Bahasa Dayak yang Mulai Pudar

Pada awalnya, dalam lingkupan sosial masyarakat Dayak Kalimantan Tengah, bahasa yang digunakan adalah bahasa Dayak. Dalam hal ini terdapat beberapa macam bahasa Dayak, seperti bahasa Dayak Ngaju, bahasa Dayak Maanyan, Dusun, Bakumpai, dan lainnya. Dari beberapa jenis bahasa tersebut, bahasa Dayak Ngaju boleh dikatakan adalah bahasa yang paling populer di Kalimantan Tengah. Kata populer disini dalam artian bahwa hampir kebanyakan masyarakat Kalimantan Tengah, baik dari hulu ke hilir, dari barat ke timur di seluruh wilayah Kalimantan Tengah mengerti bahasa Dayak Ngaju. Boleh dikatakan bahwa bahasa Dayak Ngaju merupakan bahasa pengantar (lingua franca) di Kalimantan Tengah.

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, penggunaan bahasa Dayak Ngaju sebagai bahasa pengantar semakin berkurang, khususnya di kalangan generasi muda. Penggunaan bahasa Dayak bahkan kalah dengan penggunaan bahasa Banjar yang notabene adalah bahasa pengantar provinsi tetangga (Kalimantan Selatan). Fenomena ini sangat dominan terlihat dalam kehidupan sehari-hari di kalangan masyarakat Kalimantan Tengah. Sebagai contoh, dalam sebuah lingkungan sekolah, jelas sekali diketahui bahwa hampir 90% warga sekolah berinteraksi menggunakan bahasa Banjar, entah itu antar murid, antar guru, atau guru dan murid. Padahal jelas-jelas mayoritas warga sekolah adalah orang asli Dayak, tetapi ironisnya yang menggunakan bahasa Dayak hanya segelintir orang saja.

Dalam fenomena ini, saya melihat adanya beberapa faktor yang mempengaruhi lunturnya pemakaian bahasa Dayak dalam kehidupan sosial masyarakat di dalamnya. Faktor-faktor tersebut, antara lain:

  1. Kurangnya kemauan dari generasi muda Dayak untuk mempelajari bahasa Dayak.
  2. Adanya stereotif di kalangan masyarakat, khususnya dari kalangan anak muda bahwa bahasa Dayak itu tidak mencerminkan suatu kemodernan.
  3. Kurangnya penghargaan dari masyarakat terhadap bahasa daerahnya sendiri, dalam hal ini bahasa Dayak.
  4. Bahasa Dayak tidak 'mendominasi' pasar. Dalam suatu bahasan ilmu antropologi dijelaskan bahwa, bahasa yang mendominasi suatu daerah awalnya adalah bahasa yang mendominasi dalam lingkungan pasar di daerah tersebut. Sebagai contohnya, di Lampung bahasa pengantarnya adalah bahasa Padang, karena para pedagang di pasar didominasi oleh para pendatang dari Padang. Hal ini juga terjadi di Kalimantan Tengah, mayoritas pedagang yang berjualan di pasar adalah dari suku Banjar, maka otomatis mereka berinteraksi dengan sesama pedagang atau dengan pembeli menggunakan bahasa Banjar, yang kemudian terbawa hingga ke lingkungan di luar pasar.

Sebenarnya tidak sulit untuk mengembalikan budaya berbahasa Dayak. Hanya diperlukan kesadaran dari setiap individu masyarakat. Toh, tidak ada ruginya kita berbahasa Dayak. Tidak ada itu stereotif “tidak gaul”, atau gengsi berbahasa Dayak. Karena bahasa pengantar masyarakat Dayak sekarang pun sebenarnya adalah bahasa daerah. Untuk itu, marilah kita biasakan berbahasa Dayak, paling tidak dari lingkup terkecil seperti keluarga. Mari lestarikan budaya leluhur kita. Ayu itah habasa Dayak!

Kata Kunci:
, , , , , , , , , , , , , ,

Marvy Ferdian A. Sahay
Tentang Penulis

Marvy Ferdian A. Sahay adalah kontributor artikel sosial politik Betang.COM. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan Ilmu Pemerintahan Universitas Gadjah Mada.

Terdapat 41 Komentar

  1. #1 Kamis, 7 Mei 2009 Pukul 15:22 WIB
    Rudy Gunawan

    Bahalap, Le. Ikau dia manalua basa tatu hiang itah huran.

    IMHO, sebenarnya beken awie dia gaul atau narai, aku pikir te are uluh bakas ji nahagampang masalah tuh. Ewen en anak ewen dia hamauh basa Dayak melai huma, sehingga kawan tabela ji terbiasa hapan basa Banjar bahali habasa Dayak. Masalah pembiasaan itah dari kurik ih, le, amun itah terbiasa melai sakula hapan basa Indonesia en basa Banjar... Tapi tergantung arep kea...

    En hong Kalteng pelajaran basa Dayak tuh tege hong SD ih.
    Hong Bandung? Ewen belajar basa Sunda sampai SMA!

  2. #2 Sabtu, 9 Mei 2009 Pukul 22:02 WIB
    Putu Bagus

    13 tahun aku di Palangkaraya ini..
    tapi entah mengapa bahasa dayak enggan nyantol diotakq :D
    stereotif di kalangan masyarakat sangat terasa "orang berbahasa dayak = orang kampung"..

    mudahan'ae aku kawa b'bahasa dayak kena seiring beputarnya waktu..
    wkwkwkwkwk..

  3. #3 Minggu, 10 Mei 2009 Pukul 15:33 WIB
    Andy

    Amun aku setuju dengan kuan Rudy te..
    ji sapuna bahasa dayak tuh ilajar bara sd sampai sma..
    amun perlu angat ah tau malah mulai bara tk kia..

    amun ikei tuh melai kampus dia kare mahamen hapan bahasa dayak..
    dempa ewen manyewut ikei kawalan tuh kare uluh ngaju...

    IKEI BANGGA JADI ULUH DAYAK..!!

  4. #4 Senin, 11 Mei 2009 Pukul 11:31 WIB
    Yenk

    amun dia sala bihin mlei SMP - SMU tege pelajaran Muatan Lokal, en wayah tuh masih tege kah.. en kea ampi kurang efektif awi bihin pelajaran jite rancak andak andau sabtu jadi siswa ah agak malas2 kea belajar ah (rancak kea bolos ah)

    cara je paling efektif mungkin bara kurik jadi dibiasakan bahasa dayak mlei huma

    iri kea aku amun mlei eka kuh domisili (bandung), amun dia tau bahasa sunda malah kana sewut dia gaul, ..sementara mlei palangkaraya malah sebaliknya.

  5. #5 Rabu, 13 Mei 2009 Pukul 20:48 WIB
    Bintang Sariyatno

    aku setuju tutu dengan je kuan ketun tuh, tapi amun tau ela mahapan bahasa Dayak helu awi, mungkin tege uluh beken (masyatarak Indonesia) je maakses dia haratie dengan je mander itah kareh.
    akai le, aku jadi dia mangat dengan ketun tuh.

  6. #6 Rabu, 13 Mei 2009 Pukul 22:08 WIB
    Rudy Gunawan

    Yuh, tenang ih, Tang.

    Hapan basa Indonesia ih, bei... Are uluh non-Dayak [ngaju] ji maakses Betang.COM.

    Dimulai...
    Ya stereotipe-nya di kota besar Kalteng, bahasa Dayak kurang dibiasakan di keluarga sejak dini. Katakanlah, keluargaku juga begitu. Paling sering bahasa Indonesia, kecuali kalau sudah kumpul keluarga besar.
    Entah kenapa di kota-kota bisa begitu. Apakah ada perasaan malu berbahasa Dayak? Atau karena pluralnya kota di mana berbagai suku berinteraksi? Padahal sebenarnya pluralitas itu tak harus meninggalkan warisan budaya leluhur (dalam hal ini bahasa). Pluralitas ada dengan saling menghargai budaya satu sama lain, bukan lantas mengikuti budaya lain yang dianggap gaul.

    Bersambung dulu, capek ngetik komen di HP.

  7. #7 Kamis, 14 Mei 2009 Pukul 10:36 WIB
    ebo

    iyoh.... leha di hapan kutak itah ih..... btw....aku gin haru tau kutak itah metuh sma..... awi beken bahasa ibu wkwkwkwkwk peace :D

  8. #8 Rabu, 20 Mei 2009 Pukul 22:38 WIB
    Refa March William

    aku mo belajar bahasa dayak, ada mo ajari aku?? tapi fre ya....

  9. #9 Kamis, 21 Mei 2009 Pukul 14:42 WIB
    kadioto

    gampang.... asal kamu di Palangka Raya aja. Tar q les privet... suer !!! klo tertarik hub E-mail yankadioto@ymail.com

  10. #10 Sabtu, 23 Mei 2009 Pukul 11:41 WIB
    Remi

    biasanya seh, qta baru ngerasa cinta sama bahasa qta sendiri waktu qta dah di negri orang..'tul ga?? di kelilingi sama bahasa asing gitu..'n ngerinya qta ga ngerti..jadinya gayau2 kuluk deh..hehe..pengalaman waktu pesparawi mahasiswa di salatiga.Ada jutaan kepala dari daratan yang berbeda, dengan bahasa yang beda pula. ada papua, maluku, kupang, semarang, solo, jogja, lampung, nias, bali,dll. pokoknya dari sabang sampai merauke deh.'n semuanya pake bahasa masing2.jadinya qta yang dari palangka ga mau kalah dunk..bahasa dayak is the best deh pokoknya..kan enak klo ngomong ma orang papua pake bahasa dayak, ga ngerti gtu.. jadi qta bisa ngomongin dia di depan hidungnya ndiri..wkwkwkwkwwk..(papua peace..^_^..). kesimpulannya, ga usah malu pake bahasa dayak..ga malu2in ko bro..justru buat bangga..
    buat yang mau belajar, sama aku ajah..ntar dibantuin..okeh..hidup DAYAK!!

  11. #11 Jumat, 29 Mei 2009 Pukul 14:32 WIB
    sendy

    di skolah pembelajaran bahasa dayk kurang di tekan kan sih.....
    lagipula aku cuma sempat blajar bahasa dayak sampai kelas 6 SD
    bahakan sekarang bahasa dayak sudah bukan sebagai mata pelajaran lagi jadi gimana anak2 muda nya bisa blajar bahasa dayak
    peran skolah penting dalam meningkatkan rasa bangga pada budaya daerah

  12. #12 Sabtu, 30 Mei 2009 Pukul 11:40 WIB
    guntur

    bujur tutu pahari samandiai.........aku mengkeme kurang tutu itah melestarikan bahasa itah....

  13. #13 Selasa, 9 Juni 2009 Pukul 21:41 WIB
    S™J

    mungkin bisa dimulai dengan memasukkan beberapa kosakata dayak ke dalam Bahasa Indonesia. atau mungkin bisa "diciptaken" Bahasa Indonesia dengan dialek dayak. janganken dayak, jawa saja sudah tergerus sangat... saya pernah berpikir untuk membuat abjad jawa baru seperti latin yg gampang dipelajari dan diingat. lalu disusul konversi naskah-naskah kuno dengan format baru itu... tapi ya itu... cuma gagasan... eee... siapa tau nanti bisa jadi kenyataan.

  14. #14 Rabu, 10 Juni 2009 Pukul 12:55 WIB
    Rudy Gunawan

    Wogh, mbahnya sastra dan budaya Jawa datang! ^:)^

    Bahasa Dayak itu lisan, jadi nggak punya aksara. Penuturnya makin jarang. Antara Bahasa Dayak Ngaju dan Jawa punya beberapa kemiripan sih, misalnya "asu", hwahhaaa... :))
    Oiya, yang susahnya lagi adalah Bahasa Dayak tiap sub-suku Dayak itu beda-beda. Nggak seperti Jawa yang terkadang beda dialek saja.

  15. #15 Rabu, 10 Juni 2009 Pukul 17:53 WIB
    S™J

    wah saya sih cuma sastra dan budaya wannabe.. ^:)^

    misalnya "asu"

    walah... kalo gak buat situs kamus aja. sampeyan kan hobi banget tuh kayaknya... :D

    ada gak semacam adagium atau petuah2 bahasa dayak gitu? mestinya ada kan... itu kalo diulas juga lumayan sepertinya. paling tidak menumbuhkan apresiasi terhadap falsafah leluhur. saya sendiri (amatiran) sedang mencari cara supaya orang jawa masa kini merasa bisa mendapat keuntungan dengan belajar falsafah jawa. biasanya kan itu yg dicari... kalo ada untungnya kan mau aja... apalagi iming2 pahala segala... :))

  16. #16 Rabu, 10 Juni 2009 Pukul 18:12 WIB
    Rudy Gunawan

    ada gak semacam adagium atau petuah2 bahasa dayak gitu? mestinya ada kan..

    This! :D

    Keuntungan? Nah ituuuu diaaaa...

    Di proyek ini aja ane coba sebisanya proyekan sosial dulu. Ini aja ndak pake sponsor dan iklan meski pernah ditawarin. :))
    Bagi ane sih untungnya nambah pengalaman dan bisa berbagi. Bagi orang lain untungnya apa ya? :|

  17. #17 Rabu, 10 Juni 2009 Pukul 19:48 WIB
    S™J

    kalo buat sampeyan dkk sih idealisme cukup kan... paling kalo ada sponsor buat nutup biaya perawatan situ aja.

    beda dengan lindataway itu... kan cewek cakep ya? :p promo budaya mungkin sebaiknya juga melibatkan cewek-cewek cakep. cowok-cowok merasa ada untungnya karena berharap dapet cewek cakep.. muahahaha *ide gila* :))

  18. #18 Rabu, 10 Juni 2009 Pukul 19:50 WIB
    S™J

    weh dah ibu2 ternyata... kalo gitu cari yg mingsih kinyis2 aja gun... :))

  19. #19 Rabu, 10 Juni 2009 Pukul 20:01 WIB
    Rudy Gunawan

    Hush, mantan ibu walikota tuh. :-$

    *sembunyi*

    Masalah perawatan, ini hosting masih numpang di aku, hwahahaa...
    Tahun depan baru bebas sendiri deh. Paling juga mengharapkan saweran dan donasi dari para "Hamba Allah". :D

    Yah keuntungan bagiku juga portal ini masih erat hubungannya dengan kuliahku (tapi studiku bukan IT dan sejenisnya, aku di non-eksak).

  20. #20 Rabu, 10 Juni 2009 Pukul 20:14 WIB
    S™J

    wah bagus dong... pasti punya pengaruh juga tuh. mengingat sekarang jaman pencitraan, maka pencitraan sebuah idealisme itu tampaknya sangat penting. jadi, kemasan budaya itu yg gaul, keren, atau yg masa kini lah. kalo bikin kaos pake tulisan adagium dayak gimana? kayak dagadu gitu... cuman kalo pake gambar kalo bisa jangan yg pegang mandau itu... mending yg kiri (cewek lagi). kira2 gitu lah...

    kalo hubungan dgn kuliah berarti nanti bisa dilanjutkan ke penelitian serius pasca kuliah dong... manstap lah... B-)

  21. #21 Rabu, 10 Juni 2009 Pukul 20:28 WIB
    rozenesia

    Belum dijapri begitu jauh. :D
    Bukan tugasku sih bagian PR dan marketing proyek ini.

    *lirik pengelola utama yang lagi UAS*

    Kalau kaos ala Dayak sudah ada, namanya "KAOS DAYAK". Tapi model distro gitu, nggak se-nyeleneh Dagadu. Cukup populer lah di sana. Aku belum punya, mau beliiii....

    Kalau kawos Betang.COM dengan gambar maskot di header itu sih rencananya mau cetak ntar. Buat hadiah dan merchandise. :P
    Nanti ada kontes komentar terbaik bulan ini, jadi tiap bulan bagi-bagi kawos buat komentator terbaik. :))

    *komen pake rozenesia, biar bervariasi*

  22. #22 Rabu, 10 Juni 2009 Pukul 20:33 WIB
    S™J

    Nanti ada kontes komentar terbaik bulan ini, jadi tiap bulan bagi-bagi kawos buat komentator terbaik.

    Yeah... mau ah... B-)

  23. #23 Rabu, 10 Juni 2009 Pukul 20:37 WIB
    Lie Siang In

    Harap sabar tapinya. Bukan bulan Juni ini. Mungkin bulan depan atau dua bulan ke depan. Ya tergantung ada alokasi yang cukup. :-j

    *personaku banyak juga ya*

  24. #24 Kamis, 11 Juni 2009 Pukul 4:40 WIB
    [G]

    Sekalian kavling komen buat persona yang lain. :>

  25. #25 Kamis, 11 Juni 2009 Pukul 11:22 WIB
    S™J

    halah... sekalian hetrix Chrome deh... :-j

  26. #26 Kamis, 11 Juni 2009 Pukul 11:30 WIB
    Rudy Gunawan

    Kebetulan, baru rilis artikel soal budaya nih... ;))

  27. #27 Rabu, 24 Juni 2009 Pukul 8:59 WIB
    Bubuhan-maratus

    Hai dangsanak sunya'an!! Napang ti habar???.
    Kawa'ah diaku ti umpat bakajal!
    (hai saudara semuanya ! apa kabar???.
    Boleh kah aku ikut gabung!).
    Kalian tau gag dengan bahasa d atas!?
    Bahasa d atas adalah bahasa banjar arkais (banjar hulu/ pahuluan) dengan dialek bakumpai.
    Konon bahasa banjar arkais terbentuk oleh perbauran 3 suku dayak, "manyan, ngaju, & maratus" di daerah hulu sungai (banua anam) kalsel, akan tetapi bahasa ini lebih dekat dengan bahasa dayak maratus.
    Bahasa ini sedikit berbeda dengan bahasa banjar kuala & banjar watang banyu yang lebih dekat dengan bahasa melayu, sedikit ngaju & bertabur jawa (banjarmasin,martapura & sekitarnya).
    Hehehehehehehe.
    Maaf !! Di luar diskusi nich.

  28. #28 Selasa, 7 Juli 2009 Pukul 21:28 WIB
    putra KATINGAN

    ..........sesssspppp......asalam knl pahari aku uluh dayak kia......bahasa itahn ela sampai leteng gawin ji te nilai akan itah sebagai uluh dayak........amun tau njaga mangat bahasa itah ela sampai leteng......salam DAYAK katingan.....

  29. #29 Senin, 27 Juli 2009 Pukul 9:46 WIB
    Deden Andriawan

    Aku bangga hapan bahasa Dayak. Helai jakarta gin Aku bangga hapan bahasa Dayak dengan kakawalan bara Kalteng.

  30. #30 Sabtu, 12 September 2009 Pukul 21:32 WIB
    yusuf

    mungkin bisa di bikin kosakata bahasa dayak...gw pernah mempelajarinya sedikit,bahasa dayak hampir memiliki kesama'an dengan bahasa inggris seperti:

    narai kua :apa katanya
    narai kuam : apa katamu
    narai kuang-kuh: apa kataku (kata kuh jarang di masukkan dalam pembicaraan umum dan hanya menggunakan kata kuang saja)

    jadi,gw rasa bahasa dayak adalah ASET negara indonesia,meski agak rumit tapi kenapa kita rela2 belajar bahasa inggris tapi gak mau belajar bahasa kita sendiri? gak malu apa?hehe

  31. #31 Sabtu, 19 September 2009 Pukul 16:04 WIB
    rahman DEHEN BALIAS

    salam hampahari yaku putra dayak bakumpai ji iyanakan si sei. gula kab. murung raya ,hai simarabahan kab. barito kuala kapehe ateykuh mahining are anak uluh dayak/turunan uluh dayak kal teng jida tau lalu bhs itah kalteng : ente bhs. dayak ngaju ,maanyan, dusun, siang, bakumpai, atau bhs kahayan. jadi engkeh kawa yaku baharap dgn pamarintah kalteng khususeh supaya bhs daerah itah tuh ilampangan hindai bila perlu inamean hindai sikurikulum pendidikan karena bhs tenah budaya / ciri suatu daerah salam dayak kalteng

  32. #32 Rabu, 23 September 2009 Pukul 18:44 WIB
    Bubianto

    Iyo nah wall. Ikey je kejau bara huma handak hapender bhs Itah kabuat, salenga ewen ji melai hung lewu salenga kare balecak gitangku?!

    Sorry wall mun agak kasar lah..

    Trims

  33. #33 Rabu, 14 Oktober 2009 Pukul 16:18 WIB
    queenatha lensie

    halo, pahariku uras,,
    aku tuh bara kalteng,
    tapi aku saat tuh intu jogja, gawi nggawu ilmu hetuh..
    aku hetuh belum denan pahari ku je ije ije ih.
    ampi ntu jawa tuh beda tutu dengan itah hekau.
    tapi aku haru 190 bulan ntu hetuh sakula sma kelas 1, ampi te are kea kawal je penasaran dengan tuntang itah nah, te je nampa aku bangga dengan lewu itah.

  34. #34 Jumat, 6 November 2009 Pukul 18:27 WIB
    Bahasa Nasional[is] dan Kebudayaan | Humaniora Kalimantan Tengah | Betang.COM

    [...] Tulisan ini sedikit banyak untuk menanggapi tulisan Bahasa Dayak yang Mulai Pudar dan Menuju Perlindungan Budaya Itah. Tulisan ini juga diterbitkan di blog pribadi saya dengan judul [...]

  35. #35 Minggu, 13 Desember 2009 Pukul 6:07 WIB
    citra priski abadi

    saya asli dari kalimantan tengah karena saya sejak lulus SD di jawa samapai sekarang kuliah sastra inggris di jawa timur saya tidak bisa lagi berbahasa dayak,saya mengharapkan adanya sosialisasi pengembangan bahasa dayak seperti halnya pemberian kosakata bahasa dayak,komunitas peduli bahasa dayak dengan menonjolkan bahasa dayak untuk bahasa sehari-hari,seni menulis,bernyayi,dan lain-lain. Saya sering mencari-cari lagu-lagu berbahasa dayak di internet tetapi sulit sekali.Saya sangat beruntung mendapatkan info dari web ini mudah-mudahan kita bisa memajukan kalteng,Kaltengku maju,maju,maju dambaanku

    Terimakasih

    Citra Priski Abadi
    Student Of The State Islamic University Of Malang East Java
    English letter and language Department

  36. #36 Senin, 15 Februari 2010 Pukul 0:13 WIB
    Fx Katingan

    Seharusnya PEMDA memperhatikan hal ini,...bila perlu bahasa daerah dimasukkan kedalam kurikulum belajar mulai SD smpai PT........" ELA SAMPAI BAHASA ITAH LETENG NIHAU KILAU BANUT JE BATUSUT, MANYUR HANYUT KAN TANAH LAUT" .....SALAM PUTRA KATINGAN....

  37. #37 Senin, 22 Februari 2010 Pukul 11:13 WIB
    ivoy fagea

    hello teman2... aku punya komentar juga nih buat para generasi muda dayak. buat kita semua, jangan malu untuk menggunakan bahasa daerah kita sendiri, apa lagi bagi kita yang tinggal di kalimantan. masa'kan hidup ditanah sendiri, merasa asing seperti di tanah orang. apa kata dunia...
    kita yang tinggal di Tanah Borneo, jangan ikut2kan menstereotif bahasa diri sendiri. misalnya dengan sebutan Bahasa Dayak = 'Bahasa Kampung', sehingga ikut2an malu make bahasa daerah sendiri.
    Ya... Kalimantan kan kampungnya orang dayak, ngapain malu make bahasa di kampung sendiri... !!! setuju tak???
    di Kalbar, kami sekarang sudah sadar akan pentingnya melestarikan bahasa dayak, jadi malah mereka yang tidak mengunakan bahasa dayak (orang dayak sendiri- yang sebenarnya pandai berbahasa dayak) di cap malu-maluin... hue... hue... "sok- sok-an asing...!!!

    jadi buat kita semua, jangan malu-maluin diri sendiri ya. salam hangat...
    "Adil Ka Talino, Bacuramin Ka' Saruga, Basengat Ka'Jubata"
    "Arussssssss!!!!"

  38. #38 Minggu, 16 Mei 2010 Pukul 21:15 WIB
    Perdhana

    saya dari kaltim pengn juga belajar bahasa dayak kalteng,,, ada ngga kamusnya ya?? mohon infonya

  39. #39 Senin, 14 Juni 2010 Pukul 23:08 WIB
    nana

    saya lagi ada pelajaran mengenai kebudayaan Dayak.. mau nyari bahasa dayaknya kekeluargaan, kebersamaan, dan ikatan.. kira2 apa ya bahasa dayaknya.?
    Saya juga mencari kamus bahasa dayak.. ada ngk ya kamusnya? terimakasih

  40. #40 Senin, 21 Juni 2010 Pukul 13:34 WIB
    Riziska Juniar

    pengen banget bisa belajar bahasa kalimantan/Dayak..
    ada yang bersedia nagajarin?

  41. #41 Jumat, 25 Juni 2010 Pukul 12:21 WIB
    jesica

    minta lagu "itah hampahari", "hanja sanai" , & "isen mulang". Bisa ga ?

Tinggalkan Komentar

Komentar diharapkan dalam Bahasa Indonesia, Inggris, Dayak (Kalteng), atau Banjar.
Ingin mempunyai gambar avatar sendiri jika berkomentar? Segera daftarkan diri di Gravatar!

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Dari Meja Redaksi

Maskot Hatue en Bawi

Maskot Hatue en Bawi Hatue en Bawi, alias Laki-laki dan Perempuan dalam Bahasa Dayak Ngaju, adalah nama dari dua figur ...

Laporan lainnya...

» Mengapa Berupa Situs? (9)
» Komentar 101: Facebook (18)
» HUT Tambun Bungai (6)

Dalam Jaringan

Komunitas Facebook

Kabar Kalteng

Sebuah galat telah terjadi, yang kemungkinan berarti umpan tersebut sedang anjlok. Coba lagi nanti.