Panglima Burung

Dalam masyarakat Dayak, dipercaya ada ada suatu makhluk yang disebut-sebut sangat agung, sakti, ksatria, dan berwibawa. Sosok tersebut konon menghuni gunung di pedalaman Kalimantan, bersinggungan dengan alam gaib. Pemimpin spiritual, panglima perang, guru, dan tetua yang diagungkan. Ialah panglima perang Dayak, Panglima Burung, yang disebut Pangkalima oleh orang Dayak pedalaman.


www.flickr.com/photos/beckzaidan/1102006510

Ada banyak sekali versi cerita mengenai sosok ini, terutama setelah namanya mencuat saat kerusuhan Sambas dan Sampit. Ada yang menyebutkan ia telah hidup selama beratus-ratus tahun dan tinggal di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Ada pula kabar tentang Panglima Burung yang berwujud gaib dan bisa berbentuk laki-laki atau perempuan tergantung situasi. Juga mengenai sosok Panglima Burung yang merupakan tokoh masyarakat Dayak yang telah tiada, namun dapat rohnya dapat diajak berkomunikasi lewat suatu ritual. Hingga cerita yang menyebutkan ia adalah penjelmaan dari Burung Enggang, burung yang dianggap keramat dan suci di Kalimantan.

Selain banyaknya versi cerita, di penjuru Kalimantan juga ada banyak orang yang mengaku sebagai Panglima Burung, entah di Tarakan, Sampit, atau pun Pontianak. Namun setiap pengakuan itu hanya diyakini dengan tiga cara yang berbeda; ada yang percaya, ada yang tidak percaya, dan ada yang ragu-ragu. Belum ada bukti otentik yang memastikan salah satunya adalah benar-benar Panglima Burung yang sejati.

Banyak sekali isu dan cerita yang beredar, namun ada satu versi yang menurut saya sangat pas menggambarkan apa dan siapa itu Penglima Burung. Ia adalah sosok yang menggambarkan orang Dayak secara umum. Panglima Burung adalah perlambang orang Dayak. Baik itu sifatnya, tindak-tanduknya, dan segala sesuatu tentang dirinya.

Lalu bagaimanakah seorang Panglima Burung itu, bagaimana ia bisa melambangkan orang Dayak? Selain sakti dan kebal, Panglima Burung juga adalah sosok yang kalem, tenang, penyabar, dan tidak suka membuat keonaran. Ini sesuai dengan tipikal orang Dayak yang juga ramah dan penyabar, bahkan kadang pemalu. Cukup sulit untuk membujuk orang Dayak pedalaman agar mau difoto, kadang harus menyuguhkan imbalan berupa rokok kretek.

Dan kenyataan di lapangan membuyarkan semua stereotipe terhadap orang Dayak sebagai orang yang kejam, ganas, dan beringas. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang Dayak bisa dibilang cukup pemalu, tetap menerima para pendatang dengan baik-baik, dan senantiasa menjaga keutuhan warisan nenek moyang baik religi maupun ritual. Seperti Penglima Burung yang bersabar dan tetap tenang mendiami pedalaman, masyarakat Dayak pun banyak yang mengalah ketika penebang kayu dan penambang emas memasuki daerah mereka. Meskipun tetap kukuh memegang ajaran leluhur, tak pernah ada konflik ketika ada anggota masyarakatnya yang beralih ke agama-agama yang dibawa oleh para pendatang. Riuh rendah tak berubah menjadi ketegangan di ruang yang lingkup--yang oleh orang Dayak Ngaju disebut Danum Kaharingan Belum.

Kesederhanaan pun identik dengan sosok Panglima Burung. Walaupun sosok yang diagungkan, ia tidak bertempat tinggal di istana atau bangunan yang mewah. Ia bersembunyi dan bertapa di gunung dan menyatu dengan alam. Masyarakat Dayak pedalaman pun tidak pernah peduli dengan nilai nominal uang. Para pendatang bisa dengan mudah berbarter barang seperti kopi, garam, atau rokok dengan mereka.

Panglima Burung diceritakan jarang menampakkan dirinya, karena sifatnya yang tidak suka pamer kekuatan. Begitupun orang Dayak, yang tidak sembarangan masuk ke kota sambil membawa mandau, sumpit, atau panah. Senjata-senjata tersebut pada umumnya digunakan untuk berburu di hutan, dan mandau tidak dilepaskan dari kumpang (sarung) jika tak ada perihal yang penting atau mendesak.

Lantas di manakah budaya kekerasan dan keberingasan orang Dayak yang santer dibicarakan dan ditakuti itu? Ada satu perkara Panglima Burung turun gunung, yaitu ketika setelah terus-menerus bersabar dan kesabarannya itu habis. Panglima burung memang sosok yang sangat penyabar, namun jika batas kesabaran sudah melewati batas, perkara akan menjadi lain. Ia akan berubah menjadi seorang pemurka. Ini benar-benar menjadi penggambaran sempurna mengenai orang Dayak yang ramah, pemalu, dan penyabar, namun akan berubah menjadi sangat ganas dan kejam jika sudah kesabarannya sudah habis.

Panglima Burung yang murka akan segera turun gunung dan mengumpulkan pasukannya. Ritual--yang di Kalimankan Barat dinamakan Mangkuk Merah--dilakukan untuk mengumpulkan prajurit Dayak dari saentero Kalimantan. Tarian-tarian perang bersahut-sahutan, mandau melekat erat di pinggang. Mereka yang tadinya orang-orang yang sangat baik akan terlihat menyeramkan. Senyum di wajahnya menghilang, digantikan tatapan mata ganas yang seperti terhipnotis. Mereka siap berperang, mengayau--memenggal dan membawa kepala musuh. Inilah yang terjadi di kota Sampit beberapa tahun silam, ketika pemenggalan kepala terjadi di mana-mana hampir di tiap sudut kota.

Meskipun kejam dan beringas dalam keadaan marah, Penglima Burung sebagaimana halnya orang Dayak tetap berpegang teguh pada norma dan aturan yang mereka yakini. Antara lain tidak mengotori kesucian tempat ibadah--agama manapun--dengan merusaknya atau membunuh di dalamnya. Karena kekerasan dalam masyarakat Dayak ditempatkan sebagai opsi terakhir, saat kesabaran sudah habis dan jalan damai tak bisa lagi ditempuh, itu dalam sudut pandang mereka. Pembunuhan, dan kegiatan mengayau, dalam hati kecil mereka itu tak boleh dilakukan, tetapi karena didesak ke pilihan terakhir dan untuk mengubah apa yang menurut mereka salah, itu memang harus dilakukan. Inilah budaya kekerasan yang sebenarnya patut ditakuti itu.

Kemisteriusan memang sangat identik dengan orang Dayak. Stereotipe ganas dan kejam pun masih melekat. Memang tidak semuanya baik, karena ada banyak juga kekurangannya dan kesalahannya. Terlebih lagi kekerasan, yang apapun bentuk dan alasannya--entah itu balas dendam, ekonomi, kesenjangan sosial, dan lain-lain--tetap saja tidak dapat dibenarkan. Mata dibalas mata hanya akan berujung pada kebutaan bagi semuanya. Terlepas dari segala macam legenda dan mitos, atau nyata tidaknya tokoh tersebut, Panglima Burung bagi saya merupakan sosok perlambang sejati orang Dayak.

 
Catatan: artikel ini dirilis ulang dari blog pribadi saya, GunawanRudy.Com - Panglima Burung

* foto Panglima Burung? gambar Panglima Burung? tapi foto Burung Enggang oleh Fendy Zaidan

Kata Kunci:
, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Rudy Gunawan
Tentang Penulis

Rudy Gunawan adalah administrator, editor, serta pemangku desain dan ide kreatif Betang.COM. Tengah berjibaku dengan studinya di jurusan Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada.

Terdapat 29 Komentar

  1. #1 Kamis, 14 Mei 2009 Pukul 21:39 WIB
    Bintang Sariyatno

    panglima burung yang dikenal selalu membantu warga yang tertindas, nampak kejam dan beringas sewaktu ia muncul amarahnya.
    saya memdengar keberadaan panglima burung sudah sangat lama sekali kira-kira beberapa tahun yang lalu.

  2. #2 Minggu, 17 Mei 2009 Pukul 18:02 WIB
    Agnes E. T.

    Ngingat 'panglima burung' aq jd inged kjadian suram d masa lampaw...
    Hrrrr.., mga kjadian kaiag gt g keulang lg...

    Tp aq stuju ma kta gun chama klw panglima burung t menggambarkan suku dayak itu sendiri, bukan 'sesuatu' yg brdiri sndiri.

  3. #3 Kamis, 4 Juni 2009 Pukul 17:26 WIB
    ~info

    Hallo.

    Sekedar info aja nih, buat bantu-bantu Betang. Tulisan oleh gunawanrudy.com (Rudy Gunawan) ini telah di-copy-paste tanpa menyebutkan sumber di beberapa blog, misalnya:

    1) http://www.smallcrab.com/others/35-lain-lain/411-panglima-burung-antara-mitos-dan-fakta

    2) http://shiddiqiyyah.com/lain/?p=90

    3) http://bayzelbee.blog.friendster.com/2009/02/panglima-burung/

    4) http://blacklisthunter-akira.blogspot.com/2009/03/panglima-burung-panglima-perang-suku.html

    :D

  4. #4 Kamis, 4 Juni 2009 Pukul 20:18 WIB
    Rudy Gunawan

    Hahahaaa... Aku sudah tahu kok, cuma masih kubiarin aja. Well, aku percaya orang bisa tahu sendiri siapa penulis aslinya. :D

    Anyway, nggak gabung kontributor? Kayaknya kamu hebat investigasi dan penyelidikan lewat google nih. :P

  5. #5 Jumat, 12 Juni 2009 Pukul 21:01 WIB
    Upi

    Hebat !!!
    Membacanya saja aku seperti berada diantara Panglima Burung,mpe 3x bacanya sih .hahahah . Klo kebanyakan baca mimpi beneran kali yak (*_*)

  6. #6 Rabu, 17 Juni 2009 Pukul 6:48 WIB
    Panglima Burung, Pangkalima Burung | Gunawan Rudy dot Com

    [...] artikel asli ini dirilis ulang pada untuk [...]

  7. #7 Jumat, 26 Juni 2009 Pukul 19:06 WIB
    andy revlino

    Ceritanya benar-benar memukau, akan tetapi semuanya tergantung pada kepercayaan kita masing-masing.
    Sebagai seorang DAYAK NGAJU, hendaknyalah kita bersama-sama menjaga cerita Sejarah yang tak mungkin akan terulang kembali.
    "Salam tabe ih akan tundah kula pahari hong Kalimantan"

  8. #8 Minggu, 5 Juli 2009 Pukul 8:06 WIB
    hadi balil

    salut unik panglima burung dan keturunananya.so spcial buat orangorang kalimantan semua yaa.love peace...

  9. #9 Selasa, 7 Juli 2009 Pukul 7:44 WIB
    Faridawati Erlina

    Ok, morning everybody, sorry sy mohon izin gabung,kalo sekilas org luar kalteng dengarnya seram ya? tapi kita biasa ajha kho, so panglima burung emang jago abiz.... maksudnya hebat....wkt etnis di kalteng kemarin sy strezz 1 minggu, saking ngeliatnya keajaiban yang luar biasa terjadi, tapi selang berapa lama situasi sudah membaik baru kt nyadar, kejadian itu luar biasa diluar kuasa kita sebagai manusia biasa, ceritanya pasti my friend uda pernah dengar.........mybe emang beliau special tp......kynya yang turun ke medan baru anak2, cucu beliau azha.....udah hebat,apalagi beliau langsung.

  10. #10 Senin, 7 September 2009 Pukul 22:11 WIB
    ade taruna sea

    memang sebuah karya seni yg indah dan tak trnilai..
    agar smua org tau bahwa org dayak itu tidak lah kejam yang banyak orang pikirkan..
    slam buat saudara2 q yg berada d penjuru kalimantan..
    smoga misteri2 sejarah dayak sdikit demi sedikit akan trkuak yg selama ini belum kita ketahui..

  11. #11 Jumat, 2 Oktober 2009 Pukul 16:45 WIB
    iman

    hebat banget, aq aja ampe merinding bacax. Maju teus Suku Dayak. Aq di balakangmu
    Tapi aq bukan rang dayak loh.hehehehe,

  12. #12 Jumat, 2 Oktober 2009 Pukul 18:25 WIB
    panglima bulau

    AQ TERKAGUM DENGAN TULISAN INI. PERKENALKAN SAYA PANGKALIMA BULAU

  13. #13 Jumat, 23 Oktober 2009 Pukul 9:27 WIB
    Nisa

    ka,, BoLeh gaK minTa Ciri_2 buRung enggang nYa KaLtim

  14. #14 Jumat, 23 Oktober 2009 Pukul 17:44 WIB
    Andra rebon

    Salut bro aku urang banjar aja katuju jua lwn sidintu!sama jua lawan pangeran samudra kalulah ato pangeran antasari salam datang di unda nie di kutabaru pulau laut kalsel dingsanakai !

  15. #15 Kamis, 29 Oktober 2009 Pukul 15:23 WIB
    r.amstrong

    Aq salut dengan suku dayak,dan aq bangga punya saudara orang suku dayak....HIDUP SUKU DAYAK.

  16. #16 Kamis, 12 November 2009 Pukul 17:51 WIB
    Lelie

    Puna mantap ih te,,,nambah are2 ih mangat uluh luar katawan kesah dan budaya mitah je puna are dan bahalap....tingkatkan!!

  17. #17 Jumat, 20 November 2009 Pukul 11:28 WIB
    Pang tujuh

    hahaha........klo aq sih dah naik tingkat sekarang dah jadi PANGTUJUH berarti lebih tinggi dari panglima. aq bangga sebagai suku dayak asli dari dayak ibanic group.

  18. #18 Senin, 4 Januari 2010 Pukul 14:43 WIB
    idho anag ibu

    syakira itu cuma crita nenek moyang yang turun tmurun saja..dan skarang itu uda lalu...sekarang kita cuma bagai mana menjaga hutan kalimantan....yg uda mulai habis...diambil oleh tangan tangan tak bertanggung jawab...oke"""

    by idho borneo boy

  19. #19 Kamis, 21 Januari 2010 Pukul 21:47 WIB
    cici

    Ramah ,pemalu ,dan penyabar... YIRU TU'U SIFAT ULUN DAYAK ...tapi bila kesabaran sudah habis mereka bisa menjadi sangat bengis spt yg terjadi pada tragedi sampit , karempangi....WELUM DAYAK maaataaaaap !

  20. #20 Senin, 1 Februari 2010 Pukul 19:58 WIB
    Pangalok

    Kalau yang dari Ibanic Group bilang tadi, dia lebih tinggi dari Panglima sebab dia Pangtujuh. Panglima sama Pangtujuh masih rendah dari saya sebab saya ini Pangalok lebih tinggi dong dari Pangtujuh (wow abizzzt)(Kamuda Kanayatn-Kalbar)hik...hik..hik.....ame alok boh.

  21. #21 Senin, 8 Februari 2010 Pukul 16:55 WIB
    andry hartono

    ulun sangat kagum dengan panglima burung yang ulun tahu dan dengar cerita nya... soal nya ulun baru pulang dari banjarmasin...

  22. #22 Rabu, 10 Februari 2010 Pukul 9:26 WIB
    feri

    saya salah satu orang yang baru tau tapi saya juga ingin tau

  23. #23 Minggu, 14 Februari 2010 Pukul 12:56 WIB
    aliyono

    saya baru mengetahui ttg panglima burung beberapa tahun lalu, saat terjadi kerusuhan etnis di kalteng. kita berdoa aja agar kejadian serupa itu tidak terulang lagi. kasihan mereka yang ngak tahu apa-apa

  24. #24 Minggu, 14 Februari 2010 Pukul 22:28 WIB
    tommy

    respect to every tribe in Indonesia, dayak tribe is one of amazing tribes that our country has.

  25. #25 Minggu, 14 Februari 2010 Pukul 22:32 WIB
    tommy

    tapi saya prihatin sama kondisi alam kalimantan yg di eksploitasi abis2 an, kayak kaltim yg bnyk punya KP (kuasa pertambangan) bikin banjir di kaltim. Kalimantan, Papua, pulau lain di Indonesia yg memprihatinkan..

  26. #26 Jumat, 19 Februari 2010 Pukul 9:47 WIB
    Aldi

    bagus banget ceritanya panglima burung emank baik,penyabar tp serem jg y kalau di marah hehehehe.... ^_^
    Emank sih sayank bgt kalau kalimantan yg bgs keindahan alam y di potong hutan y sama org luar karena kalimantan kan msh byk kebudayaan dan yg plg penting byk hewan" yg lucu biarpun serem" dikit sih hohohoho....
    TP aq bingung knp y byk bgt yg sering bakar utan...? ,kan kasihan hewan yg ada di dlm hutan itu....

  27. #27 Senin, 1 Maret 2010 Pukul 1:48 WIB
    willy

    cerita yang cukup menarik untuk pengetahuan tentang kalteng....
    orang bakar utan itu untuk memperluas lahan untuk bertani.,yang jadi masalhxkan waktu membakar untuk membuka lahan baru itu APInya sering ga djga...jdi meluas dech APInya sampai2 kebun pnya orng jga ikut trbkr,,padahl Bapak Gubernur sudah memberi peringatan untuk tidak membakar lahan tanpa adanya pengawasan...jdi untuk masalah ini ga ada pihak yg bisa d salahkan,tpi kesadaran dari masyarakatnya sendiri lh yang mampu mengontrol api tsb agar wktu membakar apinya tidak mengenai atau meluas sampai mengenai kebun mlk orng dan hutan yang d lindungi oleh pemerintah.....jaya kalteng ku

  28. #28 Selasa, 2 Maret 2010 Pukul 1:52 WIB
    yohanes

    Panglima Burung adalah Panglima Perang Dayak yg akan tetap hidup dan tak akan pernah mati untuk selamanya.... Hidup Dayak... Kalau berani jangan takut-takut, Kalau takut jangan berani-berani.

  29. #29 Rabu, 3 Maret 2010 Pukul 7:18 WIB
    Expoison

    panglima burung krennnnnn

Tinggalkan Komentar

Komentar diharapkan dalam Bahasa Indonesia, Inggris, Dayak (Kalteng), atau Banjar.
Ingin mempunyai gambar avatar sendiri jika berkomentar? Segera daftarkan diri di Gravatar!

Dari Meja Redaksi

Maskot Hatue en Bawi

Maskot Hatue en Bawi Hatue en Bawi, alias Laki-laki dan Perempuan dalam Bahasa Dayak Ngaju, adalah nama dari dua figur ...

Laporan lainnya...

» Mengapa Berupa Situs? (9)
» Komentar 101: Facebook (18)
» HUT Tambun Bungai (5)

Dalam Jaringan

Komunitas Facebook

Kabar Kalteng

Sebuah galat telah terjadi, yang kemungkinan berarti umpan tersebut sedang anjlok. Coba lagi nanti.