Asal-Usul Manusia, Raja Bunu
Oleh Bintang Sariyatno • Kisah • Selasa, 23 Juni 2009 pukul 13:42 WIB
15 Komentar •
Menurut kepercayaan agama Hindu Kaharingan, manusia berasal dari keturunan Raja Bunu yang menuju jalan pulang ke Ranying Hatalla Langit (Tuhan Yang Maha Esa).
Raja Bunu adalah anak dari pasangan Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut dan Kameloh Putak Bulau Janjulen Karangan Limut Batu Kamasan Tambun. Manyamei Tunggul Garing dan Kameloh Putak Bulau merupakan menurut Hindu Kaharingan adalah manusia yang pertama kali diciptakan oleh Ranying Hatalla Langit. Dan Raja Bunu memang diwariskan untuk menghuni bumi dengan ciri–ciri keturunannya bisa mati atau meninggal setelah keturunan ke sembilan. Ciri–ciri yang lain adalah Raja Bunu tidak bisa menginang, maka diganti makanannya diganti menjadi beras, lauk–pauk, dan lain-lain seperti makanan kita sekarang ini.

Raja Bunu dianugrahi oleh Ranying Hatalla Langit sebuah besi bernama Sanaman Lenteng. Sanaman Lenteng adalah sebuah besi yang tidak sengaja ditemukan oleh Raja Bunu sewaktu ia bermain di sungai dengan kedua saudaranya. Kedua saudara Raja Bunu itu masing–masing bernama Raja Sangen dan Raja Sangiang. Besi yang ditemukan oleh tiga bersaudara ini aneh, karena yang satu ujung besinya timbul ke permukaan air dan ujung yang lain tenggelam. Kalo dianalogikan, seharusnya seluruh batang besi itu tenggelam.
Raja Bunu secara tidak sengaja memegang ujung Sanaman Lenteng yang tenggelam dan kedua saudaranya memegang ujung yang timbul ke permukaan air, sehingga menurut ceritanya gara-gara Raja Bunu tidak sengaja memegang ujung dari Sanaman Lenteng yang tenggelam, maka kehidupannya tidak abadi seperti kedua saudaranya yang lain, yaitu Raja Sangen dan Raja Sangiang. Besi yang mereka dapati itu akhirnya dibuat menjadi Dohong Papan Benteng (sejenis alat khas yang bentuknya seperti pisau) oleh ayah mereka.
Raja Bunu dan kedua saudaranya dianugrahi juga oleh Ranying Hatalla Langit seekor burung yang bernama Gajah Bakapek Bulau Unta Hajaran Tandang Barikur Hintan. Mereka dianugrahi seekor burung itu ketika mereka sedang berada di sebuah bukit yang bernama Bukit Engkan Penyang.
Ketika mereka sudah mendapati burung itu, rupanya tiga saudara itu tidak ada yang mau mengalah dan terus berebut untuk mendapatkan burung itu. Tiba–tiba Raja Sangen menghunus dohong-nya lalu menghujamkannya ke arah burung itu. Sehingga darah burung itu pun keluar dan Raja Sangen pun berinisiatif untuk menampung darah burung tersebut ke sebuah sangku (sejenis mangkok). Dan dengan sekejap darah burung yang ditampung di dalam sangku itu pun berubah menjadi emas, berlian, dan permata.
Rupanya ayah ketiga bersaudara itu mengetahui perbuatan ketiga anaknya itu. Maka, dengan kesaktiannya sang ayah pun pergi menemui ketiga anaknya itu. Sesampainya di sana Manyamei Tunggul Garing (ayah mereka) melihat apa yang telah diperbuat oleh anaknya karena sang ayah merasa iba kepada burung itu dan takut ketiga anaknya kualat dengan Ranying Hatalla Langit atas perbuatan mereka, sang ayah pun dengan kesaktiannya menyembuhkan luka pada burung itu.
Karena rasa iri terhadap saudaranya yang mendapatkan emas, berlian, dan harta itu. Maka, Raja Sangiang pun menghujamkan dohong-nya ke arah burung itu sehingga darah burung itu pun keluar dengan derasnya dan ia pun melakukan hal yang sama yaitu mengambi sangku untuk menampung darah burung itu. Kejadiannya pun sama persis dengan yang didapatkan oleh Raja Sangen yaitu, emas, berlian, dan lain-lain. Dan ayah mereka pun akhirnya menyembuhkan luka pada burung tersebut. Sehingga burung itu pun sehat kembali.
Dan lagi–lagi keserakahan dan rasa iri itu menghinggapi Raja Bunu. Ia pun melakukan apa yang telah dilakukan oleh kedua saudaranya itu dan ia pun mendapatkan hasil yang sama seperti yang diperoleh oleh kedua saudaranya. Dan lagi–lagi sang ayah pun karena merasa iba akan burung itu maka ia pun menyembuhkan luka burung itu. Tetapi rupanya luka burung itu tidak dapat sembuh seperti sedia kala. Akhirnya burung itu terbang dengan membawa luka dan darahnya menetes membasahi wilayah itu. Darah burung yang menetes itulah yang kemudian menjadi kekayaan yang berlimpah ruah. Karena kondisi fisik burung itu yang semakin lelah dan lukanya semakin parah, burung itu pun akhirnya mati.
Akhirnya tempat burung itu mati dipenuhi dengan kekayaan yang abadi, dan menurut kepercayaan agama Hindu Kaharingan tempat itu disebut dengan Lewu Tatau (Surga).
Catatan: artikel ini disadur dari artikel Tiwah di blog saya.
* foto dari buku Maneser Panatau Tatu Hiang
Kata Kunci:
bukit engkan penyang, cerita rakyat, dayak, dohong papan benteng, gajah bakapek bulau unta hajaran tandang barikur hintan, kaharingan, kalimantan tengah, kameloh putak bulau janjulen karangan limut batu kamasan tambun, legenda, lewu tatau, manyamei tunggul janjahunan laut, mitos, raja bunu, raja sangen, raja sangiang, ranying hatalla langit, sanaman lenteng, sangen, sangiang, sangku, tiwah
Hak Cipta
Materi ini dilindungi oleh UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta dan merupakan tanggungjawab penulisnya.
Harap mengikuti halaman Hak Cipta dan Penyangkalan untuk penggunaan dan pemanfaatan materi.
Tentang Penulis
Bintang Sariyatno adalah administrator, penulis aktif-tetap, dan pemangku konten Betang.COM. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa Biologi Murni di Universitas Negeri Yogyakarta.
Cetak Halaman Ini
Sebarkan via Email




















apri
ie te, puna dia tau ih iyah te belum marak bahiri dengan uluh. ie dia Mas Bintang??
Agnes E. T.
Hmmm... Dongeng yg aneh...
S™J
cerita mitologis-simbolis *haiyah* macam ini sepertinya sulit dipahami generasi masa kini. di jawa ada kisah asal-usul manusia juga, tetapi bukan dari manusia, melainkan mimi-mintuna (hewan). ini juga kisah simbolis. sayangnya dalam bahasa jawa saja: sangkan paraning dumadi
S™J
cerita mitologis-simbolis *haiyah* macam ini sepertinya sulit dipahami generasi masa kini. di jawa ada kisah asal-usul manusia juga, tetapi bukan dari manusia, melainkan mimi-mintuna (hewan). ini juga kisah simbolis. sayangnya dalam bahasa jawa saja: sangkan paraning dumadi
Rudy Gunawan
Buku Mimi lan Mintuno karya Remy Sylado keren.
*gak nyambung*
Oiya, kalo gak salah di pendopo Puro Mangkunegaran ada gambar Mimi lan Mintuno ini.
S™J
wah blom baca buku soal itu malah...
iya, di mangkunegaran emang salah satu simbol yg dipake itu. *di sini pengunjung jarang disapa penulis ya?*
Rudy Gunawan
Lagi mengajari penulis cara blogging dan membalas komen nih.
Maklum sebagian besar penulis bukan blogger.
*etapi penulis entry iRaja Bunu ini lagi gak bisa OL ding*
teras01
manusia dr keturunan raja bunu, keturunan raja sangen & raja sangiang jd apa?
gwonk
mohon copy paste om, kalo di ijinkan
Riky
Sebenarnya itu adalah cerita yang benar-benar terjadi karena Raja Bunu ini nantinya akan di turunkan ke bumi melalui Palangka Bulau Lambayung Nyahu oleh Ranying Hatalla dan tempatnya nanti yaitu di bukit Samatuan,daerah Kahayan Rotot dan Kahayan Katining. Sebenarnya banyak cerita mengenai ini.
dehonborneo
hajamban jetuh aku maja manyundau tuntang mayupa kawan kula pahari
tabe kasene akan ketun uras,sanang salamat huang pambelum itah samandia.
jatun taluh ingesah kuh,aku baya manyampai peteh auh pansanan tatu hiang itahsahapus petak danum borneo sungei saka seruk sare n akan utus dayak hung kueh bewei AYU ITAH SAMANDIAI HAPAKAT MANGGATANG UTUS DAYAK JE BAUHAT,ELA SAMPAI TEMPUN PETAK MANANA SARE,TEMPUN KAJANG BISA PUAT,ELA BAYA TEMPUN TANDAK DIA MANGKEME ANIS ENYAK
ISEN MULANG
Lelie
to Agnes: ini bukan dongen,,,tetapi ini benar 2 terjadi n benar2 merupakan kepercayaan Dayak asli,,,
Novandra
panjang jg dongengnya ya..... jar urang banjar lucu babanaran,, nang mangarang tuh...
gwonk
mohon saran dong, gimana saya bisa ikut ber PARTY SPASI untuk menambah cerita Rakyat di Betang.COM ini???
Dian Suci
Ceritanya menarik, I Love Dayak Very much