DAYAK
Oleh Bintang Sariyatno • Humaniora • Senin, 4 Mei 2009 pukul 7:27 WIB
17 Komentar •
Jika mendengar sebutan kata Dayak pasti akan teringat akan nama sebuah suku yang hidup dan menetap di pulau Kalimantan. Suku Dayak adalah nama suku yang memiliki budaya yang bersifat daratan bukan budaya maritim. Budaya daratan yang dimaksud disini adalah sebuah budaya yang hampir di setiap segi kehidupan suku tersebut dilakukan di daratan bukan di daerah pesisir apalagi di lautan seperti budaya maritim. Hal itu dapat dilihat dari kegiatan sehari-harinya suku Dayak, seperti berburu, bertani, dan berkebun.

www.kualalumpurcentral.com/Kuala%20Lumpur%20National%20Museum%20Dayak%20Head%20Hunter%20from%20Sarawak.jpg
Kata Dayak menurut R. Sunardi dan O. K. Rahmat, keduanya menyatakan bahwa Dayak adalah sebuah kata untuk menyatakan suatu kelompok yang tidak menganut agama Islam dan hidup menetap di pedalaman Kalimantan. Istilah ini juga yang diberikan oleh bangsa Melayu yang hidup di daerah pesisir Kalimantan yang berarti gunung. Bangsa Melayu pada waktu itu adalah sekelompok masyarakat yang tidak lain dan tidak bukan adalah masyarakat yang berasal dari daerah Melayu dan berbahasa Melayu pula. Tetapi akan lain pengertiannya jika yang disebut orang Melayu adalah orang Dayak yang sudah memeluk agama Islam.
Jika dilihat dari pandangan orang Dayak sendiri, yang disebut sebagai orang Melayu adalah sekelompok orang yang berasal dari daerah Melayu dan para pendatang lain yang berdatangan ke Kalimantan, kecuali kelompok Tionghoa, yang mendiami Kalimantan. Orang-orang Melayu mengatakan bahwa Dayak itu berarti orang gunung. Tidak ada kamus atau para ahli yang menyatakan bahwa kata Dayak itu berarti orang gunung, hal itu disebabkan karena sebagian besar dari orang Dayak menetap di daerah hulu sungai dan topografi tanahnya bergunung-gunung tetapi tidak berarti orang Dayak adalah orang gunung. Di samping nama Dayak ada juga istilah Dyak. Istilah Dyak ini diberikan oleh orang Inggris dulu kepada suku-suku Dayak di Kalimantan Utara (Malaysia).

bolaeropa.kompas.com/photos/MATA%20AIR/5balian.jpg
Suku Dayak yang Menetap di pulau Kalimantan itu tersebar di seluruh bagian Kalimantan dan hidup tersebar-sebar, di daerah hulu sungai, di daerah yang tofografinya gunung-gunung, lembah-lembah, dan di kaki bukit. Untuk menyebut jati diri mereka, orang Dayak biasanya memakai nama aliran sungai besar yang daerah pesisirnya mereka diami. Misalnya orang Dayak yang mendiami daerah pesisir sungai Kahayan, mereka menyebut jati diri mereka sebagai uluh Kahayan (orang Kahayan). Ada uluh Katingan, uluh Barito, dan lain sebagainya.
Di antara orang-orang Dayak itu sendiri, ada sekelompok orang yang berkeberatan memakai kata Dayak sehingga muncullah istilah yang lain, yairu Daya. Istilah Daya ini sangat populer di daerah Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Kata Dayak dan Daya sebenarnya merujuk pada satu suku saja, yaitu suku Dayak. Dan dalam bahasa Dayak Ngaju kedua kata itu merupakan sebuah kata sifat yang menunjuk pada suatu kekuatan. Dalam bahasa Sangen kata Dayak dan Daya itu berarti bakena (gagah).
Catatan: tulisan ini disadur dari blog saya.
* beberapa bagian dari "Encyclopoedie Nederlandsch Indie Op Het Woord Dayak", foto dari kualalumpurcentral.com dan kompas.com
Kata Kunci:
bakena, bakumpai, banjar, barito, bawo, daya, dayak, dusun, dyak, kaharingan, kahayan, kalimantan barat, kalimantan timur, kalimantan utara, katingan, kotawaringin, lawangan, maanyan, malaysia, mangkatip, melayu, murung, ngaju, orang gunung, ot danum, punan, sampit, sangen, siang, sungai kahayan, taboyan, tionghoa, uluh barito, uluh kahayan, uluh katingan
Hak Cipta
Materi ini dilindungi oleh UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta dan merupakan tanggungjawab penulisnya.
Harap mengikuti halaman Hak Cipta dan Penyangkalan untuk penggunaan dan pemanfaatan materi.
Tentang Penulis
Bintang Sariyatno adalah administrator, penulis aktif-tetap, dan pemangku konten Betang.COM. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa Biologi Murni di Universitas Negeri Yogyakarta.
Cetak Halaman Ini
Sebarkan via Email




















Hans
biar yg dr luar kalimantan bs tau klo DAYAK itu sbeneranya ga sprti yg mereka pikirkan (kejam, kanibal, primitif, berekor, dsb)... tolong jelaskan lebih rinci ttg suku DAYAK dong bro
lepah hamalem
setuju,,ceritain juga asal usul orang dayak dong
Roy Roy Spirit
Tidak boleh suku dayak mulu
Rony Teguh
hem....... kayanya perlu di revisi tulisannya ini. dayak ngaju awal mulanya adalah bajak laut. referensi silahkan tanya Dr. marko Mahin. banyak yang janggal dalam tulisan ini. mohon maaf atas kelancangan saya.
tahi kucing
tahi kucing. orang madura tahi kucing
M.Rahmani Azmy
Banjar wan Uluh Itah ni badangsakan ja..
Semoga kita tatarusan Maju baimbai menuju Kalimantan nang Sejahtera...! Amin...
Agus
Saya kecil di Kalimantan Barat.... temen-temen saya juga banyak dari suku dayak... mereka baik-baik aja tuh... sama aja kok dengan suku lain di nusantara.... piss... yuk bersatu untuk membangun negeri...
panjoel
"Di antara orang-orang Dayak itu sendiri, ada sekelompok orang yang berkeberatan memakai kata Dayak sehingga muncullah istilah yang lain, yairu Daya. Istilah Daya ini sangat populer di daerah Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Kata Dayak dan Daya sebenarnya merujuk pada satu suku saja, yaitu suku Dayak." penyebutan DAYA di kalimantan barat itu hanyalah masalah logat,jadi tidak ada kelompaok yang berkeberatan atas suatu istilah tertentu,,,,,mohon kalau membuat tulisan menggunakan referensi yang akurat,bukan sembarangan tulis!!!!
squapa
hohohoho. makasih mas infonya. buat tugas saya sih. kalo bisa dikasih juga apa aja kegiatan masyarakat dayak. sangat membantu!
Ira Humairah
Makasih yaaah,,Infonya,,sukses yaaah...
bagong
Mang menurut sejarah para orang suku daya tidak mau menggunakan kata suku dayak sebab mereka merasa malu menyandang suku dayak ini tidak lain karena adat kebudayaan yang menyimpang dari ajaran agama dan juga termasuk orang dayak terkenal dengan ajaran sesatnya.
Dikalangan suku dayak penamaan suku dayak sebenarnya adalah berkenaan dengan ajaran keagamaan.Dikalangan orang dayak apabila ada yang masuk islam mereka sudah tidak di sebut lagi sebagai suku dayak akan tetapi sebagi suku melayu dan mereka sudah tidak di anggap lagi sebgai warga pribumi,,,kalau dalam islam orang yang keluar dari islam di katakan murtad dan segala hak2nya di cabut baik berupa warisan dll.
Begitulah dayak..
opes
Dayak... syetan...dayak...syetan
ngaju
Menurut sejarah asal usul orang dayak berasal dari cina...yang kemudian hijrah ke kalimantan,,,perpindahan ini pada masa kalimanan masih menyatu dengan daratan asia,,,kalau dilihat secara fisik memang ada kesamaan antara orang dayak dan cina..yang pertama adalah matanya yang sipit...dll
pangpang
Memang suku dayak tidak bisa lepas dari kata primitif,kanibal,dan juga yang lainnya..mang begitulah dayak mereka malu mengakui kelakuannya...terus mengaku mereka suci dan mengaku anak Allah,,,
Dalam kepercayaan orang dayak kalau untuk membangun rumah,jembatan,dan juga untuk mengingat arwah nenek moyang mereka harus mencari kepala manusia sebagai persembahan atau sesajen pada acara tersebut sering di kenal dengan acara tewah yang mana apabila tidak memakai sesajen seperti itu semua hajat mereka tidak akan di teriman.
Di jembatan bajarum banyak orang yang di jadikan tumbal,bahkan anak kecil dan juga wanita hamil berusia 7 bulan,,,yang menurut mereka kalau tidak di kasih tumbal maka jembatan itu tidak selesai.
dalam menilai suatu perbuatan tentunya bukan diri sendiri yang menilai tapi orang lain,,,seperti orang yang sekolah masa seorang siswa menilai dirinya sendiri..
pangpang
Memang suku dayak tidak bisa lepas dari kata primitif,kanibal,dan juga yang lainnya..mang begitulah dayak mereka malu mengakui kelakuannya...terus mengaku mereka suci dan mengaku anak Allah,,,
Dalam kepercayaan orang dayak kalau untuk membangun rumah,jembatan,dan juga untuk mengingat arwah nenek moyang mereka harus mencari kepala manusia sebagai persembahan atau sesajen pada acara tersebut sering di kenal dengan acara tewah yang mana apabila tidak memakai sesajen seperti itu semua hajat mereka tidak akan di terima.
Di jembatan bajarum banyak orang yang di jadikan tumbal,bahkan anak kecil dan juga wanita hamil berusia 7 bulan,,,yang menurut mereka kalau tidak di kasih tumbal maka jembatan itu tidak selesai.
dalam menilai suatu perbuatan tentunya bukan diri sendiri yang menilai tapi orang lain,,,seperti orang yang sekolah masa seorang siswa menilai dirinya sendiri..
dayaknese
banyak orang yang tidak mengerti tentang suku dayak tetapi berkomentar miring. hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dan sempitnya wawasan orang yang bersangkutan.
jika kita menggali lebih jauh lagi, maka di indonesia ini sendiri tidak ada pulau yang bersih dari mitos-mitos gaib. hal ini membuktikan bahwa perbincangan tentang dayak yang menyembah hal-hal gaib adalah komentar yang sangat memalukan untuk orang yang pernah bersekolah. kecuali yang bersangkutan memang punya kebencian khusus dan tidak beralasan kepada orang-orang dayak. hal seperti pendapat2 miring ini akan terus berlanjut selama orang-orang yang berpendidikan rendah mulai angkat bicara dengan dibekali oleh ketidak tahuannya yang dibangga2kan.mencari keburukan di orang lain itu memang sangatlah mudah, tetapi untuk menyadari hal buruk dalam diri pribadi sangatlah sulit.
ASEP
Menarik sekali ketika bersafari keliling Kotim khuisusnya di Parenggean rakyat kerja keras hidup makmur, tinggal sarana jalan berdebu, 40 hari sudah tak terasa seperti di kapung sendiri, selamat tinggal parenggean kami segera kembali