Kalteng Jadi ‘Neraka’ Baru?

Memasuki musim kemarau Agustus 2009 aksi pembakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali terjadi. Akibatnya sekitar 2 juta jiwa penduduk provinsi ini kembali didera kabut asap bercampur partikel debu. Polutan yang berhamburan ke udara kian pekat dan menyesakan dada.

Perangkat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) milik Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemprov Kalteng yang ditempatkan di sekitar Bundaran Besar menunjukkan level "Sangat Berbahaya". Ironisnya, hingga saat ini pihak terkait di daerah ini baru berhasil menangkap beberapa gelintir 'orang kecil' yang diduga pelaku pembakaran lahan. Sementara para tauke tanah yang sebagian pejabat malah tak tersentuh.


manusiautan.files.wordpress.com/2008/02/kebakaran-hutan.jpg

Informasi yang dihimpun Betang.COM kebakaran lahan tahun ini hampir merata di 13 kabupaten dan 1 kota di Kalteng. Kota Palangka Raya tak hanya dikepung asap pembakaran lahan dari wilayahnya, tapi juga asap kiriman dari Kabupaten Katingan dan Kabupaten Pulang Pisau. Kedua kabupaten baru ini hanya berjarak sekitar 90 km dari Ibukota Kalteng tersebut. Di wilayah Kabupaten Katingan kebakaran lahan terlihat di kiri dan kanan jalan negara menuju Palangka Raya. Pemkab Katingan sebenarnya telah berupaya melakukan pemadaman, tapi karena luasnya wilayah yang terbakar yang dapat mereka lakukan hanya memadamkan api yang berada di tepi jalan.

"Beberapa warga mengalami kerugian ratusan juta karena kebun karetnya turut terbakar," kata Amang Ihul, warga Kasongan.

Sementara di Kota Palangka Raya yang terdiri dari lima kecamatan, aparat berwenang seakan tak berdaya mengantisipasi meluasnya kebakaran lahan. Di Kecamatan Sabangau yang terletak sekitar 15 km di selatan kota, api malah membara di sekitar pemukiman penduduk. Struktur tanah di daerah ini yang sebagian berupa gambut membuat api semakin sulit dipadamkan.

Terbatasnya dana dan peralatan yang dimiliki Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya membuat aparat tidak dapat berbuat banyak.

Wakil Walikota Palangka Raya, Maryono mengatakan hingga saat ini terdapat sekitar 268 hektar lahan yang terbakar. Untuk mengantisipasi meningkatnya penyakit Ispa (infeksi saluran pernafasan atas) pihaknya telah membagikan secara gratis sebanyak 60 ribu masker dari 100 ribu masker yang direncanakan.

"Puskesmas-puskesmas di Palangka Raya telah siap menangani pasien Ispa," kata Maryono kepada wartawan di Palangka Raya, Selasa ( 1/9) pagi.

Semakin pekatnya kabut asap yang menyelimuti kota Palangka Raya yang dapat mengancam kesehatan, memaksa Walikota Palangka Raya, HM Riban Satia kembali mengevaluasi kebijakan pemberlakuan jam sekolah di daerah ini. Setelah asap mulai membahayakan, sebelumnya HM Riban Satia menginstruksikan agar jam sekolah masuk pukul 7.30 WIB, menyusul kian pekatnya asap jam masuk sekolah kembali diundur menjadi pukul 8.30 WIB.

Instruksi Walikota tersebut merujuk pada rekomendasi Dinas Kesehatan setempat pada rapat yang dihadiri Muspida dan kepala SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) pada 28 Agustus 2009 lalu.

"Pemberlakuan ketentuan ini akan terus dievaluasi sesuai dengan keadaan," katanya.

Pemprov Kalteng tak tinggal diam, sejak 16 Agustus 2009 telah berupaya membuat hujan buatan meski hasilnya tak begitu optimal. Pembuatan hujan buatan ditangani Tim Modifikasi Cuaca (TMC). Selama ini TMC telah terbang 16 kali sambil menggelontorkan garam sebanyak 11.220 ton di sejumlah titik api di wilayah ini. Antara lain Lamandau, Seruyan dan Katingan. Sayangnya pada 25 Agustus 2009 kegiatan TMC terhenti karena pesawat Cassa jenis 212-200 yang dipergunakan membuat hujan mengalami kerusakan teknis. Padahal tugas TMC berakhir hingga 4 September 2009.

"Tapi Gubernur Kalteng minta diperpanjang hingga menjelang lebaran," kata Korlap TMC Kalteng, Tri Handoko Seto, belum lama ini.

Menurut Tri Handoko Seto, pesawat serupa yang bertugas menyemai hujan buatan di wilayah Kalbar akan ditarik ke Kalteng.

Pesawat Cassa 212-200, katanya, dalam sehari dapat menabur garam sekitar 800 kilogram dan dapat membuat hujan turun mencapai ratusan meter kubik.

Hingga Jum’at (11/9) petang, kabut asap tidak ada tanda-tanda akan sirna. Kepekatannya tidak hanya pagi hari, tapi juga siang dan sore hari. Tak terbilang sudah berapa puluh meter pita police line di pasang polisi di lokasi kebakaran lahan di daerah ini. Toh, api juga tak kunjung padam, satu titik dipadamkan, di tempat lain api kian berkobar hebat. Wilayah Kalteng seakan menjadi 'neraka' baru bagi warganya.

Menjelang pilkada Kalteng 5 Juni 2010 mendatang, akankah kabut asap akibat pembakaran lahan akan menjadi komoditi politik?

* foto oleh nathan litjens / manusiautan.wordpress.com

Kata Kunci:
, , , , , , , , , , , , ,

Bambang M. Permadi
Tentang Penulis

Bambang M. Permadi adalah kontributor Betang.COM tinggal di Palangka Raya

Terdapat 6 Komentar

  1. #1 Sabtu, 12 September 2009 Pukul 20:39 WIB
    gunawanrudy

    Ke mana julukan Kalimantan sebagai paru-paru dunia? Yang ada sekarang hanyalah Kalimantan sebagai paru-paru [perokok] dunia. Hutan yang makin gundul, DAS yang tergerus, tanah yang terbakar... Saya jadi merasa sedih mendengar kabar dari kampung halaman. :(

  2. #2 Minggu, 13 September 2009 Pukul 11:57 WIB
    Kombes.Com Bookmarking

    Blog anda OK dan unik Banget!. Submit tulisan anda di Kombes.Com Bookmarking, Agar member kami vote tulisan anda. Silakan submit/publish disini : http://bookmarking.kombes.com Semoga bisa lebih mempopulerkan blog/tulisan anda!

    Kami akan sangat berterima kasih jika teman blogger memberikan sedikit review/tulisan tentang Kombes.Com Bookmarking pada blog ini.

    Salam hormat
    http://kombes.Com

  3. #3 Minggu, 13 September 2009 Pukul 21:20 WIB
    Agnes E. T.

    asepe rek rek... makin hari makin tebel aja... :-&
    katanya orang orang emang pada sengaja ngebakar lahan ya kalau udah musim kemarau macam sekarang... parah tuh... gag tanggung jawap... iya dia yang diuntungkan, tapi se kalimantanan jadi ikud ngerasain juga... mending ngerasain enaknya, ini asepnya aja yang bikin eneg... huft...

  4. #4 Senin, 14 September 2009 Pukul 2:02 WIB
    Anthony Sinaga

    itu yang bakar lahan/hutan, gak mikir diri sendiri, istri serta anak-anaknya yah? fiuhhh....

  5. #5 Jumat, 2 Oktober 2009 Pukul 12:42 WIB
    Toni

    Di sepanjangan perjalanan pulang 3 jam ke Buntok, lalu 45 menit ke Bambulung serta 30 menitan ke Ampah ... Banyak banget asap mengepul.

    Bahkan di Bambulung, kebun karet yang sudah mo menghasilkan tahun ini habis terbakar tanpa sisa. Entah siapa yang membakar, tapi saya yakin yang membakar lahannya tanpa melakukan penjagaan atau proses pengendalian, akan mendapat balasannya.

    Hem ... Pemerintah juga mestinya ada sedikit tanggung jawabnya, tidak boleh juga menyalahkan masyarakat. Melalui salah satu imbauannya Bapak Gubernur menuliskan agar masyarakat memberdayakan lahan terlantar. Nah, solusi dari pemerintah sendiri untuk masyarakat seperti apa? Realnya, supaya tidak membakar, masyarakat yang secara tradisional memang melakukan proses pembakaran dalam membuka lahannya harus diberikan pemahaman, dan solusi atau jalan lain supaya tidak melalukan pembakaran ...

    Any ideas ...

  6. #6 Rabu, 17 Maret 2010 Pukul 14:54 WIB
    NOVA AGUSTHA HAWINI

    seharusnya org2 bangga akn hutan kalimantan tengh.sumberdayanya yg begitu menjanjikan.tpi sekarang terusterang bumi kalimantan itu sedang menangis menjerit meritih tpi tak seorang pun yg peduli akan hal itu.hutan di bakar satuwa liar diburu,penjarahan hutan meraja lela,di tambah lagi ekosistem kita mulai rusak dengan masuknya perusahan2 ASING YG TIDAK MEMIKIRKAN DAMPAK DARI APA YG MEREKA LAKUKAN.sadarlah wahai saudra2 q sekarang kalimantan semakin panas banjir dimana2 sungai2 mulai tercemar merkuri.apa ini yg di namakan ekosistem yg baik yg sesuai dengan amdal dampak analisia lingkungan.
    terusterang saya kurang setuju dengan masuknya perusahaan batubara n perusahaan kelpa sawit yg mulai menganak jamur di kalimantan yg tanpa memperdulikan dampak dari apa yg mereka lakukan yg mereka pikirkan cuma kantong masing2 tanpa memikirkan dampak kedepnnya seperti apa.
    sudara q sadarkah kamu di hutan kalimantan ini terdapat berjuta macam obat2tan yg sudah menjadi ciri kita akankah semuanya di biarkan menjadi kenangan yg suram.taukah km bahwa obat AIDS sebenarnya bisa kita temmukan yaitu manggis hutan yg satu2nya hanya terdapat di hutan kalimantan tengah

Tinggalkan Komentar

Komentar diharapkan dalam Bahasa Indonesia, Inggris, Dayak (Kalteng), atau Banjar.
Ingin mempunyai gambar avatar sendiri jika berkomentar? Segera daftarkan diri di Gravatar!

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

Dari Meja Redaksi

Maskot Hatue en Bawi

Maskot Hatue en Bawi Hatue en Bawi, alias Laki-laki dan Perempuan dalam Bahasa Dayak Ngaju, adalah nama dari dua figur ...

Laporan lainnya...

» Mengapa Berupa Situs? (9)
» Komentar 101: Facebook (18)
» HUT Tambun Bungai (6)

Dalam Jaringan

Komunitas Facebook

Kabar Kalteng

Sebuah galat telah terjadi, yang kemungkinan berarti umpan tersebut sedang anjlok. Coba lagi nanti.