah dan Mbah Abas Buntet Cirebon, mengerahkan semua kekuatan gaibnya untuk melawan tentara Sekutu.
Hizib-hizib yang mereka miliki, dikerahkan semua untuk menghadapi lawan yang bersenjatakan lengkap dan modem. Sebutir kerikil atau jagung pun, di tangan kiai-kiai itu bisa difungsikan menjadi bom berdaya ledak besar. Tak ketinggalan, Mbah Kholil mengacau konsentrasi tentara Sekutu dengan mengerahkan pasukan lebah gaib piaraannya. Di saat ribuan ekor lebah menyerang, konsentrasi lawan buyar.
Saat konsentrasi lawan buyar itulah, pejuang kita gantian menghantam lawan. "Hasilnya terbukti, dengan peralatan sederhana, kita bisa mengusir tentara lawan yang senjatanta super modern. Tapi sayang, peran ulama yang mengerahkan kekuatan gaibnya itu, tak banyak dipublikasikan," paper Kiai Ghozi, cucu KH Wahab Chasbullah ini.
Kesaktian lain dari Mbah Kholil, adalah kemampuannya membelah diri. Dia bisa berada di beberapa tempat dalam waktu bersamaan. Pernah ada peristiwa aneh saat beliau mengajar di pesantren. Saat berceramah, Mbah Kholil melakukan sesuatu yang tak terpantau mata. "Tiba-tiba baju dan sarong beliau basah kuyub," cerita Ghozi.
Para santri heran, sedangkan beliau sendiri cuek, tak mau menceritakan apa-apa. Langsung ngloyor masuk rumah, ganti baju. Teka-teki itu baru terjawab setengah bulan kemudian. Ada seorang nelayan sowan Mbah Kholil. Dia mengucapkan terimakasih, karena saat perahunya pecah di tengah laut, langsung ditolong Mbah Kholil.
"Kedatangan nelayan itu membuka tabir, temyata saat memberi pengajian, Mbah Kholil dapat pesan agar segera ke pantai untuk menyelamatkan nelayan yang perahunya pecah. Dengan karomah yang dimiliki, dalam sekejap beliau bisa sampai laut dan membantu si nelayan itu," papar Ghozi yang kini tinggal di Wedomartani, Ngemplak, Sleman in
joko tole
PENINGGALAN SYEKH KHOLIL UNTUK UMMAT
Syekh Kholil wafat pada hari kamis tanggal 29 Ramadhan 1343 H (1925 M) jam 04 pagi. Jenazah beliau dishalati di Masjid Agung Bangkalan pada sore harinya setelah shalat ashar, kemudian dimakamkan di Pemakaman Martajasah, Bangkalan.
Syekh Kholil banyak meninggalkan âwarisanâ yang bermanfaat untuk ummat. Diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Pesantren Jangkibuan. Pesantren ini terus aktif sampai kini dan diasuh oleh keurunan Nyai Khotimah bin Kholil dengan Kiai Thoha. Pesantren ini diberi nama âPesantren Al-Muntaha Al-Kholiliâ.
2. Pesantren Kademangan. Sepeninggal Syekh Kholil, pesantren ini diasuh oleh keturunan beliau sendiri. Saya mendapatkan tiga nama urutan pengasuh Pesantren Kedemangan, yaitu Kiai Abdul Fattah bin Nyai Aminah binti Nyai Muthmainnah binti Imron bin Kholil, kemudian Kiai Fakhrur Rozi bin Nyai Romlah binti Imron bin Kholil, kemudian Kiai Abdullah Sachal bin Nyai Romlah binti Imron bin Kholil. Sampai kini (2007) Pesantren Kademangan diasuh oleh Kiai Abdullah Sachal.
3. Kitab âAs-Silah fi Bayanin-nikahâ. Sebuah kitab tentang pernikahan, meliputi segi hukum dan adab. Dicetak oleh Maktabah Nabhan bin Salim Surabaya.
4. Rangkaian Shalawat. Dihimpun oleh KH. Muhammad Kholid dalam kitab âIâanatur Roqibinâ dan dicetak oleh Pesantren Roudlotul Ulum, Sumber Wringin, Jember. Jawa Timur.
5. Dzikir dan wirid. Dihimpun oleh KH. Mushthofa Bisri, Rembang, Jawa Tengah, dalam sebuah kitab berjudul âAl-Haqibahâ. [*]
KAROMAH SYEKH KHOLIL
Pada bab III, buku âSurat Kepada Anjing Hitamâ menceritakan 29 cerita karomah Syekh Kholil, namun saya kutib yang 16 saja. Dalam buku itu ditulis:
Pengertian Karomah
Istilah karomah berasal dari bahasa Arab. Secara bahasa berarti mulia[1]. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengistilahkan karomah dengan keramat diartikan suci dan dapat mengadakan sesuatu diluar kemampuan manusia biasa karena ketaqwaanya kepada Tuhan. [Dept. P&K, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka Jakarta, halaman 483]
Ajaran Islam[2] memaksudkan sebagai âKhariqun lil adatâ[3], yaitu kejadian yang luar biasa pada seorang wali Allah. Syaikh Thohir bin Sholeh Al-Jazairi mengartikan kata karomah adalah perkara luar biasa yang tampak pada seorang wali yang tidak disertai dengan pengakuan seorang Nabi. [Thohir bin Sholeh Al-Jazairi, Jawahirul Kalamiyah, terjemahan Jakfar Amir, Penerbit Raja Murah Pekalongan, hal. 40]
Sedangkan, Imam Qusyairi menjelaskan karomah sebagai penampakan karomah merupakan tanda-tanda kebenaran sikap dan kelakuan seseorang. Barangsiapa yang tidak benar sikap dan kelakuannya, maka tidak dapat menunjukkan kekaromahannya. Dan Allah yang maha Qodim memberi tahu kepada kita agar membedakan orang yang benar dan mana yang batil. [Abul Qosim Abdul Karim Hawazim Qusyairi Naisabury, Risaltul Qusyairiyah, Darul Khoir, halaman 353]
Dengan demikian, istilah karomah dapat disimpulkan sebagai kejadian yang luar biasa pada seseorang yang merupakan anugerah dari Allah dikarenakan ketaqwaanya.[4]
1. PENCURI TIMUN TIDAK BISA DUDUK
Diantara karomahnya adalah pada suatu hari petani timun di daerah Bangkalan sering mengeluh. Setiap timun yang siap dipanen selalu kedahuluan dicuri maling. Begitu peristiwa itu terus menerus. Akhirnya petani timun itu tidak sabar lagi, setelah bermusuyawarah, maka diputuskan untuk sowan ke Kiai Kholil. Sesampainya di rumah Kiai Kholil, sebagaimana biasanya Kiai sedang mengajarkan kitab nahwu[5]. Kitab tersebut bernama Jurmiyah, suatu kitab tata bahasa Arab tingkat pemula.
âAssalamuâalaikum, Kiai,â ucap salam para petani serentak.
âWaâalaikum salam, â Jawab Kiai Kholil.
Melihat banyaknya petani yang datang. Kiai bertanya :
âSampean ada keperluan, ya?â
âBenar, Kiai. Akhir-akhir ini ladang timun kami selalu dicuri maling, kami mohon kepada Kiai penangkalnya.â Kata petani dengan nada memohon penuh harap.
Ketika itu, kitab yang dikaji oleh Kiai kebetulan sampai pada kalimat âqoma zaidunâ yang artinya âzaid telah berdiriâ. Lalu serta merta Kiai Kholil berbicara sambil menunjuk kepada huruf âqoma zaidunâ.
âYa.., Karena pengajian ini sampai âqoma zaidunâ, ya âqoma zaidunâ ini saja pakai penangkal.â Seru Kiai dengan tegas dan mantap.
âSudah, pak Kiai?â Ujar para petani dengan nada ragu dan tanda Tanya.
âYa sudah.â Jawab Kiai Kholil menandaskan. Mereka puas mendapatkan penangkal dari Kiai Kholil. Para petani pulang ke rumah mereka masing-masing dengan keyakinan kemujaraban penangkal dari Kiai Kholil.
Keesokan harinya, seperti biasanya petani ladang timun pergi ke sawah masing-masing. Betapa terkejutnya mereka melihat pemandangan di hadapannya. Sejumlah pencuri timun berdiri terus menerus tidak bisa duduk. Maka tak ayal lagi, semua maling timun yang selama ini merajalela diketahui dan dapat ditangkap. Akhirnya penduduk berdatangan ingin melihat maling yang tidak bisa duduk itu, semua upaya telah dilakukan, namun hasilnya sis-sia. Semua maling tetap berdiri dengan muka pucat pasi karena ditonton orang yang semakin lama semakin banyak.
Satu-satunya jalan agar para maling itu bisa duduk, maka diputuskan wakil petani untuk sowan ke Kiai Kholil lagi. Tiba di kediaman Kiai Kholil, utusan itu diberi obat penangkal. Begitu obat disentuhkan ke badan maling yang sial itu, akhirnya dapat duduk seperti sedia kala. Dan para pencuri itupun menyesal dan berjanji tidak akan mencuri lagi di ladang yang selama ini menjadi sasaran empuk pencurian. Maka sejak saat itu, petani timun di daerah Bangkalan menjadi aman dan makmur. Sebagai rasa terima kasih kepada Kiai kholil, mereka menyerahkan hasil panenannya yaitu timun ke pondok pesantren berdokar-dokar. Sejak itu, berhari-hari para santri di pondok kebanjiran timun, dan hampir-hampir di seluruh pojok-pojok pondok pesantren dipenuhi dengan timun.[6]
2. DIDATANGI MACAN
Diantara karomahnya, pada suatu hari di bulan Syawal. Kiai Kholil tiba-tiba memanggil santri-santrinya. âAnak-anakku, sejak hari ini kalian harus memperketat penjagaan pondok pesantren. Pintu gerbang harus senantiasa dijaga, sebentar lagi akan ada macan masuk ke pondok kita ini.â Kata Kiai Kholil agak serius.
Mendengar tutur guru yang sangat dihormati itu, segera para santri mempersiapkan diri. Waktu itu sebelah timur Bangkalan memang terdapat hutan-hutan yang cukup lebat dan angker. Hari demi hari, penjagaan semakin diperketat, tetapi macan yang ditungu-tunggu itu belum tampak juga. Memasuki minggu ketiga, datanglah ke pesantren pemuda kurus, tidak berapa tinggi berkulit kuning langsat sambil menenteng kopor seng. Sesampainya di depan pintu rumah Kiai Kholil, lalu mengucap salam âAssalamu âalaikum,â ucapnya agak pelan dan sangat sopan.
Mendengar salam itu, bukan jawaban salam yang diterima, tetapi Kiai malah berteriak memanggil santrinya, âHey santri semua, ada macan.. macan.., ayo kita kepung. Jangan sampai masuk ke pondok.â Seru Kiai Kholil bak seorang komandan di medan perang.
Mendengar teriakan Kiai kontan saja semua santri berhamburan, datang sambil membawa apa yang ada, pedang, clurit, tongkat, pacul untuk mengepung pemuda yang baru datang tadi yang mulai nampak kelihatan pucat. Tidak ada pilihan lagi kecuali lari seribu langkah. Namun karena tekad ingin nyantri ke Kiai Kholil begitu menggelora, maka keesokan harinya mencoba untuk datang lagi. Begitu memasuki pintu gerbang pesantren, langsung disongsong dengan usiran ramai-ramai. Demikian juga keesokan harinya. Baru pada malam ketiga, pemuda yang pantang mundur ini memasuki pesantren secara diam-diam pada malam hari. Karena lelahnya pemuda itu, yang disertai rasa takut yang mencekam, akhirnya tertidur di bawah kentongan surau.
Secara tidak diduga, tengah malam Kiai Kholil datang dan membantu membangunkannya. Karuan saja dimarahi habis-habisan. Pemuda itu dibawa ke rumah Kiai Kholil. Setelah berbasa-basi dengan seribu alasan. Baru pemuda itu merasa lega setelah resmi diterima sebagai santri Kiai Kholil. Pemuda itu bernama Abdul Wahab Hasbullah. Kelak kemudian hari santri yang diisyaratkan macan itu, dikenal dengan nama KH. Wahab Hasbullah, seorang Kiai yang sangat alim, jagoan berdebat, pembentuk komite Hijaz, pembaharu pemikiran. Kehadiran KH Wahab Hasbullah di mana-mana selalu berwibawa dan sangat disegani baik kawan maupun lawan bagaikan seekor macan, seperti yang diisyaratkan Kiai Kholil.[7]
3. KETINGGALAN KAPAL LAUT
Kejadian ini pada musim haji. Kapal laut pada waktu itu, satu-satunya angkutan menuju Makkah, semua penumpang calon haji naik ke kapal dan bersiap-siap, tiba-tiba seorang wanita berbicara kepada suaminya :
âPak, tolong saya belikan anggur, saya ingin sekali,â ucap istrinya dengan memelas.
âBaik, kalau begitu. Mumpung kapal belum berangkat, saya akan turun mencari anggur,â jawab suaminya sambil bergegas di luar kapal.
Setelah suaminya mencari anggur di sekitar ajungan kapal, nampaknya tidak ditemui penjual anggur seorangpun. Akhirnya dicobanya masuk ke pasar untuk memenuhi keinginan istrinya tercinta. Dan meski agak lama, toh akhirnya anggur itu didapat juga. Betapa gembiranya sang suami mendapatkan buah anggur itu. Dengan agak bergegas, dia segera kembali ke kapal untuk menemui isterinya. Namun betapa terkejutnya setelah sampai ke ajungan kapal yang akan ditumpangi semakin lama semakin menjauh. Sedih sekali melihat kenyataan ini. Duduk termenung tidak tahu apa yang mesti diperbuat.
Disaat duduk memikirkan nasibnya, tiba-tiba ada seorang laki-laki datang menghampirinya. Dia memberikan nasihat: âDatanglah kamu kepada Kiai Kholil Bangkalan, utarakan apa musibah yang menimpa dirimu !â ucapnya dengan tenang.
âKiai Kholil?â pikirnya.
âSiapa dia, kenapa harus kesana, bisakah dia menolong ketinggalan saya dari kapal?â begitu pertanyaan itu berputar-putar di benaknya.
âSegeralah ke Kiai kholil minta tolong padanya agar membantu kesulitan yang kamu alami, insya Allah.â Lanjut orang itu menutup pembiocaraan.
Tanpa pikir panjang lagi, berangkatlah sang suami yang malang itu ke Bangkalan. Setibanya di kediaman Kiai Kholil, langsung disambut dan ditanya :
âAda keperluan apa?â
Lalu suami yang malang itu menceritakan apa yang dialaminya mulai awal hingga datang ke Kiai Kholil.
Tiba-tiba Kiai berkata :
âLho, ini bukan urusan saya, ini urusan pegawai pelabuhan. Sana pergi!â
Lalu suami itu kembai dengan tangan hampa.
Sesampainya di pelabuhan sang suami bertemu lagi dengan orang laki-laki tadi yang menyuruh ke Kiai Kholil lalu bertanya: âBagaimana? Sudah bertemu Kiai Kholil ?â
âSudah, tapi saya disuruh ke petugas pelabuhanâ katanya dengan nada putus asa.
âKembali lagi, temui Kiai Kholil !â ucap orang yang menasehati dengan tegas tanpa ragu. Maka sang suami yang malang itupun kembali lagi ke Kiai Kholil. Begitu dilakukannya sampai berulang kali. Baru setelah ke tiga kalinya, Kiai Kholil berucap, âBaik kalau begitu, karena sampeyan ingin sekali, saya bantu sampeyan.â[8]
âTerima kasih Kiai,â kata sang suami melihat secercah harapan.
âTapi ada syaratnya.â Ucap Kiai Kholil.
âSaya akan penuhi semua syaratnya.â Jawab orang itu dengan sungguh-sungguh.
Lalu Kiai berpesan: âSetelah ini, kejadian apapun yang dialami sampeyan jangan sampai diceritakan kepada orang lain, kecuali saya sudah meninggal. Apakah sampeyan sanggup?â pesan dan tanya Kiai seraya menatap tajam.
âSanggup, Kiai, â jawabnya spontan.
âKalau begitu ambil dan pegang anggurmu pejamkan matamu rapat-rapat,â Kata Kiai Kholil.
Lalu sang suami melaksanakan perintah Kiai Kholil dengan patuh. Setelah beberapa menit berlalu dibuka matanya pelan-pelan. Betapa terkejutnya dirinya sudah berada di atas kapal lalu yang sedang berjalan. Takjub heran bercampur jadi satu, seakan tak mempercayai apa yang dilihatnya. Digosok-gosok matanya, dicubit lengannya. Benar kenyataan, bukannya mimpi, dirinya sedang berada di atas kapal. Segera ia temui istrinya di salah satu ruang kapal.
âIni anggurnya, dik. Saya beli anggur jauh sekaliâ dengan senyum penuh arti seakan tidak pernah terjadi apa-apa dan seolah-olah datang dari arah bawah kapal. Padahal sebenarnya dia baru saja mengalami peristiwa yang dahsyat sekali yang baru kali ini dialami selam hidupnya. Terbayang wajah Kiai Kholil. Dia baru menyadarinya bahwa beberapa saat yang alalu, sebenarnya dia baru saja berhadapan dengan seseorang yang memiliki karomah yang sangat luar biasa.
4. SANTRI MIMPI DENGAN WANITA.
Dan diantara karomahnya, pada suatu hari menjelang pagi, santri bernama Bahar dari Sidogiri merasa gundah, dalam benaknya tentu pagi itu tidak bisa sholat subuh berjamaah. Ketidak ikutsertaan Bahar sholat subuh berjamaah bukan karena malas, tetapi disebabkan halangan junub. Semalam Bahar bermimpi tidur dengan seorang wanita. Sangat dipahami kegundahan Bahar. Sebab wanita itu adalah istri Kiai Kholil, istri gurunya[9].
Menjelang subuh, terdengar Kiai Kholil marah besar sambil membawa sebilah pedang seraya berucap:
âSantri kurang ajar.., santri kurang ajar..â[10]
Para santri yang sudah naik ke masjid untuk sholat berjamaah merasa heran dan tanda tanya, apa dan siapa yang dimaksud santri kurang ajar itu. Subuh itu Bahar memang tidak ikut sholat berjamaah, tetapi bersembunyi di belakang pintu masjid.
Seusai sholat subuh berjamaah, Kiai Kholil menghadapkan wajahnya kepada semua santri seraya bertanya :
âSiapa santri yang tidak ikut berjamaah?â Ucap Kiai Kholil nada menyelidik.
Semua santri merasa terkejut, tidak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu. Para santri menoleh ke kanan-kiri, mencari tahu siapa yang tidak hadir. Ternyata yang tidak hadir waktu itu hanyalah Bahar. Kemudian Kiai Kholil memerintahkan mencari Bahar dan dihadapkan kepadanya. Setelah diketemukan lalu dibawa ke masjid. Kiai Kholil menatap tajam-tajam kepada bahar seraya berkata:
âBahar, karena kamu tidak hadir sholat subuh berjamaah maka harus dihukum. Tebanglah dua rumpun bambu di belakang pesantren dengan petok iniâ Perintah Kiai Kholil. Petok adalah sejenis pisau kecil, dipakai menyabit rumput. Setelah menerima perintah itu, segera Bahar melaksanakan dengan tulus. Dapat diduga bagaimana Bahar menebang dua rumpun bambu dengan suatu alat yang sangat sederhana sekali, tentu sangat kesulitan dan memerlukan tenaga serta waktu yang lama sekali. Hukuman ini akhirnya diselesaikan dengan baik[11].
âAlhamdulillah, sudah selesai, Kiai.â Ucap Bahar dengan sopan dan rendah hati.
âKalau begitu, sekarang kamu makan nasi yang ada di nampan itu sampai habis.â Perintah Kiai kepada Bahar.
Sekali lagi santri Bahar dengan patuh menerima hukuman dari Kiai Kholil. Setelah Bahar melaksanakan hukuman yang kedua, santri Bahar lalu disuruh makan buah-buahan sampai habis yang ada di nampan yang telah tersedia. Mendengar perintah ini santri Bahar melahap semua buah-buahan yang ada di nampan itu. Setelah itu santri Bahar diusir oleh Kiai Kholil seraya berucap:
âHai santri, semua ilmuku sudah dicuri oleh orang ini.â Ucap Kiai Kholil sambil menunjuk ke arah Bahar. Dengan perasaan senang dan mantap santri Bahar pulang meninggalkan pesantren Kiai Kholil menuju kampung halamannya.
Memang benar, tak lama setelah itu, santri yang mendapat isyarat mencuri ilmu Kiai Kholil itu, menjadi Kiai yang sangat alim, yang memimpin sebuah pondok pesantren besar di Jawa Timur. Kia beruntung itu bernama Kiai Bahar, seorang Kiai besar dengan ribuan santri yang diasuhnya di Pondok Pesantren Sido Giri, Pasuruan, Jawa Timur.
5. KIAI KHOLIL MASUK PENJARA
Diantara karomahnya dikisahkan:
Beberapa pelarian pejuang kemerdekaan dari Jawa bersembunyi di Pesantren Kiai Kholil. Kompeni Belanda rupanya mencium kabar itu. Tentara Belanda berupaya keras untuk menangkap para pejuang kemerdekaan yang bersembunyi itu. Rencana penangkapan diupayakan secepat mungkin, setelah yakin bersembunyi di pesantren, tentara belanda memasuki pesantren Kiai Kholil. Seluruh pojok pesantren digerebek. Ternyata tidak menemukan apa-apa. Hal itu membuat kompeni marah besar. Karena kejengkelannya, akhirnya membawa pimpinan pesantren, yaitu Kiai Kholil untuk ditahan. Dengan siasat ini, mereka berharap ditahannya Kiai Kholil, para pejuang segera menyerahkan diri. Ketika Kiai Kholil dimasukkan ke dalam tahanan, maka beberapa perisriwa ganjil mulai muncul. Hal ini membuat susah penjajah Belanda. Mula-mula ketika Kiai Kholil masuk ke dalam tahanan, semua pintu tahanan tidak bisa ditutup. Dengan demikian pintu tahanan dalam keadaan terbuka terus menerus. Kompeni Belanda harus berjaga siang dan malam secara terus menerus. Sebab jika tidak, maka tahanan bisa melarikan diri. Pada hari berikutnya, sejak Kiai Kholil ditahan, ribuan orang Madura dan Jawa berdatangan untuk menjenguk dan mengirim makanan ke Kiai Kholil. Kejadian ini membuat kompeni merasa kewalahan mengatur orang sebanyak itu. Silih berganti setiap hari terus menerus. Akhirnya, kompeni membuat larangan berkunjung ke Kiai Kholil. Pelarangan itu, rupanya tidak menyelesaikan masalah. Masyarakat justru datang setiap harinya semakin banyak. Para pengunjung yang bermaksud berkunjung ke Kiai Kholil bergerombol di sekitar rumah tahanan. Bahkan, banyak yang minta ditahan bersama Kiai Kholil. Sikap nekad para pengunjung Kiai Kholil ini jelas membuat Belanda makin kewalahan. Kompeni merasa khawatir, kalau dibiarkan berlarut larut suasana akan semakin parah. Akhirnya, daripada pusing memikirkan hal yang sulit dimengerti oleh akal itu, kompeni belanda melepaskan Kiai Kholil begitu saja.
Setelah kompeni mengeluarkan Kiai Kholil dari penjara, baru semua kegiatan berjalan sebagaimana biasanya. Demikian juga dengan pintu penjara, sudah bisa ditutup kembali serta para pengunjung yang berjubel disekitar penjara, kembali pulang kerumahnya masing-masing.
6. RESIDEN BELANDA
Dan diantara karomahnya, suatu hari, Residen Belanda yang ditempatkan di Bangkalan mendapat surat yang cukup mengejutkan dari pemerintah Colonial Belanda di Jakarta. Surat tersebut berisi tentang pemberhentian dirinya sebagai Residen di Bangkalan. Padahal jabatan itu masih diinginkan dalam beberapa saat. Residen itu berkata dengan Residen belanda yang lainnya. Hati nurani Residen yang satu ini tidak pernah menyetujui penjajahan oleh negaranya. Untuk mempertahankan posisinya, Residen belanda yang simpati kepada bangsa Indonesia mau berkorban apa saja asalkan tetap memangku jabatan di Bangkalan, Kebetulan sang Residen mendengar kabar bahwa di Bangkalan ada orang yang pandai dan sakti mandraguna[12]. Tanpa pikir panjang lagi, sang Residen segera pergi untuk menemui orang yang diharapkan kiranya dapat membantu mewujudkan keinginannya itu.
Maka, berangkatlah sang Residen itu ke Kiai Kholil dengan ditemani beberapa kolegannya. Sesampainya di kediaman Kiai Kholil, sang Residen Belanda langsung menyampaikan hajatnya itu. Kiai Kholil tau siapa yang dihadapinya itu, lalu dijawab dengan santai seraya berucap :
âTuan, selamat.., selamat.., selamat..â Ucapnya dengan senyuman yang khas. Residen Belanda merasa puas terhadap jawaban Kiai Kholil dan setelah itu berpamitan pulang.
Selang beberapa hari setelah kejadian itu, sang Residen menerima surat dari pemerintah Belanda yang isinya pencabutan kembali surat keputusan pemberhentian atas dirinya. Betapa senangnya menerima surat itu. Dengan demikian, dirinya masih tetap memangku jabatan di daerah Bangkalan.
Sejak peristiwa itu, Kiai kholil diberi kebebasan melewati seluruh daerah Bangkalan. Bahkan, Kiai Kholil bisa menaiki dokar seenaknya melewati daerah terlarang di Keresidenan Bangkalan tanpa ada yang merintanginya. Baik residen maupun aparat Belanda semuanya menaruh hormat kepada Kiai Kholil. Seorang Kiai yang dianggap memiliki kesaktian luar biasa.
7. SURAT KEPADA ANJING HITAM
Musim haji telah tiba. Sebagaimana biasanya, penduduk daerah Bangkalan yang akan menunaikan ibadah haji terlebih dahulu sowan kepada Kiai Kholil. Fulan calon jamah haji Bangkalan. Menjelang keberangkatannya, terlebih dahulu menyempatkan sowan ke Kiai Kholil. Kiai, ketika melihat diantara tamu terdapat si Fulan, maka segera menyuruh mendekat.
âFulan, ini surat. Sesampainya di Masjidil Haram, berikan surat ini kepada anjing hitam.â Pesan Kiai kepada si Fulan dengan datar.
âYa, Kiai. Saya akan menyampaikan surat ini.â Jawab si Fulan tanpa berani menatap dan bertanya kenapa Kiai menyuruh demikian. Sesusai sowan kepada Kiai, Fulan langsung pulang ke rumahnya. Berbagai kecamuk dan pertanyaan dibenakknya.
Hari keberangkatan pun tiba. Dengan niat yang ikhlas, Fulan berangkat ke tanah suci. Sesampainya di Makkah, Fulan menunaikan Ibadah hajinya dengan baik. Sungguhpun demikian, Fulan belum tenang kalau amanat yang dipesankan Kiai Kholil belu dilaksanakan. Segera fulan pergi ke halaman Masjidil Haram, terdorong karena patuhnya kepada Kiai Kholil, ingin segera menyampaikan pesan yang sangat aneh ini. Tapi bagaimana caranya?
Tak disangka, ditengah keasyikannya merenung itu. Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, didepannya sudah berdiri seekor anjing hitam. Tanpa pikir panjang lagi, Fulan segera meraih surat yang ada di sakunya. Seketika itu juga, disodorkannya surat itu kepada anjing hitam. Telinga anjing itu bergerak-berak, lalu menggigit surat itu pelan-pelan. Beberapa saat anjing itu menatap tajam wajah si Fulan seolah-olah ingin mengungkapkan rasa terima kasih. Setelah itu dengan langkah tenang dan wibawa, sang anjing hitam itu meninggalkan Fulan yang masih terpana. Dipandangnya anjing itu hingga tidak terlihat lagi dari pandangan mata Fulan.
Fulan merasa lega. Sebab, amanat yang tidak dipahami itu sudah ditunaikan. Waktu pun bergulir hingga selesailah ibadah Rukun Islam yang kelima itu. Semua jamaah haji seantero dunia pulang ketanah airnya masing-masing begitu pula dengan fulan pulang ke Bangkalan.
Bagi fulan, sungguhpun sudah selesai ibadah haji, namun kecamuk surat misterius itu masih melekat di benaknya. oleh sebab itu, setibanya di Bangkalan, pertama kali yang ditemuinya adalah Kiai Kholil.
âSudah disampaikan surat saya, Fulan?â Kata Kiai menyambut kedatangan Fulan.
âSudah, Kiai.â Tegas fulan lega. âTapi, Kiai..â Kata fulan agak tersendat-sendat
âAda apa Fulan?â Kata Kiai Kholil tanpa menunjukkan ekspresi yang aneh. âKalau boleh Tanya, kenapa Kiai mengirim surat kepada anjing hitam?â Tanya si Fulan terheran-heran.
âFulan, yang kamu temui itu bukan sembarang anjing. Dia adalah salah seorang wali Allah yang menyamar sebagai anjing hitam yang menunaikan Ibadah haji tahun ini.â Jelas sang Kiai.
Mendengar keterangan Kiai Kharismatik itu, si Fulan baru memahami dan menyadari apa yang ada dibalik peristiwa itu. Dan sifulan pun hanya bisa menganggut sambil mengenang saat sang anjing berhadapan dengan dirinya.
8. ORANG ARAB DAN MACAN TUTUL
Dan diantara karomahnya, suatu hari menjelang sholat magrib. Seperti biasanya Kiai Kholil mengimami jamaah sholat bersama para santri Kedemangan. Bersamaan dengan Kiai Kholil mengimami sholat, tiba-tiba kedatangan tamu berbangsa Arab. Orang Madura menyebutnya Habib[13].
Seusai melaksanakan sholat, Kiai Kholil menemui tamu-tamunya, termasuk orang Arab yang baru datang itu. Sebagai orang Arab yang mengetahui kefasihan Bahasa Arab[14], habib tadi menghampiri Kiai Kholil seraya berucap :
âKiai, bacaan Al-Fatihah antum (anda) kurang fasih.â Tegur Habib.
âO.. begitu?!â Jawab Kiai Kholil dengan tenang.
Setelah berbasa-basi beberapa saat. Habib dipersilahkan mengambil wudlu untuk melaksanakan sholat magrib. âTempat wudlu ada di sebelah masjid itu, Habib. Silahkan ambil wudlu di sana.â Ucap Kiai sambil menunjukkan arah tempat wudlu. Baru saja selesai wudlu, tiba-tiba sang Habib dikejutkan dengan munculnya macan tutul. Habib terkejut dan berteriak dengan bahasa Arabnya, yang fasih untuk mengusir macan tutul yang makin mendekat itu. Meskipun Habib mengucapkan Bahasa Arab sangat fasih untuk mengusir macan tutul, namun macan itu tidak pergi juga.
Mendengar ribut-ribut di sekitar tempat wudlu Kiai Kholil datang menghampiri. Melihat ada macan yang tampaknya penyebab keributan itu, Kiai Kholil mengucapkan sepatah dua patah kata yang kurang fasih. Anehnya, sang macan yang mendengar kalimat yang dilontarkan Kiai Kholil yang nampaknya kurang fasih itu, macan tutul bergegas menjauh.
Dengan kejadian ini, Habib paham bahwa sebetulnya Kiai Kholil bermaksud memberi pelajaran kepada dirinya, bahwa suatu ungkapan bukan terletak antara fasih dan tidak fasih, melainkan sejauh mana penghayatan makna dalam ungkapan itu.
9. TONGKAT KIAI KHOLIL DAN SUMBER MATA AIR
Dan diantara karomahnya, pada suatu hari. Kiai Kholil berjalan ke arah selatan Bangkalan. Beberapa santri menyertainya. Setelah berjalan cukup jauh, tepatnya sampai di desa Langgundi, tiba-tiba Kiai Kholil menghentikan perjalanannya. Setelah melihat tanah di hadapannya, dengan serta merta Kiai Kholil menancapkan tongkatnya ke tanah. Dari arah lobang bekas tancapan Kiai Kholil, memancarlah sumber air yang sangat jernih. Semakin lama semakin besar. Bahkan karena terus membesar, sumber air tersebut akhirnya menjadi kolam yang bisa dipakai untuk minum dan mandi. Lebih dari itu; sumber mata airnya dapat menyembuhkan pelbagai macam penyakit[15].
Kolam yang bersejarah itu, sampai sekarang masih ada. Orang Madura menamakannya Kolla Al-Asror Langgundi. Letaknya sekitar 1 km sebelah selatan kompleks pemakaman Kiai Kholil Bangkalan. Banyak orang yang datang dari jauh hanya sekedar untuk minum dan mandi. Mereka yakin bahwa air yang ada di sumber mata air di Langgundi itu, adalah jejak karomah-karomah Kiai Kholil yang diyakini membawa berkah.
[1] âKaraamahâ merupakan mashdar dari âkarumaâ, maka âkaraamahâ berarti kemuliaan, yakni kemuliaan yang diberikan oleh Allah pada seorang shaleh yang dicintai-Nya.
[2] Sebernarnya karomah hanyalah sebuah istilah, sebagaimana muâjizat diistilahkan untuk Nabi.
[3] Khoriqun lilâadah: luar biasa. Sebenarnya banyak hal luar biasa yang terkadang kurang dianggap luar biasa oleh kebanyakan orang, sehingga banyak karomah yang dimiliki oleh para ulama tapi tidak dipandang sebagai karomah. Misalnya karya ilmiyah keislaman. Suatu contoh Al-Imam An-Nawawi dan Al-Imam As-Suyuthi, dengan umur yang relatif sedikit mereka telah mampu menulis kitab puluhan ribu halaman pada zaman belum ada alat tulis yang cukup. Dengan kondisi seperti itu, akal kita tidak akan mampu menggambarkan bagaimana mereka menulis kitab sebanyak itu, dan itu berarti semua itu adalah luar biasa. Maka tentu saja keluarbiasaan itu sangat layak untuk disebut karomah, bahkan lebih layak daripasa sekedar bisa terbang dan sebagainya. Dari itu dalam catatan kaki ini saya lebih menekankan pada pemahaman bahwa karomah berupa karya ilmu dan pendidikan itu lebih utama daripada karomah yang âaneh-anehâ, dan Syekh Kolil memiliki âkaromah utamaâ itu. Saya tidak mau ada yang mengatakan bahwa Syekh Kholil hanya dikagumi oleh orang awam yang suka dengan cerita-cerita aneh. Syekh kholil memiliki keistimewaan yang patut dikagumi oleh kaum ulama, intelektual, budayawan dan kalangan apapun yang mendahulukan ilmu dan pendidikan. Syekh Kholil memiliki prestasi yang tidak masuk akal dalam dunia pendidikan, ribuan pesantren didirikan oleh ribuan ulama hasil didikan beliau. Angka yang tidak masuk akal itu menjadi lebih menakjubkan karena yang dihitung adalah wujud kesuksesan dalam pendidikan dan daâwah Islam, prestasi yang paling tinggi dalam dunia ibadah dengan angka yang luar biasa. Inilah karomah tertinggi Syekh Kholil, sehingga seandainya beliau tidak memiliki karomah yang aneh-aneh maka hal itu sama sekali tidak mengurangi bukti âkewalianâ beliau. Dengan ribuan pesantren itu kita tidak perlu mencari cerita aneh beliau untuk membuktikan bahwa beliau adalah kekasih Allah.
[4] Saifur Rachman, Surat kepada Anjing Hitam, Pustaka Ciganjur cetakan pertama tahun 1999, halaman 31-32.
[5] Maksudnya kebetulan Syekh Kholil sedang mengajar kitab nahwu. Sebagian orang menganggap pelajaran nahwu itu sebagai pelajaran tersulit, sehingga terkesan bahwa orang yang paling alim adalah yang paling ahli nahwu. Padahal nahwu hanyalah pelajaran bahasa yang berarti pelajaran tahap awal bagi yang ingin dapat membaca dan berbicara bahasa Arab. Ketika Syekh Kholil sering disebut-sebut sebagai ahli Nahwu, maka sebagian orang yang menganggap ilmu nahwu tidak terlalu rumit merasa Syekh Kholil tidak luar biasa jika hanya karena ilmu nahwu. Maka dari itu, saya ingin tegaskan bahwa ilmu nahwu bagi Syekh Kholil bukan âilmu pamungkasâ. Beliau mendapatkan derajat tinggi bukan karena beliau dikenal dengan ilmu nahwunya, karena ilmu nahwu sifatnya hanya ilmu alat dan perantara. Beliau mendapatkan derajat tiggi karena ilmu yang utama, yaitu ilmu mengenal Allah dan syariâat-Nya. Ketika diceritakan bahwa Syekh Kholil sangat pakar dalam ilmu nahwu, maka kita dapat menyimpulkan bahwa kalau ilmu alatnya saja beliau begitu menekuni sampai paham setiap permasalahannya dan hafal di luar kepala, maka apalagi dengan ilmu syariâatnya, tentulah beliau lebih luas lagi dalam ilmu syariâat yang beliau anggap sebagai tujuan utama.
[6] Ada yang bertanya mengapa Syekh Kholil tidak menggunakan ayat-ayat Al-Qurâan atau doa-doa maâtsurat saja, mengapa beliau menggunakan kalimat yang justru tidak ada hubungannya dengan permasalahan, tidakkah itu termasuk bidâah? Maka untuk pertanyaan itu saya jawab dengan berikut:
1. Syekh Kholil sedang membahas lafazh âqoma zaidunâ maka beliau bermaksud bergurau dengan santri-santri beliau yang sedang tegang mempelajari ilmu nahwu, karena tamu-tamu itu adalah para petani yang tidak mengerti arti âqoma zaidunâ. Dari sini kita dapat menilai karakter Syekh Kholil, berarti beliau seorang ulama yang berwibawa dan terkadang humoris, sebuah karakter yang disukai banyak orang.
2. âQoma zaidunâ yang diucapkan Syekh kholil adalah merupakan bahasa kinayah, di mulut beliau menyebut âzaidunâ akan tetapi di hati beliau bermaksud âpencuri timunâ, sedangkan jumlah fiâil-faâil dimaksudkan âjumlah duâaiyyahâ. Maka artinya adalah âsemoga pencuri timun itu berdiri.â
3. Para petani dibiarkan membaca âqoma zaidunâ karena mereka memang tidak mengerti bahasa Arab, maka sudah pasti ketika mereka membaca âqoma zaidunâ maka di hati mereka bermaksud berdoa sebagaimana doa Syekh Kholil. Maka ketika para petani membaca âqoma zaidunâ, sebenarnya bacaan itu berarti mengamin doa Syekh Kholil, seolah-olah mereka berkata âsaya berdoa sebagaimana doa Syekh Kholilâ. Dan wajarlah kalau Allah-pun mendengar doa Syekh Kholil yang diamini oleh para petani itu.
Dengan demikian, maka tidak ada kejanggalan dari cerita diatas untuk dihujat sebagai bidâah. Ini adalah analisa saya, berangkat dari husnuzhon saya kepada ulama semisal Syekh Kholil. Sesuai dengan ajaran Rasulullah:
ÙÙÙÙ ÙÙØ§ÙÙÙ ÙØ¤ÙÙ ÙÙÙ ÙÙØ·ÙÙÙØ¨Ù اÙÙÙ ÙØ¹ÙØ§Ø°ÙØ±ÙØ ÙÙÙØ§ÙتÙÙÙÙÙ ÙÙØ§ÙÙÙ ÙÙÙØ§ÙÙÙÙ ÙÙØ·ÙÙÙØ¨Ù اÙÙÙ ÙØ¹ÙاÙÙØ¨Ù
âJadilah sebagai orang mukmin yang selalu mencari alasan baik. Dan janganlah menjadi sebagai orang munafiq yang suka mencari aib.â
[7] Banyak terjadi perlakuan aneh dari Ulama zaman dahulu, baik pada santri maupun tamu. Dalam cerita diatas kita dapat menebak bahwa apa yang dilakukan Syekh Kholil adalah merupakan firasat dan memberi ujian. Syekh memiliki firasat tentang pemuda Wahab Hasbullah, kemudian beliau bermaksud menguji kesungguhan pemuda itu untuk belajar pada beliau. Hal seperti ini dapat terjadi antara guru dan murid yang memiliki hubungan kecintaan kepercayaan yang kuat. Makanya tidak ada seorang kiai yang menguji diluar kemuampuan muridnya, terbukti sang murid lulus walaupun terkadang ujiannya tidak masuk akal. Bagi orang yang belum pernah merasakan kecintaan dan kepercayaan yang kuat terhadap guru, hal seperti ini bisa saja dianggap berlebihan. Akan tetapi fakta membuktikan bahwa semua ulama besar tidak sekedar dibesarkan oleh ilmu yang dipelajari dari gurunya, melainkan lebih dibesarkan oleh keberkahan berkat cinta dan percaya yang amat kuat kepada gurunya.
[8] Suami itu sebenarnya tidak paham yang dimaksud minta tolong kepada Syekh Kholil, dia pikir Syekh Kholil dapat menolongnya secara tehnis, sedangkan yang dimaksud oleh orang yang menunjukkan tadi adalah meminta doa kepada beliau. Ketika suami itu datang kepada Syekh Kholil minta tolong maka Syekh Kholil memberi saran untuk menghubungi pihak pelabuhan. Kedatangan sang suami kepada Syekh Kholil sampai tiga kali bukan karena Syekh Kholil pelit atau tidak tahu apa yang harus beliau lakukan, makanya saya kurang sreg dengan kalimat âkarena sampeyan ingin sekali, saya bantu sampeyan.â Saya rasa itu hanya gubahan penulis atau perawi. Syekh Kholil pasti tahu sejak awal bahwa sang suami itu ingin sekali menyelesaikan masalahnya, beliau tidaklah baru menyadari setelah kedatangan yang ketiga. Siapa yang mengaggap problem sang suami itu tidak serius?! Syekh Kholil tidak langsung berdoa sejak kedatangan pertama karena memang sang suami itu tidak minta doa, dan sebagai orang yang tawadhuâ, beliau tidak langsug menawarkan doa, karena menawarkan doa bisa saja terkesan menganggap dirinya punya doa manjur. Dari situ kita dapat melihat ketawadhuâan Syekh Kholil, baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia. Hal ini berbeda dengan âkiai dukunâ yang justru pasang iklan seoalah-olah berkata: âMintalah doa pada saya, karena doa saya manjur.â Inilah yang membedakan antara âkiai waliâ dengan âkiai dukunâ, yaitu tawadhuâ di hadapan Allah dan di hadapan manusia.
[9] Bermimpi seseorang wanita tidak harus sering atau habis memikirkannya sebelum tidur, maka jangan sampai mengira bahwa mungkin saja Kiai Bahar memikirkan istri gurunya sebelum tidur.
[10] Kemarahan Syekh Kholil bukan karena Kiai Bahar bersalah sebab mimpi itu, melainkan semacam hardikan agar Kiai Bahar melupakan mimpi itu, agar tidak diingat lagi walaupun untuk menyesalinya.
[11] Tugas itu sebenarnya bukan hukuman, Syekh Kholil menyebutnya hukuman untuk tidak membuat bingung santri-santri yang lain, sehingga di mata mereka, Bahar dihukum karena tidak shalat berjamaah. Adapun sebenarnya itu adalah ujian sebagaimana yang juga sering diberikan pada murid lainnya.
[12] Sakti mandraguna menurut paham sang Residen, karena ia tidak mengerti soal wali dan karomah.
[13] Ada suatu kesalahan yang banyak dipahami oleh orang awam, baik di Madura maupun di Jawa, mereka pikir semua orang Arab itu âHabibâ. Habib adalah julukan yang diberikan oleh orang Yaman terhadap keturunan Rasulullah. Kemudian julukan ini menjadi populer juga di berbagai negara, walaupun sebenarnya hanya lebih populer di kalangan Habib dari Yaman sendiri atau yang mengenalnya. Dalam menjuluki Habib, orang Madura atau Jawa -yang paham maksudnya- sebenarnya hanya ikut-ikutan orang Yaman saja, itu juga dipakaikan pada Habib yang berasal dari Yaman atau yang masih kental keâYamanâanya. Orang Madura atau Jawa sebenarnya tidak punya julukan khusus untuk keturunan Rasulullah secara umum, maka dari itu mereka tidak menjuluki Syekh Kholil dan sebagainya dengan âHabibâ walaupun tahu bahwa mereka juga cucu Rasulullah. Bagi Mereka, Habib adalah curu Rasululullah yang di Arab atau yang masih menggunakan kebangsaan Arab. Dalam cerita ini, mengingat sebagian orang Madura menganggap semua orang Arab itu Habib, maka hendaknya dimaklumi bahwa Habib dalam cerita ini belum tentu Habib yang sebenarya, mungkin saja orang Arab biasa. Kalaupun ternyata memang Habib sebenarnya, hendaknya dimaklumi bahwa cerita ini tidak menyimpulkan bahwa ada seorang bahngsa Sayyid dikalahkan seorang bangsa Madura, karena sebenarnya Syekh Kholil juga bangsa Sayyid yang telah njawani sejak dari leluhurnya.
[14] Sebenarnya tidak semua orang Arab fasih tajwidnya, baik yang di Indonesia maupun yang di Arab sekalipun, kecuali yang memang belajar tajwid. Saya jadi teringat waktu ngobrol dengan Sayyid Anis Bin Syihab Malang, beliau berkata dengan nada berkelakar: âWatak orang Arab itu memang PD-an, kalau mereka datang ke kampung-kampung kemudian disuruh jadi imam langsung aja maju, padahal baca Qurâannya masih bagus orang Jawa.â Yakni orang Jawa kampung yang pada umumnya belajar tajwid sejak kecil.
[15] Apabila air itu benar-benar terbukti pernah menyembuhkan penyakit seseorang, maka ada dua kemungkinan bagaimana proses kemujaraban air itu. Pertama, mungkin air itu memang mengandung zat yang berguna untuk penyembuhan, maka berarti air itu dapat menyembuhkan secara medis, walaupun tidak ada yang megerti tentang hal itu. Namun bukan berarti tidak ada hubungannya dengan karomah Syekh Kolil, melainkan ketika Syekh Kholil menemukan sumber itu maka berarti beliau telah melakukan hal yang luar biasa. Kedua, mungkin air itu hanya air biasa, namun air itu menjadi mujarab berkat Syekh Kholil. Adapun prosesnya adalah dengan tabarruk, yakni memohon berkah kepada Allah dengan perantara benda bekas orang shaleh. Ketika seseorang datang dan meminum air Kolla Al-Asror, mereka berkeyakinan bahwa Kolla itu adalah peninggalan Syekh Kholil yang mereka yakini sebagai orang shaleh kekasih Allah. Mereka bertabarruk dengan air kolla itu sebagaimana yang dibenarkan oleh Syariâat Islam.
Masalah Tabarruk
Masalah ini perlu saya bahas agar tidak ada yang salah paham mengenai cerita diatas. Tabarruk adalah bagian daripada tawassul, yaitu mengambil perantara didalam berdoa kepada Allah. Yang dimaksud mengambil perantara adalah merayu Allah dengan menyebut-nyebut orang yang dicintai Allah. Ketika seseorang bertawassul dengan Nabi, misalnya, maka seolah-olah ia berkata: âYa Allah, kalau Nabi saja aku cintai karena beliau kekasih-Mu, maka apalagi Engkau, tentu Engkau lebih aku cintai. Maka berkat cinta ini kabulkanlah doakuâ. Itulah yang dimaksud tawassul. Adapun tabarruk adalah bertawassul dengan menyentuh benda-benda yang berhubungan dengan kekasih Allah. Maka tabarruk masih dalam rentetan tawassul. Ketika seseorang bertabarruk dengan baju bekas orang shaleh, misalnya, maka seolah-olah ia berkata: âYa Allah, kalau baju bekas orang shaleh saja aku cintai, apalagi orang shaleh yang punya baju. Dan karena aku mencintai orang shaleh itu karena dia adalah kekasih-Mu, maka apalagi Engkau, tentu Engkau lebih aku cintai. Maka berkat cinta ini kabulkanlah doaku.â
Orang yang menentang tawassul dan tabarruk itu sebenarnya disebabkan karena ia tidak mengerti tentang dua hal, yaitu tidak mengerti maksudnya dan tidak mengerti bahwa Syariâat Islam mengajarkan tawassul dan tabarruk sebagai salah satu cara beribadah.
Tawassul diajarkan dalam Syariâat Islam, diantara dalil-dalilnya adalah sebagai berikut:
1. Allah SWT berfiran:
ÙÙØ§ Ø£ÙÙÙÙÙÙØ§ اÙÙÙØ°ÙÙÙÙ٠آ٠ÙÙÙÙØ§ اتÙÙÙÙÙØ§ اÙÙÙÙ ÙÙØ§Ø¨ÙØªÙØºÙÙÙØ§ Ø¥ÙÙÙÙÙÙ٠اÙÙÙÙØ³ÙÙÙÙÙØ©Ù..
âWahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan ambillah perantara kepadaNya..â (Q.S. Al-Maidah : 35)
2. Allah SWT berfirman:
Ø£ÙÙÙÙØ¦ÙÙ٠اÙÙÙØ°ÙÙÙÙÙ ÙÙØ¯ÙعÙÙÙÙÙ ÙÙØ¨ÙØªÙØºÙÙÙÙ٠إÙÙÙÙÙÙ٠اÙÙÙÙØ³ÙÙÙÙÙØ©Ù
âMereka adalah orang-orang yang berdoa dengan mengambil perantara kepada Tuhan mereka.â (Q.S. Al-Israâ : 57).
3. Allah berfirman:
.. ÙÙÙÙØ§ÙÙÙÙØ§ Ù ÙÙÙ ÙÙØ¨ÙÙÙ ÙÙØ³ÙتÙÙÙØªÙØÙÙÙÙ٠عÙÙ٠اÙÙÙØ°ÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙØ±ÙÙÙØ§ ÙÙÙÙÙ ÙÙØ§ Ø¬ÙØ§Ø¡ÙÙÙÙ Ù Ù ÙØ§ Ø¹ÙØ±ÙÙÙÙÙØ§ ÙÙÙÙØ±ÙÙÙØ§ بÙÙÙ ..
â.. Dan adalah mereka sebelumnya telah memohon (kepada Allah) akan kemenangan atas orang-orang kafir. Dan ketika datang apa yang mereka kenal itu merekapun kemudian mengingkarinya. ..â (Q.S. Al-Baqarah : 89)
Kata Sahabat Abdullah bin Abbas, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ktasir dalam Tafsirnya, Yang dimaksud ayat itu adalah orang Yahudi Khaibar, ketika berperang dengan orang-orang Ghathfan, mereka terdesak dan kemudian berdoa kepada Allah berta-wassul dengan Nabi akhir zaman. Akan tetapi setelah Rasulullah muncul mereka malah mengingkari beliau. Riwayat ini menyimpulkan bahwa Allah membenarkan orang yang bertawassul dengan orang shaleh walaupun ia belum lahir, apabila kelahiranya telah dikabarkan oleh Allah.
4. Ketika memakamkan ibu Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang bernama Fathimah binti Asad, Rasulullah turun sendiri ke liang lahat kemudian memuji Allah dan berdoa:
Ø§ÙØºÙÙÙØ±Ù ÙÙØ£ÙÙ ÙÙÙÙ ÙÙØ§Ø·ÙÙ ÙØ©Ù بÙÙÙØªÙ Ø£ÙØ³Ùد٠ÙÙÙÙÙÙÙÙÙÙÙØ§ ØÙجÙÙØªÙÙÙØ§ ÙÙÙÙØ³ÙÙØ¹Ù عÙÙÙÙÙÙÙØ§ Ù ÙØ¯ÙØ®ÙÙÙÙÙØ§ Ø¨ÙØÙÙÙÙ ÙÙØ¨ÙÙÙÙÙÙ ÙÙØ§ÙØ£ÙÙÙØ¨ÙÙÙØ§Ø¡Ù Ù ÙÙÙ ÙÙØ¨ÙÙÙÙÙ ..
âAmpunilah ibuku, Fathimah binti Asad, dan tuntunlah ia akan hujjahnya (jawaban pertanyaan kubur) dan lapangkanlah tempatya, dengan kebenaran Nabi-Mu dan Nabi-Nabi sebelumku..â (H.R. Ath-Thabrani dan Ad-Dailami, dinyatakkan shahih oleh Al-Haitsami)
Hadits ini menyimpulkan bahwa tawassul dengan orang shaleh yang telah meninggal itu juga diajarkan oleh Rasulullah, karena para Nabi yang ditawassuli oleh beliau telah meninggal semua.
5. Al-Imam Ath-Thabrani meriwayatkan dalam kedua kitabnya, âAl-Muâjam Al-Kabirâ (9/17) dan âAl-Muâjam Ash-Shaghirâ (hal. 201), bahwa Sahabat Utsman bin Hunaif meriwayatkan, bahwa suatu ketika ada seseorang yang datang menemui Khalifah Utsman bin Affan, orang itu datang dengan suatu keperluan, akan tetapi (mungkin karena sibuk dengan suatu masalah) Khalifah tidak menaggapinya. Maka Utsman bin Hunaif berkata kepadanya:
âBerwudhuâlah dan shalat dua rakaâat, kemudian bacalah:
اÙÙÙÙÙÙÙ Ù٠إÙÙÙÙÙÙ Ø£ÙØªÙÙÙØ³ÙÙÙ٠إÙÙÙÙÙÙÙ ÙÙØ£ÙتÙÙÙØ¬ÙÙÙ٠إÙÙÙÙÙÙ٠بÙÙÙØ¨ÙÙÙÙÙÙØ§ Ù ÙØÙÙ ÙÙØ¯Ù ÙÙØ¨ÙÙÙÙ Ø§ÙØ±ÙÙØÙÙ ÙØ©ÙØ ÙÙØ§ Ù ÙØÙÙ ÙÙØ¯Ù Ø¥ÙÙÙÙÙÙ Ø£ÙØªÙÙÙØ¬ÙÙÙ٠بÙÙ٠إÙÙ٠اÙÙÙÙ ÙÙÙÙ ØÙØ§Ø¬ÙØªÙÙÙ ÙÙØªÙÙÙØ¶Ù ÙÙÙÙ
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepadamu dengan Nabi kami, Muhammad Nabi rahmat. Wahai Nabi Muhammad, denganmu aku menghadap Tuhanku dalam urusan keperluanku ini agar dipenuhinya.
Kemudian kembalilah menemui Khalifah.â
Orang itupun melakukan himbauan Utsman bin Hunaif kemudian kembali mendatangi Khalifah Utsman bin Affan. Begitu menemui pengawal ia langsung dibawa masuk dan Khalifah mempersilahkan dia duduk di dekatnya, iapun ditanya apa keperluannya dan Khalifahpun langsung memenuhinya. Seberanjaknya dari Khalifah, orang itu langsung menemui Utsman bin Hunaif dan berkata: âSemoga Allah membalas jasamu dengan baik. Semula Khalifah sama sekali tidak mempedulikanku, bahkan tidak mau menoleh sedikitpun paadaku, sampai engkau membantuku dengan berbicara padanya.â Orang itu mengira Utsman bin Hunaif telah memberi rekomendasi pada Khalifah Utsman bin Affan. Maka Utsman bin Hunaif berkata: âDemi Allah, aku tidak berbicara apa-apa pada Khalifah, akan tetapi aku pernah menyaksikan Rasulullah SAW ketika didatangi seseorang mengadukan matanya yang buta. Rasulullah berkata: âKalau kau mau maka kau bisa bersabar, dan kalau kau mau maka aku akan mendoakanmu.â Orang itu menjawab: âYa Rasulallah, kebutaan ini menyulitkan saya, karena saya tidak punya siapa-siapa untuk menuntun saya.â Maka Rasulullah SAW bersabda: âBerwudhuâlah dan shalatlah dua rakaâat kemudia berdoalah .. dst.â Yaitu doa diatas. Utsman bin Hunaif melanjutkan dan berkata: âOrang itupun melakukan apa yang diajarkan Rasulullah SAW. Dan demi Allah, tidak beberapa lama kemudian orang itupun kembali dengan keadaan dapat melihat, seolah-olah matanya tidak pernah sakit sama sekali.â
Riwayat ini menyimpulkan dua hal:
Pertama, bahwa bertawassul dengan orang shaleh yang hidup dan memanggil namanya dari jauh itu tidak apa-apa, walaupun yang ditawassuli tidak mendengar panggilannya, karena dalam riwayat diatas Utsman bin Hunaif berkata âtidak beberapa lama orang itupun kembali dengan keadaan dapat melihatâ, maka berarti orang itu membaca doa tawassul yang ada kalimat âya Rasulullahânya tidak di hadapan Rasulullah SAW.
Kedua, bahwa bertawassul dengan orang shaleh yang telah meninggal dunia itu tidak apa-apa, karena cerita diatas terjadinya pada zaman Khalifah Utsman bin Affan dan Rasulullah SAW telah meninggal dunia.
6. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan tentang tiga orang yang terperangkap dalam gua karena tiba-tiba ada batu besar terjatuh dari atas gunung dan menutup pintu gua itu. Kemudian mereka bertawassul dengan menyebut amal shaleh mereka masing-masing, sehingga batu itupun bergeser dan terbukalah pintu gua. Hadits ini menyimpulkan bahwa bertawassul dengan amal shaleh juga diajarkan oleh Rasulullah SAW.
7. Al-Bukhari, Muslim dan Abu Dawud meriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah mencukur rambut untuk tahallul haji, kemudian rambut itu beliau serahkan pada Sahabat Thalhah untuk dibagikan pada Sahabat-sahabat yang lain. Maka para sahabatpun berebut rambut Rasulullah, tentu saja untuk ngalap berkah (tabarruk), karena rambut tidak bisa dimakan. Diantara mereka ada yang mencelup rambut Rasulullah ke dalam air kemudian airnya diminumkan pada orang sakit.
8. Al-Hafizh Ibnu Hajar meriwayatkan dalam kitabya, âAl-Mathalib Al-âAliyahâ (4/90), bahwa Sahabat Khalid bin Al-Walid berebut rambut Rasulullah ketika bercucukur untuk tahallul umroh, kemudian rambut itu segera ia selipkan di kopiahnya. Khalid berkata: âDalam memimpin setiap pertempuran aku selalu menang tanpa cedera sedikitpun apabila aku memakai kopiah yang ada rambut Rasulullah itu.â Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Abu Yaâla serta dinyatakan shahih oleh Al-Haitsami dan Al-Bushiri.
9. Al-Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Asmaâ binti Abi Bakar memiliki jubah Rasulullah dan beliau berkata: âJubah ini dulunya ada pada Aisyah, setelah ia meninggal akupun mewarisinya. Jubah itu pernah dipakai oleh Rasulullah SAW. Maka kamipun suka merendam jubah itu ke dalam air dan airnya kami minumkan pada orang sakit untuk mengharap kesembuhan.
Ketiga hadis terakhir ini menyimpulkan bahwa Rasulullah membenarkan tabarruk dengan benda bekas orang shaleh. Dan masih banyak lagi Hadits-hadits shahih yang meriwayatkan tentang bagaimana para Sahabat bertabarruk dengan benda-benda bekas Nabi yang lain, seperti potongan kuku, bekas air wudhu dan sebagainya.
Kesimpulannya, tawasul dan tabarruk itu diajarkan oleh syariâat. Tawassul boleh dengan Amal shaleh, dengan Nabi, Malaikat dan orang-orang shaleh, baik mereka belum lahir, masih hidup maupun telah meninggal dunia. Sejak zaman Sahabat Nabi, semua ulama sepakat akan hal itu, tidak ada yang berbeda pendapat sampai muncullah seorang bernama Ibnu Taimiyah, iapun banyak menimbulkan masalah dengan pendapat-pendapat kontrofersialnya, termasuk pendapatnya bahwa tawassul dengan orang yang telah meninggal itu termasuk jenis syirik. Dalam hal ini Ibnu Taimiyah pernah melakukan kebohongan dengan mengatakan bahwa tidak ada ulama yang membolehkan tawassul dengan orang yang telah meninggal, seperti yang ia tulis dalam kitab âAt-Tawassul wal-Wasilahâ (hal.24). Padahal dalam kitabnya yang lain, yaitu âAl-Fatawa Al-Kubraâ (1/351), Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa Al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam salah satu riwayatnya membolehkan tawassul dengan Nabi.
Diantara Hadits tawassul, mereka hanya mau menerima riwayat Utsman bin Hunaif saja sebagai Hadits yang benar-benar shahih, itupun mereka tidak mau menerima pendapat Utsman yang bertawassul dengan Rasulullah setelah beliau wafat. Mereka hanya mau menerima bahwa Rasulullah mengajarkan tawassul ketika beliau masih hidup.
Untuk itu saya kemukakan beberapa hal berikut:
a. Kalau mereka menolak Hadits-hadits yang lain yang telah dishahihkan oleh ulama ahli Hadits semacam Al-Hakim, Adz-Dzahabi, Al-Asqalani, Al-Qusthallani dan sebagainya, maka kita tinggal memilih saja, kita lebih percaya terhadap keahlian siapa dalam ilmu Hadits. Siapa Ibnu Taimiyah dibanding mereka? Dia digelari âSyaikhul Islamâ hanya oleh pengikut fanatiknya saja, sementara hampir semua ulama besar justru pernah menasehati umat agar tidak tertipu oleh pendapat-pendapatnya. Apakah kita akan percaya pernyataan Ibnu Taimiyah dan mencampakkan nama-nama besar itu yang masing-masing mereka bergelar âAl-Hafizhâ yang berarti telah hafal sedikitnya sepuluh ribu Hadits dengan sanadnya? Apakah kita lebih percaya pada Ibnu Taimiyah yang banyak memberi pernayataan âplin-planâ dalam berbagai kitabnya? Dalam segi ketelitian berargumentasi, Ibnu Taimiyah sudah jelas nampak kacau balau, ia tidak memenuhi syarat walaupun untuk disebut sebagai âpenelitiâ, apalagi untuk disebut sebagai âahli Hadits! Lantas bagaimana mungkin kita mau memegang omongannya!
b. Ketika mereka (Ibnu Taimiyah dan pegikutnya) menyatakan haram atau syirik terhadap tawassul dengan orang meninggal, maka berarti mereka menganggap sesat dan syirik terhadap perbuatan Utsman bin Hunaif, berarti Sahabat Nabi ada yang sesat dan syirik. Beranikah mereka katakan itu di hadapan Rasulullah?
c. Kita tidak usah membicarakan Hadits yang lain. Kalaupun hanya riwayat Utsman bin Hunaif yang shahih, bahwa Rasulullah mengajarkan tawassul sewaktu beliau hidup, riwayat ini sama sekali tidak menyimpulkan bahwa tawassul dengan Nabi itu hanya berlaku selama beliau hidup. Seandainya memang tawassul dengan orang meninggal itu sesat maka tentu Rasulullah adalah orang yang paling hawatir umat beliau tersesat, maka tentu beliau akan berpesan pada orang yang diajari tawassul itu agar âtawassul dengan Nabiâ tidak dipakai setelah beliau wafat. Kenyataannya Rasulullah menyuruh tawassul dengan diri beliau tanpa mengkhususkan selama beliau hidup. Maka barang siapa mengkhususkan sesuatu yang tidak dikhususkan oleh Rasulullah, maka ia jelas-jelas telah melakukan bidâah yang sesat.
d. Mereka berdalih dengan sebuah riwayat shahih bahwa Khalifah Umar bin Khaththab pernah bertawassul dengan Sayyidina Abbas bin Abdul Muththalib, paman Nabi, pada saat shalat istisqaâ setelah Nabi wafat. Mereka, pikir, kalau memang tawassul dengan orang meninggal itu boleh maka tentu Khalifah Umar akan bertawassul dengan Nabi. Paham ini sebenarnya sangat dangkal dan nampak sekali kesan pemaksaannya hanya demi untuk mendukung pendapat mereka. Coba kita perhatikan berita kalimat ini: âUmar bertawassul dengan Abbas, waktu tawassulnya setelah Nabi wafatâ. Jujur saja, kalimat ini memberi dua kesimpulan, yang pertama sifatnya pasti dan yang kedua sifatnya hanya mungkin. Pertama, berarti boleh bertawassul dengan selain Nabi. Yang kedua, bisa jadi Umar menganggap tidak boleh bertawassul dengan orang meninggal, makanya beliau bertawassul dengan Abbas yang masih hidup. Kemungkinan yang kedua ini hanya âbisa jadiâ, artinya bisa juga tidak. Nah, dalam kaidah Ushul Fiqih, memutuskan suatu hukum itu harus berdasarkan nash (dalil) yang tidak memiliki banyak kemungkinan kesimpulan. Kaidah mengatakan:
عÙÙÙØ¯Ù ÙÙØ¬ÙÙÙØ¯Ù Ø§ÙØ§ÙØÙتÙÙ ÙØ§Ù٠سÙÙÙØ·Ù Ø§ÙØ§ÙØ³ÙØªÙدÙÙØ§ÙÙÙ
âKetika ada kemungkinan maka gururlah penggunaan dalil.â
Jadi, orang yang mengerti Ushul Fiqih akan merasa malu untuk menjadikan riwayat Umar ini sebagai hujjah untuk mengharamkan tawassul dengan orang yang telah meninggal.
e. Mereka mengaggap tawassul dengan orang yag telah meninggal sebagai syirik, kalau dengan orang yang masih hidup maka tidak. Lantas apa bedanya? Bertawassul dengan seseorang itu karena melihat status orang yang ditawassuli, karena kita mengaggap dia sebagai kekasih Allah. Nah, status kekasih Allah itu tidak berubah setelah ia meninggal. Sebagian mereka berkata bahwa orang yang telah meninggal itu tidak bisa memberi manfaat sebagaimana orang yang masih hidup.â Yang lain berkata: âAllah itu Maha Dekat dan Mendengar, mengapa kita tidak langsung saja berdoa kepada Allah tanpa perantara!â Maka pernyataan itu semakin memperjelas kesahpahaman mereka. Berarti, menurut mereka, tawassul itu minta pada orang yang ditawassuli. Ini sudah jelas keluar dari arti “bertawassul dengan seseorangâ. Dari segi bahasa saja mereka telah salah memahami arti tawassul. Secara bahasa, tawassul itu artinya memohon dengan merengek atau merayu. Maka bertawassul dengan seseorang itu artinya meminta kepada Allah dengan sebuah rayuan berupa menyebut orang yang dicintai Allah. Sama dengan merayu Zaid bin Umar, misalnya, dengan berkata âSaya penggemar orang tua Anda, maka demi dia, tolonglah saya.â Coba perhatikan, siapa yang dimintai diatara Zaid dan Umar itu? Zaid, Umar atau dua-duanya? Kalau ada yang bilang berarti minta pada Umar atau pada dua-duanya Zaid dan Umar, berarti orang itu belum bisa disebut âbisa berbahasa dengan benarâ.
Itulah beberapa hal yang semoga dapat membantu mereka untuk memahami arti tawassul. Baragkali mereka memang kurang punya sopan santun sehingga tidak menghormati ulama-ulama ahli Hadits dan sembarangan menyebut mereka sesat. Setidak-tidaknya agar mereka tidak buru-buru menganggap sesat dan syirik terhadap mereka
Syirik yang sebenarnya
Syirik yang sebenarnya adalah ketika kita meminta pada seseorang, baik yang diminta itu masih hidup atau sudah mati, dengan berkeyakinan bahwa dia mampu memberi dengan kemampuan mutlak sebagaimana kemampuan yang dimiliki Allah. Coba kita tanya pada orang yang bertawassul dengan para wali itu, seawam apapun mereka tidak pernah meyakini bahwa para wali yang ditawassuli itu mampu memberi dengan kemampuan mutlak sebagaimana kemampuan yang dimiliki Allah. Demikian pula dengan tabarruk, ketika mereka menyentuh, mencium dan meminum air rendaman benda bekas orang shaleh, mereka tidak pernah menganggap benda itu memiliki kekuatan sebagaimana kekuatan yang dimiliki Allah. Mereka hanya berharap dengan itu Allah tersentuh untuk mengabulkan doa mereka, atau berharap untuk mendapat ridha Allah. Hal ini sama dengan perihal orang yang mencium hadiah pemberian Anda di hadapan Anda. Coba apa yang Anda pikirkan tentang orang itu? Menurut Anda apa yang ia tuju dengan mencium hadiah itu di hadapan Anda? Anda pasti berfikir bahwa dia melakukan itu untuk membuat Anda senang. Demikian pulalah yang terjadi pada orang yang bertabarruk, mereka berharap Allah senang dengan tabarruk itu, karena yang mereka tabarruki adalah orang atau benda bekas orang yang dicintai Allah. Itulah yang terjadi pada umumnya kaum muslimin yang bertabarruk. Kecuali orang awam yang memang masih dalam pengaruh kepercayaan kuno pra Islam. Dan untuk orang seperti ini tentu saja kita wajib memberi pengarahan.
Mardhie
Tidak banyak sebenarnya harus dikomentari dalam hal ini baik itu suku apa saja, yang penting tau menempatkan diri dimana dia berada dan bisa menghormati orang lain maka demikian pula halnya dengan dirnya semua adalah timbal balik aja, saya orang Dayak Campuran Banjar dan Juga ada Jawa di Dalam darah saya tapi.. tidak ada dalam diri saya untuk membenci suku - suku lain diluar suku dayak karena mereka semua sama seperti saya manusia biasa .. gak usah sombong dan berusaha mengungkit - ungkit masalah yang sudah terjadi introspeksi diri sendiri aja dan jalin pergaulan yang banyak agar bisa memajukan daerah kita dan Bangsa Indonesia pada umumnya.. salam damai saudara - saudaraku se antero Indonesia
joko tole
Dimanapun dan apapun sukunya kalau dia tahu menempatkan diri di hadapan Allah yang maha esa niscaya kesombongan dan pertikaian tidak akan ada.Dan tidak menyamaratakan semua Suku Madura adalah salah itulah yang tidak di terima karena kalau menyamaratakan maka yang terjadi adalah orang yang masih hidup,mati,anak kecil,orang tua,orang baik termasuk di dalamnya.Perbuatan itu hanya di lakukan oleh oknum2 madura dan dayak yang hanya mengatas namakan kesuku2an ini harus di tuntaskan dan di adili secara adil karena kalau tidak ini akan menjadi duri dalam daging yang tidak akan pernah sembuh,dan hanya di jadikan sebagai ajang penghinaan dan pelecehan terhadap suku2 tertentu.
Dan kita harus mempunyai prinsip bahwa yang salah harus di hukum dan juga yang tidak salah harus di lindungi karena itulah ciri2 orang beradab dan beragama.Tidak ada ceritanya semua orang benar dan semua orang salah.karena perbutan itu bisa terjadi pada siapapun termasuk kepda putra nabi Nuh As yang berbuat salah.
Hamba Allah
MENGAPA MANUSIA CENDERUNG MELUPAKAN ALLAH !?
Bismillahir rohmanir rohiim.
Assalamu’alaykum warohmatullaah wabarokaatu.
Ikhwaanii wa Akhwaatii Rahimakumullah…
Tersebutlah kisah nyata dimana kaum Tsamud datang tepat setelah Kabilah ‘Ad di hancurkan. Mereka mengetahui bahwa Allah menghancurkan kabilah ‘Ad. Kisah ini pun terus terdengar dari generasi ke generasi.
Coba bayangkan, peristiwa bersejarah terjadi sekitar sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Apakah ia dapat dilupakan begitu saja? Tentu saja tidak, peristiwa itu akan terus jadi omongan dan bisa jadi semua orang akan mengetahuinya.
Kenapa ini bisa terjadi? Mengapa manusia selalu saja mengulangi kesalahan serupa? Mengapa setelah Allah subhanahu wa ta’ala tunjukkan salah satu kekuasaan-Nya, manusia kembali kafir dan musyrik? Mengapa muncul manusia-manusia yang jauh dari Allah? Mengapa ada orangtua yang melarang anaknya memakai jilbab? Mangapa!?
Apakah Allah tidak memberi kita rezeki dan nikmat? Apakah nikmat itu sedikit sehingga kita melupakan-Nya? Benarkah sedikit? Coba lihat dan perhatikan nikmat yang ada di tubuh, agar kita tahu betapa banyaknya nikmat yang telah diberikan-Nya.
“Adapun nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS. An-Nahl {16}:53).
Kita tidak akan pernah mampu menghitung nikmat-Nya, karena Allah melimpahkan pada kita nikmat yang tidak terhitung banyaknya. Aapakah dengan kemampuan yang terbatas ini, kita yakin mampu hidup tanpa bantuan-Nya?
“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.” (QS. Fathir {35}:15-17)
Ya memang benar bahwa kita fakir di hadapan Allah. Walaupun berharta atau berkuasa, kita tetap membutuhkan-Nya. Benarkah kita mampu melakukannya sendirian tanpa bantuan Allah? Kalau tidak, mengapa kita sering melupakan-Nya?
Wahai saudara-saudariku yang semoga dirahmati oleh Allah swt., tahukah engkau di mana Allah berada?
Suatu hari ada seseorang bertanya kepada Rasulullah, “Rasulullah, jauhkah Allah sehingga kita harus berteriak memanggil-Nya, atau Dia dekat sehingga kita bisa berbisik kepada-Nya? Rasulullah saw menjawab dengan firman-Nya:
“Apabila para hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku itu dekat…” (QS.Al-Baqarah {2}:186),
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat daripada urat lehernya.” (QS. Qaff {50}:16).
Subhanallah, Allah sangat dekat dengan kita. Lantas, mengapa kita bisa sering melupakan-Nya? Salah satu sifat Allah adalah al-Wadud (Mahapenyayang). Karena itu Dia selalu berusaha memperlihatkan cinta dan kasih sayang-Nya kepada para hamba-Nya.
Lalu mengapa begitu banyak orang yang melupakan Allah? Apakah mereka tidak melihat bukti-bukti keberadaan-Nya? Baiklah, semoga syair-syair berikut ini dapat menyadarkan mereka akan keberadaan-Nya, serta mensyukuri segala nikmat-Nya, insyaAllah…
Milik Allah-lah kekuasaan yang ada di langit
agar sedikit petunjuk dapat engkau peroleh
Bumi yang penuh dengan rahasia
jika mampu kau kuak akan membuka kesadaranmu
Tanyakan pada tabib yang menghalangi tangan kematian
tabib manakah yang dapat menghancurkanmu?
Tanyakan pada si sakit yang telah sembuh dan sehat
jika para tabib menyerah, siapa yang menyembuhkanmu?
Tanyakan pada yang sehat dan tiba-tiba mati tanpa sebab
Siapakah yang menimpakan itu kepadamu?
Tanyakan pada yang melihat dan takut pada lubang yang menghadang
jika kamu terjerumus, siapakah yang menjerumuskanmu?
Tanyakan pada orang buta yang berjalan dalam keramaian
dapat meniti arah tanpa menabrak, siapakah yang menuntun langkahmu?
Tanyakan pada janin yang hidup seorang diri
Siapakah yang merawatmu. Aku (Allah) ataukah ibumu?
Tanyakan pada janin yang menangis saat terlahir
Siapakah yang menangiskanmu?
Tanyakan pada ular yang menyemburkan bisa-nya
Siapakah yang mengisi bisa-mu?
Tanyakan pada ular, bagaimana kamu hidup
padahal bisa (racun) memenuhi isi perutmu?
Tanyakan pada lebah, bagaimana perutmu mampu meneteskan madu
dan siapa yang memaniskan madumu?
Tanyakan pada air susu yang murni
dari kotoran dan darah, siapa yang memurnikanmu?
Tanyakan pada kehidupan yang pergi dari sang mayit.
Siapakah yang menghidupkanmu?
Tanyakan pada tanaman yang mekar kemudian layu berguguran
Siapakah yang membuangmu?
Tanyakan pada tumbuhan sepi di gurun Sahara.
Siapakah yang merawatmu?
Tanyakan pada bulan yang sinarnya bertaburan
Siapakah yang menaburkan sinarmu?
Tanyakan pada sinar matahari, terlihat dekat padahal jauh
Siapakah yang mendekatkanmu?
Tanyakan pada buah-buahan yang pahit
Siapakah yang meramu bahanmu?
Tanyakan pada kurma yang terbelah kulitnya
Siapakah yang mencabik kulitmu?
Tanyakan pada gunung menjulang ke langit tinggi
Siapakah yang menegakkanmu?
Seluruh alam akan menjawab
Seandainya ia mempesona matamu
Rabb-ku, bagimu segala puji
Tidak ada selain-Mu
Wahai Yang Menciptakan penglihatan
Sedang penglihatan tidak mengenal selain-Mu
Seandainya penglihatanku tidak bisa melihat-Mu
Maka kumohon pertolongan-Mu
Wahai manusia, hati-hatilah
Apa lagi yang bisa Allah perbuat untuk menyadarkanmu?
Saudara-saudariku yang semoga dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala, syair itu insyaAllah merupakan ekspresi dari firman Allah swt:
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa? Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki? Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang? Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang gaib lalu mereka menuliskannya? Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai tuhan selain Allah. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Ath-Thuur {52}:35-43).
Sungguh Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya.
Ikhwaanii wa Akhwaati rahimakumullah,
Semoga saja lewat catatan ini dapat kiranya menyadarkan diri, bahwa sungguh terlalu banyak orang-orang di antara kita yang begitu berani melupakan Allah swt, Dzat yang PASTI telah memberikan segala sesuatunya secara cuma-cuma bagi kehidupan kita
Yaa Allah yaa Ghoffar… ampunilah kami yang senantiasa kerap melupakan-Mu. Ampuni kami yaa Allaah…
Hamba Allah
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS.an-Nisaa’ {4}: 1).
Hamba Allah
“… Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya,” (QS al-Maidah [5]: 32).
Hamba Allah
Allah berfirman: “Walaa taqtuluu anfusakum..” (Q. 4. An-Nisaa: 29). “Dan janganlah kamu membunuh dirimu..” Menurut para mufassir, larangan membunuh diri ini termasuk juga membunuh orang lain; karena membunuh orang lain termasuk membunuh diri sendiri, sebab umat merupakan satu kesatuan. Larangan ini sangat jelas sekali. Orang yang membunuh dirinya sendiri dan sekaligus orang-orang lain yang tidak berdosa, jelas sangat jauh untuk dapat disebut syahid? Sungguh keterlaluan mereka yang mencekokkan doktrin yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Apalagi hanya karena taklid buta terhadap tren dari luar negeri . Dan sungguh naïf mereka yang –mengaku umat Muhammad-- dengan mudah terpikat hanya oleh iming-iming bidadari, hingga mengabaikan akal sehat dan tega menghancurkan nilai agung kemanusiaan yang ditegakkan Rasulullah SAW.
Wallahu a’lam.
Parebok
Larangan Menumpahkan Darah Seorang Muslim tanpa Haq
Allah SWT berfirman, "Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan adzab yang besar baginya," (An-Nisa': 93).
Dari 'Abdullah bin Mas'ud r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, "Tidaklah terbunuh satu jiwa secara zhalim melainkan atas anak Adam yang pertama mendapat bagian dari dosanya, karena dialah yang pertama kali mencontohkan pembunuhan tersebut," (HR Bukhari [3335] dan Muslim [1677]).
Dari 'Abdullah bin 'Abbas r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, "Ada tiga orang yang paling dibenci Allah: orang yang melakukan kejahatan di tanah haram, orang yang mencari tradisi jahiliyyah setelah Islam dan orang yang menuntut darah seorang tanpa hak untuk ditumpahkan," (HR Bukhari [6882]).
Dari Abu Darda' r.a, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Semua dosa masih bisa diharapkan Allah akan mengampuninya kecuali orang yang mati dalam keadaan musyrik atau orang mukmin yang sengaja membunuh mukmin lainnya," (Shahih, HR Abu Dawud [4270], Ibnu Hibban [5980], al-Hakim [IV/351], Abu Nu'aim dalam al-Hilyah [V/153], al-Baihaqi [VIII/21]).
Dari 'Ubadah bin Shamit r.a. dari Rasulullah saw, bahwa beliau bersabda, "Barangsiapa membunuh seorang mukmin sedang ia bangga melakukannya, maka Allah tidak akan menerima darinya ganti dan tebusan apapun," (HR Abu Dawud [4270]).
Dari Abu Darda' dan 'Ubadah bin Shamit r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, "Seorang mukmin senantiasa menjadi (semangat) dan shalih selama ia tidak menumpahkan darah yang haram ditumpahkan. Apabila ia menumpahkan darah yang haram, maka ia menjadi ballah (terputus gairahnya dan menjadi lemah semangat)," (HR Abu Dawud [4270]).
Dari Anas bin Malik r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, "Allah enggan menjadikan taubat bagi orang yang mebunuh seorang Mukmin," (lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah [689]).
Dari Rifa'ah bin Syaddad al-Qitbani, ia berkata, "Kalau bukan karena perkataan yang aku dengar dari 'Amr bin al-Hamq al-Khuza'i niscaya akan aku datangi Mukhtar. Aku mendengar ia berkata, 'Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa memberi jaminan keamanan atas jiwa seseorang tapi ia malah membunuhnya, maka ia akan membawa panji khianat pada hari kiamat," (lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah [440]).
Kandungan Bab:
1. Kerasnya pengharaman menumpahkan darah seorang Muslim tanpa haq dan menumpahkan darah manusia secara umum.
2. Dalam bab ini disebutkan beberapa hadits yang zhahirnya bertentangan dengan firman Allah, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya," (An-Nisaa': 48 dan 116).
Dan firman Allah, "Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih, maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang," (Al-Furqaan: 70).
Karena dosa membunuh tentunya di bawah dosa syirik, dan ayat dalam surat al-Furqaan secara jelas menyebutkan diterimanya taubat pembunuh lalu bagaimana cara menggabungkan antara keduanya?
Sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa hadits-hadits di atas berlaku atas orang yang menghalalkannya atau hadits-hadits tersebut merupakan peringatan dan ancaman keras. Ahli ilmu lainnya berpendapat, "Kalaulah hadits tersebut berlaku atas orang yang menghalalkannya tentunya tidak ada bedanya antara dosa membunuh dengan kekufuran. Sebab menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah hukumnya kafir, tidak ada beda apakah menghalalkan membunuh atau menghalalkan dosa-dosa lainnya, karena semuanya termasuk kekufuran."
Sebagian ulama lainnya memperlakukan hadits-hadits tersebut atas orang-orang yang tidak bertaubat. Adapun bia ia bertaubat, maka orang yang bertaubat dari dosa terbebas seperti halnya orang yang tidak berdosa.
Jika dikatakan, "Hadits ini jelas menyebutkan bahwa Allah tidak menjadikan taubat bagi yang membunuh seorang Mukmin."
Jawabannya, "Maknanya adalah si pembunuh tidak diberi taufiq untuk bertaubat, bukan maknanya taubatnya tidak diterima apabila ia bertaubat. Wallaahu a'lam."
Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi'i, 2006), hlm. 1/380-383.
Parebok
Larangan Membantu Orang Zhalim
Dari 'Abdullah bin Mas'ud r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Barangsiapa membantu kaumnya (sukunya) yang tidak berada di atas kebenaran, maka perumpamaaannya seperti unta yang terperosok ke dalam sumur lalu ditarik-tarik ekornya'," (Shahih, HR Abu Dawud [5118], Ahmad [I/401], Ibnu Hibban [5942], al-Baihaqi [X/234), ath-Thayalisi [344]).
Dari 'Abdullah bin 'Umar r.a. dari Rasulullah saw, beliau bersabda, "Barangsiapa yang secara zhalim ikut membantu dalam suatu pertengkaran, maka ia akan kembali dengan membawa kemarahan Allah 'Azza wajalla," (Shahih, HR Abu Dawud [3598], Ibnu Majah [2320] dan al-Hakim [IV/99]).
Kandungan Bab:
1. Membantu suatu kezhaliman hukumnya haram. Barangsiapa melakukannya berarti ia telah jatuh dalam kemarahan Allah dan kemurkaan-Nya. Ini merupakan ancaman yang sangat berat yang menunjukkan bahwa perbuatan tersebut termasuk dosa besar.
2. Fanatisme kesukuan hukumnya haram. Barangsiapa membantu sukunya yang berbuat zhalim, maka ia berdosa dan berhak mendapat hukuman.
3. Seorang Muslim harus menolong saudaranya yang zhalim ataupun yang dizhalimi. Jika saudaranya itu zhalim, maka hendaklah ia mencegahnya dari kezhaliman dan menahan tangannya dari perbuatan zhalim. Jika saudaranya dizhalimi hendaklah ia membantunya, dengan mengambi haknya yang dirampas lalu menyerahkannya kepadanya.
Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi'i, 2006), hlm. 1/377-378.
Parebok
Larangan Bertengkar dalam Membela Kebathilan sedang Ia Mengetahuinya
Dari 'Abdullah bin 'Umar r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, "Siapa saja yang syafaatnya (bantuannya) menyebabkan terhalangnya pelaksanaan hukum dari hukum-hukum Allah berarti ia telah menentang Allah. Barangsiapa mati dalam keadaan menanggung hutang, maka tidak ada lagi dinar dan dirham yang dapat dijadikan penebus pada saat itu, yang ada hanyalah pahala dan dosa. Barangsiapa bertengkar dalam membela kebathilan sedang ia mengetahuinya, maka ia senantiasa berada dalam kemarahan Allah sehingga ia melepaskan pembelaannya. Barangsiapa menuduhkan sesuatu terhadap seorang mukmin yang tidak dilakukannya, maka ia akan dikurung dalam lumpur yang berasal dari perasan keringat penduduk Neraka hingga ia mencabut tuduhannya tersebut," (Shahih, HR Abu Dawud [3597], Ahmad [II/70] dan al-Hakim [II/27]).
Dari Ummu Salamah r.a. dari Rasulullah saw. bahwa beliau mendengar pertengkaran di pintu kamar. Rasulullah keluar menemui mereka dan berkata, "Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia biasa dan kalian selalu mengadukan perkara kepadaku. Barangkali salah seorang dari kalian lebih pandai bersilat lidah daripada yang lainnya. Dan aku menganggap ia jujur dalam perkataannya sehingga aku memenangkanya dalam perkara tersebut karena argumentasinya. Barangsiapa yang telah aku menangkan ia dengan mengambil hak seorang muslim, maka sesungguhnya itu adalah potongan api Neraka, silahkan ia mengambil atau meninggalkannya," (HR Bukhari [2458] dan Muslim [1713]).
Kandungan Bab:
1. Barangsiapa bertengkar dalam membela kebathilan untuk mematahkan kebenaran atau untuk mengambil hak seorang Muslim, maka ia berdosa dan berhak mendapat kemarahan dan kemurkaan Allah SWT.
2. Barangsiapa melakukannya berarti ia telah memiliki sifat nifaq. Karena seorang munafik apabila bertengkar, maka akan berbuat jahat sebagaimana telah disebutkan dalam hadits Muttafaq 'alaih dari 'Abdullah bin 'Amr r.a.
3. Hukum di dunia didasarkan pada lahiriyah seseorang. Akan tetapi hukum ini pada hakikatnya bisa saja tidak benar. Oleh karena itu, hukum ini tidak dapat merobah realita. Dan seluruh orang-orang yang terlibat pertengkaran akan berkumpul dihadapan Allah SWT untuk menyelesaikan pertengkaran mereka. Sehingga akan diserahkan setiap hak kepada yang berhak menerimanya sedang mereka tidak akan dirugikan sedikitpun.
Parebok
Larangan Memukul dengan Cemeti secara Zhalim
Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Dua jenis manusia penghuni Neraka yang belum aku lihat. Pertama, sekelompok orang yang membawa cemeti seperti ekor-ekor sapi lalu mencambuki manusia dengannya. Kedua, wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berjalan berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium aromanya padahal aroma Surga sudah tercium dari perjalanan sekian dan sekian…'" (HR Muslim [2128]).
Masih Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa memukul (orang lain) secara zhalim, maka dia akan diqishash (dibalas) pada hari Kiamat," (Shahih ligharihi, HR Bukhari dalam al-Adabul Mufrad [185], ath-Thabrani dalam al-Aushath [1468]).
Dari Abu Umamah r.a, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Akan muncul nanti di akhir zaman petugas-petugas keamanan yang berangkat dengan membawa kemarahan Allah dan pergi juga membawa kemurkaan Allah. Janganlah kalian menjadi teman dekat (teman kepercayaan) mereka."
Dalam riwayat lain disebutkan dengan lafazh, "Akan muncul di tengah ummat ini nanti di akhir zaman sekelompok laki-laki yang membawa cemeti seperti ekor-ekor sapi, mereka berangkat pagi-pagi dengan membawa kemurkaan Allah dan pulang sore hari juga membawa kemarahan Allah," (Shahih, HR Ahmad [V/250], al-Hakim [IV/436], ath-Thabrani dalam al-Kabiir [7616 dan 8000]).
Kandungan Bab:
1. Haram hukumnya memukul orang lain secara zhalim, khususnya yang dilakukan oleh para petugas keamanan yang memegang cambuk atau cemeti seperti ekor-ekor sapi. Mereka adalah aparat keamanan yang menjadi tangan kanan penguasa, umara' dan sultan. Karena perbuatan tersebut dapat menyebabkan pelakunya masuk ke dalam Neraka Jahannam.
2. Haram hukumnya memukul hamba budak sahaya secara zhalim, maka kaffaratnya adalah memerdekakannya. Dalilnya adalah kisah budak wanita dalam Shahih Muslim dan hadits Ibnu 'Umar r.a, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Barangsiapa menampar budaknya atau memukulnya, maka kaffaratnya adalah memerdekakannya'." (HR Muslim [1657]).
Dan hadits Mu'awiyah bin Suwaid, ia berkata, "Aku telah menampar budak milik kami kemudian aku lari. Kemudian aku kembali selepas Zhuhur lalu aku shalat bermakmum di belakang ayahku. Ia memanggilku dan memanggil budak itu. Ayahku berkata, 'Balaslah tamparannya!' Namun, ia memaafkanku. Kemudian ayahku bercerita, 'Kami adalah Bani Muqarrin pada masa Nabi kami hanya memiliki seorang budak wanita. Lalu salah seorang anggota keluarga kami menamparnya. Sampailah berita tersebut kepada Rasulullah saw. sehingga beliau bersabda, 'Bebaskanlah dia!' Mereka berkata, 'Sesungguhnya pembantu yang kami miliki hanyalah dia seorang!' Rasul lantas berkata, 'Hendaklah kalian pakai tenaganya, hingga apabila kalian tidak membutuhkan tenaganya lagi, maka bebaskanlah dia'," (HR Muslim [1658]).
Dan hadits Abu Mas'ud al-Anshari r.a, ia berkata, "Aku pernah memukul seorang budak laki-laki milikku. Lalu aku mendengar suara dari belakangku, 'Ketahuilah hai Abu Mas'ud, sesungguhnya Allah lebih kuasa memperlakukanmu seperti yang engkau lakukan terhadapnya'."
Aku menoleh ternyata ia adalah Rasulullah saw. Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, dia bebas lillahi Ta'ala.' Rasulullah saw. bersabda, 'Andaikata tidak engkau lakukan niscaya tubuhmu akan dililit api Neraka atau kamu akan dimakan oleh api Neraka'," (HR Muslim [1659]).
Parebok
Larangan Berbuat Zhalim
Allah SWT berfirman, "Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. Mereka datang bergegas-gegas dengan mengangkat kepalanya, sedang mata mereka tidak berkedip-kedip dan hati mereka kosong," (Ibrahim: 42-43).
Dari Shaffwan bin Muhriz al-Mazini ia berkata, "Ketika aku sedang berjalan bersama 'Abdullah bin 'Umar ra sambil menggandeng tangannya tiba-tiba seorang laki-laki menghadangnya lalu berkata, 'Apa yang engkau dengar dari Rasulullah saw. tentang an-Najwa (bisikan Allah kepada hamba-Nya kelak)?' 'Abdullah bin 'Umar r.a. menjawab, 'Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Sesunggunya Allah akan mendekatkan seorang mukmin lalu ditutupi oleh naungan-Nya dan ditanya, 'Ingatkah anda pada dosa ini? Tahukah anda pada dosa ini?' Jawabnya, 'Ya.' Sehingga apabila ia telah mengakui semua dosa-dosanya dan merasa dirinya akan binasa, Allah berfirman kepadanya, 'Aku telah menutupi semua itu atasmu dan kini Aku ampuni semua itu untukmu.' Lalu diberikan kepadanya buku catatan kebaikannya. Adapun orang kafir dan munafik, maka akan dipanggil di muka umum dan dikatakan, 'Merekalah orang-orang yang mendustakan Rabb mereka! Ingatlah, laknat Allah ditetapkan atas orang-orang yang zhalim'." (Huud: 18), (HR Bukhari [2441] dan Muslim [2768]).
Dari Abu Dzarr r.a. dari Rasulullah saw. dalam sebuah riwayat yang beliau riwayatkan dari Allah Tabaaraka wa Ta'ala, bahwa Dia berfirman, "Wahai hamba-Ku, Aku haramkan kezhaliman atas diri-Ku dan Aku haramkan antara sesama kamu, maka janganlah saling menzhalimi," (HR Muslim [2577]).
Dari Jabir bin 'Abdillah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Jauhilah kezhaliman, sesungguhnya kezhaliman adalah kegelapan pada hari Kiamat," (HR Muslim [2578]).
Dari 'Abdullah bin 'Umar r.a. dari Rasulullah saw, beliau bersabda, "Kezhaliman adalah kegelapan pada hari Kiamat," (HR Bukhari [2447] dan Muslim [2579]).
Dari Abu Musa al-Asy'ari r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah menangguhkan pembalasan atas orang yang zhalim sampai waktunya Allah mengambilnya tanpa melepaskannya sama sekali. Kemudian Rasulullah saw. membacakan ayat, 'Dan begitulah adzab Rabb-mu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras." (Huud: 102)", (HR Bukhari [4686] dan Muslim [2583]).
Kandungan Bab:
1. Sesungguhnya Allah telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Nya sendiri dan menjadikannya haram di antara sesama hamba-Nya serta melarang mereka saling menzhalimi satu sama lain. Kezhaliman termasuk dosa besar yang dapat membinasakan pelakuknya dan termasuk perbuatan maksiat yang mencelakakan.
2. Ada beberapa bentuk kezhaliman sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. dan sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas r.a, "Kezhaliman ada tiga: kezhaliman yang tidak akan dibiarkan oleh Allah, kezhaliman yang diampuni, dan kezhaliman yang tidak diampuni. Adapun kezhaliman yang tidak diampuni adalah syirik, Allah tidka akan mengampuni pelakunya. Adapun kezhaliman yang diampuni adalah kezhaliman seorang hamba terhadap dirinya sendiri, urusannya diserahkan antara dirinya dengan Allah SWT. Adapun kezhaliman yang tidak akan dibiarkan oleh Allah adalah kezhaliman di antara sesama hamba, Allah akan menegakkan pembalasan (qishash) atas sebahagian mereka terhadap sebahagian lainnya," (lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahiihah [no. 1927]).
3. Kezhaliman dalam pandangan Salafush Shalih Ahli Hadits adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.
Kezhaliman terbagi dua:
Pertama: Kezhaliman akbar, yaitu kezhaliman i'tiqadi, seperti kekufuran dan menyekutukan Allah (syirik), Allah telah menceritakan kisah Luqman, "Hai anakku, jangannlah kamu mempersukutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar," (Luqman: 13).
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman, "Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim," (Al-Baqarah: 254).
Kedua: Kezhaliman ashghar, yaitu kezhaliman 'amali, seperti perbuatan maksiat dan memakan hak orang lain.
Adapun perbuatan maksiat dan dosa yang berkaitan dengan hak Allah, maka urusannya diserahkan kepada kehendak Allah. Jika Allah berkehendak Dia akan mengampuninya dan jika tidak, maka Allah akan mengadzabnya. Adapun yang berkaitan dengan hak orang lain, maka tidak akan selesai urusannya kecuali bila diselesaikan di dunia atau sudah dimaafkan, wallaahu a'lam.
Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi'i, 2006), hlm. 1/363-366.
Alasan Dayak VS Madura karena adu domba
Drs Mowo Purwito R, Dip. HRD. S. Th, MASM, MAR
(Muhammad Yusuf Muttaqin)
Mantan Pendeta dan Pengurus DPW PDS Jawa Timur |
Demonstrasi maut yang berujung meninggalnya Ketua DPRD Sumatera Utara Abdul Aziz Angkat telah membuka mata umat Islam. Protap yang sudah dicita-citakan sejak lama oleh kalangan Kristen di Tapanuli ternyata tidak lepas dari misi Kristen untuk memusatkan ekspansinya di wilayah Sumatera. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Protap ini dan bagaimana kaitannya dengan misi Kristen di Indonesia secara keseluruhan, berikut wawancara wartawan Tabloid Media Umat, Pendi Supendi dengan Mowo Purwito, mantan pendeta dan pengurus PDS Jatim yang telah masuk Islam beberapa waktu lalu.
Apa yang Anda ketahui terkait demo maut di DPRD Sumut?
Begini, skenario itu memang sudah lama. Orang-orang Tapanuli itu kan menganggap populasi mereka itu sudah besar di Sumatera Utara, tapi kenapa dalam beberapa dekade, gubernur terpilihnya di sana tidak dari Kristen. Gubernurnya orang Islam terus. Bahkan ketika Gubernur Rizal Nurdin meninggal dunia dan digantikan Pardede, mereka berupaya untuk bisa membuat Pilkada ke depan yang menang adalah Kristen. Tapi akhirnya tidak berhasil juga.
Namun waktu itu mereka sudah punya pikiran, kalau selamanya Sumatera Utara tidak dipimpin oleh Kristen, maka mereka bersepakat bagaimana kalau mendirikan Provinsi Tapanuli. Di sana nanti mereka akan memiliki kekuatan riil berbasis Kristen. Dengan itu mereka ingin menjadikan Kristen bisa leluasa bergerak di wilayah Sumatera. Sementara di sana Kristen kan berhadapan dengan Aceh di sebelah utara, juga ada kekuatan Sumatera Barat yang mayoritas Islam. Di Sumut sendiri mereka masih berhadapan dengan Melayu. Mereka juga terinspirasi misi Nonmensen, misi Belanda yang masuk ke Sumatera, yang luar biasa sehingga bisa mengkristenkan Tapanuli. Tapi toh mereka tidak juga bisa menguasai struktur pemerintahan di Sumatera Utara.
Apakah PDS terlibat di sana?
Kalau kita bicara Kristen di Indonesia,maka PDS juga akan terlibat. Politik kekristenan banyak orang yang tidak tahu. Politik kekristenan itu ada dua, yaitu politik konsentrasi dan politik polarisasi. Apa yang dimaksud dengan politik konsentrasi? Begini, supaya orang Kristen punya kekuatan politik dan punya fraksi di parlemen maka orang Kristen harus punya partai, namanya Partai Damai Sejahtera (PDS). Dan seluruh massa Kristen harus diarahkan memilih PDS supaya punya kekuatan di parlemen.
Tetapi dalam dunia Kristen dikatakan, tidak semua tokoh-tokoh Kristen harus masuk PDS. Mereka harus tersebar ke semua partai, ini namanya politik polarisasi. Makanya harus ada juga yang di Golkar, PDIP, Demokrat dan lainnya. Dua kutub ini akan selalu bertemu pada satu muara yang namanya FKKI (Forum Komunikasi Kristen Indonesia). Jadi orang PDS ketika ditanya rahasia partai lain, mereka tahu. Mereka tahu rahasia Golkar, rahasia PKB, PAN dan lainnya. Di mana ada orang Kristen di partai itu maka mereka akan tahu rahasia di partai tersebut.
Berdirinya Protap menguntungkan PDS?
Otomatis ini akan menjadi strategi PDS ke depan. PDS merasa diuntungkan dengan berdirinya Protap karena dianggap bisa menguasai kondisi politik di Tapanuli. Bahkan yang kena kan ada anggota dewan dari PDS yang tertangkap. Yang bukan anggota dewan tapi aktifis-aktifis PDS juga banyak yang menjadi tersangka. Mereka memang bikin skenario yang luar biasa. Skenarionya bukan PDS nya tapi orang Kristen yang tersebar ke seluruh partai baik itu PDIP, PPRN. Ada orang PDIP juga yang ketangkap, PPRN, Golkar juga.
Jadi bisa dikatakan semua anggota dewan yang Kristen itu mendukung Protap?
Ya rata-rata semua mereka yang ketangkap itu orang Kristen. Walau pun mereka berbeda partai tapi sudah menjadi konspirasi untuk membentuk sebuah kekuatan politik.
Artinya faktor agama lebih kuat dalam pembentukan Protap ini?
Yang jelas itu sudah berbau agama. Pernyataan itu sudah cukup lama meskipun tidak terekspos media. Mereka sudah berinisiatif untuk mendirikan provinsi sendiri yang secara birokratis akan dikuasai Kristen.
Tapi mereka membantahnya?
Ya itu statement… Statement itu kan bisa saja begitu. Makanya begini ada statemen eksternal dan ada statemen internal. Kalau mereka bicara keluar tidak mungkin dikatakan ini berkaitan dengan agama, sebab kalau dikatakan begitu nanti akan konfrontasi dengan banyak orang. Tapi yang jelas di dalamnya pasti sudah ada inisiatif untuk mendirikan provinsi yang berbasis agama. Itu jelas tidak bisa ditutup-tutupi lagi.
Seandainya Protap berdiri, targetnya apa?
Kristen itu harus mengembangkan titik-titik yang menurut istilah mereka titik-titik ekspansi. Di wilayah Sumatera titik ekspansinya kan tidak bergerak dengan mulus. Dibangun Seminari di Palembang Sumatera Selatan, tidak berjalan. Padahal prinsip pendirian sebuah seminari adalah untuk mencetak para penginjil/pendeta yang bisa didistribusikan di sekitar daerah itu. Di Kalimantan begitu dan di Jawa juga begitu.
Nah di Sumatera yang bisa menjadi kekuatan itu ada di Sumatera Utara. Sumatera Utara harus menjadi sentral untuk menggarap misi-misi yang ada di sana. Tapi ternyata di sana terhambat dengan birokrasi, karena gubernurnya orang Islam terus. Di tingkat wali kota pun mereka tidak bisa kuasai. Mereka frustasi. Dan akhirnya mereka berpikir harus punya provinsi sendiri supaya ekspansinya bisa bergerak leluasa.
Terkait misi Kristen di Indonesia, apa benar dipusatkan di Kalimantan?
Itu begini, waktu ada konferensi gereja-gereja di Asia Pasifik di Jepang tahun 2003 itu diputuskan bahwa penduduk Asia ini 20 persen tinggal di kota dan 80 persen tinggal di desa. Kemudian diputuskan saat itu, mari kita garap yang 80 persen. Kita jangan konsentrasi terlalu jauh ke kota. Makanya 80 persen harus kita garap terutama di pedalaman yang ada di Asia.
Para peserta konferensi yang berkumpul bersama saat itu memutuskan bahwa tiap negara harus mempunyai pilot project kristenisasi jangka pendek. Akhirnya diputuskan bahwa setiap negara harus menentukan sendiri-sendiri daerahnya dan wakil dari Indonesia memutuskan Kalimantan. Kalimantan akan dijadikan sebagai pulau Kristen. Akhirnya mereka menggalakkan misi Kristen di Kalimantan. Dengan menguasai Kalimantan maka itu akan menjadi kekuatan besar.
Berarti adanya gubernur Kristen di Kalimantan sudah direncanakan?
Iya. Karena itu dia akan kepung dulu Kalimantan Barat, Tengah, dan Timur, kemudian setelah itu baru Kalimantan Selatan. Mereka belajar dari Uganda. Uganda yang dulunya mayoritas Islam, yakni di atas 80 persen. Namun sekarang Islam di sana tinggal 23 persen. Kenapa itu bisa terjadi? Ternyata di Uganda itu luar biasa. Islam bisa menyusut di sana karena yang diserang memang daerah pedalaman dan pedesaan. Ini yang mau dipraktekan dan sedang dikerjakan di Indonesia.
Strategi yang mereka lakukan apa saja?
Strategi yang dilakukan adalah dengan pemberdayaan masyarakat. Itu adalah satu-satunya cara yang paling efektif, karena orang-orang suku Dayak itu secara ekonomi tidak berdaya. Cara memberdayakan dan menarik simpati mereka supaya masuk Kristen adalah dengan pemberdayaan ekonomi (Community Development). Makanya saya bilang penginjilan di dalam agama Kristen sekarang luar biasa. Mereka tidak memakai penginjilan verbal, tapi dakwah bil hal nya yang lebih ditekankan.
Setelah beberapa provinsi di Kalimantan dikuasai Kristen, apa berpengaruh terhadap Kristenisasi?
Ya jelas dong kalau pemimpinnya Kristen maka apa pun yang berkaitan dengan Kristenisasi akan lebih dipermudah. LSM-LSM akan lebih mudah masuk. Jangankan di tingkat gubernur, di tingkat kabupaten saja itu pengaruhnya luar biasa.
Anda pernah mengatakan di Indonesia ini ada hidden mission yang dilakukan Kristen, maksudnya?
Misi itu bisa bersifat tersembunyi. Tidak bisa dilihat mata secara langsung. Tapi gerakannya ada. Contoh gerakan Tent Maker (Tukang Kemah) saja kan kita tidak tahu, tapi misinya jelas ke mana-mana. Kita tidak tahu tetangga kita itu pendeta atau bukan. Ternyata dia sedang melancarkan misinya luar biasa. Dan banyak gerakan-gerakan yang mereka lakukan dengan penghancuran nilai-nilai baik lewat media maupun kegiatan lain. Belum lagi dalam industrialisasi di mana negara-negara berkembang itu selalu bergantung kepada lembaga internasional. Di situ ada hidden mission secara internasional. Contohnya begini ada IMF, Bank Dunia yang bisa memberikan bantuan dengan berbagai persyaratan. Siapa sebenarnya di belakang IMF, Bank Dunia tersebut?
Artinya banyak di sekeliling kita itu kegiatan-kegiatan yang mengandung hidden mission?
Iya banyak, mulai dari sektor perbankan, pendidikan dan lainnya yang tanpa kita sadar, termasuk di jaringan kampus, misalnya munculnya Jaringan Islam Liberal. Coba lihat bagaimana orang IAIN memperdalam agama Islam bukan ke Saudi tapi ke Amerika, ke Kanada. Di sana memang ada pelajaran Islamologi, tapi yang mengajar kan Kristen. Sehingga mereka ketika belajar ilmu tafsir Alqurannya menggunakan ilmu Hermeneutika, yang biasa digunakan pendeta untuk menafsirkan bible. Akhirnya pulang ke Indonesia oleh-olehnya macam-macam, tak karu-karuan dan tafsiran aneh-aneh. Jadi memang pengaruh kristenisasi dalam Islam Liberal itu luar biasa.
Yang mesti dilakukan umat Islam menghadapi hidden mission itu seperti apa?
Saya katakan di Indonesia ini, selama ukhuwah wathoniyah lebih dikedepankan daripada ukhuwah Islamiyah maka kita tidak bisa menghadapinya. Tidak sedikit ulama dan tokoh Islam di Indonesia sekarang yang masih mengedepankan ukhuwah wathoniyah dibanding ukhuwah Islamiyah. Jadi ukhuwah Islamiyah-nya seolah disepelekan. Padahal secara hirarki, ukhuwah Islamiyah itu yang mestinya dijunjung tinggi, setelah itu baru ukhuwah wathoinyah dan baru ukhuwah basyariyah. Yang harus dijunjung tinggi kan mestinya persatuan umat dulu. Islam mengajarkan kepentingan Islam di atas segalanya di banding kepentingan lain.
Selain itu?
Ya mari kita kembalikan fungsi Masjid seperti zaman Rasulullah. Tidak hanya menjadikan masjid itu sebagai imam shalat saja tapi imam organisasi.[] pendi/www.mediaumat.com
Pengalaman Luas Sebagai Misionaris
Mowo Purwito sebelumnya adalah seorang pendeta dan dosen di Seminari Alkitab Nusantara dan beberapa seminari Indonesia. Sarjana Theologi Seminari Alkitab Nusantara Malang ini juga berpengalaman mengikuti berbagai training di luar negeri terkait misi Kristen dan aktif di berbagai organisasi misi. Ia juga pernah aktif di Partai Damai Sejahtera (PDS) yakni sebagai ketua Kaderisasi dan Tim Perumus Kebijakan DPW PDS Jawa Timur itu. Ia mendapat Sertifikat Misi Internasional dari Fuller Housing Ministry, California untuk terjun pada pelayanan Christianity Development di Louisiana USA. Seharusnya laki-laki kelahiran Situbondo 28 Oktober 1965 itu berangkat bersama keluarga ke Louisiana pada Desember 2006, namun batal karena keburu masuk Islam (mualaf).
Keingintahuannya yang besar akan ajaran Islam dan kegalaunnya terhadap ajaran Kristen itu memang telah mengantarkan pada hidayah sehingga ayah dari tiga orang anak ini pun masuk Islam, tepatnya pada 16 September 2006 . Setelah masuk Islam, berbagai tantangan, cacian, makian dan sebagainya harus ia hadapi. Namun ia tetap istiqomah dengan keyakinan barunya itu. Sekarang Mowo yang berganti nama menjadi Muhammad Yusuf Muttaqin aktif sebagai dosen kristologi dogmatik, misiologi, sosiologi agama, dan fenomenologi di beberapa perguruan tinggi Islam dan pondok pesantren.
Parebok
Larangan Memukul dengan Cemeti secara Zhalim
Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Dua jenis manusia penghuni Neraka yang belum aku lihat. Pertama, sekelompok orang yang membawa cemeti seperti ekor-ekor sapi lalu mencambuki manusia dengannya. Kedua, wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, berjalan berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium aromanya padahal aroma Surga sudah tercium dari perjalanan sekian dan sekian…'" (HR Muslim [2128]).
Masih Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa memukul (orang lain) secara zhalim, maka dia akan diqishash (dibalas) pada hari Kiamat," (Shahih ligharihi, HR Bukhari dalam al-Adabul Mufrad [185], ath-Thabrani dalam al-Aushath [1468]).
Dari Abu Umamah r.a, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Akan muncul nanti di akhir zaman petugas-petugas keamanan yang berangkat dengan membawa kemarahan Allah dan pergi juga membawa kemurkaan Allah. Janganlah kalian menjadi teman dekat (teman kepercayaan) mereka."
Dalam riwayat lain disebutkan dengan lafazh, "Akan muncul di tengah ummat ini nanti di akhir zaman sekelompok laki-laki yang membawa cemeti seperti ekor-ekor sapi, mereka berangkat pagi-pagi dengan membawa kemurkaan Allah dan pulang sore hari juga membawa kemarahan Allah," (Shahih, HR Ahmad [V/250], al-Hakim [IV/436], ath-Thabrani dalam al-Kabiir [7616 dan 8000]).
Kandungan Bab:
1. Haram hukumnya memukul orang lain secara zhalim, khususnya yang dilakukan oleh para petugas keamanan yang memegang cambuk atau cemeti seperti ekor-ekor sapi. Mereka adalah aparat keamanan yang menjadi tangan kanan penguasa, umara' dan sultan. Karena perbuatan tersebut dapat menyebabkan pelakunya masuk ke dalam Neraka Jahannam.
2. Haram hukumnya memukul hamba budak sahaya secara zhalim, maka kaffaratnya adalah memerdekakannya. Dalilnya adalah kisah budak wanita dalam Shahih Muslim dan hadits Ibnu 'Umar r.a, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Barangsiapa menampar budaknya atau memukulnya, maka kaffaratnya adalah memerdekakannya'." (HR Muslim [1657]).
Dan hadits Mu'awiyah bin Suwaid, ia berkata, "Aku telah menampar budak milik kami kemudian aku lari. Kemudian aku kembali selepas Zhuhur lalu aku shalat bermakmum di belakang ayahku. Ia memanggilku dan memanggil budak itu. Ayahku berkata, 'Balaslah tamparannya!' Namun, ia memaafkanku. Kemudian ayahku bercerita, 'Kami adalah Bani Muqarrin pada masa Nabi kami hanya memiliki seorang budak wanita. Lalu salah seorang anggota keluarga kami menamparnya. Sampailah berita tersebut kepada Rasulullah saw. sehingga beliau bersabda, 'Bebaskanlah dia!' Mereka berkata, 'Sesungguhnya pembantu yang kami miliki hanyalah dia seorang!' Rasul lantas berkata, 'Hendaklah kalian pakai tenaganya, hingga apabila kalian tidak membutuhkan tenaganya lagi, maka bebaskanlah dia'," (HR Muslim [1658]).
Dan hadits Abu Mas'ud al-Anshari r.a, ia berkata, "Aku pernah memukul seorang budak laki-laki milikku. Lalu aku mendengar suara dari belakangku, 'Ketahuilah hai Abu Mas'ud, sesungguhnya Allah lebih kuasa memperlakukanmu seperti yang engkau lakukan terhadapnya'."
Aku menoleh ternyata ia adalah Rasulullah saw. Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, dia bebas lillahi Ta'ala.' Rasulullah saw. bersabda, 'Andaikata tidak engkau lakukan niscaya tubuhmu akan dililit api Neraka atau kamu akan dimakan oleh api Neraka'," (HR Muslim [1659])...
m
KONFLIK SAMPIT
Hubungan Antar Etnis Dayak dan Madura di Sampit, Kalimantan Tengah
Pendahuluan
Selama hampir 32 tahun, Indonesia di bawah rezim Orde Baru tampak bahwa warga Indonesia tercipta dalam kesatuan utuh. Seakan-akan bangsa Indonesia yang terdiri dari beragam etnis, ras, dan agama ini telah menyatu dalam sebuah homogenitas. Namun, apa yang terjadi pasca-Orde Baru menjadi sebuah fenomena yang sangat bertolak belakang. Konflik kesukubangsaan, agama, kelas sosial masyarakat seakan mengusik kerukunan yang terbina.Kerusuhan dan konflik etnis yang terjadi pasca-Orde Baru diduga karena terjadi
banyaknya pelanggaran atas hak-hak masyarakat adat dan pengrusakan atas sumber daya alam di provinsi tertentu yang terjadi beberapa dekade. Banyak pihak menduga bahwa ketegangan yang berlangsung pasca-Orde Baru merupakan buah hasil dari kebijakan yang diterapkan oleh rezim Orde Baru salah satunya terbaca dalam pasal 20 ayat 2 :
“Segala tindakan yang menganjurkan kebencian atas dasar kebangsaan, ras, atau agama yang merupakan hasutan untuk melakukan diskriminasi, permusuhan, atau kekerasan harus dilarang oleh hukum”
Sebuah gesekan dan konflik dalam pandangan Orde Baru harus dilenyapkan atau dihilangkan. Orde Baru berusaha untuk tetap mempertahankan status quo dan menekan percikan-percikan konflik etnis. Namun, ketika rezim ini runtuh dan berganti reformasi yang “bebas”, maka akumulasi kekecewaan dan kemarahan masyarakat tidak terbendung dan muncul sebagai konflik antar etnik yang dilatarbelakangi berbagai macam persoalan dari ekonomi, politik, sampai agama. Jangkauan konflik pada masa itu cukup luas, konflik muncul di Kalimantan Barat dan Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Maluku Selatan dan Utara, Bali, dan lain-lain.
Menjadi menarik untuk melihat lebih jauh fenomena konflik, maka dari itu penulis mengangkat satu konflik, yaitu Konflik Sampit. Dimana, banyak pihak mengatakan bahwa konflik yang terjadi di Kalimantan ini telah menghapuskan nilai kemanusiaan etnis yang bertikai, yaitu Etnis Dayak dan Madura.
Serangkaian konflik etnis pasca Orde Baru
Periode
Konflik
Mei 1998
Kerusuhan Mei 1998 yang terjadi di Jakarta dan juga Solo
Cina dijadikan target serangan akibat sentimen primordial ya
Tahun 1999
Terjadi kekerasan konflik di Maluku dan lepasnya Timor negara merdeka. Kemudian diikuti dengan beberapa gerakan Aceh (GAM), Maluku, dan Papua.
April-Juni
2000
Konflik Poso di Sulawesi meledak
Tahun 2001
Pecah konflik kekerasan antara etnis Madura dan Dayak di K
Tulisan ini akan mengangkat satu kasus konflik kemanusiaan yang berkepanjangan yaitu konflik Sampit, Kalimantan Tengah. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menyajikan sebuah realitas dari dinamika etnisitas yang terjadi di Indonesia dan tulisan ini mencoba untuk menelusuri dan menganalisis lebih jauh mengenai terjadinya dan akar permasalahan dari konflik Sampit di Kalimantan Tengah. Dengan demikian dapat terlihat akar permasalahan yang menyebabkan konflik yang berkepanjangan ini.
Penulisan ini akan membahas konflik ini menggunakan bebrapa teori yang diungkapkan oleh Dahrendorf menyatakan konflik sebagai kegalauan yang bersumber dari ketidakserasian esensi bermacam komponen kehidupan1. Sedangkan, Marx menganggap suatu konflik terjadi karena adanya suatu perubahan masyarakat. Dan kasus ini juga dapat dilihat melalui teori dari Joel S. Migdal mengenai relasi negara dengan masyarakat.
Deskripsi Kasus
"Pembantaian yang terjadi tidak bisa disederhanakan sebagai konflik antara orang Dayak
dengan Madura, apalagi sebagai konflik agama. Tapi akar dari masalah ini sudah lama
1 Rusmin Tumaggor, Jainal Aripin, dan Iman Soeyoeti. Dinamika Konflik Etni dan Agam
tercipta ketika pemerintahan Orde Baru, yang didukung oleh lembaga-lembaga hutang
internasional, secara bersama-bersama menanam modal di proyek-proyek besar, yang juga
menanam akar dari konflik yang terjadi sekarang ini dan juga menggambarkan situasi
kemanusiaan di Indonesia secara umum” (Pernyataan NGO, Jakarta 1 Maret 2001)2
Luas wilayah Kota Sampit, ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur, adalah 50.700 Km2. Didiami oleh 485.200 jiwa, diperkirakan terdapat etnis Madura sebesar 75.000 jiwa, di luar itu, suku asli yakni Dayak menjadi mayoritas, dan selebihnya adalah suku Banjar, Cina dan sedikit berasal dari suku Jawa dan pendatang lainnya. Dari segi agama, Islam menjadi mayoritas sekitar 80% dan yang lain terdiri dari Kristen, Khatolik, Kaharingan, dan lainnya.
Ketegangan yang terjadi antara etnis pendatang, Madura dan etnis asli yaitu Dayak. Berawal dari sumber daya alam di Kalimantan Tengah kota Sampit yang dialihfungsikan. Ekonomi dari warga setempat tergantung pada kayu dan perkebunan. Tiga puluh tahun yang lalu, 5 juta hektar tanah disana merupakan wilayah hutan. Namun kini, hanya sekitar 2,7 juta hektar yang dirancang sebagai “tanah hutan” dan hanya 0,5 juta hektar yang menjadi hutan lindung. Satu juta hektar merupakan tanah yang yang rencananya akan di ubah menjadi wilayah industri dan sisanya digunakan untuk lahan pemukiman para pendatang yang bermigrasi. Yang menjadi permasalahan lagi adalah orang setempat dilarang oleh hukum untuk menjadikan hutan tersebut sebagai sumber penghidupan. Karena kebijakan pembangunan dan imigrasi yang ditetapkan oleh era Orde Baru, mulai banyak permasalahan timbul. Dan kemudian warga pendatang, etnis Madura, pada kenyataan berhasilme nguasai
sumber ekonomi dan kelompok etnis ini bersifat eksklusive. Kedudukan penduduka asli,
etnis Jawa yang semakin tersudut, membuat gesekan-gesekan kecil yang terjadi menjadi
sebuah konflik yang berkepanjangan.
Kerusuhan etnis Madura dan Dayak marak pada tanggal 17 Februari 2001 di Sampit, ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur, ketika sebuah rumah milik penduduk asli Dayak dibakar habis. Menurut laporan orang-orang setempat, ada komplotan orang Madura yang baru saja tiba berkeliling Sampit sambil memekik ‘Matilah Orang Dayak.’ Ratusan orang Dayak mengungsi keluar dari kota atau berlindung di gereja-gereja. Setelah berita itu menyebar orang Dayak dalam jumlah besar kemudian kembali ke Sampit untuk membalas dendam. Enam orang tewas. Kerusuhan menyebar dengan cepat ke kota maupun kampung sekitar dan mencapai ibukota propinsi Palangkaraya, 220 kilimeter ke sebelah Timur. Dalam sebuah insiden terburuk saat kerusuhan, 118 orang Madura yang sedang dalam perjalanan ke Sampit dibunuh oleh orang Dayak di kampung Parenggean pada tanggal 25 Februari 2001, setelah polisi pengawal mereka melarikan diri. Disini juga terdapat peran media massa yang menggembar-gemborkan permasalahan tanpa mengetahui fakta dan menyulut atau memprovokasikan kemarahan dari masing-masing etnis.
Pada tanggal 22 Maret terjadi lagi kerusuhan di sekitar ibukota Kabupaten Kuala Kapuas, Sebanyak 17 orang lagi dilaporkan tewas dan banyak rumah serta harta benda yang dibakar. Banyak orang Madura meminta perlindungan polisi. Polisi mendapat perintah tembak ditempat terhadap para perusuh.
Bulan April kerusuhan baru berupa pembakaran rumah dilaporkan di Pangkalan Bun, ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat. Menurut polisi setempat, kerusuhan diawali oleh sekitar 400 orang yang tiba dengan menggunakan truk dari arah Sampit yang berhasil menerobos para polisi yang mencegah mereka untuk memasuki kota. Mereka mulai membakari rumah-rumah orang Madura, sekaligus menciptakan arus pengungsi lebih lanjut. Kembali ke Sampit, orang Dayak bentrok dengan polisi pada tanggal 10 April ketika para pengunjuk rasa yang marah memprotes penahanan dan penembakan orang Dayak. Para pengunjuk rasa menuntut agar semua polisi mundur dari kota. Tembakan dilepaskan dan seorang awam tewas.
Dari kronologi peristiwa diatas, dapat terlihat berbagai macam bentuk manifestasi persoalan yang terjadi pada konflik Sampit ini dimana pada awal terjadi ketegangan ditandai dengan pembakaran rumah salah seorang etnis Dayak, dan kemudian dilanjutkan dengan lebih banyak lagi pembakaran pemukiman Madura. Dan korban pembunuhan dalam kasus ini pun tidak sedikit, lebih dari 500 orang meninggal dan 80.000 lain mengungsi dikarenakan sudah tak mempunyai rumah. Seperti yang dilihat dari gambar diatas, pembunuhan yang dilakukan oleh kedua etnis ini seperti menghilangkan rasa kemanusiaan mereka, mereka tidak pandang bulu meskipun itu anak kecil. Bahkan lembaga pendidikan, sarana ibadah dan perkantoran musnah atau setidaknya hancur. Bentuk manifestasi permasalahan selain dampak fisik adalah dampak psiko-sosial dalam masyarakat, dimana kelompok-kelompok masyarkat ini menjadi saling mencurigai dan bersitegang berkepanjangan.
Adapun aktor-aktor yang yang berperan dalam kejadian konflik diatas, pertama institusi pemerintahan rezim Orde Baru yang membangun kebijakan-kebijakan pembangunan dan tidak terlepas dari dukungan pihak asing melalui bantuan dana. Aktor yang kedua adalah etnis Dayak, dimana etnis asli ini memendam akumulasi kekecewaan terhadap kebijakan pemerintahan dan merasa terasingkan dalam penguasaan sumber ekonomi dan politik. Di lain pihak, penguasaan ekonomi politik dipegang oleh aktor ketiga yaitu etnis Madura yang kebanyakan datang ke Sampit dikarenakan kebijakan migrasi rezim Orde Baru. Ketika akumulasi kekecewaan warga Dayak muncul amarahnya terlampiaskan pada gesekan- gesekan kecil terhadap pemilik sumber ekonomi yaitu etnis Madura. Keadaan ini diperparah dengan aktor terakhir yang juga cukup berperan, yaitu media massa, yang memberitakan yang belum tentu fakta dan justru menjadi provokasi dan memperkeruh keadaan.
Analisis Kasus
Peristiwa ini dan konflik-konflik di Indonesia lainnya ada kemungkinan disebabkan oleh kombinasi dari permasalahan supra state, vertikal dan horizontal. Dimulai dengan adanya kebijakan pembangunan yang dilakukan pada rezim Soeharto yang diikuti oleh campur tangan pihak asik, dimana pihak asik ikut banyak menyokong kegiatan tersebut dengan penanaman modal dan proyek besar. Hal tersebut mengindikasi kan bahwa ada ikut campur tangan dunia luar artinya ada permasalahan supra state disini. Kebijakan yang dikeluarkan mengenai migrasi, hutan, dan lainnya menumbuhkan percikan amarah dalam etnis asli yang terpendam. Pemerintahan rezim ini menekan konflik melalui aparat militer negara. Dibeberapa rangkaian kronologis dijelaskan bahwa terjadi konflik vertikal pula, antara etnis Dayak dan aparat polisi bertikai dan juga memakan korban. Konflik horizontal disini terjadi pelampiasan kekecewaan etnis Dayak di lakukan kepada etnis pendatang Madura yang menguasai sumber ekonomi dan politik. Ketika terjadi gesekan kecil menimbulkan pertikaian berkelanjutan.
Dari segi sosiologis kasus ini dapat dianalisis melalui teori konflik yang diungkapkan oleh Marx dan Dahrendorf. Teori ini dipaparkan dalam rangka untuk memahami dinamika yang terjadi di dalam masyarakat. Dengan adanya perbedaan kekuasaan dan seumber daya alam yang langka dapat membangkitkan pertikaian (konflik) di masyarakat. Marx
mengatakan bahwa suatu konflik terjadi karena adanya suatu perubahan yang terjadi di dalam
masyarakat.
“sejarah setiap masyarakat yang ada sampai sekarang adalah sejarah pertentangan kelas. Antara orang merdeka atau budak, bangsawan atau gembel, tuan dan pelayan, ditindas dan yang menindas berada dalam pertentangan yang tajam melangsungkan pertentangan tiada akhir…”3
Bila dilihat dari kacamata Marx melalui konsep pertentangan kelasnya disini, perubahan sosial di masyarakat Sampit ini berubah ketika aturan-aturan paksaan (koersif) yang mengikat mereka pada masa Orde Baru lewat paksaan militerisasi seakan menghilang. Etnis Dayak yang sekian lama berdiam diri dan memendam kekecawaan mereka karena kehilangan sumber penghasilan mereka (karena hutan telah habis diganti menjadi perindustrian dan perkebunan) maka etnis Dayak ini melampiaskannya kepada etnis berkuasa dalam ekonomi dan politik yaitu Madura. Disini terlihat bahwa ada kepentingan ekonomi yang saling bertentangan disini dan menyebabkan terjadinya pertentangan yang tiada akhir.
Teori Dahrendorf mengenai otoritas cukup relevan membahas ini. Otoritas yang menurut Dahrendorf bersifat tidak konstan karena terletak pada posisi individu4. Posisi etnis Dayak dalam struktur sosial diatas atau yang disebut dengansuperordinat etnis pendatang Madura, namun posisi etnis Dayak dalam struktur ekonomi dan politik telah berada pada posisisubordinat. Kelompok konflik terbentuk karena seringkali terjadinya pertentangan antara kepentingan superordinat dan subordinat. Etnis Dayak yang menjadi etnis asli merasa bahwa sumber daya alam yang seharusnya dimiliki dan digunakan untuk sumber penghidupan mereka tidak dapat lagi mereka gunakan karena dikuasai oleh superordinat dalam struktur ekonomi. Yang dimaksud dengan konflik ini terjadi karena etnis Dayak merasakan ketidakserasian komponen hidup mereka , maka dari itu mereka berupaya untuk mengembalikannya dengan berkonflik.
Sedangkan Joel S. Migdal memperkenalkan teori state and society relations dalam menjelaskan posisi negara dan masyarakat. Menurutnya, kemampuan suatu negara untuk mencapai perubahan di masyarakat memerlukan peran pemimpin mereka untuk membuat perencanaan negara, kebijakan publik dan tindakan aksi, termasuk juga kemampuan untuk masuk melibatkan masyarakat, mengatur hubungan sosial, dan pengelolaan sumber daya
3 Andi Muawiyah Ramli. Peta Pemikiran Karl Marx : Materialisme Dialektis dan
Masterialisme Historis. Hlm 145. 2004
4 George Ritzer dan Douglas M. Goodman. Teori Sosiologi Modern. hlm 155. 2007
yang ada secara baik5. Negara yang kuat (strong state) memiliki ciri kemampuan yang tinggi untuk melengkapi perencanaan negara, kebijakan publik dan aksi, sementara negara yang lemah memiliki kemampuan yang rendah dalam kapasitas untuk masuk ke dalam masyarakat, membuat aturan sosial, mengumpulkan sumber daya dan menggunakan sumber daya sesuai dengan cara yang telah ditentukan. Kuat atau lemahnya sebuah negara berkaitan dengan kemampuan untuk menerapkan kebijaksanaan sosial (to implement social policies) dan menggerakkan masyarakat (to mobilize the public) yang berkaitan dengan struktur sosial. Negara yang kuat mampu memerintah masyarakat dengan cara yang rinci. Di negara dunia ketiga tidak begitu banyak pengendalian sosial (social control) dalam masyarakat tetapi lebih banyak pada persoalan distribusi dan sentralisasi.
Relasi Hubungan Negara dan Masyarakat.
Dilihat dari bentuk hubungan yang diungkapkan oleh Joel S. Migda diatas dapat menjelaskan relasi negara dan masyarakat pada konflik Sampit ini. Pada era Orde baru, tipe relasi antara Negara dan masyarakat adalahPyramidal atau elitis dimana Negara memiliki peran yang kuat dan cenderung dominan, menyebabkan posisi masyarakat dalam keadaan subordinat dan pasif. Etnis Dayak harus menerima kebijakan yang diberlakukan oleh negara dan pada masa ini kontrol sosial cukup kuat dan cenderung koersif sehingga menekan potensi-potensi konflik yang muncul.
Sedangkan, pasca Soeharto ketika konflik meledak di Sampit, terjadi perubahan dimana kontrol sosial negara melemah dan peran negara tidak lagi kuat. Masyarakat menjadi kuat dan menuntut keadilan yang selama ini tidak mereka dapatkan sebelumnya. Pada tipe relasi diatas hubungan ini dinamakanD iffus ed/D is tr us t atau saling curiga. Begitu pula yang
erjadi di Sampit, kecurigaan membuncah terhadap etnis lain terhadap penguasaan sumber daya ekonomi dengan tidak adanya kontrol sosial negara yang kuat untuk menekan konflik maka konflik itu terjadi. Kesalingcurigaan dalam konteks Sampit terjadi antar etnis dimana yang menyebabkan konflik berkepanjang dan konflik kemnusiaan yang mengenaskan karena terjadi pembunuhan yang cukup tidak manusia dan aparatur negara yang dulunya berkuasa tidak lagi dapat mengontrolnya.
Kesimpulan
Dari pembahasan singkat diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan mengenai konflik
Sampit antara etnis Dayak dan Madura di Kalimantan Tengah, yaitu :
•
Akar permasalahan dari permasalahan konflik Sampit ini adalah adanya akumulasi kekecawaan karena perasaan ketidakadilan akan permasalahan ekonomi dan politik dibarengi dengan adanya perbedaan identitas yang terjadi antara etnis Dayak dan Madura. Hal ini terakumulasi karena adanya kebijakan pemerintahan Orde Baru dimana potensi konflik diredam dengan hukum dankoer s if, yang bukanya meredakan masalah justru memperbesar konflik tersebut.
•
Beberapa aktor yang terlibat dalam konflik Sampit ini yaitu Institusi pemerintahan Orde Baru dengan kebijakan-kebijakannya. Lalu kedua aktor bertikai yaitu etnis Dayak dan Madura, serta Media massa yang membuat suasana menjadi lebih panas dengan pemnberitaan yang faktanya belum jelas.
•
Konflik Sampit ini dapat diaktakan sebagai permasalahan konflik kombinasi dari supra state, vertikal, dan horizontal. Dikatakan supra state dikarenakan dunia internasional ikut andil dalam kebijakan pembangunan yang dilakukan oleh Orde Baru dengan industri yang dibangun. Sedangkan vertikal, dikarenakan perintahan Orde Baru memiliki peran besar dalam akar permasalahan konflik. Konflik horizontal yang jelas terjadi karena konflik ini dikaitkan dengan isu SARA antara etnis Dayak dan Madura.
•
Dari teori Marx, dapat di lihat bahwa konflik ini terjadi karena perubahan yang terjadi. Dengan tidak adanya kontrol negra, etnis Dayak menuntut keadilan dalam ekonomi dan politik. Disini Kedua etnis digambarkan berkonflik karena perbutan
sumber ekonomi. tidak jauh berbeda dengan gambaran Dahrendorf mengenai
kelompok konflik superordinat dan superordinat.
•
Terakhir, Joel S. Migdal menyatakan adanya perubahan peran negara dari kuat menjadi lewah yang menyebabkan pola relasi hubungan masyarkat pun menjadi berubah yaitu dariPyr am idal menjadiD is tr us t dan mengakibatkan terjadinya konflik antar etnis ini.
Referensi
Buku
Ramli, M. Andi. 2004. Peta Pemikiran Karl Marx : Materialisme Dialektis dan Materialisme
HIstoris. Yogyakarta : LKiS
Ritzer, George dan Douglas M. Goodman. 2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Kencana
Karya Ilmiah
Rusmin Tumaggor, Jainal Aripin, dan Iman Soeyoeti. Dinamika Konflik Etni dan Agama : di
Lima Wilayah Konflik Indonesia
Ditawari Sate Daging Manusia di Kalimantan
Kendati orang-orang Dayak menyerang warga Madura dan rumah-rumah mereka, mereka tidak membakar masjid dan kantor milik pemerintah. Mengutip keterangan salah satu narasumbernya, Parry menulis dalam bukunya, warga Dayak tak ingin pergolakan antaretnis itu berubah menjadi perang antar pemeluk agama Islam dan Kristen. Mayoritas warga Dayak beragama Nasrani. Mereka juga tak mau berhadapan dengan pemerintah, gara-gara merusak fasilitas negara.
Mereka juga tidak menjarah barang. "Mereka bukan orang kaya. Tapi kalau mereka menemukan mobil atau perabotan bagus, mereka membakarnya," tulis Parry dalam In The Time of Madness. Buku ini tiga tahun kemudian diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Zaman Edan.
Parry juga mengungkapkan adanya ilmu hitam dalam konflik itu. Mengutip Romo Kristoff, seorang pendeta, orang Dayak yang kesurupan roh perang Kamang Tariu akan kebal tubuhnya. Orang Dayak itu juga tak mengenal capek. Namun, "ia harus makan darah."
Kepada saya, Parry mengatakan, tidak suka menggunakan kata 'evil' (jahat) untuk menjelaskan fenomena di Kalimantan itu. "Kekerasan terjadi karena ketidakadilan yang terjadi selama berdasawarsa-dasawarsa oleh pemerintah Indonesia terhadap orang Dayak," katanya. Ini menyebabkan orang Dayak merasa pilihan mereka satu-satunya adalah kekerasan. Tuduhan adanya provokator di balik terjadinya kekerasan itu hanya digunakan oleh orang yang tidak berani menghadapi alasan kekerasan sebenarnya.
Dari hasil reportasenya di Kalimantan, Parry menulis artikel berjudul What Young Men Do, dimuat di koran Times dan di Majalah Granta. Ia dihujani surat kecaman dari berbagai organisasi hak asasi manusia, yang tak percaya telah terjadi pembantaian warga Madura oleh warga Dayak di Kalimantan.
Tahun 1999, Parry kembali mendatangi Kalimantan. Kali ini ia meliput konflik yang melibatkan etnis Madura, Dayak, dan Melayu. "Saya kembali ke Kalimantan Barat, dan nyaris menjadi seorang kanibal pula," tulis Parry dalam bukunya.
Parry datang tepat pada waktunya, saat konflik memanas. Parry menulis: 'Situasinya sudah sangat buruk. Semua bersiap melakukan pembantaian. Sepanjang jalan pantai... orang Melayu sedang bergerak...menyisir perkampungan orang Madura. Di pedalaman, pasukan perang Dayak juga berkumpul. Dan terjebak di tengahnya adalah puluhan ribu orang Madura'.
Di sebuah desa Madura, Suka Ramai, Parry merasakan tubuhnya bergidik. Sepetak jalan lengket oleh darah. Seorang bocah memamerkan sepotong lengan yang terluka di bagian siku. Lengan manusia. Seluruh jari di potongan lengan itu telah terlepas. Tulang dan otot mencuat.
Bau rumah terbakar membubung di udara. Di desa itu ada sebuah warung sate, dengan arang yang membara di tempat pembakaran daging sate. Di tengah-tengah tempat pembakaran sate itu, sebatang tulang paha manusia terpanggang.
Seorang pria berikat kepala kuning mendekati Parry. Jari-jemarinya yang berminyak memegang setusuk sate daging berserat setengah matang. "Silakan," ia menawarkan sate itu kepada Parry.
Budi, warga lokal pemandu Parry, dengan panik mengajak Parry segera pergi. "Enak seperti ayam," kata pria yang memaksa Parry untuk memakan sate itu.
Si tukang sate Melayu menarik baju Parry. Parry berjuang keras untuk menampik tawaran itu. "Seberapa dekatkah saya dengan seorang Kanibal," pikiran itu sempat terbetik di benak Parry.
Sopir berhasil menyalakan mesin jip yang ditumpangi Parry. Orang-orang itu masih saja berteriak menawarkan sate daging manusia kepada Parry. Namun jip segera melaju, meninggalkan mereka.
Beberapa tahun kemudian, setelah In The Time of Madness terbit, saya melayangkan surat elektronik kepada Parry. Saya menanyakan perasaannya sebagai jurnalis saat itu, menyaksikan kepala-kepala yang terpenggal.
"Saya merasa takjub, grogi (kendati secara pribadi tidak pernah merasa terancam), terpesona -- dan merasa malu dengan keterpesonaan itu. Jujur saja, saya merasa istimewa berada di sana," kata Parry.
Bersimpati kepada korban? "Tentu saja saya merasa bersedih, kendati saya tak pernah bertemu mereka saat hidup atau melihat mereka menderita, sulit untuk menjelaskannya sebagai rasa simpati personal," kata Parry kepada saya.
Parry mencoba meliput peristiwa itu dan menuliskannya secara adil. Namun ia tidak percaya seorang manusia bisa bersikap objektif, kendati sudah berupaya keras untuk itu. "Tujuan saya adalah mendeskripsikan apa yang terjadi, dan juga mendeskripsikan bagaimana rasanya berada di sana," katanya. [wir]
Dayak Vs Bugis: Nunukan Mirip Kota Mati
Kabupaten Nunukan adalah hasil pemekaran Kabupaten
Bulungan pada tahun 1999. Kemudian tahun 2001
dilakukan pemilihan bupati oleh 20 anggota DPRD baru.
Pada saat itu muncul tiga kandidat, yakni Bustaman
Arham - Ali Karim, Gusti Aseng - ... dan HA Hafid
Achmad - Kasmir Foret.
Akhirnya HA Hafid Achmad (Bugis) - Kasmir Foret
(Dayak) yang menang. Keduanya dicalonkan oleh PDI P.
Padahal, HA Hafid Achmad adalah Ketua Partai Bulan
Bintang (PBB) Nunukan yang tidak punya kursi sama
sekali di legislatif. Ia juga adalah pengusaha
perhotelan dan kehutanan.
Tahun 2006 silam, HA Hafid Achmad - Kasmir Foret
terpilih kembali menjadi Bupati dan Wakil Bupati dalam
Pilkada. Selama kepemimpinan periode pertama telah
terjadi perubahan peta poltik secara besar-besaran.
PBB Nunukan berhasil menempatkan 7 orang kadernya di
kursi legislatif dan hanya kalah satu kursi dari
Golkar yang menjadi pemenang Pemilu.
Selama perjalanan kepemimpinan Hafid Achmad - Kasmir
Foret ini mulai muncul benih-benih permusuhan etnis.
Yang dimulai dengan adanya penguasaan proyek-proyek
pembangunan kepada etnis Bugis. Sejak tahun 2001 -
2006, belum begitu ketat soal Keppres 80 tentang
tender, sehingga 100 persen proyek di Nunukan (jasa
dan fisik) adalah hasil Penunjukkan Langsung.
Menjelang Pilkada tahun 2006, Bupati Hafid Achmad juga
merombak pejabat struktur pemerintahannya, dan yang
paling mencolok adalah penggantian Paridil Murad
sebagai Kepala Dinas PU Nunukan kepada Azis
Muhammadyah. Paridil adalah suku Banjar (lokal) yang
kemudian mendirikan PUSAKA (Persekutuan Suku Asli
Kalimantan).
Dalam konflik Dayak-Bugis di Nunukan, pemicunya adalah
percekcokan Paridil Murad dengan Sulaeman
(Bugis/kontraktor).
Asal-usul Konflik Etnis Madura-Dayak
Inilah disertasi yang paling sering disebut orang ketika membicarakan konflik etnis Madura dan Dayak di Kalimantan Barat (Kalbar). Sejatinya, penelitian almarhum Hendro bukan membahas konflik etnis, melainkan migrasi swakarsa orang Madura ke Kalbar. Namun selain memaparkan latar belakang, faktor-faktor pendorong dan penarik migrasi, ia juga meneliti hubungan dan pandangan orang Madura terhadap suku lainnya di Kalbar.
Buku yang diterbitkan oleh ISAI (Isntitut Studi Arus Informasi) ini menjelaskan hubungan dan pandangan orang Madura terhadap orang Bugis, Melayu, Cina, dan Dayak. Tak alpa pula ia menelaah penyebab konflik antara etnis Madura dan Dayak yang berlangsung sebelum tahun 1984 --saat disertasi ini ditulis. Pada bagian inilah ia menyumbangkan pengetahuan yang sangat berharga.
Hendro menjaring informasi lewat pengumpulan sumber primer dan sekunder, serta menyebar 400 kuesioner tipe pilihan kepada para migran asal Madura, ditambah wawancara terhadap puluhan informan kunci. Ia menggunakan konsep yang kini marak dibicarakan orang, yakni prasangka, stereotipe, etnosentrisme, konflik, konsiliasi, asimilasi, dan permusuhan terbuka. Kalaupun ada kelemahan dalam disertasi ini adalah: Ia tidak menggunakan sumber informasi sezaman pada periode yang ia teliti, semisal arsip, koran, dan majalah.
Berdasarkan data dan pengamatan Hendro, migrasi swakarsa orang Madura ke Kalbar telah berlangsung lama, tepatnya sejak 1902. Kebanyakan mereka berasal dari dua kabupaten di bagian barat Pulau Garam itu, yakni Bangkalan dan Sampang. Mengapa? Di dua kabupaten inilah penduduknya paling banyak (hlm. 50).
Penduduk Madura memang padat. Seperti diurai dalam disertasi Huub de Jonge (1989: 21), sejak 1815 sampai 1940 penduduk Madura malah lebih padat dari pulau Jawa. Artinya sampai 1940 Madura adalah pulau terpadat di Indonesia. Kepadatan penduduk yang tinggi ini berakibat pada sempitnya pemilikan tanah: Rata-rata 0,3 hektare per orang (hlm. 57). Faktor pendorong migrasi lainnya adalah tanah di Madura tergolong gersang.
Kepadatan penduduk, tanah gersang, keberanian, dan kebiasaan bermigrasi, ditambah satu pendukung berlangsungnya migrasi yang juga penting, yakni tersedianya armada kapal layar Madura yang mampu menjangkau wilayah jauh, sampai ke Semenanjung Malaya.
Adapun Kalbar menjadi daerah tujuan migrasi lantaran kepadatan penduduknya rendah. Pada 1980 hanya 17 jiwa per km persegi. Kalbar jelas membutuhkan pekerja untuk mengolah kekayaan alam dan membangun infrastruktur perekonomiannya. Dan kebutuhan ini, terutama pekerja kasar, diisi orang Madura.
Para juragan kapal yang sering bolak-balik ke Kalbarlah yang mula-mula membawa mereka ke sana. Bila calon migran tidak punya ongkos, juragan kapal bersedia menanggungnya lebih dahulu, dengan perjanjian akan dilunasi setelah mereka bekerja di Kalbar. Para migran ini dipikat lewat ''janji surga'' betapa gampangnya mencari kekayaan di tanah seberang. Pameo yang kondang saat itu ialah, ''Sejengkal memotong akar pinang, mendapat uang 50 ketip.''
Ternyata mulut manis juragan kapal itu ''berbisa''. Sesampainya di Kalbar para migran tersebut ''dijual'' layaknya perbudakan terselubung! Zaman penuh kepedihan dan penderitaan ini -- yang sangat jarang diceritakan kepada anak cucunya -- disebut ''Periode Perintisan'' (1902-1942). Setelah itu disambung ''Periode Surut'' (1942-1950) lantaran masuknya Jepang dan meletusnya Revolusi Kemerdekaan.
Setelah bertahun-tahun membanting tulang akhirnya para migran itu tiba pada ''Periode Keberhasilan'' (1950-1980). Pada masa ini mereka hidup layak. Mereka memiliki rumah dan kebun, bahkan menguasai sektor-sektor ekonomi informal tertentu, semisal penarik becak, penambang sampan, dan pekerja jalan darat (hlm. 84). Apa yang membuat mereka berhasil?
Hendro melihat sejumlah faktor, antara lain, pertama, mereka memiliki etos kerja dan jiwa wirausaha yang kuat sehingga sanggup bekerja keras, menderita, dan hidup hemat. Etos kerja ini didorong rasa malu ('todus') yang tecermin dalam pepatah 'ango'an potea tolang, e tebang pote mata' (lebih baik putih tulang, daripada putih mata). Maknanya adalah lebih baik mati daripada gagal dalam kehidupan di rantau (hlm. 81).
Kedua, solidaritas sosial mereka sangat tinggi. Banyak migran Madura ke Kalbar tanpa membawa modal usaha sepeser pun. Mereka yakin, keluarga atau teman-temannya di rantau akan membantu. Kombinasi solidaritas dan kerja keras itu membuat mereka menguasai sektor-sektor perdagangan tertentu, sehingga orang-orang non-Madura yang lebih dulu bergerak di bidang itu terdesak, bahkan terlempar keluar.
Belakangan, soal ini menjadi salah satu faktor penyebab meletusnya konflik etnis Madura melawan Melayu di Sambas, Kalbar. Pasalnya, migran Madura acap merebut kesempatan kerja dan pemilikan barang melalui kekerasan atau intimidasi -- tidak lagi melalui jalan yang sah (Prof Dr Syarif Ibrahim Alqadrie, ''Konflik Etnis di Ambon dan Sambas: Suatu Tinjauan Sosiologis'', 'Antropologi Indonesia', Th XXIII, No. 58, 1999, hlm. 41). Lantas, faktor apa saja yang menimbulkan konflik?
Hendro mencatat, pertama, sifat dan kelakuan dari ''tanah air'' (rasa kesukuan atau 'ethnic urbanism') di Madura dibawa serta bermigrasi. Adat carok dan solidaritas kuat -- meski acap membabi buta -- mereka bawa ke Kalbar. Akibatnya pertengkaran antarindividu segera menjelma menjadi pertengkaran antarkelompok. Perkelahian antarkelompok kontan berkobar menjadi perang suku.
Kedua, pola permukiman 'reng Madure' kebanyakan pola kelompok, bukan pola sisipan. Ini membuat proses asimilasi dengan warga setempat terhalang.
Ketiga , tingkat pendidikan para migran sangat rendah. Otomatis mereka sulit mengunyah-nguyah informasi, beradaptasi, dan hanya mampu menguasai sektor formal. Dari 400 responden penelitian Hendro, 79 persen di antaranya tidak sekolah/buta huruf dan 10 persen lagi tidak tamat SD.
Hubungan etnis Madura-Dayak kurang harmonis antara lain karena faktor-faktor tersebut di atas. Sifat keras orang Madura juga terdapat pada orang Dayak. Tingkat pendidikan dan posisi ekonomi kedua suku ini hampir sejajar: Sama-sama rendah dan mengisi sektor informal. Sementara agama dan adat mereka berbeda. Di sisi lain hubungan etnis Madura-Bugis di Kalbar rukun lantaran faktor kesamaan agama.
Rendahnya kemampuan berbahasa Indonesia pada kedua suku itu menambah kekurangharmonisan. Orang Madura menggunakan bahasa Indonesia dialek Madura yang kurang sempurna. Sedangkan orang Dayak berbahasa Indonesia dengan aksen Dayak yang juga kurang sempurna. Intonasi meledak-ledak sebagai pencerminan sifat etnis Madura yang keras, mudah menimbulkan salah paham.
Toh, tak berarti dengan kekurangharmonisan ini kedua suku itu tidak bisa melakukan kontak sosial. Hubungan sosial mereka diwarnai sikap prasangka dan menjaga jarak. Yang menggembirakan bahwa di beberapa kampung, seperti di Sungai Ambawang dan Marga Mulia, terjadi perkawinan antara orang Madura dan Dayak. Hendro berharap, seandainya perkawinan macam ini makin banyak, lambat laun kekurangharmonisan dalam pergaulan sosial mereka akan berkurang (hlm. 140). Ternyata harapan mulia penulis buku ini sekarang tinggal kenangan belaka.
Setelah disertasi ini ditulis, konflik Madura-Dayak malah memuncak dan berlarut-larut. Namun buku ini tetap penting lantaran mampu menganalisis faktor penyebab konflik dan membuka jalan untuk rekonsiliasi.
DAJAK_BOOVEN
dayak bukan bangsa yang melarang pendatang untuk mengadu nasib di kalimantan.. tetapi dayak tidak suka orang semena mena di tanahnya sendiri.. dayak tidak suka wilayahnya diambil dan diakui oleh suku lain.. dayak rendah diri bukan berati selalu mengalah.. bagi semua suku yang mengadu nasibnya di kalimantan.. hendaknya menjaga sikap.. (DIMANA BUMI DIPIJAK DISITU LANGIT DI JUNJUNG)
satria
ulun bingung lwan orang madura itu....
ulung ke sana kereka lihat tin ulun
dayak janju
Oknum dayak sengaja menghembuskan isu menjelek2an orang madura untuk melancarkan genocida serta membenarkan semua perbuatannya,mereka lupa dan tidak sadar bahkan berprilaku sombang dengan mengatkan bahwa orang dayak semuanya baik lalu pertanyaannya sebelum kerusuhan kenapa orang madura selalu di jadikan tumbal untuk upacara tiwah untuk persembahan tuhan2 u,apakah orang madura ga boleh melawan dan menolak adat seperti itu,,,
kalian ga pernah jantan mengakui kesalahannya....
tuhan melarang memusuhi kaum karena kalau memusuhinya sama dengan memusuhi tuhan,,,n itulah yg di lakukan orang madura meraka tidak memusuhi dayak tp yang di musuhi adalah perbuatannya seperti yg u lakukan mempersembahkan kepala orang untuk menyembah tuhannya.kalau u jantan coba beri alasan kenapa u mempersembahkan kepala orng kepada tuhan u?
N untuk orang yg menulis tentang panglima burung seharusnya anda lebih bijak dalam menulis cerita jgn sampai menyakiti suku anak bangsa lainnya yg turut berjasa dalam kemerdekaan bangsa ini,,,tampa mereka belum tentu anda bisa menikmati kemerdekaan ini..anda adalah orang terpelajar tentunya tahu mana manajemen isu,konflik,solving dan yang lainnya,jgn korbankan rakyat yg ga tahu apa2..n q berharap lebih baik kalau masih ingin ada perdamain cerita menjelekkan suku tertentu di atas di hapus dan di ganti dengan kisah perjuangan waktu melawan penjajah jepang dan belanda kan semua suku indonesia bisa bangga melihat anda dengan perjuangannya.
N kalau mau membuktika apakah orang madura semena2 mari kita buktikan kelapangan secara bersama2 jgn menyebarkan isu yg ga benar...
dan untuk orang dayak (DIMANA BUMI BERADA ALLAH SWT YANG MAHA KUASA)
bangsat dayat
kita bantai aja dayak yg ada di jawa sakti pa engga,,,,
coz mereka sudah keterlaluan,,,dr sejarah perjalanan kemerdekaan indonesia peranan mereka ga nampak tuh,waktu reformasi menggulingkan soeharto juga ga membantu.
jiim
mari bung...kita sweping aja dah muak dengan kelakuan mereka...
meqo
oke bung
ANGGA KALIMANTAN
........... kabarnya nanti akan ada kerusuhan yang lebih besar lagi
golo
ingatlah pada waktu berdirinya kerajaan banjar yang membantu mendirikannya sehingga islam ada di sana..dan juga banyak dari hasil pernikahan antara putri brawijaya dan raja banjar menjadi raja di sana seperti raja kotawaringin...mereka kalau dilihat dari silsilahnya dari brawijaya,brawijaya dari joko tole,joko tole(madura) dari sunan ampel,dan terus ke atas sampe nabi muhammad.
perang suku sebenarnya ga ada cuman hanya sebagai kedok supaya orang madura dan juga orang dayak yg bersalah tidak di hukum dan mereka enak2 duduk di kursi manis...para pemimpin seperti harus di adili karena secara tidak langsung mereka mendiskriditkan,menjelek2an,menghina,menumbuhkan sikap rasis,dan mengkotakan kebaikan dan kejahatan berdasarkan suku bukan berdasar perbuatan yang lebih eronis mereka untuk mendapatkan kedudukan rela mengorbankan rakyatnya sendiri,,
sangat ironis tatanan persaudaraan yg sudah zaman dulu tertanam,,dimana mereka saling membantu berjuang memerdekakan setiap jengkal tanah indonesia dari penjajahan,tapi sekarang di hancurkan oleh orang2 yg hanya mementingkan dirinya sendiri,dengan mengatas namakan rakyat kecil.
kearifan lokal(dayak) dan juga ajaran santri(madura)malah mau di adu...coz bukan manusia namanya masak orang yang mengajarkan kebaikan kepada kita seperti para kiai,ulama,dan juga pemangku adat mau di bunuh semunya tetapi tidak menggunakan tangannya sendiri(adu domba)mereka menggunakan ilmu kepemimpinan yg disebut dengan manajemen konflik,,,manajemen isu(seperti membuat dia mengutus beberapa orang yang tugasnya adalah yang satu mengatakan kepada kelompok yang lain bahwa orang madura bla2..blaXxxxx dan juga yang lainnya datang kepihak madura dengan membawa isu orang dayak bla..bla..bla..
sehingga setelah 2 kelompok itu mendengar tentunya mereka akan termakan isu...coz setelah itu terjadilah permusuhan dan kebencian karena berita yang di dengar adalah kejelekan2 dan juga yang lainnya...perNG pun meletus,,dan yang ngadu tenang aja duduk di kursi manis,,,